• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL DAN SOSIOLOGI

2.2 Novel Samurai ’Kastel Awan Burung Gereja’

Novel Samurai ‘Kastel Awan Burung Gereja’ ini merupakan novel pertama yang ditulis oleh Takashi Matsuoka. Novel ini pertama kali dierbitkan oleh Bantam Dell Publishing Group di New York dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, salah satunya yaitu bahasa Indonesia. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh PT Mizan Pustaka pada Januari 2005.

2.2.1Biografi Pengarang

Takashi Matsuoka tumbuh di Hawaii. Sejak kecil Takashi sudah bercita-cita menjadi penulis mengikuti jejak sang ayah, seorang reporter surat kabar di Hawaii. Sebelum menjadi penulis fulltime, Takashi matsuoka sempat bekerja di kuil sekte Zen Buddha di Honololu. Hal inilah yang melatarbelakangi ia dapat dengan fasih menggambarkan kehidupan spiritual penganut Zen dalam bukunya.

Takashi juga belajar tenteng hukum di New York, meskipun kini ia hanya menulis dan tinggal di Honolulu bersama anak perempuannya.

2.2.2Setting Novel Samurai ‘Kastel Awan Burung Gereja’

Setiap karya sastra disusun atas unsur-unsur yang mejadikannya sebuah kesatuan. Salah satu unsur yang sangat mempengaruhi keberadaan karya sastra adalah unsur instrinsik. Setting merupakan salah satu unsur intrinsik yang terdapat dalam karya sastra yang dalam hal ini adalah novel.

Setting atau latar yang disebut juga landasan tumpu, menyaran pada lingkungan tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1995:216)

1. Latar tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang digunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Dalam novel Samurai ‘Kastel Awan Burung Gereja’ mengambil latar tempat di beberapa tempat di Jepang, seperti Hiroshima, Edo, Distrik Tsukiji dan lain sebagainya. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi di tempat-tempat seperti di hutan-hutan, gunung, pelabuhan, kuil dan lain-lain.

2. Latar waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah kapan tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu factual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Oleh sebab itu dalam kaitannya sebagai latar waktu maka dalam novel Samurai ‘Kastel Awan Burung Gereja’ karya Takashi Matsuoka mengambil setting pada masa akhir Keshogunan Tokugawa sekitar tahun 1861-1867.

3. Latar Sosial

Latar sosial menyaran kepada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi maupun nonfiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat dapat berupa kebiasaan hidup, adapt istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir dan bersikap, dan lain-lain. Latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau atas.

Demikian juga dalam novel Samurai ‘Kastel Awan Burung Gereja’ terdapat ruang lingkup tempat dan waktu sebagai wahana para tokohnya mengalami berbagai pengalaman dalam hidupnya. Peristiwa-peristiwa yang terdapat dalamm novel Samurai ‘Kastel Awan Burung Gereja’ ini terjadi di Jepang dan berlangsung pada akhir keshogunan Tokugawa sekitar tahun 1861-1867.

Pada zaman ini Jepang mengalami sistem pengontrolan masyarakat oleh rezim penguasa secara sistematis mulai dari struktur pemerintahan, masyarakat, pemikiran, ekonomi, budaya, seni, pendidikan, diplomasi, dan hukum.

Pada saat itu Jepang di perintah dengan adanya sebuah keshogunan, yang kemudian dipecah-pecah menjadi beberapa bagian yang kemudian masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang daimyo.

Dalam kondisi yang seperti itu dibentuklah bushi atau samurai sebagai pengawas pertanian dan untuk memperluas wilayah kekuasaan. Novel ini menggambarkan kisah kehidupan seorang Daimyo Akaoka, Genji Okumichi yang mampu melihat masa depan. Dimana pada pemerintahan saat itu menetapkan masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial. Genji selaku seorang daimyo yang berada pada kelas golongan atas merupakan seoarang yang baik hati, tampan, berpikir terbuka dan berusaha melawan Kawakami yang ingin menumpas habis seluruh keturunan klan Okumichi. Klan Okomichi bermusuhan dengan penguasa pada saat itu. Namun klan ini terkenal memiliki samurai yang sangat kuat dan dipercaya pada setaip generasi mempunyai kemampuan untuk meramal masa depan. Dimulai dari kakek Genji, paman Genji yang bernama Shigeru, dan genji sendiri pada generasinya.

2.3 Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar kata sosio/socius (Yunani) yang berarti masyarakat, logi/logos berarti ilmu. Jadi, sosiologi berarti ilmu mengenai asal- usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antarmanusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra dari akar kata (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata jadian, yaitu kesusastraan, artinya kumpulan hasil karya sastra yang baik (Nyoman, 2003:1)

Sesungguhnya kedua ilmu tersebut yaitu sosiologi dan sastra memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra berbeda, bahkan bertentangan secar diametral. Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang sastra sosiologi merupakan perbedaan hakikat, sebagai perbedaan cirri-ciri, sebagaimana ditunjukkan melalui perbedaan antara rekaan dan kenyataan, fiksi dan fakta (Nyoman, 2003:2).

Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Penelitian ini banyak diminati oleh peneliti yang ingin melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Asumsi dasar penelitian sosiologi sastra adalah kelahiran sastra tidak dalam kekosongan moral. Kehidupan sosial akan menjadi picu lahirnya karya sastra. Karya sastra yang sukses yaitu karya satra yang dapat merefleksikan zamannya.

Kendati sosiologi dan sastra mempunyai perbedaan terentu namun sebenarnya dapat memberikan penjelasan terhadap makna teks sastra (Laurenson dan Swingewood, dalam Suwardi 2008:78). Hal ini dapat dipahami, karena sosiologi obyek studinya tentang manusia dan sastra pun demikian. Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tidak lepas dari akar masyarakatnya. Dengan demikian, meskipun sosiologi dan sastra adalah dua hal yang berbeda namun dapat saling melengkapi. Dalam kaitan ini, sastra merupakan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya yang membentuknya atau merupakan penjelasan suatu sejarah dialektik yang dikembangkan dalam karya sastra.

Hal penting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin (mirror). Dalam kaitan ini, sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan) masyarakat. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi atau khayalan dari kenyataan. Dari sini, tentu sastra tidak akan semata-mata menyodorkan fakta secara mentah. Sastra bukan sekedar copy kenyataan, melainkan kenyataan yang tekah ditafsirkan. Kenyataan tersebut bukan jiplakan yang kasar, melainkan sebuah refleksi halus dan estetis.

Perspektif sosiologi sastra yang patut diperhatikan adalah pernyataan Levin (Elizabeth dan Burns dalam Suwardi 2008:79) “literature is not only the effect of social causes but also the cause af social effect” . Sugesti ini memberikan arah bahwa penelitian sosiologi sastra dapat kearah hubungan pengaruh timbal balik antara sosiologi dan sastra. Keduanya saling mempengaruhi dalam hal-hal tertentu yang pada gilirannya menarik perhatian peneliti.

Sosiologi sastra adalah penelitian yang terfokus pada masalah manusia. Karena sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam

menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi. Dari pendapat ini, tampak bahwa perjuangan panjang hidup manusia akan selalu mewarnai teks sastra.

Pada prinsipnya menurut Laurenson dan Swingewood (Suwardi, 2008:79) terdapat tiga perspektif berkaitan dengan sosiologi sastra, yaitu: (1) penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokuman sosial yang didalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan. (2) penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisannya, dan (3) penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya.

Langkah yang bisa ditempuh pendekatan ini, menurut Junus (Suwardi, 2008:93) ada tiga strategi, yaitu:

1. Unsur sastra diambil terlepas dari unsur lain, kemudian dihubungkan dengan suatu unsur sosiobudaya. Strategi ini ditempuh karena karya sastra tersebut hanya memindahkan unsur itu ke dalam dirinya.

2. Pendekatan ini boleh mengambil image atau citra “suatu”- perempuan, laki-laki, orang asing, tradisi, dunia modern dan lin-lain dalam suatu karya. Citra tentang “sesuatu” itu disesuaikan dengan perkembangan budaya masyarakat.

3. Pendekatan ini boleh juga mengambil motif atau tema, yang keduanya berbeda secara gradual. Tema lebih abstrak dan motif lebih konkret. Motif dapat dikonkritkan melalui pelaku.

Ketiga strategi penelitian tersebut menunjukkan bahwa penelitian sosiologi sastra dapat dilakukan melalui potongan-potongan cerita. Hubungan

antar unsur dan keutuhan (utinity) unsur juga tidak harus. Hanya saja pendekatan ini memang ada kelemahannya, antara lain peneliti akan sulit menghubungkan secara langsung karya sastra dengan sosiobudaya

Di dalam genre utama karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosalah yang dianggap paling dominant dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Alas an yang dapat dikemukakan, diantaranya adalah novelmenampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang juga palig luas, bahasa novel juga cenderung merupakan bahasa sehari-hari. Bahasa yang umum digunakan dalam masyarakat. Oleh karena itulah dikatakan bahwa novel merupakan genre yang paling sosiologis dan responsive sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris. Oleh karena itu pulalah, menurut Hauser dalam Nyoman (2004:336) karya sastra lebih jelas mewakili cirri-ciri zamannya. Seperti pada novel Samurai ‘Kastel Awan Burung Gereja’ yang menunjukkan kehidupan manusia Jepang dalam zaman keshogunan khususnya kehidupan masyarakat yang berada dalam kelas-kelas sosial yang berupa golongan kelas atas dan golongan kelas bawah yang memeiliki hak dan kewajiban yang berbeda-beda.

Cara-cara penyajian yang berbeda dibandingkan dengan ilmu sosial dan humaniora jelas membawa ciri-ciri tersendiri terhadap sastra. Penyajian secara tak langsung, dengan menggunakan bahasa metaforis konotatif, memungkinkan untuk menanamkan secara lebih intern masalah-masalah kehidupan terhadap pembaca. Artinya ada kesejajaran antara cirri-ciri karya sastra dengan hakikat kemanusiaan. Fungsi karya sastra yang penting yang sesuai dengan hakikatnya yaitu imajinasi dan kreativitas adalah kemampuannya dalam menampilkan dunia kehidupan yang

lain yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Inilah aspek-aspek sosial karya sastra. Dimana karya sastra diberikan kemungkinan yang luas untuk mengakses emosi, obsesi, dan berbagai kecenderungan yang tidak mungkin tercapai dalam kehidupan sehari-hari. Selama membaca karya sastra pembaca secara bebas menjadi raja, dewa, perampok, dan berbagai sublimasi lain.

Sebagai multidisiplin, maka ilmu-ilmu yang terlibat dalam sosiologi sastra adalah sastra dan sosiologi. Dengan pertimbangan bahwa karya sastra juga memasukkan aspek-aspek kebudayaan yang lain, maka ilmu-ilmu yang juga terlibat adalah sejarah, filsafat, agama, ekonomi, dan politik. Yang perlu diperhatikan dalam penelitian sosiologi sastra adalah dominasi karya sastra, sedangkan ilmu-ilmu yang lain berfungsi sebagai pembantu.

Dengan pertimbangan bahwa sosiologi sastra adalah analisis karya satra dalam kaitannya dengan masyarakat, maka model analisis yang dapat dilakukan menurut Nyoman (2004:339-340) meliputi tiga macam, yaitu:

1. Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi. Pada umumnya disebut sebagai aspek intrinsik, model hubungan yang terjadi disebut refleksi.

2. Sama dengan di atas, tetapi dengan cara menemukan hubungan antarstruktur, bukan aspek-aspek tertentu, dengan model hubungan yang bersifat dialektika. 3. Menganalisis karya sastra dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu,

dilakukan dengan disiplin tertentu. Model analisis inilah yang pada umumnya menghasilkan karya sastra sebagai gejala kedua.

Di dalam menganalisis dengan menggunakan sosisologi sastra, masyarakatlah yang harus lebih berperan. Masyarakatlah yang mengkondidsikan karya sastra, bukan sebaliknya.

Oleh sebab itu bardasarkan atas metode penelitian sastra inilah penulis berusaha menjadikannya pedoman untuk dapat menganalisis pembahasan pada bab III yang didalamnya mencakup tentang bagaimana hubungan interaksi sosial antara masyarakat golongan atas dengan golongan atas seperti daimyo dengan daimyo, masyarakat golongan atas dengan masyarakat golongan bawah seperti daimyo dengan rakyat (samurai, pedagang, geisha, dan kaum eta), dan masyarakat masyarakat golongan bawah dengan masyarakat golongan bawah. Sehingga apa yang diharapkan penulis dalam keingintahuan tentang hubungan interaksi sosial pada masyarakat Jepang yang terdiri dari golongan-golongan dapat terjawab dengan penelitian menggunakan analisis sosiologi sastra, yang sebagai fungsinya bahwa karya sastra itu merupakan cerminan dari suatu masyarakat.

BAB III

ANALISIS SOSIOLOGIS TERHADAP NOVEL SAMURAI ‘KASTEL AWAN BURUNG GEREJA’

3.1. Sinopsis Cerita

Novel Samurai ‘Kastel Awan Burung Gereja’ diawali dengan datangnya para misionaris dari Amerika untuk menyebarkan firman Tuhan “Injil”. Mereka adalah Cromwell, Emily dan Mattew Stark. Kedatangan mereka disambut oleh Bangsawan Agung Akaoka dari klan Okumichi bernama Genji. Klan Okumichi bermusuhan dengan shogun yang menjadi penguasa pada saat itu. Klan ini juga terkenal mempunyai samurai-samurai yang hebat dan sangat ditakut i.

Selain itu, setiap generasi klan Okumichi dipercaya mempunyai kemampuan untuk meramal masa depan dimulai dari kakek Genji, paman Genji yang bernama Shigeru dan Genji sendiri pada generasinya. Shigeru pernah menceritakan pertanda yang dialaminya bahwa ada kejadian-kejadian yang sangat aneh, yang mungkin di masa depan dalam jangka panjang. Akan ada perangkat yang memungkinkan komunikasi jarak jauh. Pesawat terbang. Udara tercemar yang tak bisa dihirup. Air tercemar yang tak bisa diminum. Laut dalam yang kini jernih akan penuh dengan ikan-ikan mati. Populasi sangat padat sehingga orang-orang berdesakan di dalam kereta selama beraru-ratus kilometer dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Orang asing diman-mana, tidak hanya di zona terbesar seperti Edo dan Nagasaki.

Lord Genji, seorang pemimpin yang tampan, berpikiran terbuka, dan baik hati adalah tokoh utama pada novel ini. Dia berjuang melawan Kawakami yang merupakan musuh bebuyutan yang ingin menumpas habis seluruh keturunan klan

Okumichi. Meskipun Genji bukanlah seorang samurai yang ahli bermain pedang dan bertempur pada peperangan, tetapi dia mempunyai kharisma, wibawa dan samurai-samurai yang tangguh disekelilingnya. Salah satunya adalah pamannya yang bernama Shigeru. Seorang samurai dengan kekuatan hampir menandingi Mushashi sang legenda.

3.2 Analisis Hubungan Interaksi Antar Tokoh Cerita Dalam Novel Samurai ’Kastel Awan Burung Gereja’

3.2.1 Hubungan Interaksi antara Daimyo dengan Daimyo

Berikut adalah hubungan interaksi antara daimyo dengan daimyo yang dapat dilihat melalui cuplikan berikut:

1. Cuplikan (hal. 42)

”Siapa yang menerima para misionaris ini?” ”Bangsawan Agung Akaoka.”

Kawakami memejamkan matanya, menarik napas panjang, dan menahan dirinya. Bangsawan Agung Akaoka. Akhir-akhir ini dia terlalu sering mendengar nama itu lebih dari yang diinginkannya. Daerah kekuasaannya sebenarnya kecil, jauh, dan tidak penting. Dua pertiga bangsawan lain mempunyai daerah kekuasaan yang lebih besar. Namun, seperti sekarang ini, sebagaimana selalu terjadi pada masa-masa tak menentu, Bangsawan Agung Akaoka memainkan peranan penting yang sangat tidak sesuai dengan posisinya yang tidak sebenarnya. Tidak penting apakah bangsawan Agung Akaoka adalah seorang pejuang tua dan politisi yang penuh muslihat seperti mendiang Lord Kiyori, atau seorang

penggemar seni yang tak berguna seperti penggantinya yang kekanak-kanakan, Lord Genji. Gosip yang beredar selama berabad-abad telah berhasil menaikkan status mereka dari derajat yang seharusnya. Gosip tentang kemampuan meramal masa depan yang mereka miliki.

Analisis:

”Siapa yang menerima para misionaris ini?” ”Bangsawan Agung Akaoka.”

Kawakami memejamkan matanya, menarik napas panjang, dan menahan dirinya. Bangsawan Agung Akaoka. Akhir-akhir ini dia terlalu sering mendengar nama itu lebih dari yang diinginkannya. Daerah kekuasaannya sebenarnya kecil, jauh, dan tidak penting. Dua pertiga bangsawan lain mempunyai daerah kekuasaan yang lebih besar. Namun, seperti sekarang ini, sebagaimana selalu terjadi pada masa-masa tak menentu, Bangsawan Agung Akaoka memainkan peranan penting yang sangat tidak sesuai dengan posisinya yang tidak sebenarnya.

Pada cuplikan di atas terdapat dua orang tokoh daimyo yaitu Kawakami dan Genji selaku Bangsawan Agung Akaoka. Dari cuplikan diatas dapat diketahui bahwa adanya hubungan interaksi yang kurang baik antar daimyo yaitu Kawakami dan Genji. Antar daimyo terjadi kompetisi dalam mancapai tujuan yang ingin dicapai dan menggunakan berbagai cara agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Bentuk interaksi yang kurang baik lainnya yaitu adanya kecemburuan akan kemampuan yang dimiliki, baik kemampuan dalam kepemilikan wilayah kekuasaan maupun kemampuan lainnya yang dapat meningkatkan wibawa sebagai seorang pemimpin dan kepopuleran dalam masyarakat.

Di dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok terdapat keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang memiliki kedudukan serta peranan yang terpandang di dalam masyarakat. Seseorang yang merasa memiliki kedudukan yang lebih rendah tentu akan menginginkan kedudukan dan peranan yang sederajat dengan orang lain. Kedudukan dan peranan yang dikejar tergantung dari apa yang paling dihargai oleh masyarakat pada masa itu. Pada saat itu juga seorang daimyo yang dianggap sebagai seorang pemimipin yang berkuasa dan dihormati tentu yang memiliki wilayah kekuasaan yang besar. Hal ini menyebabkan Kawakami merasa tersaingi oleh Bangsawan Agung Daimyo Akaoka. Maka dari cuplikan di atas dapat diketahui adanya hubungan interaksi dalam bentuk yang kurang baik antar daimyo, seperti adanya kompetisi agar dapat memperoleh tujuan yang diinginkan.

2. Cuplikan (hal. 692)

Kawakami berkata, ”Saya dengar Anda sangat beruntung berhasil memikat hati seorang wanita dengan kecantikan tak tertandingi, Nona Mayonaka no Heiko.”

”Sepertinya begitu.”

”Ya, sepertinya begitu,”kata Kawakami.”Betapa tipis batas antara perkiraan dan fakta. Apa yang dikira cinta mungkin juga ternyata benci atau lebih buruk lagi taktik yang dirancang untuk membingungkan dan mengalihkan perhatian. Apa yang terlihat sebagai kecantikan bisa jadi adalah keburukan yang sangat dalam sehingga tak terbayangkan.”Kawakami berhenti, berharap Genji

membalas sindirannya, tetapi Genji diam saja.”Terkadang perkiraan dan yang sebenarnya tidak sama, tetapi keduanya nyata. Heiko misalnya, kelihatannya seperti seorang geisha yang cantik dan memang dia adalah geisha yang paling cantik. Tetapi, dia juga seorang ninja. ”Kawakami berhenti lagi. Dan Genji tetap diam. ”Apa Anda tak memercayai saya?”

Analisis:

Kawakami berkata, ”Saya dengar Anda sangat beruntung berhasil memikat hati seorang wanita dengan kecantikan tak tertandingi, Nona Mayonaka no Heiko.” Kalimat di atas menunjukkan indeksikal bahwa para pejabat yang dalam hal ini daimyo tidak hanya bersaing memperoleh kekuasaan wilayah namun juga bersaing mendapatkan seorang geisha. Mendapatkan seorang geisha kelas atas dapat meningkatkan prestise para pejabat. Dan pada kalimat ”Heiko misalnya, kelihatannya seperti seorang geisha yang cantik dan memang dia adalah geisha yang paling cantik. Tetapi, dia juga seorang ninja. Kalimat ini menunjukkan fakta bahwa geisha berada di lingkaran pemerintahan. Para daimyo menggunakan taktik politik dengan mengirimkan seorang geisha sebagai mata-mata dan dapat menyampaikan seluruh informasi yang penting. Maka dari cuplikan di atas dapat diketahui bahwa adanya hubungan interaksi yang kurang baik antar daimyo, dimana pada cuplikan di atas hubungan yang kurang baik tersebut tercipta karena adanya perebutan dalam mendapatkan hati seorang geisha yang akhirnya berujung pada perselisihan.

3. Cuplikan (hal. 692)

”Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan Anda,”Genji membungkuk dan siap-siap untuk pergi.

”Jangan tergesa-gesa. Ada satu lagi agenda pembicaraan kita.” Analisis:

Cuplikan dia atas menunjukkan hubungan interaksi antara seorang daimyo dengan daimyo lainnya. Daimyo berasal dari kata Daimyoshu (kepala keluarga terhormat) yang berarti orang yang memiliki pengaruh besar di suatu wilayah. Di dalam masyarakat samurai di Jepang, istilah daimyo digunakan untuk samurai yang memiliki hak atas tanah yang luas (tuan tanah) dan memiliki banyak bushi sebagai pengikut. ”Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan Anda,”Genji membungkuk dan siap-siap untuk pergi.

Cuplikan di atas menunjukkan indeksikal bahwa adanya hubungan interaksi yang baik antar sesama daimyo. Meskipun sesama daimyo yang berkuasa atas suatu wilayah harus tetap berprilaku sopan yang terlihat dengan membungkukkan badan terhadap lawan bicara. Pada masyarakat Jepang sikap dengan cara membungkukkan badan merupakan suatu bentuk penghormatan kepada lawan bicara.

3.2.2 Hubungan Interaksi antara Daimyo dengan Rakyat 3.2.2.1 Hubungan Interaksi antara Daimyo dengan Samurai

Berikut adalah hubungan interaksi antara daimyo dengan samurai yang dapat dilihat melalui cuplikan berikut:

1. Cuplikan (hal. 39)

”Tuanku, ”terdengar suara asistennya, Mukai, dari luar pintu. ”Masuk.”

Dengan berlutut, Mukai menggeser pintu hingga terbuka, membungkuk, masuk dengan tetap berlutut, menutup pintu dan membuka lagi.

Analisis:

Tuanku, ”terdengar suara asistennya, Mukai, dari luar pintu. ”Masuk.”

Dengan berlutut, Mukai menggeser pintu hingga terbuka, membungkuk,

Dokumen terkait