BAB III : BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN
C. Nilai Utama HAM dan Sumber-sumber Hukum HAM
Dengan lahirnya Deklarasi HAM Sedunia pada 10 Desember 1948 diharapkan keadilan di dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat di dunia ini dapat ditegakkan. Deklarasi tersebut mempunyai arti penting yang besar karena menjadi dasar untuk mengubah dan membebaskan peradaban manusia yang telah berabad-abad didominasi ketidak-adilan, di mana hak asasi manusia tidak mendapat perlindungan.30 Sebagai bahan diskusi, berikut ini disajikan Nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam HAM.
1. Nilai Utama HAM
a. Kebebasan /Kemerdekaan
30
Siti Musdah Mulia. Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Beragama.Artikel diakses pada 10 April 2008, dari http://www.Geogle. Kebebasan beragama. Com/
Manusia dilahirkan dalam keadaan Merdeka. Karena itu menjadi harapan setiap manusia menjalani kehidupannya dalam keadaan merdeka. Misalnya merdeka memilih Negara, Tempat Tinggal, Berkeluarga, Bergerak, Memilih Pekerjaan, Berserikat Berkumpul, Berekspresi, Mengemukakan pendapat, Memperoleh dan mendayagunakan informasi dan lain-lain.
b. Kemanusiaan/Perdamaian
Manusia dalam menjalani kehidupannya sangat mendambakan ketenteraman, bebas dari rasa takut, terjamin keamanannya dan senantiasa dalam suasana yang damai.
c. Keadilan/kesederajatan/persamaan
Diperlakukan secara wajar dan adil, mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh hak, tidak dibeda-bedakan antara manusia yang satu dengan yang lain dengan alasan apapun merupakan keinginan setiap manusia. Sesungguhnya masih banyak nilai dasar HAM yang lain, tapi jika dicermati nilai-nilai yang lain merupakan pengembangan dari ketiga nilai-nilai dasar tersebut. Misalnya, tanpa diskriminasi dalah merupakan pengembangan dari nilai keadilan/kesederajatan/persamaan. Demokrasi oleh beberapa kalangan dianggap sebagai nilai HAM yang mendasar tapi bila ditelusuri demokrasi merupakan pengembangan dari nilai kebebasan atau kemerdekaan.31
31 Nieke Masruchiyah. Prosiding Seminar KMKG: Peranan Pemuda Dalam Penegakan HAM, 17 Juli 2007. Cisarua.
2. Sumber-sumber Hukum HAM
Dalam bahasa Indonesia, kata sumber berarti asal, asal-usul, asal mula32. Kalau direnungkan dengan lebih mendalam, kata atau istilah asal, asal-usul, dan asal mula tersebut mengandung pengertian yang luas dam umum. Pertama, dapat berarti sebagai materi atau bahan yang akan menjadikannya sebagai hukum. Kedua, dapat pula diartikan sebagai suatu proses yang berkesinambungan berupa rangkaian peristiwa ataupun fakta. Ketiga, sumber dapat pula berarti sebagai bentuk atau wujud yang tampak.
Jadi sumber hukum adalah segala sesuatu yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yaitu apabila dilanggar akan mengakibatkan timbulnya sanksi yang tegas.33 Kalau kata atau istilah
sumber itu dipasangkan dengan kata atau istilah hukum HAM , maka akan menjadi istilah Sumber Hukum HAM. Sumber hukum HAM terdiri dari dua bagian:34
a. Internasional
Hukum HAM Internasional merupakan sumber hukum bagi lahirnya Hukum HAM Nasional, Hukum HAM Internasional mengikat bila memuat
32
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1998), Cet. I, h. 867.
33
Yulie Tiena Mariani, Pengantar Hukum Indonesia, (Jakarta, Sinar Grafika, 2004), Cet. I h. 13.
34
Yayan Sopian. “Peran Masyarakat Dalam Penegakan HAM”. Prosiding Seminar: Sosialisasi HAM Bagi Masyarakat di Propinsi Jakarta, 17 Juli 2007. Cisarua. Hotel Ever Green, Puncak Jawa Barat
kewajiban-kewajiban Internasional bagi para pihak yang meratifikasi dan telah memenuhi jumlah peserta yang ditetapkan dalam perjanjian. Yang mana perjanjian tersebut dapat kita ketahui baik berupa deklarasi, kovenan dan konvensi sebagai berikut;
1. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB (1948).
DUHAM telah disepakati oleh negara-negara anggota PBB pada tanggal 10 Desember 1948 dengan sebuah resolusi nomor 217A (III). Sebagai sebuah “deklarasi” maka sifat dan daya ikatnya juga berbeda dengan konvensi. Sebagai deklarasi ia bersifat “deklaratur”: artinya bahwa deklarasi ini hanya merupakan seruan moral kepada negara-negara peserta untuk memajukan dan menghormati secara universal dan mentaati hak-hak asasi kebebasan manusia. Dengan demikian maka daya ikat dari deklarasi ini bersifat “morality binding” artinya hanya mengikat secara moral kepada negara-negara peserta.
Namun demikian sekalipun merupakan “morality binding”, maksudnya ialah suatu bentuk penghormatan secara moral dari negara-negara peserta DUHAM dengan cara meratifikasi Deklarasi tersebut. Jadi apa yang dinyatakan dalam dokumen DUHAM ini benar-benar dimaksudkan sebagai standar umum, tolok ukur, atau fundamental norm yang dimaksudkan agar dapat dipergunakan sebagai pedoman yang diakui dunia internasional guna menentukan lebih lanjut berbagai hak dan berbagai bentuk kebebasan yang harus diakui oleh rezim-rezim kekuasaan manapun di dunia yang beradap. Sebab perwujudan dari “fundamental human rights – hak-hak asasi manusia” dan “fundamental freedom- kebebasan
asasi manusia” menyaratkan adanya “rule of law” yaitu jaminan perlindungan yang diatur oleh hukum dalam negeri negara-negara serta “supreme of law’ yaitu kehidupan bernegara yang harus berdasarkan atas hukum.
Muktie Fadjar, dalam bukunya “tipe-Tipe negara Hukum, disebutkan bahwa salah satu ciri negara hukum adalah “adanya penghormatan dan perlindungan Hak Asasi Manusia bagi warga negaranya”. Tentunya menjadi syarat mutlak bagi Indonesia untuk membuat regeulasi dibidang tersebut yang secara eksplisit menganut “kedaulatan hukum” dalam konstitusinya. Oleh karena itu sebagai sebuah pedoman umum tentang HAM tentunya DUHAM membutuhkan konvensi khusus yang dibuat oleh negara-negara yang bersifat mengikat sebagai aturan-aturan yang menindak lanjuti dan melaksanakan kententuan dari DUHAM tersebut yaitu berupa The International Covenant on Civil and Political Rights (CCPR) dan The Internastional on Social, Economical and Cultural Rights (ICSECR) serta protocol tambahannya.
2. Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966).
Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik yang kita kenal sekarang, sebagai salah satu kovenan mengenai hak asasi manusia (HAM) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), memiliki sejarah yang panjang. Konflik kepentingan antara negara-negara Blok Timur melawan Blok Barat sangat terasa dalam proses perdebatan di sidang-sidang PBB.
Proses legislasi kovenan ini dimulai pada 1947 dan baru disahkan pada 1966. Dibutuhkan waktu hampir 20 tahun untuk menjadikannya sebagai
instrumen hukum internasional. “Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik atau International Covenant on Civil and Political Rights merupakan produk Perang Dingin: ia merupakan hasil kompromi Politik yang keras antara kekuatan blok Sosialis melawan kekuatan blok Kapitalis,”.
Perdebatan yang terjadi sangat sengit dan masing-masing blok membawa kepentingannya masing-masing. Perdebatan yang paling peting adalah apakah hak-hak ekonomi, sosial dan budaya disatukan dengan hak-hak sipil dan politik atau tidak. Blok Timur, yang didukung negara-negara berkembang menghendaki hak-hak ekonomi, sosial dan politik disatukan dalam kovenan ini. Alasannya, hak ekonomi, sosial dan budaya merupakan hak yang tidak bisa dipisahkan dari hak asasi manusia dan merupakan kondisi yang esensial bagi kebebasan. Namun, blok Barat menolaknya. Inilah hal yang menyebabkan kovenan hak asasi manusia ini terpisah menjadi dua, yakni kovenan tentanag hak sipil dan politik dan Kovenan Internasional hak-hak Ekonomi, politik dan Budaya atau International Convenan on Economic, Social and Cultural.
Dua kovenan ini, kendati tidak sempurna betul, karena merupakan hasil tarik-menarik antara dua kepentingan besar ketika itu, bagaimanapun merupakan produk yang baik untuk memajukan kondisi hak asasi manusia di muka bumi. Namun, para anggota PBB tidak serta-merta menerima kovenan hak-hak sipil dan politik ini.
Selama tiga tahun (1971-1973), PBB melakukan imbauan dan kunjungan ke berbagai negara mendesak untuk segera meratifikasi. Namun,
hasilnya tidak menggembirakan. Negara-negara anggota PBB rupanya khawatir kebebasan mereka untuk bertindak akan dibatasi jika meratifikasi kovenan ini. Ini karena Pasal 2 ayat 2 kovenan itu mengharuskan setiap negara harus segera menyesuaikan perundang-undangannya dengan isi kovenan. Namun, kini sudah 141 dari 159 negara anggota PBB yang meratifikasi. Sebanyak 18 negara belum meratifikasi, termasuk Indonesia.
Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik merupakan dokumen yang amat penting bagi penyelenggaraan dan penegakan hukum dan hak asasi manusia di muka bumi. Kovenan ini antara lain menyepakati hak sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri, bebas menentukan status politik dan bebas melaksanakan pembangunan ekonomi, sosial dan budaya mereka. Di sisi lain, penyelenggara negara penandatangan kovenan harus menghormati dan menjamin semua individu yang berada dalam wilayahnya tanpa membedakan suku, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik dan lain-lainnya.
Kovenan ini juga melarang adanya penyiksaan, atau perlakuan atas hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau penghinaan. Kovenan ini juga menghapus semua jenis perbudakan, penghambaan dan menjamin hak-hak orang-orang yang karena perbuatan pidana harus dibatasi kebebasannya. Jadi kovenan ini tidak ubahnya seperti “kitab suci” penyelenggaraan HAM di muka bumi. Sayang, Indonesia belum mengakuinya sebagai “kitab suci”, kendati rezim militer pimpinan Jendral Soeharto, yang anti kovenan ini, sudah jatuh.
Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi mukadimah Negara-Negara Pihak dalam Kovenan ini, Menimbang bahwa sesuai dengan asas-asas yang diproklamasikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, pengakuan terhadap martabat yang melekat dan hak-hak yang sama dan tidak terpisahkan dari semua anggota keluarga manusia merupakan landasan dari kebebasan, keadilan dan perdamaian di dunia, Mengakui bahwa hak-hak ini berasal dari martabat yang melekat pada manusia, Mengakui bahwa sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Keadaan ideal dari manusia yang bebas dari penikmatan kebebasan dari ketakutan dan kemelaratan, hanya dapatdicapai apabila diciptakan kondisi di mana semua orang dapat menikmati hak-hak ekonomi, sosial dan budayanya, juga hak-hak sipil dan politiknya. Menimbang kewajiban Negara-Negara dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memajukanpenghormatan dan pentaatan secara universal pada hak-hak asasi manusia dan kebebasan. Menyadari bahwa individu, yang mempunyai kewajiban terhadap individu lainnya dan pada masyarakat di mana ia berada, berkewajiban untuk mengupayakan kemajuan dan pentaatan dari hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini, Menyetujui pasal-pasal berikut :
Pasal 1
Semua bangsa mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Berdasarkan hak tersebut mereka dapat secara bebas menentukan status politik mereka dan secara bebas mengejar kemajuan ekonomi, sosial dan budaya mereka.
Semua bangsa, uuntuk tujuan-tujuan mereka sendiri, dapat secara bebas mengelola kekayaan dan sumber daya alam mereka tanpa mengurangi kewajiban-kewajiban yang timbul dari kerjasama ekonomi internasional berdasarkan asas saling menguntungkan dan hukum internasional. Dalam hal apapun tidak dibenarkan untuk merampas hak-hak suatu bangsa atas sumber-sumber penghidupannya sendiri.
Pasal 3
Negara Pihak dalam Kovenan ini, termasuk mereka yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan Wilayah Tanpa Pemerintahan dan Wilayah Perwalian, harus memajukan perwujudan hak untuk menentukan nasib sendiri, dan harus menghormati hak tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
4. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (1965).
!
# $ % & ' & & ! ! ' & ' & # "
e). Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap wanita (1979)
Pada tahun 1967 Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan Deklarasi mengenai Penghapusan terhadap diskriminasi wanita. Deklarasi tersebut memuat hak dan kewajiban wanita berdasarkan persamaan hak dengan pria dan menyatakan agar diambil langkah-langkah seperlunya untuk menjamin pelaksanaan Deklarasi tersebut.
Oleh karena Deklarasi itu sifatnya tidak mengikat maka Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Kedudukan wanita berdasarkan Deklarasi tersebut menyusun rancangan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita. Pada tanggal 18 Desember Tahun 1979 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyetujui Konvensi tersebut. Karena ketentuan Konvensi pada dasarnya tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka Pemerintah Republik Indonesia dalam Konperensi Sedunia Dasawarsa Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Wanita di Kopenhagen pada tanggal 29 Juli 1980 telah menandatangani Konvensi tersebut. Penandatanganan itu merupakan penegasan sikap Indonesia yang dinyatakan pada tanggal 18 Desember 1979 pada waktu Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan pemungutan suara atas resolusi yang kemudian menyetujui Konvensi tersebut.
5. Konvensi tentang Hak Anak (1989).
Negara-negara Peserta akan menghormati dan menjamin hak-hak yang ditetapkan dalam Konvensi ini dan setiap anak dalam wilayah hukum mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang ras, warna kulit, jenis
kelamin, bahasa, agama, pandangan politik atau pandangan lain, asal-usul bangsa, asal-usul etnik atau sosial, kekayaan, ketidakmampuan, kelahiran atau status lain dan anak atau dan orangtua anak atau walinya yang sah menurut hukum hak Setiap Anak adalah:
• Untuk dilahirkan, untuk memiliki nama dan kewarganegaraan; • Untuk memilik keluarga yang menyayangi dan mengasihi ;
• Untuk hidup dalam komunitas yang aman, damai dan lingkungan yang sehat; • Untuk mendapatkan makanan yang cukup dan tubuh yang sehat dan aktif; • Untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan mengembangkan potensinya; • Untuk diberikan kesempatan bermain waktu santai;
• Untuk dilindungi dari penyiksaan, eksplotasi, penyia-siaan, kekerasan dan
dari mara bahaya;
• Untuk dipertahankan dan diberikan bantuan oleh pemerintah; • Agar bisa mengekspresikan pendapat sendiri
b. Nasional 1. UUD 1945
Undang-undang Dasar 1945 merupakan perwujudan dari tujuan Proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 agustus 1945 yang terdiri atas pembukaan dan batang tubuh Undang-undang Dasar 1945.
Dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut; Negara melindungi segenap bangsa Indonesia
dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Negara berkedaulatan rakyat, berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan, Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemansiaan yang adil dan beradab.
Dalam batang tubuh Undang-undang Dasar 1945 berisi materi yang pada dasarnya dapat dibedakan sebagai berikut; pertama berisi materi tentang kedudukan, tugas wewenang dan hubungan antar lembaga-lembaga Negara. Kedua berisi materi yang berkaitan dengan konsepsi negara dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, agama, sesuai dengan arah atau tujuan negara Indonesia yang di cita-citakan.35
2. UU. No. 39/1999 Tentang Hak Asasi Manusia
Bahwa manusia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa akal budi dan nurani yang memberikan kepadanya kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk yang akan membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku dalam menjalani kehidupannya. Dengan akal budi dan nuraninya itu maka manusia memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri perilaku atau perbuatannya.
3. UU. No. 26/2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia
Bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus
35
Ilhami Bisri, Sistem Hukum Indonesia, (Jakarta, PT Raja Grafindo, 2004), Cet.I, h. 9.
dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapa pun. Dan untuk ikut serta memelihara perdamain dunia dan menjamin pelaksanaan hak asasi manusia serta memberi perlindungan, kepastian, keadilan, dan perasaan aman kepada perorangan ataupun masyarakat, maka perlu segera dibentuk suatu Pengadilan Hak Asasi Manusia untuk menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia yang berat sesuai dengan ketentuan pasal 104 ayat (1) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.yang mana bunyi pasal tersebut adalah :
Pasal 104 Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pelanggaran hak asasi manusia yang berat” adalah pembunuhan massal, pembunuhan sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan, penyiksaan, penghilangan orang secara paksa, perbudakan, atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis.
BAB IV
PINDAH AGAMA DALAM
PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HAM
A. Kebebasan Beragama Menurut Hukum Islam dan HAM
Arti kebebasan sebagaimana yang tercantum dalam item nomor 4 dari advertensi hak-hak asasi manusia di Prancis yang terbit tahun 1879 M, adalah kemampuan manusia dalam melakukan setiap kegiatan maupun aktivitasnya yang tidak merugikan pihak lain. Maksudnya bahwa kebebasan itu tidak bersifat mutlak dari segi waktu dan tempat. Kebebasan sebagaimana memiliki sifat relatif dalam undang-undang sipil dan demokrasi modern negara Barat, juga relatif dalam demokrasi Islam.36
Menurut istilah hukum, kebebasan berarti sesuatu hal yang dapat membedakan manusia dengan lainnya, sehingga dengan kebebasan yang dimilikinya, manusia dapat berbuat, berkata, dan bertindak dengan kehendak sendiri serta bebas tanpa ada paksaan, tetapi dalam batasan-batasan tertentu. Untuk mengetahui batasan-batasan kebebasan tersebut maka dapat dilihat melalui dua konsep, yaitu konsep kebebasan menurut Islam dan Konsep Kebebasan menurut HAM.
36
Wahbah Az-Zuhaili, Kebebasan dalam Islam, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2005, Cet. Pertama. h. 31.
1. Konsep Kebebasan dalam Islam
Setiap orang berhak atas kebebasan beragama atau berkepercayaan. Konsekwensinya tidak seorang pun boleh dikenakan pemaksaan yang akan mengganggu kebebasannya untuk menganut atau memeluk suatu agama atau kepercayaan pilihannya sendiri.
Hak untuk beragama dan berkepercayaan merupakan persoalan krusial dalam agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan. Masalah ini terus mengundang perdebatan dikalangan kaum agamawan, tak terkecuali di kalangan ulama muslim bahkan kaum awam. Sehingga hubungan antara Islam dan kultur Islam dengan pandangan Barat mengenai organisasi masyarakat dan hak-hak asasi manusia telah banyak ditulis. Salah satunya dapat kita ketahui bahwa Islam dan Barat merupakan dua prinsip yang bertentangan dalam soal-soal penting seperti kebebasan beragama.
Dari uraian di atas ada baiknya kita mengutif pendapat yang diajukan oleh Adda Bozeman sebagai berikut “bahwa kultur Islam tidak dibimbing oleh ide-ide kebenaran atau prinsip, namun sebaliknya Barat memahami kultur Islam ditandai dengan penguasaan personalisme dan pragmatisme, di mana otoritas keputusan “keharaman dan pemaksaan merupakan sesuatu hampir pasti”.37
Maksudnya ialah mengenai kebebasan beragama Islam dan Barat keduanya
37
David Litle, dkk, Kebebasan Agama dan Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), Cet. I h. 37.
mempunyai masing-masing prinsip yang bertentangan, baik dalam hal kebebasan beragama maupun kebudayaannya masing-masing.
Selain Adda Bozemen ada baiknya kita mengutif pendapat James Piscatory walaupun pendapatnya bertentangan, beliau mengatakan, “bahwa penghormatan terhadap kehidupan dan harta benda dan praktik toleransi serta persaudaraan yang diajarkan oleh Islam, menunjukkan bahwa Islam “tidak dapat disangsikan banyak titik temu dengan gerakan hak-hak asasi manusia belakangan ini”, dapat juga dikatakan bahwa Islam “ tidak mengajukan gagasan dasar tentang hak-hak yang tidak dapat dicabut, Islam juga tidak menghindari pembedaan menurut jenis kelamin dan agama”. Singkatnya, “teori Islam tidak menawarkan gagasan tentang hak-hak individu, hak-hak yang tidak melekat manusia, Islam lebih banyak menunjuk keistimewaan-keistimewaan manusia”.38
Dari kutifan diatas dapat kita arahkan bahwa gagasan yang dikeluarkan oleh James Piscatory Mengenai kehidupan, harta benda, toleransi, persaudaraan, dan pembedaan jenis kelamin dan agama tidak dapat melahirkan gerakan hak-hak asasi manusia terutama dalam hal kebebasan bergama, karena Islam lebih mengajarkan ketaqwaan kepada Tuhan yang mengarah kepada keistimewaan dan kemuliaan manusia.
Islam merupakan ajaran yang menempatkan manusia pada posisi yang tinggi bahkan al-qur’an menjamin adanya hak pemuliaan dan pengutamaan manusia. Sebagaimana dalam al-qur’an disebutkan:
38
=>
q #• '
&• 8
L*_ =4
(2 u6 q,Y=•'3=>
žx*
› @ =>
2 u6 q *†=p=>
[: ~#
i6 @ž_ 7
I u6=j,Y{• ,=>
)
x ŸKb
"Œ+ ~#
q Y*!
€'_n• .
2 (9
:
:j
Artinya:“Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan39, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”. (Q.S. Al-Isr /17:70).
Dengan demikian manusia memiliki hak al-karamah dan hak al-fadhilah. Apalagi misi Rasulullah adalah Rahmatan lil-‘alamin. Dimana kemaslahatan/kesejahteraan merupakan tawaran untuk seluruh manusia dan alam semesta.
Persoalan krusial ini bukan semata monopoli para teolog atau mutakallimin, namun juga menjadi perhatian para fuqaha, utamanya Imam al-Syatibi. Ia dalam karya besarnya al-Muw faq t f Ushûl al-Ahkam merumuskan lima tujuan pokok syariah diturunkan kepada umat manusia. Melalui pendekatan induksi-tematik (al-istiqra’ al-ma’nawi), al-Syatibi menyimpulkan maksud-maksud penetapan syariah itu ke dalam lima macam, yakni menjaga agama (hifzh al-dîn), menjaga jiwa (hifz al-nafs),40 menjaga akal (hifzh
39
Maksudnya, Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan didaratan dan dilautan untuk memperoleh penghidupan.
40
Hifzh al-nafs adalah hak asasi manusia untuk hidup dan bertumbuh kembang dalam kehidupan ini. Ini merupakan hak paling dasar bagi setiap manusia yang terlahir ke alam dunia. Jaminan atas hak hidup menjadi taken for granted dan tanpa syarat. Sebagaimana Allah menjamin dalam sebuah ayat: “Barang siapa membunuh jiwa melalui jalan yang batil atau
‘aql),41 menjaga keturunan (hifzh al-nasl),42 dan menjaga harta (hifzh al-m l),43 lima maksud syariah ini kemudian dikenal dengan sebutan maq shid al-sharî’ah.
Teori maq shid dari al-Syatibi ini tentu saja dikembangkan menurut tuntutan zamannya, perubahan sosial yang terjadi pada saat itu. Lebih dari itu, nampaknya al-Syatibi pada masanya belum menghadapi problem lingkungan sehingga dapat diterima jika dalam teori maq shid-nya belum memasukkan unsur pelestarian lingkungan (hifzh al-bî’ah),44
Imam al-Syatibi memasukan kelima tujuan pokok syariah itu dalam kategori “kepentingan yang mendesak atau urgen” atau lebih dikenal dengan