Bab II Gambaran umum masyarakat desa Segaralangu Kabupaten Cilacap yang meliputi gambaran penduduk dan wilayah serta kondisi umum
MASYARAKAT DESA SEGARALANGU KECAMATAN CIPARI KABUPATEN CILACAP
C. Nilai Sosial dan Religius dalam Tradisi Wetonan
Masyarakat Jawa tidak bisa terlepas dari kebiasaan dalam melaksanakan tradisi selametan, meskipun dalam pelaksanaanya berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu mengingat hari kelahiran seseorang dan bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan, dan menyampaikan permohonan (doa) kebaikan kepada Tuhan, disertai dengan memberikan sesuatu berupa makanan sebagai sedekah kepada orang lain.16
1. Nilai Sosial dalam bentuk melestarikan budaya Jawa yang harus tetap dijalankan di lingkungan pedesaan dengan perkembangan zaman yang kian maju supaya tidak hilang dari ciri masyarakat Jawa maka sampai
kapanpun akan terus dijaga dan dilestarikan. Dalam pelaksanan tradisi tersebut tidak sungkan mengundang beberapa golongan agama, dan saling mendoakan dengan tujuan bersama yaitu terhindar dari mara bahaya dalam aktivitasnya, dilancarkan usahanya, ditambahkan rizkinya dan dijauhkan dari kesengsaraannya. Setelah doa selesai kemudian tuan rumah mempersilahkan para tamu untuk menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan.17
2. Dan Nilai Religius dalam tradisi wetonan ini adalah pada saat pelaksanaan selametan, karena didalamnya terdapat pembacaan doa sesuai dengan pemeluk agamanya masing-masing saat pelaksanaannya serta adanya pemberian sedekah tujuan dari sedekah itu berbagi rezeki kepada para saudara dan tetangga dekat karena seseorang telah memperoleh anugerah atau kesuksesan sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Dan nilai solidaritas sosial ini adalah mempererat tali seduluran atau persaudaraan, terutama dalam masyarakat Desa Segaralangu yang terdapat berbagai macam agama mereka senantiasa datang ketika diundang tetangga untuk merayakan selametan, makanya tidak heran Desa Segaralangu masuk dalam kategori desa yang sangat toleran karena masyarakatnya rukun dalam bertetangga yang berbeda agama.18
Nilai yang dapat informan dapatkan dari tradisi tersebut adalah agar seseorang yang melaksanakan selametan tersebut senantiasa selalu
17 Wawancara dengan Bapak Miskam selaku sesepuh Tokoh Masyarakat Desa Segaralangu, pada tanggal 12 April 2020.
18Wawancara dengan Bapak H. Ahmad Fauzi selaku Tokoh Agama Islam, pada tanggal 12 April 2020.
mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya serta berdoa demi kesehatan dan keselamatan.
57 PENUTUP A. Kesimpulan
Dari kajian di atas, penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Makna Tradisi Wetonan, Weton atau Wetonan Merupakan peringatan hari lahir setiap 35 hari sekali. Orang Jawa tradisional sangat penting untuk mengetahui weton sesuai dengan kalender Jawa. Dengan mengetahui tanggal, bulan dan tahun kelahiran menurut kalender Masehi, bisa diketahui weton seseorang. Hari kelahiran menurut kalender Jawa atau weton terjadi setiap selapan hari. Wetonan mirip dengan hari ulang tahun, tetapi wetonan bisa terjadi 9 sampai 10 kali dalam setahun atas dasar kalender Jawa.
Tujuan Tradisi Wetonan diadakan untuk melestarikan tradisi desa Segaralangu dan dalam rangka menghormati hari kelahiran seseorang. Walaupun pelaksanaanya berbeda, namun memiliki maksud yang sama, yaitu mengingat kasih Tuhan dan bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan sebagaimana kita hidup di dunia diberi rizki dan tubuh sehat, juga menyampaikan permohonan (doa) kebaikan kepada Tuhan, disertai dengan memberikan sesuatu berupa makanan sebagai sedekah kepada orang lain. Tujuan dari sedekah itu berbagi rezeki kepada para saudara dan tetangga dekat karena seseorang telah memperoleh anugerah atau kesuksesan sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Dan Tujuan selametan weton sendiri untuk “Ngopahi sing momong”, karena masyarakat Jawa percaya dan banyak yang memahami
pembimbing” secara metafisik. Adapun tugasnya untuk membimbing dan mengarahkan agar tidak salah langkah. Yang dimaksud Pamomong disini yakni Sedulur Papat Limo Pancer.
B. Saran
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan di Desa Segaralangu Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap, maka penulis mencoba untuk memberikan saran sebagai berikut:
1. Dengan melihat realitas dalam masyarakat yang masih memegang kuat terhadap tradisinya, penulis menyarankan hendaknya bersikap bijaksana dan toleran, karena semua agama mengajarkan kebijaksanaan yang harus dimiliki semua pemeluknya dan juga memiliki sikap toleran terhadap agama lain yang ada di lingkungan sekitar.
2. Tradisi selametan Wetonan di Desa Segaralangu hanya merupakan fenomena keagamaan dan kepercayaan di dalam masyarakat. Masih ada beberapa upacara tradisi lainnya yang mungkin bisa diteliti dan dikembangkan, diantaranya tradisi mauludan, tradisi nikahan, tradisi tedak siten, tradisi bangun rumah dan masih banyak yang lainnya.
59
Ali, M.Sayuthi. Metode Penelitian Agama: Pendekatan Teori dan Praktek. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
Anwar, Saifuddin. Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1998.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
Branne, Julian. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAI Antasari Samarinda. 1999.
Endraswara, Suwardi. Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa. Yogyakarta: Narasi. 2018.
Geertz, Clifford. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya, 1981.
Gunasasmita R. Kitab Primbon Jawa Serbaguna. Yogyakarta: Narasi. 2009.
Hadikoesoema, Soenandar. Filsafat Ke-Jawan Ungkapan Lambang Ilmu Gaib Dalam Seni-Budaya Peninggalan Leluhur Jaman Purba. Jakarta: Yudhagama Corporation. 1998.
Hilmi, Masdar. Islam and Javanese Aculturation [Tesis]. Canada: Magister of McGill University 1994.
Khalil, Ahmad. Islam Jawa: Sufisme Dalam Etika Jawa Dan Tradisi Jawa. UIN Malang: Pres, 2008.
Khoiri, Imam. Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang, 2011.
Koentjaraningrat. Metode-metode Antropologi dalam Penyelidikan-penyelidikan Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Universitas, 1958. Mama Flo. Primbon Praktis. Yogyakarta: Gradien Mediatama. 2008.
Mulder, Niels. Mistisisme Jawa: Ideologi Di Indonesia. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta. 2001.
M.keesing, Roger. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Erlangga, 1992.
Moelang, Lexi J. Metodologi Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2000. Nizaruddin, Asif. Interprestasi Kitab Primbon Lukmanakin Adam makna dalam
Perspektif Budaya dan Akidah Islam. Jakarta: Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah. 2018.
Purwadi. Pranata Sosial Jawa. Yogyakarta: Cipta Karya, 2007.
Purwadi. Upacara Tradisional Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005. Purwadi. Upacara Pengantin Jawa. Yogyakarta: Panji Pustaka. 2007
Purwadi. Petungan Jawa Menentukan Hari Baik Dalam Kalender Jawa. Yogyakarta: Pinus. 2006.
Soekanto, Soerjono. Penelitian Hukum Normative Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: Raja Grafinda Persada. 2001.
Soekanto, Soeryono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: UI Prees, 1981
Subandrijo, Bambang. Keselamatan Bagi Orang Jawa. Jakarta: Gunung Mulia. 2000.
Sutiyono. Poros Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013.
Sumber Jurnal
Aswiyati, Indah. Makna dan Jalannya Upacara Puputan dan Selapanan Dalam Adat Upacara Tradisional Kelahiran Bayi Bagi Masyarakat Jawa,
Jurnal Holistik. Volume VIII, No. 16, Tahun. 2015. Sumber Internet
Https://m.liputan6.com/regional/red/2020/01/02/407244/malam.mencekam.di.tana h.kafir.kubura n.massal.pki.di.cilacap diakses pada tanggal 27 Januari 2020. Http://Jagadkejawen.com/index.php?option=com_conten&view=article&id=9&It emid=8&lang=id diakses pada tanggal 25 Februari2020.
http://sabdalangit.wordpress.com/2019/11/04/tata-cara-bancakan-weton/amp diakses pada tanggal 26 Februari 2020.
http://www.7jiwanusantara.com/2014/07/bubur-merah-putih-selametan-weton.html?m=1 diakses pada tanggal 26 Februari 2020.
http://kibaguswijaya.com/sedulur-papat-limo-pancer.html diakses pada tanggal 26 Februari 2020.
https://www.era.id/read/XRUx3P-tradisi-dan-kaitannya-dengan-kebudayaan, diakses pada tanggal 11 April 2020.
Wawancara
Wawancara dengan bapak Ismail selaku Kepala Desa Segaralangu, pada tanggal 25 Januari 2020.
Wawancara dengan bapak Miskam selaku sesepuh Tokoh Masyarakat Desa Segaralangu, pada tanggal 25 Januari 2020.
Wawancara dengan bapak Kartasan selaku Tokoh Penghayat Kepercayaan di Desa Segaralangu, pada tanggal 26 Januari 2020.
Wawancara dengan bapak H. Ahmad Fauzi selaku tokoh agama Islam di Desa Segaralangu, pada tanggal 26 Januari 2020.
Wawancara dengan Ibu Siti Badriyah selaku anggota Fatayat di Desa Segaralangu, pada tanggal 26 Januari 2020.
Wawancara dengan bapak Musir selaku warga di Desa Segaralangu, pada tanggal 26 Januari 2020.
Wawancara dengan bapak Joyo Martono selaku tokoh agama Budha di Desa Segaralangu, pada tanggal 12 April 2020.
Wawancara dengan bapak Pendeta Timotius Saryono selaku tokoh agama Kristen Protestan di Desa Segaralangu, pada tanggal 12 April 2020.
Wawancara dengan bapak Ahmad Yasin selaku tokoh agama Islam di Desa Segaralangu, pada tanggal 12 April 2020.
Wawancara dengan Ibu Endang selaku Warga di Desa Segaralangu, pada tanggal 12 April 2020.
A. Diajukan kepada responden