• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI (%)

1 2 3 4 5

1 Prosentase Luas Kawasan yang peruntukannya sesuai tata ruang

41.03 39.28 95.70

a. Ketaatan Terhadap RTRW

Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah diindikasikan dengan diterbitkannya peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota. Pada tahun 2013 jumlah rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota yang telah ditetapkan menjadi peraturan daerah adalah 36 kabupaten/kota dengan rasio 0,9474

47

atau 94,74% dibandingkan dengan jumlah peraturan daerah RTRW Kabupaten/Kota pada tahun 2012 adalah 33 kabupaten/kota dengan rasio 0,8684 atau 86,84%. Perkembangan jumlah RTRW kabupaten/kota yang telah melalui proses evaluasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi.

Sebagai pedoman pelaksanaan pemerintah dan masyarakat dalam upaya pengendalian pemanfaatan ruang sesuai dengan peruntukannya maka Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) perlu dijabarkan kedalam rencana rinci tata ruang yang berupa rencana kawasan strategis provinsi.

Rencana kawasan strategis provinsi Jawa Timur yang telah disusun sampai dengan tahun 2013 berjumlah 11 dokumen rencana rinci tata ruang kawasan strategis provinsi dari 33 kawasan strategis provinsi yang berlum ditetapkan dalam bentuk perda. Sedangkan untuk rencana detail tata ruang (RDTR) sampai dengan tahun 2013 belum ada kabupaten/kota yang menetapkan rencana detail tata ruang (RDTR) sebagai penjabaran operasional RTRW Kabupaten/Kota.

Berkaitan dengan penetapan rencana detail tata ruang beserta peraturan zonasinya pemerintah Provinsi Jawa Timur mendapatkan pelimpahan kewenangan pemberian persetujuan substansi dalam penetapan rancangan peraturan daerah tentang rencana rinci tata ruang kabupaten/kota dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Perkembangan rasio ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah hingga tahun 2012 dapat diketahui dari realisasi RTRW dibandingkan dengan rencana peruntukan RTRW. Dari data yang diperoleh dari Bappeprov Jawa Timur, maka rasio realisasi RTRW terhadap rencana peruntukan RTRW atau ketaatan RTRW pada tahun 2010 sampai dengan 2012 berkisaran sebesar 86

48

persen. Angka ini menunjukkan bahwa tingkat ketaatan RTRW Provinsi Jawa Timur sebesar 86 persen, sedangkan tingkat penyimpangan dari RTRW hanya berkisar 14 persen, sebagaimana tabel berikut.

b. Luas Wilayah Produktif

Wilayah produktif Jawa Timur meliputi wilayah pertanian, wilayah perkebunan dan wilayah kehutanan (hutan rakyat), luasan wilayah produktif akan mengalami pergeseran setiap tahunnya mengingat perubahan peruntukan lahan khususnya perkembangan pemukiman atau perumahan yang sangat cepat.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Tahun 2011 – 2031, luas wilayah produktif di provinsi Jawa Timur seluas 2.741.542,01 Ha yang terdiri dari wilayah pertanian seluas ±2.020.490,71 Ha, wilayah perkebunan seluas ±359.481 Ha, dan wilayah kehutanan (hutan rakyat) seluas ±361.570,30. Maka rasio luas wilayah produktif sebesar 61,81%, dimana angka rasio ini menunjukkan 61,81% dari luas kawasan budidaya diuasahakan menjadi lahan produktif

c. Luas Wilayah Industri

Untuk menciptakan iklim investasi yang lebih baik pemerintah melakukan upaya pembangunan kawasan industri melalui penyediaan lokasi industri. Kawasan ini harus terencana dan didukung oleh fasilitas serta prasarana yang lengkap dan berorientasi pada kemudahan dalam pengelolaan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah industri. Dalam pengelolaan kawasan industri disamping oleh pemerintah (BUMN) juga dilakukan oleh pihak swasta.

49

Perkembangan luas kawasan industri di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir tidak mengalami perubahan, bahkan sebagian kawasan industri sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperluas karena keterbatasan lahan yang tersedia. Sampai tahun 2013, realisasi luas kawasan industri yang dikembangkan di Jawa Timur baru mencapai 1.758 Ha, atau baru mencapai 0,05 persen dari yang direncanakan sebesar 0,21 persen untuk menampung seluruh industri di Jawa Timur. Adapun luas Kawasan Industri yang telah dikembangkan di Jawa Timur Tahun 2013 sebagaimana berikut.

Tabel 3.15

Luas Kawasan Industri yang telah Dikembangkan di Jawa Timur Tahun 2013

N o .

Kabupaten

/Kota Nama Kawasan Industri

Luas yang Dikemban gkan (Ha)

1 Surabaya Surabaya Industrial Estate

Rungkut (SIER) 245

2 Sidoarjo Sidoarjo Industrial Estate

Berbek (SIEB)

87

3 Pasuruan Pasuruan Industrial Estate

Rembang (PIER) 500

4 Mojokerto Ngoro Industrial Park 1 (NIP) 220

5 Mojokerto Ngoro Industrial Park 2 (NIP) 230

6 Gresik Maspion Industrial Estate 341

7 Gresik Kawasan Indutri Gresik (KIG) 135

Jumlah 1.758

50

Gambar 2

Rencana Kawasan Strategis Sudut Kepentingan Ekonomi Bagian B

Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun 2011-2031

Gambar 3

Rencana Kawasan Strategis Sudut Kepentingan Ekonomi Bagian C

51

Gambar 4

Rencana Kawasan Strategis Sudut Kepentingan Ekonomi Bagian D

Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun 2011-2031

d. Luas Wilayah Kebanjiran

Cuaca dan iklim selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu dan sangat berpengaruh terhadap aktifitas kehidupan sehari-hari, serta bisa membawa dampak negatif bila terjadi banjir, sehingga bisa mengakibatkan banyaknya kerusakan dan kerugian yang terjadi. Terjadinya banjir juga berakibat terganggunya masyarakat dan dunia usaha dalam menghasilkan suatu barang/ jasa. Terjadinya banjir bahkan juga berakibat terhadap terganggunya perekonomian karena areal/ lahan untuk usaha pertanian atau usaha terganggu.

Luas wilayah kebanjiran adalah persentase luas wilayah yang terkena banjir terhadap luas rencana kawasan yang telah diatur sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Luas wilayah kebanjiran yang dimaksud disini adalah luas areal yang terkena banjir dibandingkan dengan

52

luas wilayah yang digunakan untuk budi daya. Data ini diperoleh dari beberapa dinas instansi dari Kabupaten/Kota yang menangani seperti, dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum Pengairan, BPN, dan Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD).

Banjir adalah keadaan sungai, dimana aliran sungai tidak tertampung oleh palung sungai, sehingga terjadi limpahan dan atau genangan pada lahan yang semestinya kering. Untuk negara tropis, berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan tersebut dapat dikategorikan dalam empat kategori (bersumber dari RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun 2011-2031) antara lain :

1. Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas

penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia.

2. Banjir yang disebabkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai.

3. Banjir yang disebabkan oleh kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan, tanggul, dan bangunan pengendalian banjir.

4. Banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat runtuhnya/longsornya tebing sungai. Ketika sumbatan/bendungan tidak dapat menahan tekanan air maka bendungan akan hancur, air sungai yang terbendung mengalir deras sebagai banjir bandang.

Rasio luas wilayah kebanjiran di Jawa Timur adalah sebesar 1,43 persen dari luas kawasan budidaya yang ada atau seluas 518.54 ha. Luas Kebanjiran yang terjadi selama tahun 2012 diantaranya di beberapa Kabupaten Gresik, Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Mojokerto, Kabupaten

53

Situbondo, Pasuruan, Nganjuk, Bangkalan, Sampang, Tuban dengan luas areal genangan air yang bervariasi.

e. Luas Wilayah Kekeringan

Masalah kekeringan sering menjadi perbincangan yang tiada habisnya dan menjadi masalah yang cukup penting untuk dikoordinasikan bersama, karena terkait dengan upaya penangangan, pencegahan dan penanggulangannya. Masalah kekeringan yang belum bisa terselesaikan dari waktu ke waktu terus menjadi masalah berkepanjangan yang tidak terselesaikan, bahkan terus berulang dan semakin menyebar ke daerah-daerah yang tadinya tidak berpotensi terjadi kekeringan.

Demikian halnya di beberapa wilayah di Jawa Timur tidaklah terlepas pula dari masalah kekeringan yang terjadi. Kekeringan dibeberapa wilayah terjadi yang diakibatkan oleh datangnya musim kemarau. Walaupun belum berpengaruh terhadap produksi pangan di Jawa Timur, akan tetapi perlu terus diwaspadai luas wilayah kekeringan yang terjadi, sehingga bisa dipantau terus dan tidak berpengaruh terhadap akibat yang ditimbulkan, seperti kelaparan, turunnya produksi pertanian, berkurangnya mata pencaharian dan sebagainya.

Sistem pemantauan dan peramalan produksi pangan, seperti luas tanam dan luas panen, estimasi produksi dan penyebarannya, kekeringan atau banjir, merupakan hal yang penting dalam menentukan kebijakan pengadaan pangan. Oleh karena itu, sistem informasi pertanian perlu didukung oleh data yang mampu menyajikan data spasial yang objektif, tepat waktu, dan berkesinambungan, seperti citra satelit.

54

Daerah yang peluang terjadinya kekeringan cukup tinggi karena curah hujan rendah dan sumber air tanah terbatas, atau daerah yang mempunyai faktor fisik lahan/tanah yang dapat mempercepat timbulnya kekeringan dikategorikan sebagai wilayah rawan kekeringan. Rasio wilayah kekeringan di Jawa Timur sebesar 0,7 persen dari luas kawasan budidaya yang ada, atau sekitar 25.542 ha yang tersebar di beberapa wilayah kekeringan, seperti Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, Tulungagung, Trenggalek, Ngawi, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Situbondo, dan sebagian wilayah Madura yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang dan Kabupaten Pamekasan.

f. Luas Wilayah Perkotaan

Kawasan perkotaan di provinsi Jawa Timur menunjukkan wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan perkotaan yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota merupakan kawasan perkotaan dengan hierarki Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL).

Kawasan perkotaan yang berada di wilayah administrasi kabupaten dihitung berdasarkan bagian/wilayah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan. Sedangkan untuk kawasan perkotaan pada wilayah administrasi kota dihitung secara utuh.

Berdasarkan hasil olah data survei Potensi Desa (Podes), diperoleh data mengenai luas wilayah perkotaan di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Timur sampai

55

tahun 2012, sebesar 20,66 persen atau seluas 7.491,96 km2 dari seluruh luas rencana wilayah di Jawa Timur yang seluas 36.257 km2.

Permasalahan dan Solusi

Permasalahan yang dihadapi antara lain :

 Tidak mempunyai kewenangan untuk menyusun Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten/Kota maupun Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota

 Kewenangan provinsi adalah menyusun rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi

 Rata – Rata Kabupaten/Kota belum mampu untuk menyusun Rencana Kawasan Tata Ruang Strategis maupun Rencana Detail Kabupaten/Kota, sehingga banyak Kabupaten/Kota yang meminta dibantu provinsi untuk menyusun Rencana Kawasan Tata Ruang Strategis maupun Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota

Solusi terhadap permasalahan diatas melalui :

 Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur melayani permintaan dari Kabupaten/Kota untuk membantu menyusun Rencana Kawasan Tata Ruang Strategis maupun Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota selaku Tim Evaluasi untuk diterbitkan persetujuan substansi Rencana Detail Tata Ruang.

B4. Akuntabilitas Keuangan

Pelaksanaan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur dalam kurun waktu tahun 2013 yang tertuang didalam DPA Tahun 2013 dan Perubahan Anggaran

56

Pendapatan dan Belanja Daerah (P. APBD) Tahun 2013, Provinsi Jawa Timur dengan perincian kegiatan sebagai berikut :

Tabel 3.16 Akuntabilitas Keuangan Tahun 2013

Kode Rekening Uraian Anggaran Setelah

P.APBD Jumlah S.d Bulan Desember % 1 2 3 6=(4+5) 7

1 03 0500 01 Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 436,600,000.00 420,100,000.00 96.22

1 03 0500 01 107 Administrasi perkantoran 436,600,000.00 420,100,000.00 96.22

1 03 0500 07 Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Daerah 308,200,000.00 304,745,000.00 98.88

1 03 0500 07 098 Penyusunan Database SKPD sebagai Penunjang Pusat Data Provinsi Jawa Timur 308,200,000.00 304,745,000.00 98.88

1 03 0500 09 Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 5,639,527,000.00 5,477,905,506.00 97.13

1 03 0500 09 010 Peningkatan Pelaksanaan Pelayanan Administrasi Pembangunan 5,639,527,000.00 5,477,905,506.00 97.13

1 03 0500 35

Program Pengembangan Kinerja Pembangunan Air Minum dan Air

Limbah 31,598,581,200.00 17,890,914,066.00 56.62

1 03 0500 35 007 Penyediaan sarana air limbah 1,030,400,000.00 980,072,350.00 95.12 1 03 0500 35 015 Pembangunan Sarana Air Bersih di Perdesaan 15,577,150,000.00 14,734,527,606.00 94.59 1 03 0500 35 017 Pembangunan Sarana Air Bersih Regional 13,900,000,000.00 1,098,190,500.00 7.90 1 03 0500 35 018 Pendataan dan Pemetaan Potensi Kawasan Rawan Air 1,091,031,200.00 1,078,123,610.00 98.82

1 03 0500 36 Program Pengembangan Wilayah Perbatasan 735,910,000.00 722,224,255.00 98.14

1 03 0500 36 008 Penyusunan perencanaan pengembangan infrastruktur wilayah perbatasan 735,910,000.00 722,224,255.00 98.14

1 03 0500 37 Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh 1,414,840,900.00 1,386,368,425.00 97.99

1 03 0500 37 004

Penyusunan Perencanaan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Strategis dan Cepat

Tumbuh 941,270,100.00 919,974,380.00 97.74

1 03 0500 37 005

Identifikasi Kebutuhan Infrastruktur Permukiman sebagai Antisipasi Perkembangan Kawasan Pesisir

473,570,800.00 466,394,045.00 98.48

1 03 0500 38 Program Peningkatan Kinerja Pembangunan Persampahan dan Drainase

4,492,450,000.00 4,211,672,700.00 93.75

1 03 0500 38 004 Pembangunan dan Perbaikan Saluran Air/Plengsengan/Drainase 4,492,450,000.00 4,211,672,700.00 93.75

1 04 0500 15 Program Pengembangan Perumahan 58,656,217,900.00 55,395,411,071.00 94.44

1 04 0500 15 012

Pengembangan kawasan siap bangun dan atau lingkungan siap bangun di kota-kota

metropolitan dan kota-kota besar 3,000,000,000.00 2,834,756,055.00 94.49

1 04 0500 15 021

Pengembangan Kawasan Agropolitan, Pembangunan/ Perbaikan sarana prasarana kawasan Agropolitan Jawa Timur

1,428,000,000.00 1,383,246,630.00 96.87 1 04 0500 15 022 Perbaikan Jalan/Saluran Lingkungan Permukiman 4,564,583,000.00 4,475,361,015.00 98.05

57

1 04 0500 15 046 Peningkatan Sarana Prasarana Permukiman Kawasan Khusus 1,904,534,000.00 1,846,341,075.00 96.94 1 04 0500 15 050 Pengembangan dan Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa ( Rusunawa ) 17,402,883,000.00 17,021,056,146.00 97.81

1 04 0500 15 051 Dana Pendamping PNPM 858,217,900.00 840,379,005.00 97.92

1 04 0500 15 056 Pembangunan/Rehabiltasi bangunan Gedung Pemerintah Propinsi Jatim 25,948,000,000.00 23,836,078,870.00 91.86 1 04 0500 15 062

Pendampingan Pembuatan Laporan Pelaksanaan Renovasi Rumah Tidak

Layak Huni di Jawa Timur 550,000,000.00 528,234,825.00 96.04

1 04 0500 15 075 Pengembangan Teknologi Tepat Guna Bidang Perumahan dan Permukiman 900,000,000.00 861,540,540.00 95.73 1 04 0500 15 076 Pengembangan Data/Informasi Bidang Perumahan dan Permukiman 1,100,000,000.00 1,027,723,450.00 93.43 1 04 0500 15 078 Pendidikan Kemasyarakatan Produktif melalui Pembinaan Jasa Konstruksi 1,000,000,000.00 740,693,460.00 74.07

1 05 0500 15 Program Perencanaan Tata Ruang 3,100,000,000.00 2,988,655,095.00 96.41

1 05 0500 15 037 Penyusunan rencana detail tata ruang kawasan 2,200,000,000.00 2,127,723,505.00 96.71 1 05 0500 15 042 Rapat koordinasi tentang rencana tata ruang 400,000,000.00 394,092,245.00 98.52 1 05 0500 15 054 Penataan Ruang Kawasan Strategis di Jawa Timur 500,000,000.00 466,839,345.00 93.37

BAB IV

PENUTUP

58

BAB IV

PENUTUP

Dari uraian permasalahan dan program pembangunan bidang perumahan dan permukiman di Jawa Timur, antara lain dapat disimpulkan bahwa capaian pelayanan (% penduduk terlayani) bidang permukiman (Air Bersih, Sanitasi) sampai dengan tahun 2013 masih relatif rendah terhadap target sesuai Nasional Action Plan/MDGs.

Untuk memenuhi kebutuhan sesuai capaian pelayanan sampai dengan 2013 sesuai target ideal berdasarkan MDGs maupun GNPSR diperlukan dana yang sangat besar (+ 10 trilyun rupiah) sedangkan berdasarkan kemampuan alokasi pendanaan dari APBN, APBD Propinsi dan APBD Kabupaten/Kota secara rata-rata maksimum hanya + 15 % dari total kebutuhan dana. Dengan demikian target capaian pelayanan bidang permukiman sampai dengan akhir periode perencanaan tahun 2013 dijustifikasi secara realistis hanya 15 % dari target ideal. Selain itu permasalahan perumahan dan permukiman tidak cukup hanya diselesaikan melalui manajemen pembangunan infrastruktur, namun perlu didukung dengan manajemen konservasi lingkungan untuk mempertahankan sumber daya alam melalui penataan ruang secara komprehensif.

Berdasarkan komposisi alokasi dana pemerintah pada 2 tahun terakhir, maka guna menjamin konsistensi terlaksananya program sesuai dokumen perencanaan pembangunan Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur 2009-2014 ini perlu didukung dengan

59

komitmen pendanaan pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota dengan proporsi prosentase : 35 : 25 : 40.

Untuk selanjutnya LAKIP ini juga merupakan merupakan sarana evaluasi dan pengendalian yang sangat efektif agar pelaksanaan pembangunan pada Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur, merupakan landasan dan pedoman guna penyusunan Rencana Kerja Tahunan Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur. Dengan demikian perlu dilakukan sinkronisasi dengan Rencana Strategis bidang permukiman yang disusun oleh dinas terkait pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Adapun permasalahan yang dihadapi serta solusinya sebagai berikut :

Permasalahan yang dihadapi antara lain:

 Masih terbatasnya pelayanan pengolahan sistim air limbah terpusat (sistim sewerage) di perkotaan.

 Belum memadainya pelayanan sanitasi yang dapat memberikan kontribusi pencemaran terhadap air permukaan dan air tanah.

 Pengolahan lumpur tinja belum efektif atau kurang maksimal karena masih rendahnya pemanfaatan sarana IPLT yang sudah terbangun

 Rendahnya peningkatan pelayanan air bersih di perkotaan dan perdesaan serta khususnya untuk penduduk miskin dan daerah kekeringan.

 Stagnasi dalam penurunan tingkat kebocoran air (teknis maupun non teknis).

 Permasalahan tarif air minum yang tidak mampu mengimbangi biaya produksi, sehingga tidak dapat mencapai kondisi pemulihan biaya (cost recovery).

60

 Pada beberapa daerah terjadi konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber air baku. Hal ini disebabkan adanya kepentingan peruntukan sumber air tersebut untuk non air bersih, maupun karena kendala batas administrasi wilayah.

 Pelayanan air bersih non perpipaan (sebagian besar di perdesaan) belum teridentifikasi secara kuantitatif maupun kualitatif berdasarkan kondisi air yang dikonsumsi secara mandiri.

 Tidak berfungsinya saluran drainase sebagai pematus air hujan, hal ini disebabkan antara lain karena masyarakat membuang sampah ke saluran drainase, akibat dari rendahnya penegakkan hukum khususnya dalam perambahan badan air termasuk saluran drainase di kawasan perkotaan.

 Belum mantapnya peraturan dan standar pengelolaan drainase.

 Penanganan masalah banjir perkotaan masih secara parsial dan tidak konseptual karena terbatasnya dokumen perencanaan induk dan perencanaan detail drainase yang seharusnya dapat dipakai sebagai acuan dalam menyusun rencana tindak

 Tidak mempunyai kewenangan untuk menyusun Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten/Kota maupun Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota

 Kewenangan provinsi adalah menyusun rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi

 Rata – Rata Kabupaten/Kota belum mampu untuk menyusun Rencana Kawasan Tata Ruang Strategis maupun Rencana Detail Kabupaten/Kota, sehingga banyak Kabupaten/Kota yang meminta dibantu ke provinsi untuk

61

menyusun Rencana Kawasan Tata Ruang Strategis maupun Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota

Solusi terhadap permasalahan di atas melalui:

 Peran serta seluruh stakeholder dalam upaya mencapai sasaran pembangunan air minum dan air limbah hingga tahun 2012 di perkotaan dan perdesaan

 Menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia usaha (swasta) untuk berperan serta dalam meningkatkankan pelayanan air minum dan air limbah untuk masyarakat

 Mendorong terbentuknya regionalisasi pengelolaan air minum dan air limbah sebagai upaya meningkatkan efisiensi pelayanan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam (air baku)

 Meningkatkan kinerja pengelola air minum dan air limbah melalui restrukturisasi kelembagaan

 Meningkatkan kualitas SDM pengelola pelayanan air minum dan air limbah melalui uji kompetensi, pendidikan dan pelatihan

 Peran serta dan kemampuan masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaan sarana persampahan dan drainase serta peningkatan kesadaran berperilaku hidup dan sehat (PHBS)

 Kinerja pengelolaan sampah dan drainase serta perbaikan saluran drainase primer dan sekunder guna pengendalian banjir di perkotaan Mendorong terbentuknya regionalisasi pengelolaan persampahan dan drainase.

62

 Menurunnya luasan genangan dan menurunkan waktu genangan pada kawasan dan menurunkan waktu genangan pada banjir hingga 75 % dari kondisi saat ini

 Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar sektor dan antar wilayah dalam pembangunan drainase

 Meningkatkan pangembangan dan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pembangunan drainase.

 Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur melayani permintaan dari Kabupaten/Kota untuk membantu menyusun Rencana Kawasan Tata Ruang Strategis maupun Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota selaku Tim Evaluasi untuk diterbitkan persetujuan substansi Rencana Detail Tata Ruang.

Hasil Pelaksanaan Pembangunan sampai dengan Tahun 2013 meliputi :

 Persentase Rumah dibanding KK di Perkotaan senantiasa menunjukkan kenaikan selama 5 (lima) tahun terakhir sejak tahun 2009 s/d 2013 dari capaian awal di tahun 2009 sebesar 78,98% , pada tahun 2010 naik menjadi 80,21%, selanjutnya pada tahun 2011 kembali naik menjadi 80,48%, dan pada tahun 2012 kembali naik menjadi 82,81% Sedangkan pada tahun 2013 tercapai sebesar 86,21%, kurang dari target yang telah ditetapkan sebesar 32%

 Tahun 2010 kondisi kebutuhan rumah (back log) di Jawa Timur masih mencapai 530.000 unit, yang terdiri 218.000 unit di perdesaan dan 212.000 unit di perkotaan sedangkan rasio capaian rumah dibanding KK pada tahun 2012 sebesar 83,37 % di perkotaan dan 84,45 % di perdesaan

63

 Pembanguan Rumah Sederhana Sehat (RSH) di Jawa Timur sampai dengan tahun 2013 telah mencapai 169.176 unit mengalami peningkatan dari tahun 2012 sebesar 148.015 unit, sedangkan pada tahun 2014 ditargetkan penambahan RSH sebanyak 25.000 unit.

 Menyediakan hunian yang sehat bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang berada di Kawasan Perkotaan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah membangun Rumah Susun Sewa sebanyak 9 (sembilan) Blok dengan kapasitas daya tampung sebanyak 485 unit hunian.

 Pada tahun 2010 telah dibangun 3 (tiga) Blok rusun sewa Gunung Sari dengan jumlah hunian 268 Unit, dan pada tahun 2011/2012 telah dibangun 6 (enam) Blok terdiri dari Rusun Jemundo dengan 4 (empat) Blok dengan jumlah hunian 152 unit, serta Rusun SIER 2 (dua) Blok dengan jumlah hunian 65 unit, beserta sarana dan prasarana lingkungannya

 Disamping itu dalam rangka mengupayakan rumah yang sehat dan layak huni bagi masyarakat perdesaan telah dilakukan pendataan awal rumah tidak layak huni sebanyak 324.000 unit di 29 Kabupaten se Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan kegiatan Renovasi RTLH bekerja sama dengan KODAM V Brawijaya yang dilaksanakan secara bertahap mulai tahun 2009. Sampai dengan tahun 2013 telah dilaksanakan renovasi sebanyak 71.049 unit dan diperkirakan masih terdapat sekitar 252.951 unit RTLH yang tersebar di 29 Kabupaten.

 Meningkatnya cakupan pelayanan air bersih dari 59,32% tahun 2012 menjadi sebesar kurang lebih 60,96% pada tahun 2013.

 Meningkatnya ketersediaan Sanitasi dari 62,71% tahun 2012 menjadi sebesar 62.97% tahun 2013. Pada akhir tahun 2015 cakupan pelayanan

64

wilayah perkotaan akan ditingkatkan menjadi 71,72% sesuai Target MDG’s.

 Cakupan pelayanan drainase diperkotaan 78,05% pada tahun 2011 menjadi 79,75% di tahun 2012, sedangkan pada akhir tahun 2015 cakupan pelayanan drainase di wilayah perkotaan sebesar 87,46% Target MDG’s 2015, sedangkan pada tahun 2013 sekitar 79,87%.

 Cakupan penanganan sampah pada tahun 2013 sebesar 80,30%. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2011 yang sebesar 82,76%.

 Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah diindikasikan dengan diterbitkannya peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota. Pada tahun 2013 jumlah rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota yang telah ditetapkan menjadi peraturan daerah adalah 36 kabupaten/kota dengan rasio 0,9474 atau 94,74% dibandingkan dengan jumlah peraturan daerah RTRW Kabupaten/Kota pada tahun 2012 adalah 33 kabupaten/kota dengan rasio 0,8684 atau 86,84%. Perkembangan jumlah RTRW kabupaten/kota yang telah melalui proses evaluasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi.

Semoga LAKIP ini dapat memberikan manfaat bagi segenap pelaksanaan pembangunan di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur. Oleh karena itu masukan dan saran terhadap penyusunan LAKIP ini sangat diharapkan untuk penyempurnaan pada masa mendatang.

Dokumen terkait