A. Nilai-nilai Pendidikan
1. Tujuan Pendidikan
Sekolah-sekolah PN Timah, yaitu TK, SD, dan SMP PN berada dalam kawasan Gedong. Sekolah-sekolah ini berada di bawah naungan Aghatis berusia ratusan tahun dan dikelilingi pagar tinggi berulir melambangkan kedisiplinan dan mutu tinggi pendidikan. Sekolah PN merupakan center of excellen atau tempat bagi segala hal yang terbaik. Sekolah ini demikia kaya raya karena didukung sepenuhnya oleh PN Timah, sebuah korporasi yang kelebihan duit. Institusi pendidikan yang sangat modern ini lebih tepat disebut percontohan bagaimana seharusnya generasi muda dibina. 26
Namun anak perempuannya ini bersikeras ingin menjadi laki-laki. Setiap hari beliau berusaha memperempuankan Flo antara lain dengan memaksakanya kursus piano. Grand Piano itu didatangkan dengan kapal khusus dari Jakarta. Guru privat yang merupakan instruktur musik profesional, juga dijemput dari Tanjong Pandan. Lebih dari itu, di sela kesibukanya, bapaknya rela menunggui Flo kursus, namun yang beliau dapat tak lebih dari uapan - uapan itu. Flo bahkan tak berminat menyentuh tuts-tuts hitam putih yang berkilat - kilat karena pikirannya melayang ke suasana tempat ia latihan kick boxing dan angkat barbel.27
2. Guru sebagai Pembimbing
Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal “guru” yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, India, yaitu orang yang tak hanya mentransfer pelajaran, tapi juga secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya.28
Dalam narasi yang lain:
Bagi kawanan Laskar Pelangi, Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan guru spiritual. Mereka yang pertama menjelaskan secara gamblang implikasi amal makruf nahi mungkar sebagai pegangan kami sepanjang hayat. Mereka ajari kami membuat rumah - rumahan dari perdu apit - apit, mengusap luka - luka di kaki kami membimbing cara mengambil wudhu, melongok ke dalam sarung kami
26
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 57 27
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 47 28
ketika disunat, mengajari kami doa sebelum tidur, memompa ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuatkan kami air jeruk sambal.29
3. Fasilitas dan Sumber Belajar
Gedung - gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria di sekitarnya. Ruangan kelasnya dicat warna-warni dengan tempelan gambar kartun edukatif, poster operasi dasar matematika, tabel pemetaan unsur kimia, peta dunia, jam dinding, termometer, foto para ilmuan dan penjajah yang menginspirasi, dan ada kapstok topi. Di setiap kelas ada patung anatomi tubuh yang lengkap, globe yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-plenet.
Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa brilian bersaing ketat dalam standar mutu yang tinggi. Sekolah-sekolah ini memiliki perpustakaan, kantin, guru BP, laboratorium, perlengkapan kesenian, kegiatan ekstrakulikuler yang bermutu, fasilitas hiburan dan sarana olahraga – termasuk sebuah kolam renang yang masih disebut dalam bahasa Belanda: zwembad.30
4. Pelajar Sejati
“Inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.”31
5. Pantang Menyerah dalam Belajar
Lintang memang tak memiliki pengalaman emosional dengan Bodenga seperti yang aku alami, tapi bukan baru sekali itu ia dihadang buaya dalam perjalanan ke sekolah. Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh pendidikan, namun tak seharipun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolah berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam harinya di rumahnya. Sering aku merasa ngeri membayangkan perjalanannya.32
6. Pendidikan Wirausaha dan Kemandirian
Memang menyenangkan menginjak remaja. Di sekolah, mata pelajaran mulai terasa bermanfaat. Misalnya pelajaran membuat telur asin, menyemai biji sawi, membedah perut kodok, keterampilan menyulam, menata janur, membuat pupuk dari kotoran hewan, dan praktek memasak. Konon di Jepang pada tingkat ini para siswa telah belajar semikonduktor, sudah bisa menjelaskan perbedaan antara istilah analoh dan digital, sudah
29
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 32 30
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 57-58 31
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 31 32
belajar membuat animasi, belajar software development, serta praktik merakit robot.33
B. Ciri-ciri Pribadi Sukses
1. Kerja keras
Setelah seharian mengajar, Bu Muslimah melanjutkan bekerja menerima jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah, menopang hidup dirinya dan adik-adiknya.34
2. Networking/Jaringan Kerja
Kucai memiliki network yang luas. Ia pintar bermain kata-kata. Kalau hanya masalah perselisihan peneng sepeda dengan aparat desa, informasi dimana bisa menjual beras jatah PN, atau informasi bagaimana cara mendapatkan karcis pasar malam separuh harga, serahkan saja padanya, ia bisa memberi solusi total.35
3. Dapat/Bisa Dipercaya
Barang siapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kami tetapkan gajinya untuk itu, maka apapun yang ia terima selain gajinya itu adalah penipuan!36
4. Tanggung Jawab Pemimpin
Kata - kata itu (poin a) mengajarkan arti penting memegang amanah sebagai pemimpin dan Al-quran mengingatkan bahwa kepemimpinan seseorang akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat…”37
5. Memanfaatkan Waktu
Jika tiba di rumah ia (Lintang) tak langsung istirahat melainkan segera bergabung dengan anak-anak seusia di kampungnya untuk bekerja sebagai kuli kopra. Itulah penghasilan sampingan keluarganya dan juga sebagai kompensasi terbebasnya dari pekerjaan di laut serta ganjaran yang ia dapat dari “kemewahan” bersekolah.38
33
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 191 34
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 30 35
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 70 36
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 71 37
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 71 38
6. Semangat Kerja Keras dan Pantang Menyerah
Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yang sederhana melalui kata-katanya yang ringan namun bertenaga seumpama titik-titik air hujan. Beliau mengobarkan semangat kami untuk belajar dan membuat kami tercengang dengan petuahnya tentang keberanian dan pantang menyerah melawan kesulitan apapun. Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keiikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prisip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.39
“Tabahkan hati kalian, kelarkan seluruh kemampuan!” ledak Bu Mus memberi semangat kepada kami, para mamalia. Pak Harfan sudah tidak bisa bicara apa-apa. Tangannya membekap dada seperti orang berdoa.40
“Dalam tarian ini kalian harus mengeluarkan seluruh energi dan harus tampak gembira! Bersuka ria seperti karyawan PN baru terima jatah kain, sepeti orang Sawang dapat utangan, seperti para pelaut terdampar di sekolah perawat!”41
7. Kejujuran
Sifat lain Sahara yang amat menonjol adalah kejujurannya yang luar biasa dan benar-benar menghargai kebenaran. Ia pantang berbohong. Walaupun diancam akan dicampakkan ke dalam lautan api yang berkobar-kobar, tak satupun dusta akan keluar dari mulutnya.42
8. Kreatif dan inovatif
Para guru mengangguk-angguk salut dengan ide Mahar. Mereka salut karena selain akan menampilkan sesuatu yang berbeda, menampilkan suku terasing di Afrika adalah ide yang cerdas. Suku itu tentu berpakaian seadanya. Semakin sedikit pakaiannya – atau dengan kata lain semakin tidak berpakaian suku itu – maka anggaran biaya untuk pakaian semakin sedikit. Ide Mahar bukan saja baru dan yahud dari segi nilai seni tapi juga aspiratif terhadap kondisi kas sekolah. Ide yang sangat istimewa.43
39
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 24 40
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 240 41
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 230 42
Andrea Hirata, Laskar Pelangi, (Yogyakarta: PT Bentang, 2006), h. 75 43
C. Kesimpulan
Dari paparan kutipan beberapa narasi yang mengandung nilai - nilai pendidikan dan ciri-ciri pribadi sukses dari novel Laskar Pelangi, penulis berkesimpulan:
Nilai-nilai pendidikan (di atas) berdasarkan hasil temuan penulis, yaitu: pertama: kompetensi guru meliputi guru sebagai fasilitator dan guru sebagai pembimbing. Karakter guru fasilitator tergambar pada Pak Harfan selaku kepala sekolah. Sedangkan sosok guru sebagai pembimbing ada pada Pak Harfan dan Bu Muslimah (staff guru) di SD Muhammadiyah Belitung. Kedua: tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang penulis temukan dalam novel Laskar Pelangi tergambar pada kondisi sekolah PN Timah. Sekolah tersebut menerapkan kedisiplinan dan mutu tinggi pendidikan. Sekolah PN merupakan center of excellent atau tempat bagi segala hal terbaik. Oleh Andrea, sekolah ini dijadikan permisalan selayaknya instansi pendidikan yang layak dan di sanalah (di sekolah berstandar sangat baik) seharusnya generasi muda dibina. Ketiga: tentang fasilitas dan sumber belajar yang memadai tergambar pada sekolah PN. Keempat: tentang pelajar sejati, yang dianalogikan dengan budaya belajar Ir. Soekarno. Walau dalam terali besi beliau tetap terus belajar sepanjang hari dan sepanjang waktu. Kelima: tentang semangat belajar lintang (siswa) yang luar biasa. Terakhir adalah nilai pendidikan wirausaha dan kemandirian, yang mengajarkan siswa-siswi SMP Muhammadiyah tantang beberapa bidang usaha ekonomi yang menjurus kepada pembinaan kemandirian anak didik.
Sedangkan ciri-ciri pribadi sukses yang penulis temukan dalam novel Laskar Pelangi ialah:
1. Kerja keras
2. Networking/Jaringan Kerja 3. Dapat dipercaya
4. Kemandirian
5. Pantang menyerah/putus asa 6. Kejujuran
7. Kreatif dan inovatif
D. Kerangka Nilai-Nilai Pendidikan dan Ciri-ciri Pribadi Sukses dalam
Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata
Dapat dipercaya Kerja keras Jujur Pemanfaatan waktu Kerja keras Networking/ Jaringan kerja Ciri-ciri Pribadi Pendidikan wirausaha dan kemandirian Pantang menyerah dalam belajar Pelajar sejati Tujuan pendidikan Tanggung jawab Fasilitas dan sumber belajar Nilai-nilai Guru sebagai pembimbing
Novel Laskar Pelangi
Kreatif dan inovatif
BAB VI
ANALISA TEORITIS NILAI-NILAI PENDIKAN DAN CIRI-CIRI