• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai tukar rupiah sejak akhir 2008: skala pergerakan dan faktor-faktor pendorong

B. BEBERAPA PERKEMBANGAN PENTING TERAKHIR DALAM EKONOMI INDONESIA

2. Nilai tukar rupiah sejak akhir 2008: skala pergerakan dan faktor-faktor pendorong

a. Rupiah telah menguat secara berarti sejak bulan Maret, terutama terhadap dolar Amerika yang melemah

Sejak bulan Maret, Rupiah telah menguat secara berarti terhadap dolar Amerika, dan secara tipis terhadap mata uang lain

Sejak bulan Maret 2009, Rupiah Indonesia telah menguat sebesar 22 persen terhadap dolar Amerika (USD). (Tabel 13, Gambar 31) Rupiah juga menguat terhadap mata uang lainnya (Tabel 13), dengan kurs tukar efektif riil (REER, suatu indeks utama kurs tukar bilateral rupiah, dan abstraksi dari perbedaan dalam laju inflasi) lebih dari 16 persen selama periode ini (Gambar 32). Tetapi tingkat dan laju penguatan terhadap dolar Amerika telah meningkatkan keprihatinan akan kelangsungannya dan juga dampak pada ekonomi riil dan daya saing.

Arus masuknya modal asing ke pasar uang Indonesia dan pemulihan harga komoditas tampaknya berperan besar dalam penguatan rupiah, dan hubungannya terbentuk di bawah. Secara singkat, peningkatan 1 persen dalam investasi bukan penduduk pada aktiva keuangan Indonesia berdampak pada penguatan 0,62 persen terhadap dolar Amerika, dengan harga komoditas tetap; peningkatan 1 persen dalam harga komoditas ekspor non-migas berbobot berdampak pada penguatan 0,49 persen, dengan arus masuk modal tetap – dan faktor-faktor ini menyumbang sampai 73 persen dari variasi pada kurs tukar spot antara bulan Oktober 2008 and November 2009. Kedua faktor ini menjelaskan lebih banyak lagi (89 persen) dari pergerakan REER pada periode ini. (Tabel 14 dan 15)

Gambar 31: Sejak Maret, rupiah telah menguat jauh terhadap dolar Amerika dan dolar Amerika telah melemah terhadap berbagai mata uang

(USD (Indeks luas dolar Amerika, di-indeks ke 100 pada tanggal 21 Januari 1997)

Gambar 32: Kurs tukar Indonesia telah meningkat secara berarti terhadap berbagai mata uang secara riil

(kurs tukar efektif riil berdasar indeks berbobot perdagangan JP Morgan; rupiah per tingkat dolar Amerika)

8500 9000 9500 10000 10500 11000 11500 12000 12500 80 85 90 95 100 105 110 115 120

Jan‐08 Apr‐08 Jul‐08 Oct‐08 Feb‐09 May‐09 Aug‐09 Dec‐09

IDR/USD  (RHS) Dollar Index  (LHS) IDR Appreciation IDR per USD Index 8000 8750 9500 10250 11000 11750 12500 100 130 160 190

Jan‐07 Apr‐07 Jul‐07 Oct‐07 Jan‐08 Apr‐08 Jul‐08 Oct‐08 Jan‐09 Apr‐09 Jul‐09 Oct‐09 IDR Real Effective Exchange Rate  (LHS) IDR/USD Spot  (RHS) Appreciation Index IDR per USD

Sumber: Bank Sentral Amerika dan BI melalui CEIC Sumber: JP Morgan dan BI melalui CEIC

Indeks umum Bank Sentral Amerika telah melemah 11,5 persen sejak bulan Maret, sementara saham dan aktiva pasar berkembang dan harga-haraga komoditas utama telah bangkit dengan kuat

Rupiah bukanlah satu-satunya mata uang yang menguat terhadap dolar Amerika pada bulan-bulan terakhir. Indeks Umum Dolar Dewan Bank Sentral Amerika (yang menyertakan 26 mata uang yang mewakili mitra-mitra dagang utama Amerika) telah melemah sebesar 11,5 persen sejak bulan Maret, ketika pasar saham global dan harga-harga aktiva pada pasar negara berkembang pada khususnya mulai meningkat (Tabel 13).

Dolar Amerika telah menunjukkan hubungan terbalik yang kuat dengan harga aktiva berisiko sejak dimulainya krisis bulan Oktober yang lalu. Pada puncak krisis, ketika harga saham dan aktiva jatuh di akhir tahun 2008 dan sekali lagi pada bulan Februari-Maret 2009, indeks dolar menguat ke tingkat tertingginya sejak tahun 2005 karena penanam modal mengganti aktivanya yang penuh risiko ke uang tunai dolar Amerika. Ketika pasar aktiva mulai pulih pada triwulan kedua tahun 2009 dan selera risiko investor kembali, dolar Amerika telah turun secara berarti.

Sejak bulan Maret, indeks-indeks saham utama Asia telah meningkat lebih dari rata-rata 80 persen. (Gambar 33, Tabel 13) Selain itu, kebijakan moneter yang longgar juga memungkinkan obligasi untuk beraksi baik pada ekonomi baru dan maju: di Indonesia, yield obligasi negara 5 tahun dalam mata uang lokal telah turun 33 persen sejak bulan Maret, sementara di negara maju seperti Amerika Serikat, program-program pelonggaran kuantitatif bank sentral telah menopang harga-harga obligasi. (Gambar 34) Selain itu, emas, yang dipandang oleh investor sebagai pembendung inflasi dan juga mata uang alternatif, dan sejarahnya memiliki hubungan terbalik dengan dolar Amerika, telah meningkat sebesar 20 persen sejak bulan Maret ke nilai tertinggi dalam nilai nominal.

Gambar 33: Kurs tukar dolar Amerika telah bergerak ke arah yang berlawanan dengan indeks saham dunia sejak dimulainya gejolak pasar keuangan pada bulan September 2008

(indeks pasar saham, di-indeks ke 100 pada 2 Januari 2008)

Gambar 34: Yield obligasi Indonesia dalam mata uang lokal telah jatuh sepertiganya sejak bulan Maret, tapi masih lebih tinggi dibanding yield yang lain

(yield obligasi negara 5 tahun dalam mata uang lokal dalam persen) 80 85 90 95 100 105 110 115 120 25 40 55 70 85 100 115

Jan‐08 Apr‐08 Jul‐08 Oct‐08 Feb‐09 May‐09 Aug‐09 Dec‐09 Jakarta JCI Bombay BSE Shanghai  Composite  Thailand  SET  Singapore SGX Dollar Index  (RHS)

Equity Indices 2 Jan 08 = 100 Dollar Index March  2009 0 3 6 9 12 15 18 21 24 0 3 6 9 12 15 18 21 24

Jan‐08 Apr‐08 Jul‐08 Oct‐08 Feb‐09 May‐09 Aug‐09 Dec‐09

Indonesia Philippines Thailand Malaysia United States Percent Percent

Sumber: CEIC dan Bank Dunia Sumber: CEIC

Kurs tukar rupiah/dolar Amerika menjadi sangat berkaitan dengan indeks dolar Amerika sejak dimulainya gejolak keuangan dunia pada bulan September 2008, dengan keseluruhan indeks dolar Amerika terhubung dengan pergerakan yang lebih besar pada kurs rupiah/dolar Amerika

Kurs tukar rupiah/dolar Amerika telah bergerak erat dengan indeks dolar sejak dimulainya krisis pada penghujung tahun 2008 (yaitu, Rupiah telah menguat dengan melemahnya Indeks Dolar, dan sebaliknya), dan pergerakan dalam Indeks Dolar cenderung berkaitan dengan pergerakan yang lebih besar dari proporsional dalam kurs tukar rupiah/dolar Amerika, terutama sejak dimulainya krisis di penghujung tahun 2008. Kaitan antara pergerakan dalam rupiah/dolar Amerika dan Indeks Dolar berada pada 68 persen dari bulan Januari 2007 ke November 2009, menguat menjadi 92 persen jika kita hanya menghitung periode dari bulan September 2008 hingga sekarang. Selain itu, analisa regresi periode Januari 2007-November 2009 menunjukkan bahwa peningkatan 1 persen pada Indeks Dolar berkaitan dengan penurunan 1,22 persen dalam rupiah/dolar Amerika. Memperkecil kerangka waktu ke September 2008-November 2009 memperkuat kaitan ini menjadi 2,1 persen penurunan Rupiah untuk setiap peningkatan 1 persen dalam Indeks Dolar. Kedua hasil itu signifikan secara statistika pada tingkat tinggi dan tampaknya kokoh (Tabel 14).

b. Arus masuknya modal ke aktiva keuangan lancar menjelaskan sebagian besar penguatan …

Kelemahan dolar Amerika, bersama bersama dengan catatan rendahnya suku bunga di Amerika Serikat dan menguatnya pasar-pasar berkembang, telah mendorong arus masuknya modal ukuran besar kepada ekonomi berkembang

Gabungan suku bunga yang rendah di Amerika Serikat, pelemahan dolar Amerika, dan menguatnya harga-harga aktiva di pasar-pasar berkembang telah mendorong arus masuk modal berukuran raksasa ke ekonomi-ekonomi berkembang dengan neraca modal terbuka pada enam bulan terakhir. Investor telah melakukan perdagangan, meminjam dalam dolar Amerika untuk membeli aktiva dengan yield yang lebih besar pada pasar-pasar berkembang — pada suku bunga yang sebetulnya negatif. Hal ini menambah tekanan pada harga aktiva dan mata uang pasar berkembang, mendorong beberapa pemberi komentar untuk menyarankan bahwa beberapa harga aktiva dapat meningkat dengan lebih dari yang dijustifikasi dengan meningkatkan asas pokok ekonomi.

Indonesia telah menarik arus masuk modal sebesar 6,5 miliar dolar Amerika sejak Maret, yang berkaitan erat dengan penguatan rupiah

Indonesia, dengan selisih suku bunganya yang sangat menarik dan neraca permodalan yang terbuka, telah menarik arus masuk permodalan bukan penduduk yang cukup besar. (Gambar 35) Sejak bulan Maret 2009, Indonesia telah menyerap 6,46 miliar dolar Amerika dalam arus masuk asing bersih, 40 persen dari nilai itu pada bulan September dan Oktober (Gambar 36).

Tanpa sterilisasi penuh oleh bank sentral (membangun cadangan devisa asingnya dan mengimbangi dampaknya pada ekonomi dalam negeri), aliran masuk demikian sesuai sifatnya akan menyebabkan penguatan jangka pendek kurs tukar. Kaitan antara kurs rupiah/dolar Amerika dan keseluruhan kepemilikan bukan penduduk adalah 70 persen antara Oktober 2008 dan November 2009 (yaitu Rupiah menguat ketika bagian modal asing meningkat), dengan peningkatan 1 persen pada bagian modal asing berkaitan dengan penguatan 0,53 persen kurs rupiah/dolar Amerika. (Tabel 14, Gambar 36) Sejak jumlah bagian modal asing di Indonesia telah meningkat sekitar 28 persen sejak bulan Maret (dengan September dan Oktober menyumbang 9 poin persentase dari kenaikan itu), aliran masuk modal telah memberikan andil secara berarti kepada penguatan Rupiah pada periode ini.

Gambar 35: Adanya aliran masuk bersih modal yang berarti menuju Indonesia sejak bulan Maret…

(arus bersih dalam miliar dolar Amerika; Indeks dolar Amerika dan rupiah/dolar Amerika di-indeks ke 100 pada Oktober 2008)

Gambar 36: … meningkatkan bagian modal di Indonesia oleh bukan penduduk sebesar 6,4 miliar dolar Amerika – pada satu triwulan

(kepemilikan saham bukan penduduk, obligasi pemerintah dalam rupiah dan instrumen pasar uang jangka pendek)

80 85 90 95 100 105 110 115 120 ‐30000 ‐20000 ‐10000 0 10000 20000 30000

Oct‐08 Dec‐08 Mar‐09 May‐09 Jul‐09 Sep‐09

IDR Appreciation IDR/USD  (RHS) Net Foriegn  Flows (LHS) Dollar Index (RHS) IDR billion Index Oct08=100 8500 9500 10500 11500 12500 100000 150000 200000 250000

06‐Oct‐08 06‐Jan‐09 06‐Apr‐09 06‐Jul‐09 06‐Oct‐09

IDR billion IDR per USD IDR/USD spot  (RHS) Total Foreign  Capital Stock  (LHS) IDR Appreciation

Sumber: Federal Reserve Board, CEIC, BI dan Bank Dunia Sumber: Federal Reserve Board, CEIC, BI dan Bank Dunia

Investasi bukan penduduk dalam aktiva keuangan Indonesia berkaitan secara terbalik dengan kekuatan dolar Amerika, selisih suku bunga, dan spread EMBI Indonesia …ketika risiko meningkat, pihak asing akan melepaskan kepemilikan aktiva Indonesia mereka

Di antara faktor-faktor pendukung aliran masuk, bagian modal asing menunjukkan keterkaitan terbalik 80 persen dengan Indeks Dolar dan selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat. Analisa regresi menunjukkan bahwa kenaikan 1 persen Indeks Dolar berkaitan dengan penurunan -1,34 persen pada bagian modal asing, dengan suku bunga tetap. Seperti itu, kenaikan 1 persen dalam selisih suku bunga (antara SBI 3 bulanan dan T-Bills 3 bulanan Amerika Serikat) berkaitan dengan 0,62 persen penurunan dalam bagian modal asing, dengan Indeks Dolar tetap sama. (Tabel 14)

Walaupun tampaknya tidak betul bahwa peningkatan dalam selisih suku bunga berkaitan dengan penurunan dan bukan peningkatan dalam bagian saham asing, hal ini dapat mencerminkan perbedaan mendasar antara suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat yang sangat tinggi sehingga peningkatan lebih lanjut dari selisih biasanya disebabkan oleh suatu guncangan negatif atau naiknya risiko Indonesia yang disadari sehingga sejalan dengan penurunan pada penempatan modal bukan penduduk. Jumlah bagian modal asing di Indonesia memiliki keterkaitan terbalik sebesar 95 persen dengan spread EMBI Indonesia, yang biasanya digunakan sebagai nilai untuk mengukur risiko negara (Gambar 38): Peningkatan 1 persen dalam spread EMBI berkaitan dengan penurunan 0,23 persen dalam bagian modal asing. Jadi ketika spread dan risiko negara meningkat, dana mengalir keluar. (Spread ini juga memiliki keterkaitan positif tinggi dengan Indeks Dolar dan selisih suku bunga.)

Indonesia masih secara khusus rentan terhadap aliran masuk uang panas karena aliran itu

cenderung cepat berubah arah dan dapat pergi secara tiba-tiba,

mengganggu pasar uang dan ekonomi

Walaupun kecepatan dan volume aliran masuk modal ke aktiva keuangan lancar Indonesia tidak berbeda dengan negara-negara pasar berkembang lainnya di Asia dan America Latin, nusantara tetap sangat rentan terhadap “uang panas” ini. Pertama, negara ini memiliki pasar-pasar modal terbuka, lebih dibanding negara tetangganya, dan selama ini tetap memegang komitmen untuk tidak menerapkan kendali modal. Kedua, warisan dari krisis tahun 1997-98 membuat investor di Indonesia mudah untuk memindahkan dana ukuran besar karena alasan yang sangat rapuh hubungannya dengan dasar-dasar (seperti ditunjukkan oleh keterkaitan negatif yang sangat kuat antara spread EMBI, yang menunjukkan kesadaran akan risiko negara, dan bagian dari kepemilikan bukan penduduk). Bila dananya keluar dari negara ini secepat – dan biasanya lebih cepat – dari pada waktu ia mulai mengalir, dan perdagangan pada pasar keuangan Indonesia relatif tipis, aliran-aliran ini akan dapat secara berarti menambah perubahan pasar yang cepat, dengan dampak yang lebih luas pada kepercayaan investor, kurs tukar, dan ekonomi riil. Intervensi oleh penyusun kebijakan dapat membatasi dampak aliran ini, tetapi sebagian besar pilihan kebijakan membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. (Gambar 39).

Gambar 37: Cadangan devisa asing Indonesia telah berkaitan dengan kurs tukar valuta sejak Oktober 2008, mengesankan bahwa BI telah agak membatasi pergerakan liar kurs tukar valuta

(cadangan dalam juta dolar Amerika, tingkat kurs rupiah/dolar Amerika)

Gambar 38: Kepemilikan bukan penduduk akan aktiva keuangan Indonesia telah menurun ketika risiko negara meningkat, dan sebaliknya

(bagian aktiva keuangan Indonesia milik asing dalam miliar rupiah; Indeks Dolar, spread EMBI dan selisih suku bunga di-indeks ke 100 pada 6 Oktober 2008)

7500 8500 9500 10500 11500 12500 20000 30000 40000 50000 60000 70000

Jan‐05 Oct‐05 Aug‐06 May‐07 Mar‐08 Dec‐08 Oct‐09

IDR/USD Spot  (RHS) International Reserves  (LHS) IDR Appreciation USD million IDR per USD 20 80 140 200 100000 150000 200000 250000

06‐Oct‐08 06‐Jan‐09 06‐Apr‐09 06‐Jul‐09 06‐Oct‐09

Total Foreign Capital Stock (LHS) Indonesia EMBI spread  (RHS) Dollar Index (RHS) Indonesia‐US Interest  Rate Differential (RHS) IDR billion Index 6 Oct 08=100 

Sumber: BI via CEIC dan Bank Dunia Sumber: Federal Reserve Board, CEIC, BI dan Bank Dunia

Gambar 39: Kebijakan moneter dan fiskal dapat membatasi dampak aliran masuk modal, tetapi kebanyakan pilihan membutukan dukungan dana yang kuat

A : Allow inflow of money (shifts LM right ) → Can be inflationary

B : Sterilize inflow by building reserves, OMO (stay at B ) → Can prolong inflows by keeping interest rates high C : Allow appreciation (shifts IS and BP left ) → Exports lose competitiveness

D : Impose capital controls (moves BP upward, steeper slope ) → Lose efficiency; have to finance investment through higher cost domestic funds rather than borrowing from abroad at lower cost

E : Fiscal contraction (shifts IS left ) → Can be recessionary; politically difficult

Model IS-LM adalah kerangka Keynesian yang berfokus pada interaksi antara elemen ekonomi ril dan moneter. Kurva IS (investasi dan simpanan) menjelaskan hubungan antara output dan tingkat suku bunga yang memberikan keseimbangan di pasar barang, sedangkan kurva LM (preferensi likuiditas dan penawaran uang) menjelaskan hubungan antara

pendapatan dan tingkat suku bunga yang memberikan keseimbangan di pasar uang.

B

A

C, E

D

LM

BP=0

LM' IS

IS'

BP '

i

Y

c. …dengan pemulihan harga komoditas juga membaik

Dengan komoditas merupakan sebagian besar ekspor Indonesia, rupiah cenderung menguat dengan harga komoditas

Harga komoditas adalah jalur penting kedua tempat jalan kelemahan dolar Amerika berdampak pada kurs tukar rupiah/dolar Amerika. Indeks dolar Amerika memiliki keterkaitan terbalik yang kuat dengan harga komoditas: kenaikan 1 persen Indeks berkaitan dengan penurunan 4,2 persen dalam EWCPI non minyak Indonesia. (Tabel 14) Komoditas menyumbang lebih dari setengah jumlah ekspor Indonesia. Penelitian empiris oleh Rogoff dan Chen (2003) telah menemukan keterkaitan yang berarti antara kurs tukar dan harga dunia dari komoditas ekspor dari Australia, Kanada dan Selandia Baru—tiga negara yang komoditas utamanya merupakan komponen utama ekspor.

Tabel 13: Pergerakan dalam kurs tukar dan harga aktiva sejak September 2008

Level Sep 2 2008 March 2009 High Level Nov 9 2009 % Change since March % Change since Sep 08 IDR Crosses IDR/USD 9192 12065 9420 -22 2.5 IDR/EUR 13407 16130 14040 -13 5 IDR/GBP 16463 17119 15705 -8 -5 IDR/SGD 6437 7837 6778 -13.5 5 IDR/AUD 7808 8187 8712 6.4 11.5 USD Crosses INR/USD 44.4 51.8 46.36 -10.5 4 SGD/USD 1.4308 1.5565 1.3862 -11 -3 KRW/USD 1134.45 1570.1 1154.6 -26 2 JPY/USD 108.85 97.17 89.92 -7.5 -17 USD/AUD 0.8360 0.6301 0.9293 47 11 USD/EUR 1.4522 1.2580 1.4999 19 3 Dollar Index 99.83 115 101.9 -11.4 2 Stock Indices Jakarta 2159 1256 2406 92 11 Bombay 7861 4160 8703 109 11 Shanghai 2305 2071 3175 53 38 Singapore 2759 1456 2693 85 -2 Thailand 659 413 713 73 8

5yr IDR Govt Bond Yield 12 14 9.35 -33 -22

Gold Price ($/troy oz) 798 890 1062 20 33

Sumber: CEIC dan Bank Dunia

Hubungan yang sama terdapat antara indeks harga komoditas berbobot ekspor (EWCPI) dalam dolar Amerika dan kurs tukar efektif yang riil dan nilai spotnya. (Gambar 40, Gambar 41) Kurs tukar spot menunjukkan keterkaitan terbalik sebesar 69 persen dengan EWCPI berminyak atau tanpa minyak. (seperti Rupiah menguat ketika harga komoditas meningkat). Peningkatan 1 persen dalam EWCPI non minyak terkait dengan 0,26 persen penguatan rupiah/dolar Amerika (penguatan itu 0.25 persen untuk minyak EWCPI). Keterkaitan dan hasil regresi bahkan lebih kuat dari REER. EWCPI non-minyak menunjukkan keterkaitan 88 persen dengan kurs tukar riil, dengan 1 persen kenaikan oleh indeks berkaitan dengan peningkatan 0,46 persen (hubungan ini serupa dengan EWCPI minyak). (Tabel 14, Tabel 15)

Hasil-hasil tersebut mengesankan bahwa kelemahan yang baru terjadi atas Indeks Dolar telah merembes menjadi harga komoditas yang lebih tinggi, dan dengan adanya keterkaitan positif antara Rupiah dan harga-harga komoditas, hal ini merupakan saluran lain lagi tempat rupiah/dolar Amerika telah menguat.

Dolar Australia, dengan karakteristik yang sama dengan rupiah, telah menguat lebih tinggi lagi sejak bulan Maret

Banyak dari karakteristik yang tampaknya mendukung rupiah juga dimiliki oleh dolar Australia (AUD), walaupun kedua ekonomi itu memiliki perbedaan mendalam atas pendapatan dan pembangunan kelembagaan. Kedua ekonomi itu memiliki neraca modal terbuka, suku bunga dalam negeri cukup lebih tinggi dari suku bunga dunia, dan bagian komoditas yang besar dalam keranjang ekspor mereka. Keduanya telah menguat cukup tinggi terhadap dolar Amerika dan mata uang lainnya pada tahun ini: dolar Australia telah menguat sebanyak 47 persen terhadap dolar Amerika sejak bulan Maret, dua kali seperti rupiah. (Tabel 13)

Gambar 40: Pergerakan harga komoditas berkaitan dengan pergerakan dalam rupiah, mencerminkan pentingnya komoditas dalam keranjang ekspor Indonesia

(Harga ekspor komoditas Indonesia di-indeks ke 100 di tahun 2000)

Gambar 41: … dan hubungannya cukup kuat menghadapi kurs tukar riil efektif

(Dolar umum dolar Amerika di-indeks ke 100 pada 21 Januari 1997; harga emas dalam dolar Amerika per satuan troy oz) 8500 9500 10500 11500 12500 100 200 300 400 500

2‐Jan‐07 2‐May‐07 2‐Sep‐07 2‐Jan‐08 2‐May‐08 2‐Sep‐08 2‐Jan‐09 2‐May‐09 2‐Sep‐09 IDR/USD spot  (RHS) Oil Export Weighted  Commodity Price Index (LHS) Non‐Oil Export Weighted  Commodity Price Index  (LHS) IDR Appreciation Index 3 Jan 2000 =100 Index 3 Jan 2000 =100 100 120 140 160 180 200 100 150 200 250 300 350

Jan‐07 May‐07 Sep‐07 Jan‐08 May‐08 Sep‐08 Jan‐09 May‐09 Sep‐09

Index Jan04=100 Index Jan04=100 Oil Export‐Weighted  Commodity Price Index  (LHS) Non‐Oil Export Weighted  Commodity Price Index  (LHS) IDR Real Effective  Exchange Rate  (RHS)

Sumber: BI lewat CEIC dan Bank Dunia Sumber: Federal Reserve Board, CEIC, BI dan Bank Dunia

Tabel 14: Analisa regresi kurs tukar rupiah dan beberapa dari keterkaitan utamanya (regresi atas data harian)

Dependent Variable: Log IDR/USD spot

Independent Variab le Time Period Coefficient R Square T-Statistic

(1) Log FRB Dollar Index Jan 07 - Nov 09 1.229 0.47 24.1

(2) Log FRB Dollar Index Sep 08 - Nov 09 2.108 0.85 38.9

(3) Log Foreign Capital Stock Oct 08 - Nov 09 -0.535 0.49 -16.0

(4) Log Non-Oil Export Weighted CPI Jan 07 - Oct 09 -0.261 0.47 -24.5

(5) Log Oil Export Weighted CPI Jan 07 - Oct 09 -0.246 0.48 -24.7

(6) Log Indo EMBI Spread Oct 08 - Nov 09 0.148 0.66 21.9

(7) Log Interest Rate Differential Oct 08 - Nov 09 0.833 0.70 24.4

(8) Log Foreign Capital Stock Oct 08 - Nov 09 -0.621 0.73 -21.1

Log Non-Oil Export Weighted CPI Oct 08 - Nov 09 -0.486 0.73 -17.1

Dependent Variable: Log Foreign Capital Stock

(1) Log FRB Dollar Index Oct 08 - Nov 09 -2.506 0.65 -21.5

(2) Log Indo EMBI Spread Oct 08 - Nov 09 -0.228 0.91 -50.4

(3) Log FRB Dollar Index Oct 08 - Nov 09 -0.619 0.73 -8.9

Log Interest Rate Differential Oct 08 - Nov 09 -1.335 0.73 -8.1

Dependent Variable: Log Indo EMBI Spread

(1) Log FRB Dollar Index Oct 08 - Nov 09 11.547 0.78 30.1

Dependent Variable: Log FRB Dollar Index

(1) Log Non-Oil Export Weighted CPI Jan 07 - Oct 09 -0.183 0.76 -45.7

Dependent Variable: Log Non-Oil Export Weighted Commodity Price Index

(1) Log FRB Dollar Index Jan 07 - Oct 09 -4.171 0.76 -45.7

Tabel 15: … dan mengenai keterkaitan dengan kurs tukar efektif riil (regresi atas data bulanan)

Dependent Variable: Log REER

Independent Variab le Time Period Coefficient R Square T-Statistic

(1) Log Non-Oil Export Weighted CPI Jan 04 - Oct 09 0.458 0.77 15.2

(2) Log Oil Export Weighted CPI Jan 04 - Oct 09 0.446 0.73 13.6

(3) Log Net Foreign Assets Jan 04 - Aug 09 0.418 0.82 17.3

(4) Log Non-Oil Export Weighted CPI Jan 04 - Aug 09 0.227 0.89 6.2

Log Net Foreign Assets Jan 04 - Aug 09 0.251 0.89 7.6

Dokumen terkait