• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. NILAI TAMBAH, PENDAPATAN DAN PENYERAPAN

7.1. Analisis Nilai Tambah

7.1.5 Nilai Tambah Agregat Hasil Pengolahan Limbah

iantara kerajinan yang

atung ukir masing-masing memiliki nilai tambah anfaat Hasil analisis mengenai nilai tambah diatas, terlihat bahwa kerajinan yang kurang memiliki keunggulan dalam nilai tambah adalah meja akar, karena memiliki nilai tambah dan keuntungan yang paling rendah d

lain. Namun produk meja akar memiliki keunggulan pada permintaan pasarnya.

Produk lainnya memiliki nilai tambah dan HOK yang tinggi namun kekurangan dalam permintaan pasarnya. Selain itu, seharusnya pada kerajinan ukir imbalan bagi tenaga kerja lebih tinggi, karena pada kerajinan ukir dibutuhkan keahlian yang lebih daripada kerajinan tanpa ukir. Namun rasio imbalan bagi tenaga kerja pada produk meja akar lebih besar daripada imbalan bagi tenaga kerja pada produk patung ukir. Perbedaan rasio nilai tambah terhadap nilai produk antar setiap kerajinan dikarenakan perbedaan antara produk ukir dan produk non ukir.

Ukiran tersebut menyebabkan nilai tambah lebih besar dari produk non ukir.

Selain memperhatikan ukiran yang menjadikan nilai tambahnya tinggi, perlu diperhatikan juga perbaikan manajemen pemasaran bagi produk yang memiliki permintaan pasar yang rendah.

7.1.5 Nilai Tambah Agregat Hasil Pengolahan Limbah Tunggak Jati

Hasil dari kegiatan usaha pengolahan limbah tunggak jati yaitu meja akar, meja ukir, lemari display dan p

yang berbeda. Nilai tambah yang dihasilkan tersebut menciptakan m ekonomi yang bila dihitung secara agregat (keseluruhan) merupakan nilai tambah bagi wilayah setempat khususnya Kecamatan Jiken Kabupaten Blora. Nilai tambah secara agregat masing-masing produk dapat dilihat pada Tabel 14 di bawah ini :

65  Tabel 14. Nilai Tambah Agregat Hasil Pengolahan Limbah Tunggak Jati di

No Pro

1 Meja Akar 327.600 74.692.800 1.717.934.400 2 Meja Ukir 2.469.000 27.159.000 624.657.000 3 Lemari Display 945.000 13.230.000 304.290.000 4 Patung Ukir 3.068.000 33.748.000 776.204.000

Total 3.423.085.400

Nilai Tambah 1 Tahun 41.077.024.800

Sumber : Data Primer Diolah (2011)

B abel 14 di atas, ah set hasi

lim emiliki nilai tambah yang berbeda. Bila ditotal secara tambah yang dihasilkan secara keseluruhan leh m

a. Nilai tambah per periode untuk produk eja a

erdasarkan T nilai tamb iap produk l pengolahan bah tunggak jati m

agregat, akan menggambarkan nilai

o asyarakat Kecamatan Jiken. Nilai tambah per produk merupakan nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan bahan baku untuk setiap produknya. nilai tambah per periode merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh satu usaha dalam satu periode (satu bulan).

Produk meja akar memiliki nilai tambah per produknya sebesar Rp 327.600 sehingga setiap usaha menghasilkan nilai tambah total produk meja akar setiap periodenya sebesar Rp 74,69 jut

m kar memang paling tinggi, karena produksi meja akar setiap periodenya paling banyak disbanding dengak produk lainnya. Produk meja ukir yang memiliki nilai tambah per produknya Rp 2,46 juta sehingga untuk setiap usaha menghasilkan nilai tambah total produk meja ukir per periode rata-rata sebesar 27,15 juta. Produk lemari display memiliki nilai tambah sebesar Rp 945.000 sehingga setiap usaha menghasilkan nilai tambah total produk lemari display setiap periodenya sebesar 13,23 juta. Produk yang terakhir yaitu produk patung

66   

a akar adalah sebesar Rp 1,71 milyar. Nilai tambah agregat yang

ilyar untuk setiap periodenya. Banyaknya nilai tambah tersebut merupakan anfaa

limbah tunggak jati yang melakukan kegiatan pengolahan limbah tunggak menjadi ukir memiliki nilai tambah sebesar Rp 3,06 juta sehingga setiap usaha menghasilkan nilai tambah total produk patung ukir per periodenya sebesar Rp 33,74 juta.

Nilai tambah agregat merupakan nilai tambah total yang dihasilkan dalam suatu wilayah, khususnya wilayah Kecamatan Jiken. Nilai tambah agregat untuk produk mej

dihasilkan dari pengolahan produk meja akar merupakan nilai tambah terbesar karena produksi produk meja akar setiap periodenya paling banyak. Nilai tambah agregat terendah pada produk lemari display yaitu sebesar Rp 304,29 juta. Nilai tambah agregat untuk produk meja ukir adalah sebesar 624,65 juta dan yang terakhir nilai tambah agregat untuk produk patung ukir adalah sebesar Rp 776,20 juta.

Nilai tambah agregat yang dihasilkan dari pengolahan limbah tunggak jati, bila dijumlahkan secara total maka didapat nilai tambah agregat total sebesar Rp 3,42 m

m t ekonomi yang dihasilkan dari pengolahan limbah tunggak jati menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual. Sehingga dalam satu tahun, didapatkan nilai tambah agregat totalnya sebesar Rp 41,07 milyar yang merupakan menjadi bagian dari pembangunan perekonomian di wilayah Kecamatan Jiken Kabupaten Blora.

7.2. Analisis Pendapatan Usaha Pengolahan Limbah Tunggak Jati

Pendapatan dari suatu usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan biaya dari usahatani tersebut. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menghitung berapa pendapatan yang dapat diterima bagi pengolah

67   

kerajin

Per Bulan

an meja akar, meja ukir, lemari display, hingga patung ukir. Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya total. Biaya total meliputi biaya bahan baku, biaya finishing, biaya transportasi, biaya upah tenaga kerja dan biaya tak terduga. Penerimaan pada analisis ini merupakan penjualan tiap unit produk yang dihitung berdasarkan harga jualnya. Pendapatan usaha pengolahan limbah tunggak jati akan digambarkan pada tabel 15 dibawah ini.

Tabel 15. Pendapatan Rata-Rata Usaha Pengolaha Limbah Tunggak Jati

No. Uraian Nilai (Rp) (%)

1 Penerimaan Total 83.123.913

2 Biaya Total 47.719.565 100,00

Biaya Bahan Baku 23.417.391

Biaya Lainnya 6.521.739

49,07 13,67

Biaya Transportasi 1.578.260 3,31

Biaya Upah Tenaga Kerja 16.117.391 33,78

Biaya Tak Terduga 54.347 0,11

3 Pendapatan Total 35.404.347

Sum : Da 011)

Berdasarkan Tabel 15, total penerimaan usaha p imbah tu jati adalah sebesar Rp 83,12 juta setiap periodenya (setiap bulannya). Biaya total yang harus dikeluarkan oleh pelaku usahatani pengolah limb gak jati a

laku usahatani pengolahan limbah tunggak jati setiap bulann

ber ta Primer Diolah (2

engolahan l nggak

ah tung dalah sebesar Rp 47,72 juta.

Pendapatan total usaha merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya total yang harus dikeluarkan. Dari tabel di atas, didapat pendapatan total sebesar Rp 35,4 juta. Pendapatan tersebut merupakan pendapatan bersih yang diterima oleh para pe

ya. Dari 23 responden pelaku usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati, pendapatan terendah adalah sebesar Rp 20.050.000 dan pendapatan tertinggi adalah Rp 55.650.000.

68   

a biaya tidak terduga, yaitu sebesar Rp 54.347 dengan present

a Rp 500.000. Biaya untuk makan tenaga kerja setiap bulannya Rp 2,5 juta. B

ut karena para buyer/pembeli barang kerajinan limbah tunggak jati sebagian besar menanggung biaya transportasinya sendiri. Biaya transportasi yang

Biaya terbesar yang harus dikeluarkan oleh pelaku usaha pengolahan limbah tunggak jati adalah pada biaya bahan baku yaitu sebesar Rp 23,42 juta dengan presentase terhadap total biaya sebesar 49,07%. Biaya terkecil yang harus dikeluarkan adalah pad

ase terhadap biaya total sebesar 0,11%. Pada biaya tidak terduga yang dikeluarkan kecil, karena para pengrajin/pelaku usaha pengolahan limbah tunggak jati hanya menggunakan biaya tersebut ketika ada salah satu karyawannya yang sakit.

Biaya lainnya merupakan biaya yang dikeluarkan selain dari biaya bahan baku. Biaya lainnya tersebut meliputi biaya untuk listrik, biaya untuk makan tenaga kerja dan biaya untuk finishing. Biaya untuk pembayaran listrik setiap bulanny

iaya finishing adalah biaya yang dikeluarkan ketika produksi telah setengah jadi. Biaya finishing rata-rata setiap periodenya meliputi biaya untuk pembelian lem sebanyak 5kg sebesar Rp 500.000, pembelian flitur sebanyak enam dus sebesar Rp 900.000, pembelian ferlax sebanyak 8kg sebesar Rp 960.000, pembelian melamin sebesar Rp 600.000 dan biaya untuk penggantian alat sebesar Rp 500.000. Total biaya lainnya rata-rata setiap bulannya adalah sebesar Rp 6,5 juta.

Biaya transportasi yang harus dikeluarkan oleh para pengrajin adalah sebesar Rp 1,57 juta setiap bulannya. Biaya transportasi tersebut terbilang kecil karena presentasenya terhadap total biaya rata-rata hanya sebesar 3,31%. Hal terseb

69   

dikelua

. Rata-rata setiap p

faat ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan usaha pengol

Kecamatan Jiken

rkan oleh para pelaku usaha hanyalah ketika pengambilan bahan baku, terutama ketika para pelaku usaha tidak memiliki kendaraan pribadi untuk mengangkut bahan baku, sehingga mereka harus menyewa kendaraan.

Biaya terakhir adalah total biaya pembayaran upah tenaga kerja yaitu sebesar Rp 16,11 juta dengan rasio sebesar 33,78% dari total biaya. Upah tenaga kerja kerja untuk usaha kerajinan ini bervariasi, berkisar antara Rp 50.000 hingga 65.000 setiap harinya. Perbedaan tingkat upah tersebut dikarenakan perbedaan keahlian pada tenaga kerja, seperti hal nya dalam pengukiran kayu

elaku usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati memiliki tenaga kerja sebanyak 9-20 orang.

Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa jumlah pendapatan yang dihasilkan mencapai 42,59% dari jumlah penerimaan yang dihasilkan. Pendapatan tersebut merupakan pendapatan bersih setelah dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan setiap bulannya. Pendapatan bila dihitung secara agregat, menggambarkan man

ahan limbah tunggak jati di suatu wilayah khususnya wilayah Kecamatan Jiken. Pendapatan secara agregat dapat dilihat pada Tabel 16 di bawah ini :

Tabel 16. Pendapatan Agregat Usaha Pengolahan Limbah Tunggak Jati di

No. Uraian Nilai (Rp)

1 Pendapatan Usaha per Bulan 35.404.347

2 Pendapatan Agregat 814.299.981

Pendapatan Agregat 1 Tahun 9.771.599.772 Sumber : Data Primer Diolah (2011)

Tabel 16 di atas menggambarkan pendapatan yang dihasilkan dari

usahanya adalah sebesar Rp 35,40 juta. Pendapatan agrega an kegiatan usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati. Pendapaan rata-rata per

t merupak

70   

pendapatan total dari seluruh usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati di yaitu pendapatan dari 23 pelaku usaha.

Kecamatan Jiken dalam satu tahun menghasilkan manfaat ekonomi lam

Kecamatan Jiken Kabupaten Blora,

Pendapatan agregat yang dihasilkan dari kegiatan tersebut adalah sebesar Rp 814,29 juta.

Pendapatan agregat dalam satu tahun menggambarkan manfaat ekonomi yang dihasilkan pada wilayah setempat dalam periode satu tahun. Pendapatan agregat dalam satu tahun kegiatan usaha pengolahan limbah tunggak jati adalah sebesar Rp 9,77 milyar. Artinya, kegiatan usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati di

da bentuk pendapatan sebesar Rp 9,77 milyar.

Pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati bukan hanya bagi pelaku usaha. Pendapatan juga tercipta bagi pengrajin limbah tunggak pohon jati (tenaga kerja) dalam bentuk upah tenaga kerja. Pendapatan tenaga kerja dalam bentuk agregat dapat dilihat pada Tabel 17 di bawah ini :

Tabel 17. Pendapatan Agregat Tenaga Kerja Pengolahan Limbah Tunggak Jati di Kecamatan Jiken

No Uraian Nilai (Rp)

1 Upah Tenaga Kerja per Usaha 16.117.391

2 Upah Tenaga Kerja Secara Agregat 370.699.993 Upah Tenaga Kerja Agregat dalam 1 Tahun 4.448.399.916 Sumber : Data Primer Diolah (2011)

Tabel 17 di atas menunjukkan upah rata-rata bagi tenaga kerja yang harus

pendapatan bagi tenaga kerja. Setiap usaha, mengeluarkan biaya upah tenaga kerja

rat ata s a memiliki tenaga kerja rata-rata 12

dibayarkan oleh pelaku usaha. Upah yang dibayarkan pelaku usaha merupakan

a-r ebesar Rp 16,11 juta. Setiap usah

71   

di Kecamatan Jiken. Sehingga didapat upah bagi tenaga kerja

satu manfaat ekonomi yang timbul dari kegiatan erja sehingga mengurangi tingkat

Tunggak Jati di Kecamatan Jiken (2011).

orang. Sehingga pendapatan rata-rata setiap tenaga kerjanya setiap bulan adalah sebesar 1,34 juta.

Pendapatan bagi tenaga kerja secara agregat dapat dihitung dengan pendekatan upah bagi tenaga kerja secara agregat. Pendapatan secara agregat tersebut adalah jumlah seluruh pendapatan bagi tenaga kerja pengrajin limbah tunggak pohon jati

secara agregat adalah sebesar Rp 370,69 juta. Artinya kegiatan usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati menghasilkan manfaat ekonomi di Kecamatan Jiken dalam bentuk pendapatan bagi tenaga kerja sebesar Rp 370,69 juta. Maka, pendapatan agregat bagi tenaga kerja yag dihasilkan dalam waktu satu tahun adalah sebesar Rp 4,44 milyar.

7.3. Analisis Penyerapan Tenaga Kerja

Kegiatan pengolahan limbah tunggak jati menjadi kerajinan berupa meja akar, meja ukir, lemari display hingga patung ukir pada akhirnya menghasilkan manfaat-manfaat ekonomi. Salah

usaha tersebut adalah terserapnya tenaga k

pengangguran. Jumlah penyerapan tenaga kerja sebagai pengrajin dari kegiatan pengolahan limbah tunggak jati terdapat pada Tabel 18:

Tabel 18. Jumlah Penyerapan Tenaga Kerja Sebagai Pengrajin Limbah

No. Tahun Jumlah

1 2011 278

2 2002 38

Total Penyerapan Tenaga Kerja 240

Sumber : Dinas Perindagkop & UMKM Kab. Blora (2003) dan Data Primer

Pen tingkat penyerapan dan

pertumbuhan tenaga kerja sebelum adanya kebijakan dari Perum Perhutani dalam

Diolah (2011).

yerapan tenaga kerja yang dianalisis adalah

72   

b tuk ker n sesudah adanya kerjasama dengan LMDH.

isis pada hun 2002 dan pada tahun 2011 dengan menggunakan rumus pertumbuhan, sehingga dapat diketahui presentase pertumbuhan tenaga kerjanya. Jumlah tenaga kerja sebagai pengolah limbah tunggak jati pada tahun 2002 hanya sebanyak 38 orang. Namun setelah didirikannya LMDH pada tahun 2003 oleh pihak Perum Perhutani, sebagai salah satu program dari PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) maka banyak masyarakat yang mulai bermata pencaharian sebagai pengolah limbah tunggak pohon jati. Pada maret 2011, jumlah tenaga kerja sebagai pengolah limbah tunggak jati ada 278 orang. Sehingga kegiatan usaha tersebut dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 240 orang.

Pertumbuhan tenaga kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah presentase jumlah tenaga kerja sebagai pengolah limbah tunggak jati pada saat ini (maret 2011) terhadap jumlah tenaga kerja kegiatan usaha tersebut pada tahun 2002. Maka presentase pertumbuhannya:

38

Sumber : Dinas Perindagkop & UMKM (2003) dan Data Primer Diolah (2011) bahwa dari jumlah tenaga kerja pada lah tenaga kerja pada tahun 2011 sebanyak

78 or ng seh an tenaga kerja

jumlah tenaga kerja pada tahun 2002 (sebelum adanya LMDH).

en jasama dengan LMDH da

LMDH terbentuk pada tahun 2003, sehingga pertumbuhan yang dianal ta

ΔTK% = 278 - 38 x 100% = 631,58%

Pada gambar diatas dapat dilihat tahun 2002 sebanyak 38 orang dan jum

2 a ingga menghasilkan pertumbuhan penyerap

sebanyak 631,58%. Artinya, jumlah tenaga kerja pada tahun 2011 sebesar 6,3 kali

73   

tersebut adalah syar

lomp

diserap dari kegiatan Selain tenaga kerja sebagai pengrajin limbah tunggak pohon jati, penyerapan tenaga kerja yang tercipta adalah pada tenaga kerja sebagai pemasok bahan baku limbah tunggak pohon jati. Pemasok bahan baku

ma akat yang berasal dari tiga desa sekitar hutan di Kecamatan Jiken, yaitu Desa Jiken, Desa Nglebur dan Desa Cabak.

Para pelaku usaha telah memiliki masing-masing langganan dalam memasok bahan baku yang mereka butuhkan. Para pemasok tersebut terbentuk dalam satu kelompok dengan jumlah anggotanya rata-rata 6 orang setiap ke oknya. Sehingga untuk seluruh kegiatan usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati yang berjumlah 23 pelaku usaha, jumlah pemasok bahan baku di Kecamatan Jiken adalah sebanyak 138 orang (lampiran 6).

Kegiatan usaha pengolahan limbah pohon jati di Kecamatan Jiken menyerap tenaga kerja baik sebagai pengrajin limbah atau pemasok limbah tersebut. bila dijumlahkan, total tenaga kerja yang dapat

usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati adalah sebesar 416 orang (lampiran 6).

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan

1. Karakteristik usaha dari usaha pengolahan limbah tunggak pohon jati ini termasuk kedalam skala usaha mikro, dengan SDM tradisional, lembaga kelompok usaha dalam bentuk paguyuban yang kurang aktif dan akses terhadap pasarnya yang cenderung sulit karena kegiatan pengolahan limbah tunggak jati memang belum umum. Rantai pemasaran dari kegiatan ini adalah dimulai dari pemasok bahan baku, pengrajin limbah tunggak, reseller atau pedagang perantara dan yang terakhir adalah konsumen akhir. Fungsi dari rantai pemasaran optimal pada pemasok bahan baku hingga pengolahan. Namun, masih tergantung dengan pembeli tetap dan produk yang dibuat hanya berdasarkan order sehingga pemilik usaha tidak dapat menentukan produk yang dijual.

2. Nilai tambah yang dihasilkan pada masing-masing produk adalah pada produk meja akar sebesar 56,48 % dari nilai produknya, produk meja ukir 75,97 % dari nilai produknya, produk lemari display sebesar 67,99 % dan produk patung ukir sebesar 73,05 % dari nilai produknya. Pendapatan rata-rata bagi usaha yang dihasilkan adalah sebesar Rp 35,40 juta sehingga pendapatan usaha secara agregat adalah sebesar Rp 9,77 milyar.

Pendapatan bagi tenaga kerja dalam bentuk biaya upah tenaga kerja yang harus dikeluarkan bagi setiap pelaku usaha adalah sebesar Rp 16,11 juta, sehingga pendapatan bagi tenaga kerja secara agregat adalah sebesar Rp 4,44 milyar.

   

75   

3. Manfaat ekonomi lainnya dari kegiatan pengolahan limbah tunggak pohon jati adalah terciptanya penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengurangi angka pengangguran di wilayah setempat. Tenaga kerja sebagai pengrajin limbah tunggak jati adalah sebanyak 278 orang, yaitu 6,3 kali jumlah tenaga kerja sebagai pengrajin limbah sebelum didirikannya LMDH.

Tenaga kerja sebagai pemasok limbah tunggak jati adalah sebanyak 138 orang. Sehingga total jumlah tenaga kerja yang dapat diserap adalah sebanyak 416 orang.

8.2. Saran

1. Pemerintah kabupaten Blora sebaiknya melakukan pembinaan kepada para pelaku usaha agar dapat mengembangkan pasar sehingga penjualan produk tidak hanya bergantung kepada para reseller atau pemesanan saja. Selain itu, pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan informasi-informasi yang dibutuhkan bagi para pelaku usaha pengolahan limbah tunggak jati seperti halnya informasi dalam pengadaan pameran hingga informasi mengenai nilai tambah yang lebih besar terdapat pada kerajinan ukir daripada kerajinan non ukir.

2. Pemerintah hendaknya memberikan pelatihan dan penyuluhan agar produk meja akar ditingkatkan pengolahannya seperti dalam pemberian aksen ukir sehingga nilai tambahnya dapat ditingkatkan. Selain itu pemerintah hendaknya memberikan pembinaan dalam manajemen pemasaran bagi produk lainnya yang memiliki nilai tambah tinggi namun permintaan pasar yang rendah. Pembinaan manajemen pemasaran tersebut bisa dalam

76   

bentuk pengadaan pameran rutin bagi hasil-hasil kerajinan pengolahan limbah tunggak.

3. Agar dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak, sebaiknya pemerintah melakukan pembinaan terhadap UMKM nya dalam manajemen usaha dan pembinaan kepada masyarakat lainnya agar dapat ikut dalam kegiatan pengolahan limbah tunggak pohon jati.

DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, Romadoni. 2007. Identifikasi Limbah Pemanenan Jati di KPH Banyuwangi Utara Perum Perhutani Unit II Jawa Timur [Skripsi].

Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Badan Pusat Statistik. 2010. Produksi Kayu Bulat oleh Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan Menurut Jenis Kayu, 2004-2009. h p: tt //www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=60&n otab=3. diakses: 20 Desember 2010

. 2010. Produksi Kayu Jati Menurut Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) di Jawa Tengah Keadaan Februari Tahun 2010(m).http://jateng.bps.go.id/2006/web06bab105/web06_1050502.html.

diakses: 20 Desember 2010

. 2011. Blora dalam Angka Tahun 2010. Blora : Badan Pusat Statistik Kabupaten Blora

Fatmasari, Dian Sapta Wulan. 2001. Analisis Potensi Pertumbuhan Ekonomi di Kota

Tangerang.http://www.docstoc.com/docs/36647921/Analisis-Potensi- Pertumbuhan-Ekonomi-di-Kota-Tangerang. diakses: 24 Februari 2011

Firdaus, Muhammad. 2008. Manajemen Agribisnis. Jakarta: Bumi Aksara

Kementrian Lingkungan Hidup. 2008. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Jakarta

Komalasari, Putri. 2009. Kuantifikasi Kayu Sisa Penebangan Jati pada Areal Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Tersertifikasi [Tesis]. Bogor:

Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor

Kotler, Philip dan Dary Amstrong. 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid I.

Jakarta: Erlangga

Maimun. 2009. Analisis Pendapatan Usahatani, Nilai Tambah dan Saluran Pemasaran Kopi Arabika Organik & Anoeganik Aceh Tengah-Kasus Pengolahan Bubuk Kopi Ulee Kareng di Banda Sceh Nanggroe Aceh Darussalam [Skripsi]. Bogor: Program Sarjana Ekstensi Manajemen

Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Martawijaya, Abdurahim dan Paribroto Sutigno. 1990. Peningkatan Efisiensi dan Produktifitas Pengolahan Kayu melalui Pengurangan dan Pemanfaatan Limbah. Jakarta.

77

78 Mulyana, Dadan dan Ceng Asmarahman. 2010. 7 Jenis Kayu Penghasil Rupiah.

Jakarta: Agromedia Pustaka

Rahim, Abd dan Diah Ratno Dwihastuti. 2002. Pengantar, Teori dan Kasus Ekonomika Pertanian. Jakarta: Penebar Swadaya

Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Sari, Kasmalia. 2010. Pemasaran Mebel Kayu Jati Jepara [Tesis]. Bogor:

Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Siregar, Hermanto. 2009. Makro-Mikro Pembangunan-Kumpulan Makalah dalam Esai. Bogor: IPB Press

Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Jakarta: Universitas Indonesia

Zamrowi, Muhammad Taufik. 2007. Analisis Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri Kecil http://eprints.undip.ac.id/15705/1/M_Taufik_Zamrowi.pdf.

diakses: 24 Februari 2011

Lampiran 1. Analisis Nilai Tambah Metode Hayami Kerajinan Meja Akar pada Bulan Maret 2011

No Variabel Perhitungan Nilai

input, output, harga

1 output/total produksi (unit/periode) A 228

2 input bahan baku (tunggak/periode) B 228

3 input tenaga kerja (HOK/periode) C 330

4 Faktor Konveksi (1)/(2) D = A / B 1

5 Koefisien tenaga kerja (3)/(2) E = C / B 1,45

6 harga Produk (Rp/unit) F 580.000

7 Upah rata-rata TK per HOK (Rp/HOK) G 50.000 Pendapatan dan Keuntungan

8 Harga input bahan baku (Rp/tunggak) H 146.000 9 Sumbangan input lain (Rp/tunggak) I 106.400 10 Nilai Produk (4)x(6) (Rp/tunggak) J = D X F 580.000 Balas Jasa untuk Faktor Produksi

14 Marjin (10)-(8) (Rp/tunggak) Q = J – H 434.000 a. Pendapatan tenaga kerja (12a)/(14) (Rp/tunggak) R = ( M / Q ) 16,67 % b. Sumbangan input lain (9)/(14) (%) S = ( I / Q ) 24,52 % c. Keuntungan usaha (13a)/(14) (%) T = ( O / Q ) 58,81 % Sumber : Data Primer Diolah (2011)

 

80  

Lampiran 2. Analisis Nilai Tambah Metode Hayami Kerajinan Meja Akar Ukir pada Bulan Maret 2011

No Variabel Perhitungan Nilai

Input, Output, Harga

1 output/total produksi (unit/periode) A 11

2 input bahan baku (tunggak/periode) B 11

3 input tenaga kerja (HOK/periode) C 88

4 Faktor Konveksi (1)/(2) D = A / B 1

5 Koefisien tenaga kerja (3)/(2) E = C / B 8

6 harga Produk (Rp/unit) F 3.250.000

7 Upah rata-rata TK per HOK (Rp/HOK) G 65.000 Pendapatan dan Keuntungan

8 Harga input bahan baku (Rp/tunggak) H 540.000 9 Sumbangan input lain (Rp/Tunggak) I 241.000 10 Nilai Produk (4)x(6) (Rp/tunggak) J = D X F 3.250.000 Balas Jasa untuk Faktor Produksi

14 Marjin (10)-(8) (Rp/tunggak) Q = J – H 2.710.000 a. Pendapatan tenaga kerja (12a)/(14)

(Rp/tunggak)

R = ( M / Q )

19,19%

b. Sumbangan input lain (9)/(14) (%) S = ( I / Q ) 08,89%

c. Keuntungan usaha (13a)/(14) (%) T = ( O / Q ) 71,92%

Sumber : Data Primer Diolah (2011)  

81  

Lampiran 3. Analisis Nilai Tambah Metode Hayami Kerajinan Display Akar pada Bulan Maret 2011

No Variabel Perhitungan Nilai

Input, Output, Harga

1 output/total produksi (unit/periode) A 14

2 input bahan baku (tunggak/periode) B 14

3 input tenaga kerja (HOK/periode) C 72

4 Faktor Konveksi (1)/(2) D = A / B 1

5 Koefisien tenaga kerja (3)/(2) E = C / B 5,14

6 harga Produk (Rp/unit) F 1.390.000

7 Upah rata-rata TK per HOK G 50.000

Pendapatan dan Keuntungan

8 Harga input bahan baku (Rp/tunggak) H 342.000

9 Sumbangan input lain (Rp) I 103.000

10 Nilai Produk (4)x(6) (Rp/tunggak) J = D X F 1.390.000 11 a. Nilai tambah (10)-(8)-(9) (Rp/tunggak) K = J - H – I 945.000 b. Rasio nilai tambah (11a)/(10) (%) L = ( K / J ) 67,99 % 12 a. Pendapatan tenaga kerja (5)x(7) (Rp/tunggak) M = E X G 257.142 b. Imbalan tenaga kerja (12a)/(11a) (%) N = ( M / K ) 27,21 % 13 a. Keuntungan (11a)-(12a) (Rp/tunggak) O = K – M 687.857 b. Tingkat keuntungan(13a)/(10) (%) P = ( O – J ) 49,49 % Balas Jasa untuk Faktor Produksi

14 Marjin (10)-(8) (Rp/tunggak) Q = J – H 1.048.000 a. Pendapatan tenaga kerja (12a)/(14) (Rp/tunggak) R = ( M / Q ) 24,54 % b. Sumbangan input lain (9)/(14) (%) S = ( I / Q ) 09,83 % c. Keuntungan usaha (13a)/(14) (%) T = ( O / Q ) 65,64 %

14 Marjin (10)-(8) (Rp/tunggak) Q = J – H 1.048.000 a. Pendapatan tenaga kerja (12a)/(14) (Rp/tunggak) R = ( M / Q ) 24,54 % b. Sumbangan input lain (9)/(14) (%) S = ( I / Q ) 09,83 % c. Keuntungan usaha (13a)/(14) (%) T = ( O / Q ) 65,64 %