BAB II: LANDASAN TEORI
C. Non Performing Financing (NPF)…
22 Mashud Ali, “Asset Liability Management : Menyiasati Risiko Pasar dan Risiko Operasional, (Jakarta : PT. Gramedia, 2004), h. 60
23
Drajad H Wibowo, “Bank Sulit Pacu Pembiayaan Pada 2010”, Artikel diakses pada 25 Agustus 2015 dari http://www.kompas.com/bank-sulit-pacu-pembiayaan-pada-2010/
1) Kualitas Pembiayaan dan NPF
Salah satu ukuran keberhasilan penyaluran pembiayaan adalah kolektibilitas (kualitas pembiayaan), yaitu tingkat pengembalian atau pembayaran kembali pembiayaan oleh nasabah. Tingkat kelancaran pembayaran ini menentukan kualitas suatu pembiayaan. Kualitas pembiayaan juga ditentukan oleh prospek usaha serta kinerja usaha dari nasabah pembiayaan yang bersangkutan. Tujuan penetapan kolektibilitas pembiayaan adalah mengetahui kualitas pembiayaan agar bank dapat menghitung dan mengantisipasi risiko pembiayaan secara dini. Penetapan kolektibilitas juga digunakan untuk menentukan tingkat cadangan potensi kerugian pembiayaan.
Kualitas pembiayaan dapat ditentukan berdasarkan 3 parameter:24 a. Prospek Usaha
Penilaian prospek usaha meliputi penilaian terhadap komponen-komponen berikut:
1) Potensi pertumbuhan usaha;
2) Kondisi pasar dan posisi nasabah pembiayaan dalam persaingan;
3) Kualitas manajemen dan permasalahan tenaga kerja; 4) Dukungan dari grup atau afiliasi; dan
24
5) Upaya yang dilakukan oleh nasabah pembiayaan dalam rangka memelihara lingkungan hidup.
b. Kinerja Nasabah Pembiayaan
Penilaian kinerja (performance) nasabah pembiayaan meliput penilaian terhadap komponen-komponen:
1) Perolehan laba; 2) Struktur permodalan; 3) Arus kas; dan
4) Sensitivitas terhadap risiko pasar. c. Kemampuan Membayar
Penilaian kemampuan membayar meliputi penilaian terhadap komponen-komponen:
1) Ketepatan pembayaran pokok dan bunga;
2) Ketersediaan dan keakuratan informasi keuangan nasabah pembiayaan;
3) Kelengkapan dokumentasi pembiayaan; 4) Kepatuhan terhadap perjanjian pembiayaan; 5) Kesesuaian penggunaan dana; dan
Kualitas pembiayaan pada bank syariah dapat dilihat dari NPF bank syariah tersebut. NPF (Pembiayaan Bermasalah) adalah pembiayaan yang dikategorikan dalam kolektibilitas kurang lancar, diragukan, dan macet.25
Tabel 2.1
Kriteria Kualitas Pembiayaan
No. Kualitas Pembiayaan Kriteria 1 1. Pembiayaan Lancar
a. Pembayaran angsuran pokok dan/atau bagi hasil tepat waktu; dan
b. Memiliki rekening yang aktif; atau Bagian dari pembiayaan yang dijamin dengan agunan tunai (cash colateral). 2. Perhatian
Khusus
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi hasil yang belum melampui Sembilan puluh hari: atau b. Kadang-kadang terjadi cerukan; atau c. Mutasi rekening relative aktif; atau d. Jarang terjadi pelanggaran terhadap
kontrak yang diperjanjikan; atau e. Didukung oleh pinjaman baru
3. Kurang Lancar a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi hasil; atau
b. Sering terjadi cerukan; atau
c. Frekuensi mutasi rekeningrelatif rendah d. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak
yang diperjanjikan lebih dari Sembilan puluh hari; atau
e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur; atau
f. Dokumentasi pinjaman yang lemah 4. Diragukan a. Terdapat tunggakan angsuran pokok
dan/atau bagi hasil; atau
b. Terdapat cerukan yang bersifat permanen; atau
c. Terdapat wanprestasi lebih dari 180 hari atau
d. Terdapat kapitalisasi bunga; atau
e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian pembiayaan maupun pengikatan jaminan.
5. Macet a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi hasil; atau
b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru; atau
c. Dari segi hukummaupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar
Sumber: Dimodifikasi dari Rivai dan Veitzal, 2008
Pembiayaan bermasalah (NPF) adalah suatu kondisi pembiayaan, dimana ada suatupenyimpangan utama dalam pembayaran kembali pembiayaan yang menyebabkan kelambatan dalam pengembalian atau diperlukan tindakan yuridis dalam pengembalian atau kemungkinan potensial loss. Beberapa hal yang menyebabkan timbulnya pembiayaan bermasalah, antara lain:26
Analisis keuangan yang kurang baik; Struktur pembiayaan yang kurang tepat;
Support dan dokumentasi yang buruk;
Monitoring yang kurang baik;
Analisis penjamin yang kurang memadai.
Dari sisi nasabah, beberapa hal yang menyebabkan pembiayaan menjadi bermasalah, antara lain:
26
Ikatan Bankir Indonesia. Mengelola Bank Syariah. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014). h. 94-95
Produk dan jasa yang buruk; Kontrol keuangan yang buruk;
Faktor eksternal, seperti bencana, ekonomi, persaingan, dan teknologi.
NPF (Pembiayaan Bermasalah) mencerminkan risiko pembiayaan, semakin tinggi rasio ini, menunjukkan kualitas pembiayaan bank syariah semakin buruk. Dengan semakin tingginya NPF akan mengakibatkan hilangnya kesempatan untuk memperoleh pendapatan dari pembiayaan yang diberikan sehingga mempengaruhi perolehan laba.
2) Jenis-Jenis NPF
a.Non Performing Financing Gross (NPF Gross)27adalah perbandingan
antara Pembiayaan Bermasalah dengan Total Pembiayaan dengan formula sebagai berikut:
NPF Gross = Pembiayaan Bermasalah Total Pembiayaan
-Pembiayaan adalah Pembiayaan sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai kualitas asset bank umum.
-Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan dengan kualitas kurang lancer, diragukan, dan macet, dan dihitung berdasarkan nilai tercatat dalam neraca secara gross (belum dikurangi CKPN).
27
-Total pembiayaan dihitung berdasarkan nilai tercatat dalam neraca secara gross (belum dikurangi CKPN).
-Angka rasio dihitung per posisi (tidak disetahunkan).
b. Non Performing Financing Net (NPF Net)28 Adalah perbandingan
antara Pembiayaan Bermasalah setelah dikurangi CKPN terhadap Total Pembiayaan dengan formula sebagai berikut:
NPF Net = Pembiayaan Bermasalah – CKPN Pembiayaan Bermasalah Total Pembiayaan
-Pembiayaan adalah Pembiayaan sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai kualitas asset bank umum.
-Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet, dan dihitung berdasarkan nilai tercatat dalam neraca.
-CKPN Pembiayaan adalah cadangan yang wajib dibentuk bank sesuai ketentuan dalam PSAK mengenai Instrumen Keuangan dan PAPI, yang mencakup CKPN Pembiayaan secara individual dan kolektif. -Total pembiayaan dihitung berdasarkan nilai tercatat dalam neraca
secara gross (belum dikurangi CKPN).
-Angka rasio dihitung per posisi (tidak disetahunkan).
28
Semakin tinggi rasio NPF Gross, semakin tinggi pembiayaan bermasalah dengan kolektibilitas kurang lancar, diragukan, dan macet. Namun harus juga dilihat rasio NPF Net-nya, yaitu rasio setelah pembiayaan bermasalah tersebut dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atau penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP). Rasio NPF Net yang menjadi acun Bank Indonesia maksimal 5 % (lima persen). Jika tinggi rasio NPF Net sebuah bank di atas 5 % (lima persen), bank tersebut dianggap mempunyai risiko pembiayaan yang tinggi.29