dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) tahun 2002, berdasarkan Akta Notaris Marijke J. Patilaya, dan Terdakwa UMAR ZEN menjabat sebagai Direktur Utama PT. Terang Kita. Dengan komposisi saham : Umar Zen (70%) dan PT. Terang Kita Indah Tama (30%). Kemudian pada tahun 2008, Terdakwa membeli PT. Aluco berdasarkan Akta Notaris Eddy Muljanto, S.H dan Terdakwa menjabat sebagai Direktur Utama. Bahwa setelah membeli PT Terang Kita, pada tahun 2002 Terdakwa sebagai Direktur PT. Terang Kita mendapatkan fasilitas Letter
of Credit (LC) dari Bank Mandiri senilai Rp140.000.000.000,00 (seratus
empat puluh milyar rupiah) dengan PT Askrindi sebagai penjamin LC tersebut. Pada saat LC tersebut jatuh tempo, PT. Terang Kita tidak dapat menyelesaikan kewajibannya sehingga Bank Mandiri langsung mendebet/ mencairkan Deposito PT. Askrindo yang ada di Bank Mandiri. Bahwa karena LC tersebut tidak dapat dilunasi, kemudian Terdakwa meminta kepada Suharsono (Direktur Penjaminan PT Askrindo) untuk memberikan dana talangan kepada PT Terang Kita. Dan oleh Suharsono, Terdakwa diperkenalkan kepada DR. Rene Setyawan (Direktur Keuangan dan IT PT. Askrindo), dan selanjutnya Terdakwa memperoleh dana talangan dari PT Askrindo Akan tetapi dana talangan ini ternyata tidak dapat dikembalikan oleh Terdakwa. Kemudian, Terdakwa bahkan kembali meminta kepada PT Askrindo untuk membeli Promissory Note milik PT. Terang Kita. Untuk menutupi kerugian akibat penjaminan LC serta pemberian dana talangan yang tidak dibayar Terdakwa, selanjutnya PT. Askrindo setuju untuk membeli Promissory Note (PN) milik PT Terang Kita, dengan perhitungan bahwa pembelian PN dapat memberikan keuntungan pada PT. Askrindo. Namun, Terdakwa ternyata tidak dapat menyelesaikan kewajibannya membeli kembali Promissory Note tersebut, mengembalikan dana talangan dan membayar LC yang gagal bayar kepada PT. Askrindo.
Selanjutnya sekitar bulan September 2004, di Hotel Radin Ancol Jakarta Utara, Terdakwa Umar Zen melakukan pertemuan dengan DR. Rene Setyawan, MA, Zulfan Lubis, SE Ak MM, dan meminta agar PT.
Askrindo mau membeli Medium Term Note (MTN), untuk mengganti dan mengkonversi kewajiban PT. Terang Kita kepada Askrindo yang semula berbentuk Promissory Note (PN). Selain itu, Terdakwa juga meminta dana talangan PT. Askrindo kepada PT Terang Kita. Pada pertemuan tersebut Dr. Rene Setyawan dan Zulfan Lubis memutuskan akan mengkonversi dana talangan dan PN tersebut menjadi MTN selama 3 tahun. Akan tetapi, Terdakwa masih tidak dapat menyelesaikan kewajibannya membeli kembali MTN sebesar Rp89.000.000.000,00 dan bunga MTN sebesar Rp25.880.814.011, dan membayar Penjaminan penerbitan LC yang gagal bayar sebesar Rp22.169.201.601,00 kepada PT. Askrindo. Atas hal ini, PT. Askrindo mengalami kerugian dan tidak diperbolehkan memberikan dana talangan lagi kepada Terdakwa. Sehingga, seluruh penempatan dana PT. Askrindo berupa KPD, Repo Saham, Reksadana dan Obligasi kepada Manager Investasi telah diterima Terdakwa sebesar Rp133.768.750.000,00 (seratus tiga puluh tiga milyar tujuh ratus enam puluh delapan juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Rincian tahapan Terdakwa mentransfer uang kepada PT. Jl adalah sebesar Rp35.000.000.000, 00 (tiga puluh lima milyar rupiah) yaitu pada tanggal 19 Januari 2009 sebesar Rp5.000.000.000,00, (lima milyar rupiah) pada tanggal 22 Januari 2009 sebesar Rp5.000.000.000,00, (lima milyar rupiah) dan pada tanggal 29 Desember 2010 sebesar Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima milyar rupiah).
Dengan demikian, Terdakwa dinilai penuntut umum telah merugikan keuangan Negara Cq. PT. ASKRINDO sebesar Rp133.768.750.000,00 (seratus tiga puluh tiga milyar tujuh ratus enam puluh delapan juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) atau setidaktidaknya sekitar jumlah tersebut sesuai Laporan Hasil Penghitungan Kerugian Keuangan Negara atas dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam Penempatan Investasi PT. Askrindo pada PT. RAM, PT. HAM, PT. Jl dan PT. JS tahun 2004 sampai dengan 2009 Nomor : SR- 7175/PW09/5/2011 tanggal 5 September 2011.
Pusat (Nomor Register Perkara : 38/PID.B/TPK/2012/PN.JKT.PST dengan dakwaan:
PERTAMA
Primair : Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Subsidair : Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Pasal 3 jo Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang- Undang Nomor : 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
KEDUA :
Setiap orang yang menerima atau menguasai (a) penempatan, (b) pentransferan, (c) pembayaran, (d) hibah, (e) sumbangan, (f) penitipan, (g) penukaran harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.
Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 15 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Penuntut Umum dalam perkara ini menuntut terdakwa dengan tuntutan berupa pidana penjara 5 (lima) tahun dikurangi selama terdakwa ditahan karena terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan Pertama dan Kedua mengenai Tindak Pidana Korupsi dan Pencucian Uang (Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-undang Nomor: 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atau Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dan Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 15 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP). Sebagaimana yang tertulis dalam amar tuntutan sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa UMAR ZEN secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Korupsi bersama-sama dan Berlanjut dan bersalah melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang secara bersama-sama dan berlanjut.
2. Menjatuhkan pidana penjara kepada Terdakwa selama 5 (lima) tahun dikurangi selama Terdakwa ditahan.
3. Membayar Denda sebesar Rp500.000.000,00 subsidair 3 (tiga) bulan kurungan.
4. Terdakwa dibebani membayar uang pengganti sebesar Rp62.500.000.000,00 dan harus dibayar paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut dan jika dalam
haI Terdakwa tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka dipidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan.
5. Barang bukti dan seterusnya.
Putusan Majelis Hakim
Dalam putusannya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan terhadap dakwaan Primair, Subsidair,
1. Menyatakan Terdakwa UMAR ZEN telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan “tindak pidana Korupsi” secara bersama-sama dan berkelanjutan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dan melakukan “tindak pidana pencucian uang” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No.15 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No.25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
2. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada Terdakwa UMAR ZEN, dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan denda sebesar Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan.
3. Menghukum Terdakwa dibebani membayar uang pengganti sebesar Rp62.500.000.000,00 (enam puluh dua milyar lima ratus juta rupiah) dan jika tidak dibayar uang pengganti tersebut paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh Jaksa
dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut, sedangkan dalam hal tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka dipidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan, apabila terpidana membayar uang pengganti yang jumlahnya kurang dari seluruh kewajiban membayar uang pengganti, maka jumlah uang pengganti yang dibayarkan tersebut akan diperhitungkan dengan lamanya pidana tambahan berupa pidana penjara sebagai pengganti dari kewajiban membayar uang pengganti.
4. Menetapkan pidana penjara tersebut akan dikurangi waktunya selama Terdakwa berada dalam tahanan.
5. Menetapkan Terdakwa tetap dalam tahanan. 6. Barang bukti dan seterusnya.
7. Membebani Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah).
Atas putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Terdakwa beserta penasehat hukumnya menyatakan keberatan atas putusan tersebut. Oleh karenanya, dari pihak Terdakwa menyatakan melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta. Namun, putusan pada Pengadilan Tinggi Jakarta ternyata jauh lebih tinggi dari apa yang dituntut oleh Penuntut Umum dan Majelis Hakim tingkat pertama yaitu vonis 11 (sebelas) tahun penjara dan denda sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan pada Pengadilan Tinggi Jakarta. Terdakwa dmengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dengan Ketua Majelis Hakim yaitu Artidjo Alkostar. Putusan kasasi menghukum Terdakwa dengan pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun dan denda sebesar Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) tahun.
a. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (1513 K/Pid.Sus/2013/PN.JKT. PUS)
b. Mahkamah Agung
Majelis Hakim : Dr. Artidjo Alkostar, SH.,LL.M. : Prof. Dr. Mohammad Askin, SH. : M.S. Lumme, S.H.
Panitera Pengganti : Mariana Sondang Pandjaitan, SH., MH.