• Tidak ada hasil yang ditemukan

NOVEL, MEDIA KOMUNIKASI PERSUASIF DAN DAKWAH

A. Novel

1. Pengertian Novel

Novel juga bisa dijadikan sebagai media dakwah tentu hal ini juga telah banyak dilakukan oleh penulis-penulis besar bangsa ini. Berikut ini kita akan membahas lebih lanjut tinjauan Novel menurut teori sastra. Sebutan novel dalam bahasa inggris , dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia ,berasal dari bahasa italia novella,secara harfiah novella berarti barang baru.19 Dikatakan barang baru karena bila dibandingkan dengan jenis sastra yang lain seperti puisi, drama dan lain-lain, maka jenis novel ini muncul kemudian.

Dalam buku apresiasi kesusasttraan bahwa novel dalam arti luas adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran yang luas disini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, suasana cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragam pula. Meskipun novel merupakan karya sastra yang imjinatif, rekaan atau khayalan harus berdasarkan kenyataan.Dalam cerita rekaan ini tentu saja bukan kenyataan yang dilihat dalam keseharian. Jika sebuah karangan

19

mengangkat begitu saja kenyataan sehari-hari, ia bukan sebuah rekaan atau fiksi, namun bisa dikatakan sebuah laporan jurnalistik, deskriptif atau ekposisi ilmiah. Gaya bahasa dan pemilihan bahasa yang komunikatif dari sang pengarang itulah yang muncul menjadi sebuah keindahan sehingga menjadi hal yang menarik dalam fiksi.

“Kenyataan” yang dilihat sehari-hari menjadi berbeda dengan kenyataan yang ada dalam fiksi. Fiksi adalah sebuah ide atau gagasan, sementara kenyataan empiris adalah fakta fisik. “kenyataan fungsional”

tak dapat mengacu pada kenyataan empiris atau faktual.

2. Unsur-unsur Novel

Setiap novel atau karya sastra mempunyai dua unsur, pertama unsur ekstrinsik yaitu unsur yang membangun sastra tersebut dari luar, kedua adalah unsur Intrinsik yaitu unsur yang membangun karya sastra tersebut dari dalam.

a. Unsur ekstrinsik novel

Unsur ekstrinsik novel merupakan unsur dari luar yang turut mempengaruhi terciptanya karya sastra.Unsur ekstrinsik meliputi biografi pengarang, keadaan masyarakat saat karya itu dibuat, serta sejarah perkembangan karya sastra.Melalui sebuah karya novel kita kadang secara jelas dapat memperoleh sedikit gambaran tentang

biografi pengarangnya.Melalui sebuah novel kita pun dapat memperoleh gambaran tentang budaya dan keadaan masyarakat tertentu saat karya itu dibuat.Nilai-nilai dalam karya sastra dapat ditemukan melalui unsur ekstrinsik ini. Seringkali dari tema yang sama didapat nilai yang berbeda, tergantung pada unsur ekstrinsik yang menonjol. Misalnya, dua novel sama-sama bertemakan cinta, namun kedua novel menawarkan nilai yang berbeda karena ditulis oleh dua pengarang yang berbeda dalam memandang dan menyingkap cinta, latar belakang pengarang yang berbeda, situasi sosial yang berbeda, dan sebagainya.

Nilai-nilai yang terkandung :

1. Nilai social masyarakat, sifat yang suka memperhatikan kepentingan umum (menolong, menderma, dan lain-lain). 2. Nilai budaya Nilai yang berkaitan dengan pikiran, akal budi,

kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat suatu tempat yang menjadi kebiasaan dan sulit diubah.

3. Nilai ekonomi Nilai yang berkaitan dengan pemanfaatan dan asas-asas produksi, distribusi, pemakaian barang, dan kekayaan (keuangan, tenaga, waktu, industri, dan perdagangan).

4. Nilai filsafat, hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.20

Dalam sebuah karya sastra pemilihan diksi/gaya bahasa atau ungkapan merupakan hal yang sangat penting. Karena diksi bukan hanya sekedar gaya bahasa, akan tetapi diksi dalam sebuah karya sastra adalah media untuk megkomunikasikan maksud dari penulis. Bahasa dan sastra mengembangkan fungsi utamanya yaitu, fungsi komunikaif.

b. Unsur intrinsik novel

1. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita.

2. Perwatakan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh.

3. Alur/plot adalah jalinan peristiwa dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu.

4. Sudut pandang adalah posisi pencerita dalam membawa kisahan, boleh jadi ia tokoh dalam ceritanya (pencerita akuan),boleh jadi pula berada di luarnya (pencerita diaan). 5. Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang

kepada pembaca/penonton/pendengar.

20 Indra Gunawan, “ Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel” (On-line), tersedia di : http://indonesialesson.Blogspot.co.id/2011/09/unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-novel.html ( 16 september 2016)

6. Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra.

7. Gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang digunakannya.

B. Media Komunikasi Persuasif dan Kegiatan Dakwah 1. Media

Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komnuikator kepada khalayak.21 Dalam penelitian ini media akan dikaitkan dengan komunikasi persuasif melaui sebuah tulisan berupa bentuk buku yaitu novel. Hal ini mengartikan bahwa komunikasi peuasif melalui sebuah media karya sastra novel.Karena yang akan diteliti adalah seah buku maka digunakan suatu pendekatan media massa. Dengan karakteristik media massa adalah sebagai berikut:22

a. Bersifat melembaga, yang mengelola media terdiri dari banyak orang, mulai dari pencarian, pengumpulan, pengeditan, dan penyebaran informasi.

b. Bersifat satu arah, artinya komunikasi tida bia dilakukan dengan tanya jawab secara langsung dari komunikator kepada komunikan.

c. Meluas dan serempak. Adanya media massa maka bisa memutus jarak dan waktu dalam memperoleh informasi tanpa batas.

21 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), h. 137.

22

d. Memakai peralatan teknis atau mekanis seperti, radio, televisi, surat kabar, buku, dan lain-lain.

e. Bersifat terbuka,artinya informasi atau pesan dapa dierima oleh siapa saja tidak mengenal usia.

2. Komunikasi Persuasif

a. Pengertian Komunikasi Persuasif

Persuasif berasal dari bahasa Latin, persuasio yang berarti induce

(memeranikan), conviction (meyakinkan), belief (kepercayaan).23 Persuasif merupakan komunikasi dimana pesan-pesan yang dikirimkan diharapkan mampu mengubah sikap, kepercayaan dan perilaku pihak penerima. Simon mendifinisikan persuasif sebagai komunikasi manusia yang dirancang untuk memengaruhi orang lain dengan mengubah kepercayaan, nilai atau sikap mereka.24

Akibat yang ditimbulkan dari kegiatan komunikasi persuasif adalah sebuah nilai kesadaran, kerelaan disertai rasa senang. Sedangkan kegiatan

coersi adalah perubahan sikap,pendapat, atau perilaku dengan perasaan terpaksa karena diancam, yang menibulkan perasaan tidak senang.25 Dengan demikian komunikasi persuasive mampu memberikan dampak

23Bambang.S.Ma’arif, Komunikasi Dakwah (Bandung: Rosdakarya, 2010), h. 15. 24 Ibid. h.16.

25

positif yang lebih tinggi, baik itu dari sisi Kognitif, Afektif, maupun Behavior.

Oleh karena itu komunikasi persuasive lebih mengena kepada para komunikan, karena para komunikan senang dan sukarela dalam menrima pesan dakwah dari komunikatrnya.Namun demikian komunikasi juga memerlukan media yang mendukung tujuannya, contohnya menggunakan media Novel.

b. Teori dan Metode Komunikasi Persuasif

Dalam melaksanakan komunikasi persuasif, komunikator dakwah sebaiknya mempersiapkan segala hal dengan baik.Seperti metode dan juga teori yang mendukung pelaksanaan komunikasi persuasif tersebut. Berikut beberapa teori yang bisa dikembankan menjadi beberapa metode dalam komunikasi persuasif:26

1. Metode asosiasi, adalah penyajian pesan komunikasi dengan jalan menumpangkan pada suatu peristiwa yang actual, atau sedang menarik perhatian dan minat massa.

2. Metode integrasi, kemampuan untuk menyatukan diri dengan komunikan dalam arti menyatukan diri secara komunikatif, sehingga

26

tampak menjadi satu, atau mengandung arti kebersamaan, baik dilakukan secara verbal maupun nonverbal.

3. Metode pay-off danfear-arousing, yakni kegiatan mempengaruhi orang lain dengan jalan melukiskan hal-hal yang menggembirakan dan menyenangkan perasaan atau memberi harapan.

4. Metode icing, yaitu menjadikan indah sesuatu, sehingga menarik siapa yang menerimanya.

3. Media Komunikasi Persuasif

Media komunikasi persuasif berarti sebuah saluran atau alat yang digunakan dalam komunikasi persuasif. Karena penulis meneliti sebuah buku, maka buku tergolong kedalam media komunikasi persuasif yang berupa media massa. Media massa itu terdiri dari:27

1). Media cetak, seperti surat kabar, majalah, buku, pamphlet, dan peralatan teknik lainnya yang menarik indera penglihatan.

2). Media elektronik seperti, radio dan televisi yang merangsang indera penglihatan dan pendengaran.

Sebuah buku bisa dikatakan persuasif jika isi pesan dan gaya bahasa yang terdapat dalam buku tersebut mengandung unsur-unsur persuasif.

1). Bahasa dan Makna dalam Komunikasi Persuasif

27 Soleh Soemirat, Asep Suryana, Komunikasi Persuasif ( Banten: Universitas Terbuka, 2012), h. 6.32.

Dalam komunikasi persuasif kita berusaha untuk mencapai tujuan yang berkaitan dengan maksud utama kita untuk mempengaruhi baik lingkungan kita, termasuk sasaran persuasive maupun diri kita sendiri.Untuk mewujudkan usaha tersebut, maka wujud nyatanya adalah dalam bentuk pesan.28 Pesan tersebut merupakan hasil dari usaha manusia didalam meyandikan gagasan-gagasannya. Pesan-pesan tersebut dalam komunikasi persuasive dimaksudkan untuk menghasilkan pengaruh terhadap orang lain, baik terhadap aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Dalam menghasilkan dan menerima pesan, kita dituntut untuk

menggunakan “sandi” atau “kode”. Dalam menghasilkan pesan, kita

menyandi dengan memilih symbol atau lambang dan menyusunnya dalam suatu cara yang sistematis. Dalam menerima pesan, kita membuka, kita membuka sandi (decode). Kita berusaha untuk menerjemahkan sandi itu kedalam system isyarat kita sendiri, sedemikian rupa sehingga pesan itu menjadi berarti atau bermakan.

Dengan demikian bahasa dan makna berperan penting dalam sebuah media komunikasi persuasive berupa sebuah media cetak yaitu karya sastra novel.

2). Isi pesan Persuasif

28

Terdapat tiga tujuan pesan komunikasi persuasif, yaitu:29

1). Membentuk tanggapan (Shaping Respons).

Salah satu tujuan komunikasi persuasive adalah membentuk cara sasaran memberikan tanggapannya. Pembentukan sasaran tersebut dilakukan pada sasaran yang sudah mengetahui topik tersebut ataupun belum.

Dalam proses pembentukan sikap dan tanggapan persuader harus mampu mempertalikan antara produk baru dengan nilai-nilai yang telah melekat didalam system masyarakat.

2). Penguatan tanggapan (Reinforcing Respons)

Maksudnya adalah meyakinkan kembali sebuah ide gagasan atau nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat atau sasaran tersebut.

3). Pengubahan tanggapan (Changing Respons)

Komunikasi persuasive juga salah satunya untuk mengubah tanggapan sasaran.Dengan adanya informasi baru yang menarik sasaran dirasa mampu untuk membuat sasaran merubah tanggapannya.

4. Dakwah

a. Pengertian Dakwah

29

Dakwah ditinjau dari etimologi atau bahasa, kata dakwah

berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a-yad;u,da’watan, artinya

mengajak,menyeru, memanggil. Menurut terminology bermacam-macam, berikut beberapa pendapat ahli ilmu dakwah mengenai pengertian dakwah, antara lain :

1). M.Natsir mendefinisikan dakwah adlah usaha meyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia konsepsi islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang meliputi al-amar bi al-ma’ruf

an-nahyu an al munkar dengan berbagai macam cara dan media yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan bermasyarakat dan perikehidupan bernegara.

2). Prof.A.Hasjmy mengatakan bahwa dakwah islamiyyah yaitu mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan

aqidah dan syari’ah Islamiyyah yang terlebihdahulu telah iyakini dan diamalkan oleh pendakwah sendiri.30

3). H.M. Arifin mengatakan bahwa dakwah mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan,tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang

30

lain baik secara individual maupun secara kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, keasadaran, sikap dan penghayatanserta pengalaman terhadap ajaran agama sebagai message yang disampaikan kepadanya denan tanpa adanya unsure-unsur pemaksaan.31

4). Amrullah ahmad juga menjelaskan bahwa pada hakikatnya dakwah islam merupakan aktualisasi imani (Theologis) yang dimanifestasikan dalam suatu system kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, bersikap, berpikir dan bertindak manusia pada tataran kenyataan individual dan sosio kulturak dakam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tetentu.32

Dari berbagai perumusan diatas, kiranya bisa disimpulkan sebagai berikut :

1). Dakwah itu merupakan suatu aktivitas atau usaha yang dilakukan dengan sengaja atau sadar.

31

Samsul Munir, Ilmu dakwah (Jakarta: Amza, 2009), h. 4. 32 Ibid. h. 5.

2). Usaha dakwah tersebut berupa ajakan kepada jalan Allah dengan Al amar bi al ma’ruf an-nahyu an almunkar.

3). Usaha tersebut dimaksudkan untuk mencapai cita-cita dari dakwah itu sendiri yaitu menuju kebahagiaa manusia didunia maupun diakhirat.

b. Unsur-unsur Dakwah

Pelaksanaan kegiatan dakwah terdiri dari beberapa komponen demi berlangsungnya dakwah secara baik, beberapa komponen tersebu adalah:

1). Da’i

Da’i adalah seseorang yang melaksanakan atau meyampaikan pesan dakwah kepada mad’u, baik secara lisan atau

tulisan. Pada hakikatnya semua orang muslim berperan secara otomatis sebagai da’i. Untuk itu da’I dapat dibagi menjadi tiga

yaitu:

a) Secara umum adalah setiap muslim atau muslimat yang mukallaf dimana bagi mereka kewajiban dakwah merupakan suatu yang tidak terpisahkan darinya sebagai pennganut umat islam, sesuai dengan perintah: “Sampaikan walau satu ayat”.

b) Secara khusus adalah mereka yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang agama islam.

2). Mad’u

Mad’u adalah sesorang atau sekelompok manusia yang

menjadi sasran dakwah oleh da’i, baik yang beragama Islam ataupun non Islam. Muhammad Abduh membagi Mad’u menjadi tiga golongan

yaitu:33

a) Golongan cerdik cendikiawan yang cinta kebenaran dan dapat berpikir secara kritis.

b) Golongan awam, yaitu kebanyakan orang yang belum dapat berpikir secara kritis dan mendalam.

c) Golongan yang berbeda dengan golongan diatas adalah mereka yang sedang membahas sesuatu, tetapi hanya dalam batas tertentu, tidak sanggup mendalami benar.

3). Materi/pesan dakwah

Materi atau pesan dakwah ialah isi pesan yang disampaikan

oleh da’i kepada mad’u, yaitu berupa pesan dakwah dalam ajaran

Islam.

4). Media dakwah

33

Media dakwah adalah sarana atau alat yang digunakan oleh

seorang da’i kepada mad’u agar pesan dakwah sampai kepada

mad’u.media dakwah dapat dibagi menjadi media Lisan, Tulisan,

Lukisan, Audio Visual, dan juga Akhlak. 5). Efek dakwah

6). Metode dakwah

C. Komunikasi Persuasif dalam Dakwah melalui Media Novel

Komunikasi didalam berdakwah dapat dilakukan dengan berbagai saluran, teknik, dan tatanan.Saluran merupakan sarana yang menjadi perantara penyampaian nilai-nilai keagamaan, termasuk media itu sendiri.Dengan demikian dapat dipahami bahwa dakwah bisa dilakukan dengan suatu tatanan komunikasi, meliputi, komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, kelompok, public, organisasi, dan bermedia. Berdasarkan pemaparan tersebut, ada 4 aktivitas yang bisa dilakukan oleh komunikator dalam komunikasinya dalam berdakwah, yaitu:

1. Mengingatkan orang akan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dengan lisan

2. Mengomunikasikan prinsip-prinsip Islam melalui karya tulisnya 3. Memeberi contoh keteladanan akan perilaku atau akhlak yang baik 4. Bertindak tegas dengan kemampuan fisik, harta, dan jiwanya dalam

Komunikasi dalam berdakwah merupakan sebuah retorika sebagaimana menggunakan komunikasi persuasive dalam berdakwah.Komunikasi persuasive sangat dibutuhkan dalam berdakwah baik itu secara verbal maupun nonverbal seperti melalui media tulisan sebagaimana rasulullah berdakwah pada saat itu. Rasulullah melakukan dakwahnya secara persuasif melalui surat yang dikirim kepada raja-raja dan pemimpin Arab.

Diantara surat-surat Rasulullah yang pernah dikirim pada raja-raja adalah sebagai berikut:

1. Surat Rasulullah SAW Kepada Pembesar Negeri RUM Heraclius

Adapun surat Nabi yang dikirim kepada Pembesar Negeri RUM Heraclius sebagai berikut:

Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang dari Mhammad pesuruh Allah kepada Heraclius, Pembesar Negeri Rum.

“Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk! Kemudian

daripada itu, sesungguhnya saya meyerukan padamu dengan seruan islam, Islamlah! Agar engkau selamat dan agar memberikan Allah Kepadamu pahala berlipat dua adapaun jika engkau berpaling maka sesungguhnya bagimu dosa orang-orang aris (kaum tani). Wahai Ahli Kitab, mari bersama-sama berpegang kepada kalimah yang bersamaan antara kami dan kamu, tentangnya, yaitu bahwa tidaj ada kita sembah selain Allah, dan tidak ada kita

mempersekutukannya dengan sesuatu jua. Dan janganlah kita menjadikan satu dengan yang lain sesembahan selain Allah. Maka apabila mereka berpaling katakanlah (wahai ummat Muhammad): Bersaksilah kamu sekalian, bahwasesungguhnya kami adalah orang-orang Islam”.34

2. Surat Dakwah Pada Raja Persi

“Dengan Nama Allah Pemurah, Penyayang, dari Muhammad hamba

Allah dan utusannya kepada kaisar pembesar Negri Persi.Mudah-mudahan kesejahteraan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk yang benar dan yang beriman kepada Allah dan Rasulnya dan menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah sendiri-Nya. Aku berseru kepadamu dengan seruan Allah yang Maha Gagah dan Maha Tinggi, karena aku sesungguhnya adalah pesuruh Allah kepada Ummatnya, untuk menyampaikan peringatan siapa saja yang hidup dan menetapkan siksaan kepada orang yang tidak bisa dipercaya. Islamlah engkau agar engkau selamat, jika tidak maka sesungguhnya diatas

pundakmulah dosa orang najusi”.35

3. Surat dakwah yang lain

Rasulullah menyampaikan dakwah tertulis juga kepada :

a. Raja Najasi

34 Ahmad Mubarok, Psikologi Dakwah (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h. 207. 35

b. Muqauqis Pembesar Mesir c. Al-Mundzir bin Sawi

d. Dua orang Raja Umman dengan utusan Amir bin ‗Asi36

Perlu dicatat bahwasanya diantara surat Nabi itu ada yang ditolak dengan sikap jelek dan adapula yang disambut dengan baik. Dengan contoh ini maka Rasulullah telah menerima system jurnalistik dalam dakwah yang berarti bahwa Dakwah dapat dilakukan dengan berbagai media termasuk media tulisan, yang pada periode modern ini media tulisan sudah berkembang sedemikian rupa dan majunya dalam berbagai macam, termasuk menulis sastra Novel dan sebaginya.

36

Dokumen terkait