• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Masalah (Kasus) dan Skema Pola dan Solusi

B. Skema Pola dan Solusi

1. Normatif Tekstual

Pada skema ini para hakim dan pihak pengacara memfokuskan penyelesaian masalahnya terhadap bagaimana memandang hukum sebagai suatu sistem yang utuh yang mencakup seperangkat asas hukum, norma - norma hukum, dan aturan - aturan hukum (tertulis maupun tidak tertulis). Pada dasarnya harus diketahui bahwa asas hukumlah yang melahirkan norma hukum, kemudia norma hukum yang akan melahirkan aturan hukum. Dari situ, kemudian para hakim merujuk dan bersandar dalam penyelesaian masalah yang dihadapkan padanya untuk diselesaikan.

Wujud penegakan hukum positif Islam di Pengadilan Agama untuk mewujudkan keadilan dalam pembagian harta bersama dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah isteri mendapatkan 1/2 (setengah) lebih besar dibanding dengan suami yang mendapatkan 1/2 (setengah), karena dipandang proporsional dan adil. Putusan ini tentu saja menjalankan amanah Pasal 97 KHI dan putusan ini merupakan pengembangan KHI (tahrij al-ahkam ‘ala nashil qanun) dalam upaya menjawab hukum kasus yang berkeadilan.

Prosesnya, setelah diketahui kapan terbentuknya suatu harta bersama, maka dipandang perlu untuk mengkaji tentang hal-hal apa sajakah yang termasuk dalam ruang lingkup harta bersama yang akan coba diuraikan melalui pendekatan yuridis.

1. Harta yang dibeli selama perkawinan

Patokan pertama untuk menentukan apakah sesuatu barang termasuk objek harta bersama atau bukan, ditentukan pada saat pembelian. Jadi apa saja yang dibeli selama perkawinan berlangsung otomatis menjadi harta bersama. Tidak menjadi soal siapa diantara suami isteri yang membelinya. Juga tidak menjadi masalah atas nama suami atau isteri harta itu terdaftar dan terletak dimanapun. Yang penting, apabila harta itu dibeli

dalam perkawinan maka dengan sendirinya menurut hukum menjadi objek harta bersama.

Lain halnya jika uang pembeli barang berasal dari harta pribadi suami atau isteri.

Jika uang pembelian barang berasal dari harta pribadi, maka barang yang dibeli tersebut tidak termasuk objek harta bersama. Harta yang seperti ini tetap menjadi milik bersangkutan.

2. Harta yang dibeli dan dibangun sesudah perceraian yang dibiayai dari harta bersama

Patokan berikut untuk menentukan sesuatu barang termasuk objek harta bersama, ditentukan oleh asal-usul uang biaya pembelian atau pembangunan barang yang bersangkutan, meskipun barang itu dibeli atau dibangun sesudah terjadinya perceraian.

Misalnya jika suami isteri selama perkawinan memiliki simpanan yang sampai pada perceraian belum dibagi-bagikan. Kemudian jika salah satu pihak yang membeli rumah dari uang simpanan tersebut, maka rumah tersebut tetap menjadi harta bersama dan bukan merupakan harta milik isteri atau harta milik suami. Penerapan yang seperti ini harus dipegang secara utuh untuk menghindari manipulasi dan itikad buruk suami atau istri.

Karena dengan penerapan seperti ini, hukum tetap dapat menjangkau harta bersama sekalipun harta itu telah berubah bentuk menjadi barang lain. Sekiranya hukum tidak mampu menjangkau hal seperti itu, maka akan banyak terjadi manipulasi harta bersama sesaat setelah terjadinya perceraian, dengan pengharapan agar ia dapat menguasai sepenuhnya seluruh harta bersama. Maka untuk mengatasinya, asas kemutlakan harta bersama harus tetap melekat pada setiap barang dalam jenis dan bentuk apapun asal barang itu berasal dari harta bersama walaupun wujud barang yang baru itu diperoleh atau dibeli sesudah terjadinya perceraian.

3. Harta yang dapat dibuktikan diperoleh selama perkawinan

patokan ini sejalan dengan kaedah hukum harta bersama. Yakni semua harta yang diperoleh selama perkawinan dengan sendirinya menjadi harta bersama. Namun, dalam suatu sengketa harta bersama tidak semulus dan sesederhana itu. Pada umumnya, pada setiap perkara harta bersama, pihak yang digugat akan mengajukan bantahan bahwa harta yang digugat bukan merupakan harta bersama, tetapi merupakan harta pribadi. Hak kepemilikan seperti ini bisa berdasarkan atas hak kepemilikan, warisan ataupun karena hibah. Apabila terjadi hal seperti ini, maka untuk menentukan apakah barang tersebut merupakan objek harta bersama atau bukan, ditentukan oleh kammpuan dan keberhasilan dari penggugat untuk bisa membuktikan bahwa harta-harta tersebut benar-benar diperoleh selama dalam perkawinan.

4. Penghasilan harta bersama dan harta bawaan

Penghasilan yang berasal dari harta bersama dan dari harta pribadi suami isteri, maka otomatis akan menjadi objek harta bersama dan akan menambah jumlah dari harta bersama. Sekalipun hak dan kepemilikan harta pribadi mutlak berada di bawah kekuasaan pemiliknya. Namun harta pribadi tidak terlepas fungsinya dari kepentingan keluarga.

Barang aslinya memang tidak boleh diganggu gugat, tetapi hasilnya akan menjadi objek

harta bersama. Ketentuan ini, berlaku sepanjang suami isteri tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Jika dalam perjanjian perkawinan tidak diatur mengenai hasil yang timbul dari harta pribadi, maka seluruh hasil yang diperoleh dari harta pribadi suami isteri menjadi objek harta bersama.

5. Segala Penghasilan Pribadi Suami Isteri

Menurut putusan Mahkamah Agung tanggal 11 Maret 1971 No. 454 K/SIP/1970 menegaskan bahwa segala penghasilan suami isteri baik dari keuntungan yang diperoleh dari perdagangan masing-masing ataupun hasil peroleh masing-masing sebagai pegawai jatuh menjadi harta bersama suami isteri. Jadi sepanjang mengenai penghasilan pribadi suami isteri, maka tidak terjadi pemisahan. Malahan dengan sendirinya terjadinya penggabungan ke dalam harta bersama. Penggabungan penghasilan pribadi dengan sendirinya terjadi menurut hukum, sepanjang suami isteri tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan.124

Dengan demikian dapat diketahui bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh oleh suami isteri selama perkawinan dan menjadi hak kepemilikan berdua diantara suami isteri. Implikasinya, harta yang sudah dimiliki oelh suami atau isteri sebelum menikah karena warisan atau pemberian, semata-mata menjadi milik pribadi yang bersangkutan.

Mursyid Djawas (2014) menegaskan bahwa penyelesaian perkara harta bersama berdasarkan ijtihad hakim pada Mahkamah Syar’iyah. Hakim mendasarkan pada pertimbangan ketentuan tentang harta bersama yang diatur dalam UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Selain dua ketentuan tersebut, Hakim pada Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh juga mendasarkan putusannya dalam menyelesaikan perkara harta bersama pada beberapa pertimbangan hakim, yaitu; al-Quran dan dan hadis, pendapat fuqaha’, kondisi sosiologis masyarakat Aceh, kebutuhan istri, kebutuhan anak, pendidikan anak dan adanya kesepakatan bersama antara kedua pihak yang berperkara.125

Zayad Zubaidi (2020) praktek pembagian harta bersama di Kabupaten Bireuen pada umumnya dilakukan dengan pola sepertiga, dalam kasus-kasus tertentu juga diterapkan seperti halnya pola pembagian KHI. Menanggapi ini, ulama dayah di Kabupaten Bireuen tidak menolak rumusan pembagian harta bersama dalam KHI dengan pola seperdua. Keberadaan KHI dengan pola seperdua di tengah masyarakat untuk memperkuat tradisi masyarakat yang melakukan pembagian harta bersama dengan pola sepertiga.126

Zuhdi Hasibuan, (2017) mengkaji tentang pembagian harta bersama yang ada di Kecamatan Panyabungan masih banyak yang tidak yang melakukan pembagian harta bersama.

Akan tetapi sebagian masyarakat ada juga yang melakukan pembagian harta bersama, akan tetapi dalam sistem pembagian harta bersama yang ada di kecamatan ini masih jauh dari apa

124 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama (Cet. I ; Jakarta : Garus Metropolitan Press, 1990), h. 303-306

125 Mursyid Djawas, Jejak Maqashi al-Syari’ah di Nusantara: Melacak Fuqaha berbasis Maqashid Syari’ah dan hasil Ijtihadnya, Conference Proceeding-ARICIS 1, 2016, hlm. 172. Mursyid Djawas, Ijtihad Hakim Dalam Penyelesaian Perkara Harta Bersama Di Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh
(Analisis Dengan Pendekatan Ushul Fiqh, Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies Vol. 1, No.2, Desember 2014, h. 318.

126 Zaiyad Zubaidi, Tanggapan Ulama Ddayah Terhadap Pembagian Harta Bersama Menurut Pasal 97 KHI, Media Syari’ah: Wahana Hukum Islam dan Pranata Sosial, Volume 22, Nomor 1 2020, hlm. 31.

yang sudah di ada dalam peraturan masyarakat masih lebih dominan membagiakan harta bersama ini tergantung siapa yang paling banyak atau yang selalu mencari nafkah dalam rumah tangga tersebut, maka bagian dialah yang paling banyak. Faktor penyebabnya pelaksanaan pembagian harta bersama di masyarakat Kecamatan Panyabungan Kota disebabkan masyarakatnya secara umum tidak paham terhadap pembagian harta bersama, faktor keadilan, dan kemudian faktor ekonomi.127