• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kajian Teori

5. Nillai-nilai Pendidikan Karakter Jawa a.Pendidikan Karakter

Pendidikan menurut Perda no. 4 tahun 2012 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara (bab 1, pasal 1, ayat 9). Menurut Dewantara (1977:20) pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Pendidikan menjadi tuntunan bagi segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat memperoleh keselamatan dan mencapai kebahagiaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mengajarkan tuntunan hidup melalui proses pembelajaran terhadap peserta didik, agar dapat mengembangkan potensi dirinya sebagai langkah untuk mempersiapkan diri terjun didalam masyarakat.

Karakter berasal dari bahasa Yunani yaitu kharakter yang berarti memahat atau mengukir. Sedangkan dalam bahasa Latin, karakter berarti membedakan tanda (Narwanti, 2011:1). Karakter pada dasarnya merupakan ciri khas yang melekat pada diri seseorang yang membedakan antara orang satu dengan lainnya. Karakter pada pribadi manusia dapat dibentuk sedini mungkin. Dengan menanamkan nilai-nilai tertentu, dapat pula digunakan

commit to user

sebagai penentu karakter seseorang selain dari karakter bawaan yang berasal dari faktor keturunan.

Scerenko dalam Samani (2012:42) mendefinisikan karakter sebagai ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok, atau bangsa. Listyarti (2012:3-4) membagi karakter seseorang secara teoritis menjadi tiga aspek yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).

Spranger dalam Dewantara (1977:26) membagi karakter menjadi 6 (enam) jenis berdasar hasrat seseorang, yaitu kekuasaan (machtsmensch), agama (religieusmench), keindahan (kunstmensch), kegunaan (nutsmensch), pengetahuan (wetenschaps), dan mengabdi (sociale mensch). Berdasarkan penjabaran di atas, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sifat bawaan seorang manusia yang sudah dibawa sejak lahir dan merupakan sesuatu yang melekat dalam diri seseorang.

Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada seseorang yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan. Pada dasarnya pendidikan karakter juga mencakup pembiasaan mengenai perilaku dan kebiasaan yang baik. Dengan menanamkan hal tersebut di sekolah, siswa dapat memahami serta merasakan dan mau membiasakan diri untuk bersikap dan berperilaku baik.

commit to user

Tujuan pendidikan karakter disebutkan dalam Pasal 40 ayat 1, Perda no. 4 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 yaitu membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dijiwai oleh Pancasila, iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun tujuan pendidikan karakter menurut Suparlan (2012:103) adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai standar kompetensi lulusan.

Pencetus pendidikan karakter yaitu Jerman FW Foerster pada tahun 1869-1966. Beliau lebih menekankan pada proses pembentukan pribadi dari dimensi etis-spiritual. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dan Cina pendidikan karakter dimulai sejak pendidikan dasar. Negara-negara tersebut beranggapan bahwa penanaman pendidikan karakter sejak sekolah dasar menimbulkan efek positif bagi perkembangan anak ke depan.

Indonesia saat ini juga telah melakukan suatu gerakan yang disebut Gerakan Nasional Pendidikan Karakter (GNPK). Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam Narwanti (2011:16) mengemukakan bahwa terdapat lima hal dasar yang menjadi tujuan dari GNPK tersebut, yaitu (1) manusia Indonesia harus bermoral, berakhlak, dan berperilaku baik; (2) bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan rasional; (3) bangsa Indonesia

commit to user

menjadi bangsa yang inovatif dan mengejar kemajuan serta bekerja keras mengubah keadaan; (4) harus bisa memperkuat semangat; dan (5) manusia Indonesia harus menjadi patriot sejati yang mencintai bangsa dan negara serta tanah airnya.

Pendidikan karakter memiliki berbagai fungsi diantaranya adalah (a) mengembangkan potensi dasar supaya memiliki hati, pikiran, dan perilaku yang baik; (b) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur; (c) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Konsep nilai-nilai pembentukan karakter sangat beragam. Nilai pembentuk karakter yang cukup lengkap dikemukakan oleh Pusat Kurikulum mengenai Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Pilar nilai karakter menurut Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas dalam Suparlan (2012:66-67), dirumuskan sebanyak delapan belas item nilai yang harus dikembangkan untuk membentuk karakter anak didik di Indonesia. Nilai-nilai tersebut adalah (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat atau kominikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.

Ki Hajar Dewantara mengungkapkan pemikirannya mengenai konsep pendidikan karakter. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang merupakan

commit to user

positioning karakter dalam pendidikan nasional (Samani dan Hariyanto, 2012:34) adalah (a) Lawan Sastra Ngesti Mulya, yang artinya dengan ilmu manusia akan mencapai keberhasilan hidup, (b) Suci Tata Ngesti Tunggal, artinya adalah untuk mencapai cita-cita yang mulia diperlukan kesucian batin, kejernihan pikiran, dan kedisiplinan nasional.

Ki Hajar Dewantara menyampaikan pula tiga macam fatwa yang satu yaitu (a) Tetep-Mantep-Antep yang maknanya adalah dalam melakukan suatu pekerjaan hendaknya harus diiringi dengan ketetapan hati, tekun bekerja, kemantapan hati, dan kebulatan tekat. Karena dengan ketetapan pikiran dan kekuatan batin akan menentukan kualitas seseorang; (b)

Ngandel, Kendel, Bandel, Kandel, maksudnya adalah untuk menggapai cita-cita harus percaya pada diri sendiri, berani menghadapi segala hal yang merintang, teguh pendirian, kuat secara lahir-batin, serta tawakal; dan (c)

Neng-Ning-Nung-Nang, maknanya adalah kita harus memiliki sikap

meneng, wening, hanung, dan menang. Kesucian pikiran dan hati yang diperoleh dengan ketenangan hati, akan mendatangkan kebahagiaan. Apabila telah dicapai ketiga hal tersebut, maka kesuksesan atau kemenangan akan kita peroleh (Dewantara, 1977:14).

Lickona (2012:82) menjabarkan mengenai karakter yang tepat bagi pendidikan nilai yaitu karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik. Pada dasarnya karakter yang tepat diterapkan adalah yang dapat membuat seseorang memiliki sikap dan menjadi pribadi yang lebih baik. Adapun

ciri-commit to user

Komponen Karakter yang Baik

ciri karakter digambarkan oleh Lickona dalam komponen karakter yang baik sebagai berikut (2012:84).

Bagan 1. Komponen Karakter yang Baik

Berdasarkan beberapa teori mengenai karkter dan pendidikan karakter di atas, peneliti lebih memilih konsep pendidikan karakter menurut Ki Hajar Dewantara sebagai acuan dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan konsep pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara mengacu pada konsep kebudayaan Jawa, dimana akan lebih relevan dengan penelitian ini.

b. Karakter Jawa

Berdasarkan uraian pada bagian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter Jawa merupakan penanaman pendidikan karakter kepada seseorang yang berlandaskan kebudayaan Jawa. Aspek nilai pendidikan karakter Jawa telah diungkapkan oleh Dewantara pada dasarnya merupakan sebuah ajaran bahwa karakter seseorang terbentuk karena pribadi orang tersebut. Oleh karena itu diperlukan kemantapan hati, kerendahan hati, percaya pada kuasa Tuhan, terus menuntut ilmu, serta

Pengetahuan Moral 1. Kesadaran moral 2. Pengetahuan nilai moral 3. Penentuan perspektif 4. Pemikiran moral 5. Pengambilan keputusan Perasaan Moral 1. Hati nurani 2. Harga diri 3. Empati 4. Mencintai hal yang baik 5. Kendali diri 6. Kerendahan hati Tindakan Moral 1. Kompetensi 2. Keinginan 3. Kebiasaan

commit to user

ketenangan batin untuk mencapai sebuah kesuksesan dan kemuliaan lahir maupun batin (1977:14).

Masyarakat Jawa pada masa lalu dikenal lebih banyak bermatapencaharian sebagai petani. Karakter yang menonjol pada petani Jawa adalah menerima keadaan yang dijalaninya sebagai nasib. Ketidakpunyaan dan kerasnya hidup membentuk para petani memiliki sifat yang sabar, tabah, dan pasrah (Koentjaraningrat, 1984:436).

Sikap lain yang tampak dalam diri manusia Jawa adalah prinsip yang digunakan dalam bergaul yaitu sangat memperhatikan empan papan, lambe ati, dan duga prayoga. Hal-hal tersebut yang kemudian membentuk terjadinya unggah-ungguh basa dan beragam tuturan yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari (Djatun, 2011:14).

Cerminan karakter manusia Jawa juga tergambar melalui sifat air. Karakter tersebut diantaranya bersih dan jernih yang melambangkan kebersihan hati, kejernihan pikiran, serta kejujuran. Aliran air yang tidak selalu lurus menggambarkan bahwa manusia Jawa memiliki karakter yang luwes, kreatif, mudah beradaptasi, dan tidak mudah putus asa. Air juga memiliki sifat selalu mengalir dari atas ke bawah. Hal tersebut melambangkan sifat manusia yang memiliki sopan santun serta kerendahan hati (Widodo, 2011:188). Kerendahan hati dan sopan santun juga nampak pada tutur kata serta cara berbicara orang Jawa. Sifat tersebut dipersepsi masyarakat sebagai sifat khas masyarakat Jawa, karena masyarakat Jawa

commit to user

beranggapan bahwa sifat rendah hati merupakan sifat manusia yang luhur (Djatun, 2011:16).

Sikap hidup manusia Jawa yang juga sangat jelas terwujud adalah etis, estetis, spiritualis, taat pada adat-istiadat warisan leluhur, serta selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya (Herusatoto, 2008:130).

Perda Provinsi Jawa Tengah no. 9 tahun 2012, bab IV, pasal 7, poin c menjelaskan bahwa fungsi bahasa, sastra, dan aksara Jawa salah satunya adalah sebagai sarana pembentuk kepribadian dan peneguh jati diri suatu masyarakat di daerah. Bahasa Jawa yang penuh dengan lambang tersembunyi dalam kiasan, harus dibahas dan dikupas secara mendalam sehingga dapat menangkap makna sebenarnya yang tersembunyi (Herusatoto, 2008:137). Hal tersebut akan semakin memperkuat dan mempertegas karakter Jawa seorang manusia Jawa melalui media naskah.

Dokumen terkait