I.5. Kerangka Pemikiran
I.5.1. Non Govermental Organization dan Transnational Advocacy Network
Bagi International Non-Govermental Organization atau INGO, beroperasi secara transnasional bukan merupakan hal yang baru bagi mereka, semakin tinggi partner semakin besar kemungkinan pesan dan visi yang ingin dicapai berhasil.56 Ketika INGO dikembalikan kepada definisi awalnya, yaitu sebagai organisasi non-profit yang anggotanya bisa berupa masyarakat umum atau perkumpulan individu yang aktivitasnya ditentukan oleh keinginan kolektif dari anggotanya, biasanya merupakan respon terhadap fenomena yang berhubungan langsung dengan kebutuhan dan tujuan dari kelompok tersebut,57 akan terlihat bahwa keinginan kolektif menjadi salah satu kekuatan khas milik INGO. INGO memiliki beberapa cara untuk melakukan operasinya, sangat berbeda dengan dua aktor lainnya di dalam hubungan internasional yaitu negara dan korporasi global. INGO tidak memiliki legitimasi seperti negara untuk ikut di dalam pembuatan, perencanaan maupun pengaplikasian hukum-hukum internasional. Dalam hal pendanaan, jelas INGO tidak akan pernah mampu untuk menyamai penghasilan milik sebuah korporasi dengan level global. Lalu apa yang dimiliki oleh INGO untuk terus bermain di konstelasi dunia internasional? Merujuk pada definisinya juga, INGO memiliki purpose ketika negara harus memenuhi banyak tujuan di dalamnya. 58
Seiring waktu berjalan, perhatian terhadap INGO sebagai aktor transnasional mulai meningkat. Hal ini disebabkan karena sejatinya INGO lebih mengedepankan value dibandingkan dengan materi,59 sehingga adanya common value mendorong semakin kuatnya fungsi advokasi tersebut.
56 Yanacopulos, International NGO Engagement, Advocacy, Activism. The Faces and Spaces of Change, 106
57 Wendy Schoener, “Non-Governmental Organizations and Global Activism: Legal and Informal Approaches”, Indiana Journal of Global Legal Studies, 4 No. 2 (Spring 1997), 538
58 Schoener, “Non-Governmental Organizations and Global Activism: Legal and Informal Approaches”, 539
26
Lebih lanjut, Keck & Sikkink menyebutkan bahwa kekuatan utama dari TAN ada pada bagaimana pengolahan informasi-informasi yang dimiliki satu dengan yang lain. Pengolahan informasi yang saling melengkapi kemudian menjadi bahan untuk menjelaskan fenomena maupun membentuk isu baru, dan berhadapan dengan aktor-aktor hubungan internasional yang lain dan bahkan meningkatkan pengaruhnya. Tujuan dari TAN adalah untuk mengubah sikap maupun keputusan suatu negara dan organisasi internasional.60
TAN tentu saja melibatkan banyak aktor di dalamnya, baik INGO, gereja, media, lembaga pendanaan dan lain sebagainya. Diantara semuanya, INGO memainkan peranan sentral dalam proses advokasi.61 Hal ini bisa dijelaskan melalui fungsi INGO sendiri, yaitu INGO mampu memunculkan ide-ide baru dan melakukan “tekanan” kepada aktor yang lebih kuat untuk ikut ke dalam program yang mereka rencanakan. Selain itu, fungsi INGO seperti melakukan lobi dan mengemukakan ide-ide spesifik terkait dengan isu terbaru menjadi salah satu kekuatan di dalam TAN yang seharusnya mampu diperhitungkan. Terlebih, INGO sendiri merupakan term yang paling dekat dekat transnasional mengingat lingkup operasinya yang across border, tidak hanya sekedar inter-border. Gollin62 menegaskan bahwa: “…that the space demarcated as transnational is an ongoing created as a result of interconnecting experiences, which vary according to the types issues, institutional frameworks, shared histories, and discourses involved.” Pernyataan Gollin seakan menegaskan bahwa space dari transnasional merupakan bentuk dari adanya hubungan yang antara satu dengan yang lain, yang bisa saja muncul karena faktor sejarah, kerangka institusional yang sama, maupun isu-isu yang saling berkaitan. Jordan & van Tuijil63
60 Keck & Sikkink, Activist Beyond Border: Advocacy Network in International Politics, 12
61 Keck & Sikkink, Activist Beyond Border: Advocacy Network in International Politics, 17
62 Julie Gilson, “Transnational Advocacy: New Spaces, New Voices”, Alternatives: Global, Local, Political, 36 No. 4 (November 2011), 301
63 Lebih lanjut dalam Helen Yanacopulos, International NGO Engagement, Advocacy, Activism. The Faces and Spaces of Change, (New Hampshire: Palgrave Macmillan, 2015): 113
27
mengungkapkan bahwa ada gap yang cukup lebar antara faktor geografis dan institusional, namun disitulah INGO muncul dan memainkan peranannya.
Ada setidaknya 3 kondisi yang memunculkan TAN menurut Keck & Sikkink. Pertama, ketika ada hubungan yang tidak berjalan atau cenderung berhenti antara organisasi lokal atau INGO suatu negara dengan pemerintah negaranya. Kondisi ini cenderung membuat resolusi konflik kemudian tidak berjalan, namun dapat dimanfaatkan oleh INGO dengan membuat pola boomerang dalam mencapai tujuannya.64 Kondisi kedua adalah ketika para aktivis merasa dengan network, maka misi dan tujuan mereka akan lebih mudah tercapai. Hal ini disebabkan karena melalui networking, jaringan yang mereka miliki akan semakin luas dan mempermudah dalam melakukan kampanye. Sedangkan kondisi ketiga adalah kondisi yang cenderung resmi, yaitu ketika ada forum maupun konferensi internasional yang melibatkan banyak INGO di dalamnya. Melalui acara tersebut, para aktivis akan mampu mendapatkan banyak koneksi lain dan juga membangun jaringan dalam rangka meraih tujuan masing-masing.
Dalam TAN, ada 4 fungsi yaitu politik informasi, politik akuntabilitas, politik simbolik dan leverage politics. Politik informasi memiliki definisi merupakan aktivitas dimana aktor-aktor menyediakan informasi politik yang kemudian saling ditukar untuk digunakan dalam wadah atau lingkup yang lebih besar.65 Politik akuntabilitas adalah situasi dimana ada aktor yang melakukan penahanan dtau dorongan kepada aktor yang lebih kuat untuk memenuhi tanggung jawab yang seharusnya dilakukan.66 Politik simbolik memiliki defisini sebagai penggunaan fenomena atau simbol tertentu yang digunakan unttuk menjadi dasar dalam pergerakan aktivis transnasional.
64 Kemudian akan dijelaskan lebih lanjut dalam sub-judul selanjutnya mengenai boomerang pattern
65 Keck & Sikkink, Activist Beyond Border: Advocacy Network in International Politics, 16
28
Sedangkan leverage politics merupakan salah satu cara ketika aktor yang lemah secara kekuatan dapat memanfaatkan aktor yang lebih kuat untuk mencapai tujuannya.67