• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Realitas Objek Pemberitaan Perpindahan Ibu Kota

3. Objek Media

Level objek media ini berguna untuk melihat bagaimana aktivitas dan interaksi pengguna atau antar pengguna, baik itu dalam unit makro ataupun mikro. Data diperoleh langsung dari teks yang ada di media siber maupun konteks yang terdapat dalam teks tersebut. Pada level ini penulis akan meneliti bagaimana sebuah teks ditanggapi oleh pengguna siber lainnya.

Penulis akan membagi akun berdasarkan kategori keberpihakan komentar, yakni pro, kontra dan netral, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui nilai-nilai budaya yang terkandung dalam interaksi di channel YouTube KompasTV. Kategori pro atau yang berpihak ditandai dengan komentar yang mengandung dukungan, apresiasi, atau pujian kinerja Pemerintah melalui berita yang dipublikasikan oleh KompasTV.

59

Sebaliknya, kategori komentar kontra ditandai dengan teks yang tidak menghargai bahkan cenderung melakukan perundungan.

Kategori netral digambarkan dengan komentar yang tidak dikategorikan mendukung, menolak, atau komentar yang dibuat tidak berkaitan tentang topik yang sedang di bahas. Dari situlah penulis akan mengelompokkan karakter khalayak berdasarkan komentar per judul video.

a. Tinjau Lokasi Calon Ibu Kota, Presiden: Infrastruktur Kaltim Dukung Pemindahan Ibu Kota

Melalui pengamatan penulis, video ini mendapatkan perhatian

netizen cukup banyak, ada sebanyak 141.185 yang menonton video ini,

dan total komentar di video ini sebanyak 245 komentar yang bersumber dari 163 akun pengguna. Berdasarkan tanggapan dalam kolom komentar, penulis menemukan akun yang berpihak atau pro sebanyak 56 akun, 53 Akun kontra dan 54 akun netral. Bila dipresentasikan maka akun pro sebanyak 34,4% akun kontra sebanyak 32,5% dan akun netral sebanyak 33,1%. (data ini diakses pada 19 April 2021, sewaktu-waktu data dapat berubah)

Grafik 1.1

60

Akun pro dengan lantang mengapresiasi rencana pemerintah untuk memindahkan ibu kota ke luar jawa, karena ada yang berpendapat bahwa dengan adanya pemindahan ibu kota ini akan terwujud pembangunan infrastruktur yang merata, karena selama ini pembangunan hanya terfokus pada pulau jawa saja, sedangkan pulau di luar jawa pembangunan infrastruktur masih terbilang kurang.

Gambar 2.15

Komentar Pro

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=hRIHCZVgyCA&ab_channel=KOMP ASTV, Diakses pada 4 Maret 2021

Sedangkan komentar yang kontra terang-terangan mengungkapkan kettidak setujuannya dengan rencana perpindahan ibu kota ini, ada yang memberikan pendapat bahwa memindahkan ibu kota hanya akan menambah hutang negara, menghabiskan Anggaran Negara, Menghabiskan Waktu serta banyak koruptor akan meraja rela.

61

Gambar 2.16

Komentar Kontra

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=hRIHCZVgyCA&ab_channel=KOMP ASTV, Diakses pada 4 Maret 2021

Ada yang tidak setuju juga karena khawatir jika ibu kota pindah akan merusaknya satwa dan hutan di Kalimantan, melihat bahwa perpindahan ibu kota ini akan memakan luas tanah yang tidak sedikit, warganet khawatir jika hal ini dilaksanakan akan berakibat fatal kepada satwa dan hutan lindung di sana.

Gambar 2.16

Komentar Kontra

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=hRIHCZVgyCA&ab_channel= KOMPASTV, Diakses pada 4 Maret 2021

Adapun Komentar netral pada video ini terlihat tidak mendukung maupun menolak rencana perpindahan ibu kota, bagi

62

mereka yang terpenting adalah indonesia tetap aman dan selalu jaya, seperti yang ada dalam komentar berikut,

Gambar 2.17

Komentar Netral

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=hRIHCZVgyCA&ab_channel= KOMPASTV, Diakses pada 4 Maret 2021

Ada juga komentar netral yang diluar topik pembahasan, dan bersifat perundungan kepada salah satu pihak, salah satu pihak yang menjadi objek perundungan ini adalah gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan. Dalam komentar tersebut Anis disuruh untuk tidak ikut pindah ke kalimantan, dan dianggap sebagai gubernur yang hanya manis berkata-kata dan bersilat lidah.

Gambar 2.17

Komentar diluar topik

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=hRIHCZVgyCA&ab_channel= KOMPASTV, Diakses pada 4 Maret 2021

63 b. Polemik Pemindahan Ibukota

Video berdurasi 3.23 menit ini telah ditonton warganet sebanyak 235.731 kali.46 Terdapat 276 komentar dari 189 akun yang aktif berinteraksi, dalam video ini antara akun yang kontra dan yang pro hampir seimbang, penulis menemukan 78 akun pro, 74 akun kontra, dan 37 netral. Jika dipresentasikan, ada 41.3% akun pro, 39,2% akun kotra dan 19,6% akun netral.

Grafik 1.2

Jumlah akun berdasarkan keberpihakannya

Dalam video ini, polemik pemindahan ibu kota terjadi pada anggota DPR, banyak anggota DPR yang masih belum setuju dengan rencana pemindahan ibu kota ini, DPR juga masih menunggu presiden untuk membuat rancangan Undang-Undang terkait pemindahan ibu kota dan beberapa akun yang pro dengan rencana pemindahan ini melakukan perundungan kepada anggota DPR yang beranggapan bahwa DPR mempersulit rencana presiden untuk memindahan ibu kota, ada yang menganggap bahwa DPR ini terlalu berbelit-belit dan mengulur-ngulur waktu.

64

Gambar 2.18

Komentar yang melakukan perundungan kepada DPR

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=nLKS9FuhDQY&ab_channe l=KOMPASTV, Diakses pada 5 Maret 2021

Ada juga yang menghina DPR dan mengubah istilah DPR menjadi Dewan Penipu Rakyat

Gambar 2.19

Komentar yang melakukan perundungan kepada DPR

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=nLKS9FuhDQY&ab_channe l=KOMPASTV, Diakses pada 5 Maret 2021

Komentar pro juga ada yang memberikan teks berupa motivasi dan harapan bagi anak cucu bangsa untuk bisa hidup lebih sehat di ibu

65

kota yang baru, dan meninggalkan Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya

Gambar 2.20

Komentar Pro

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=nLKS9FuhDQY&ab_channel= KOMPASTV, Diakses pada 5 Maret 2021

Interaksi sesama warganet juga tidak hanya berupa komentar, tapi ada yang berupa tanggapan like.

Gambar 2.21

Tanggapan Like

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=nLKS9FuhDQY&ab_chan nel=KOMPASTV, Diakses pada 5 Maret 2021

66

Interaksi warganet ini menunjukkan sebuah realitas baru bahwa interaksi yang terjadi di internet membuka banyak kesempatan untuk khalayak ikut berpartisipasi, tidak hanya sebagai konsumen media saja, tapi khalayak sekarang juga memiliki kesempatan untuk mengubah pandangan antar sesamanya, dan menawarkan pandangan baru sesuai dengan apa yang mereka yakini.47

Selain komentar yang secara tegas mengkritik, Ada pula bentuk komentar berupa sarkas, dan sindiran untuk pemerintah

Gambar 2.22

Komentar Sarkas/Sindiran

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=nLKS9FuhDQY&ab_channel=KOMP ASTV, Diakses pada 5 Maret 2021

Penulis juga menemukan penggunaan bahasa yang sering kali dipakai di media siber, bahasa-bahasa ini biasanya berupa akronim atau istilah-istilah baru, seperti Noob/Nob, istilah "noob" merupakan pelesetan dari newb yang merupakan singkatan dari newbie atau orang baru yang belum berpengalaman.

47 Rulli Nasrullah, Riset Khalayak Media dan Realitas Virtual di Media Sosial, Jurnal Sosioteknologi, Vol 17 No. 2, Agustus 2018 h.274

67

Gambar 2.23

Komentar yang menggunakan istilah Nob/Noob

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=nLKS9FuhDQY&ab_channel=KOMP ASTV, Diakses pada 5 Maret 2021

Lalu kata LoL (Laughing Out Loud) yang artinya tertawa terbahak-bahak, biasanya bahasa ini dipergunakan saat orang ingin bercanda atau merasa ada yang lucu.

Gambar 2.24

Komentar yang menggunakan istilah LoL

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=nLKS9FuhDQY&ab_channel=KOMP ASTV, Diakses pada 5 Maret 2021

c. April 2021 Peletakan Batu Pertama Ibu Kota Negara Baru di Kaltim

Video berdurasi 1:27 menit ini telah dilihat sebanyak 80.293 kali.48 Mendapatkan 1,1 ribu like dan 57 dislike Terdapat 610 komentar

68

dari 417 akun yang terlibat dalam interaksi di kolom komentar, tanggapan komentar yang pro lebih mendominasi di video ini, ada 197 akun yang pro, 91 akun kontra, dan 127 akun netral, jika dipresentasikan maka ada 47,5% akun pro, 21,9% akun kontra dan 30,6% akun netral.

Grafik 1.3

Jumlah akun berdasarkan keberpihakannya

Teks akun pro di video ini memperlihatkan apresiasi dan harapan untuk Indonesia lebih maju dengan pembangunan ibukota baru, dan mendoakan pembangunannya lancar.

69

Gambar 2.25

Komentar Pro

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=DD1VU_KrxQw&ab_channel=KOMP ASTV, Diakses pada 1 April 2021

Interaksi sesama warganet juga terlihat ramai di video ini, akun pro dan akun kontra saling mengemukakan pendapatnya masing-masing, ada komentar akun pro berharap dengan adanya pembangunan ibu kota yang baru ini Indonesia di tahun 2054 akan menjadi negara adidaya seperti Amerika dan China, namun banyak beberapa akun kontra yang menanggapi komentar ini dengan sinis.

70

Gambar 2.26

Interaksi Sesama netizen/warganet

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=DD1VU_KrxQw&ab_channel= KOMPASTV, Diakses pada 1 April 2021

Komentar akun kontra di video kali ini menganggap bahwa pembangunan ibu kota akan berhenti di tengah jalan dan akhirnya mangkrak.

Gambar 2.27

71

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=DD1VU_KrxQw&ab_channel= KOMPASTV, Diakses pada 1 April 2021

Warganet menganggap orang-orang yang kontra ini sebagai Kadrun (Kadal Gurun), istilah kadrun adalah satire yang ditujukan untuk orang-orang WNI non-Arab namun berbusana Timur Tengah dan bukan pendukung Jokowi, Kadrun juga ditujukan untuk orang-orang yang pro Khilafah dan tidak setuju dengan konsep Pancasila.

Sedangkan komentar netral kebanyakan memberikan tanggapan yang variatif dan kadang di luar topik, ada komentar netral yang dianggap lucu dan banyak mendapatkan tanggapan akun lain, salah satunya adalah komentar berikut.

Gambar 2.28

Komentar Netral

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=DD1VU_KrxQw&ab_channel= KOMPASTV, Diakses pada 1 April 2021

72 4. Pengalaman

Level ini menggambarkan secara lebih luas tentang bagaimana khalayak atau anggota komunitas di dunia online dan offline. Level ini dibutuhkan untuk mengetahui apakah budaya yang muncul di dunia maya selaras kaitannya dengan dunia nyata. Untuk melihat hasilnya, penulis mencoba melihat identitas dan ideologi yang ditampilkan melalui akun dan unggahannya. Penulis mendasari pengamatan ini dari pendapat Christine Hine yang mengemukakan “There is no strict,

principled distinction between the internet on one hand, and everyday life on the other”. Menurut Hine, identitas yang ditampakkan

seseorang pada dunia online tidak akan jauh berbeda dengan apa yang dialami di dunia nyata.

Maka pada level ini penulis melihat realitas di dunia maya dengan mengamati akun-akun yang terlibat dalam interaksi di kolom komentar. Pada level ini penulis juga melihat bagaimana khalayak memahami sebuah unggahan dan bagaimana reaksi mereka.

a. Tinjau Lokasi Calon Ibu Kota, Presiden: Infrastruktur Kaltim Dukung Pemindahan Ibu Kota

Dalam mengecek keaslian akun di YouTube, penulis menelusuri akun-akun netizen satu persatu, karena penulis belum menemukan aplikasi yang bisa mendeteksi satu persatu akun yang dikelola pribadi atau komunitas. Penulis menentukan akun yang asli atau beridentitas berdasarkan nama akun yang dipakai sebagai nama asli pengguna, foto profil dan unggahan yang ditampilkan, serta menelusuri akun-akun yang terhubung di profil akun YouTube mereka. Penulis menentukan kriteria ini berpijak pada jurnal etnografi virtual yang berjudul

73

“Perundungan Siber (Cyber-Bullying) di Status Facebook Divisi Humas Mabes Polri” oleh Rulli Nasrullah.

Dalam video “Tinjau Lokasi Calon Ibu Kota, Presiden: Infrastruktur Kaltim Dukung Pemindahan Ibu Kota” terdapat 244 komentar, dan ada 163 akun yang terlibat dalam interaksi di kolom komentar. Setelah melakukan penelusuran, penulis membagi akun-akun tersebut berdasarkan identitasnya, terdapat 25 akun-akun anonim, dan 138 akun beridentitas.

Mayoritas akun-akun anonim adalah akun-akun yang menggunakan nama samaran, sehingga penulis susah untuk mencari identitas asli pemilik akun. Beberapa bahkan ada yang sudah dihapus oleh YouTube karena telah melakukan pelanggaran.

Gambar 2.29

Akun yang sudah dihapus

Sumber: https://www.YouTube.com/channel/UCi-HT_kHIwpULRllgc4pn4Q, Diakses pada 3 April 2021

Dari 25 akun yang anonim, terdapat 16 akun yang muncul sedikit identitasnya melalui foto dan video yang diunggah, serta akun-akun yang disukai dan disubscribe. Sehingga penulis masih bisa mendapatkan informasi mengenai pemilik akun tersebut, seperti kecenderungan politik, musik dan hobi yang disukai, budaya, hingga tempat tinggal.

74

Grafik 1.4

Identitas akun netizen di kolom komentar video

“Tinjau Lokasi Calon Ibu Kota, Presiden: Infrastruktur Kaltim Dukung Pemindahan Ibu Kota”

Akun-akun yang asli maupun anonim tersebar dalam komentar pro, kontra dan netral. Dalam komentar pro, terdapat 48 akun asli dan 8 akun anonim, di komentar kontra ada 45 akun asli dan 8 akun anonim, sedangkan komentar netral terdapat 45 akun asli dan 9 akun anonim.

b. Polemik Pemindahan Ibu Kota

Dari 270 komentar di video ini, Terdapat 190 akun yang terlibat. Dari 190 akun tersebut, penulis menemukan 158 akun asli dan 32 anonim, kebanyakan akun anonim ini menggunakan nama samaran, sehingga penulis sulit mengidentifikasi identitas asli pemilik akun, beberapa akun tidak memunculkan informasi apapun.

75

Gambar 2.30

Akun yang sudah dihapus

Sumber: https://www.YouTube.com/channel/UCJazRUTFr-7bfH_OdmLOExQ/featured, Diakses pada 3 April 2021.

Dari 32 akun anonim, terdapat setidaknya 21 akun yang bisa diidentifikasi, beberapa ada yang menampilkan foto dan video yang diunggah, serta akun-akun yang disukai dan disubscribe. Sehingga penulis masih bisa mendapatkan informasi pemilik akun tersebut, seperti agama yang dianut, keberpihakan politik, hobi, musik, dan budaya pemilik akun tersebut.

Akun-akun yang asli maupun anonim tersebar dalam komentar pro, kontra, dan netral.

Grafik 1.5

Identitas akun netizen di kolom komentar video “Polemik Pemindahan Ibo Kota”

76

dari tabel grafik tersebut terlihat jelas, Dalam komentar pro, terdapat 70 akun asli dan 10 akun anonim, di komentar kontra ada 58 akun asli dan 15 akun anonim, sedangkan komentar netral terdapat 30 akun asli dan 7 akun anonim.

c. April 2021 Peletakan Batu Pertama Ibu Kota Negara Baru di Kaltim

Dalam video ini ada 417 akun yang terlibat dalam percakapan di kolom komentar. Setelah melakukan penelusuran, penulis menemukan 48 akun anonim, mayoritas akun anonim ini menggunakan identitas palsu dan menggunakan nama samaran, beberapa tidak menampilkan foto identitas diri yang jelas, walaupun jumlah akun anonim di sini jumlahnya cukup sedikit, dari 48 akun masih ada 23 akun yang masih bisa di identifikasi dengan melihat video yang diunggah, video yang disukai, ataupun channel yagn diikuti.

Gambar 2.31

Akun yang tidak menampilkan identitas apapun

Sumber:

https://www.YouTube.com/channel/UC6YGYQK02n6Cy_d0aXKdV Lg/featured, Diakses pada 3 April 2021

77

sedangkan akun yang menggunakan identitas asli berjumlah 369 akun, dan semua akun-akun ini tersebar dalam komentar pro, kontra, dan netral. Dan penulis menggambarkannya dalam grafik berikut.

Grafik 1.6

Identitas akun netizen di kolom komentar video

“April 2021 Peletakan Batu Pertama Ibu Kota Negara Baru di Kaltim”

Realitas yang ada di pengalaman media menunjukkan bahwa terdapat 171 akun asli dan 38 akun anonim yang berkomentar pro, 84 aku asli dan 6 akun anonim di komentar kontra, sedangkan di komentar netral ada 126 akun asli dan 4 akun anonim.

78 BAB V PEMBAHASAN

Dalam menganalisis temuan ini, tidak hanya sebagai pengamat, penulis juga turut serta dalam menggunakan YouTube dan mensubscribe kanal KompasTV. Pada bab ini penulis akan menjawab pertanyaan yang telah disusun dalam rumusan masalah, yaitu melihat bagaimana praktik nilai budaya khalayak dalam empat level, yakni level ruang media, dokumen media, objek media, dan pengalaman media. Serta menganalisis ragam nilai-nilai budaya khalayak digital yang muncul di pemberitaan Pemindahan Ibu Kota di kanal YouTube KompasTV.

A. Praktik Nilai Budaya Khalayak Digital dalam Komentar Pada Pemberitaan Perpindahan Ibu Kota Indonesia di Kanal YouTube KompasTV

1. Ruang Media

Kanal KompasTV dibuat untuk memperkuat brand utama sebagai kanal yang bergerak di bidang jurnalistik, selain itu juga kanal ini dibentuk untuk memperluas jangkauan khalayak agar mempermudah khalayak menonton sajian berita yang diberikan oleh KompasTV.

Sebab di Kanal KompasTV membuka privasi unggahannya ke publik, siapa pun yang ingin menonton berita di kanal ini tidak harus mempunyai akun YouTube terlebih dahulu, bisa dengan membuka web atau aplikasi YouTube yang ada di handphone pengguna. Hal ini karena YouTube merupakan media sosial yang bisa berbagi foto, video dan audio kepada khalayak ramai tanpa harus menjadi teman ataupun tidak.

79

Namun khalayak yang ingin mengunggah video atau foto melalui YouTube harus memiliki kanal YouTube pribadi terlebih dahulu, jika pengguna sudah memiliki kanal YouTube maka secara langsung juga bisa berinteraksi melalui like, unlike, komentar dll. Oleh sebab itu, pengunjung yang melakukan interaksi di kanal KompasTV tentunya sudah memiliki kanal sendiri.

Untuk menikmati video yang ada di YouTube, pengguna yang sudah memiliki kanal YouTube pribadi bisa secara bebas memilih video mana saja yang ia ingin tonton, bahkan tidak harus berlangganan (Subscribe). Tidak hanya menonton video saja, pengguna juga bisa memberi tanggapan secara langsung video yang mereka lihat, entah itu berupa like, unlike komentar atau membagikan link video tersebut ke akun sosial media mereka yang lain. Oleh karen itu, warganet yang berinteraksi di kanal YouTube KompasTV tidak semuanya berlangganan kanal KompasTV.

Pengguna yang sudah berlangganan kanal YouTube KompasTV akan mendapatkan notifikasi setiap KompasTV mengunggah video baru, dan ini akan muncul juga di feed subscription pengguna. Sehingga pengguna akan lebih mudah mendapatkan informasi dari KompasTV. Namun pengguna lain yang tidak berlangganan tetap bisa menikmati konten yang tersedia di kanal KompasTV dengan melakukan pencarian langsung di YouTube atau melalui link yang tersedia.

Setiap orang yang berlangganan kanal KompasTV tentunya memiliki alasan dan tujuan tertentu. Kemungkinan mereka yang berlangganan telah menjadi penikmat KompasTV sejak lama, dan tidak menutup kemungkinan juga menikmati berita dari media cetak

80

maupun elektronik yang Kompas miliki, hal ini menjadi alasan juga agar pengguna yang berlangganan kanal YouTube KompasTV mendapatkan informasi terus menerus. Salah satu narasumber yang penulis wawancarai mengaku bahwa dia sudah menikmati informasi yang di sajikan oleh kompas tv sejak dari media cetak, elektronik hingga ke YouTube sekarang.

Dari pengamatan inilah peneliti menemukan Nilai Personal dari setiap khalayak dalam Ruang Media, bagaimana khalayak memilih ruang mana yang cocok terhadap dirinya dan apa saja konten yang sesuai dengan keinginan mereka sesuai personalnya masing-masing, cerminan Nilai Personal ini yang memberikan ciri khas bagi para pengikut kanal KompasTV sebagai khalayak yang berbeda dengan pengikut kanal berita yang lainnya.

KompasTV membuka kanalnya secara publik agar pengguna yang melihat konten KompasTV bisa menanggapi secara langsung video yang diunggah, tidak hanya itu, netizen juga bisa berinteraksi dan berdiskusi di kolom komentar dengan sesama nitizen yang lain, karena keterbukaan privasi inilah yang memungkinkan interaksi di dunia siber dapat terjadi di kanal YouTube KompasTV.

2. Dokumen Media

Sesuai data yang penulis temukan, KompasTV menggunggah berita di kanal YouTubenya disajikan dalam bentuk video dan disertai

caption. Mayoritas unggahan di kanal YouTube KompasTV berasal

dari program-program KompasTV sendiri yang ditayangkan di saluran Televisi KompasTV, lalu video-video ini dikelompokkan berdasarkan jenis di kanal Playlist, dan dari kumpulan video yang sudah

81

dikelompokkan tersebut diberikan nama unik sesuai dengan konten video tersebut.

Meski KompasTV memiliki website tersendiri untuk menyajikan berita, namun interaksi netizen hanya terjalin di kanal YouTube, sebab di website KompasTV sendiri tidak menyediakan kolom komentar.

Pada ke tiga video yang memberitakan pemindahan ibukota, KompasTV menyajikanya dengan netral tanpa maksud mengajak atau menolak rencana pemerintah memindahkan Ibukota baru. Hal ini menunjukkan Nilai Ideologi sebagai media massa yang tidak berpihak dan menyajikan berita apa adanya.

Setiap media massa memiliki gaya penyajian berita masing-masing, video yang diunggah oleh KompasTV kebanyakan berbentuk Video dan diisi oleh narator, ada juga yang hanya berbentuk gambar dan narasinya hanya digunakan sebagai kutipan pendukung, jadi informasi yang disajikan terlihat singkat namun sangat padat informasi. Judul yang dibuat oleh KompasTV sangat sesuai dengan isi berita, tidak ada yang dilebih-lebihkan ataupun click bait.

3. Objek Media

Selain tanggapan komentar, terjadi juga interaksi antar pengguna di kolom komentar. Praktik Nilai budaya yang muncul di level Objek Media ini cukup beragam, namun yang paling dominan adalah nilai Moral, sesuai yang penulis temukan, banyak khalayak digital yang masih menggunakan kata-kata tidak sopan dalam Percakapan. Percakapan ini terjadi karena adanya komentar yang mengundang respons dari pengunjung yang lainnya. Respons pengunjung tidak hanya berupa dukungan dan persetujuan, ada pula respons berupa tidak

82

setujuan yang berujung pada perdebatan antar pengunjung. Perdebatan inilah yang sering kali memunculkan perundungan dan caci maki antar pengguna.

Gambar 3.1

Interaksi Sesama netizen/warganet

Sumber :

https://www.YouTube.com/watch?v=DD1VU_KrxQw&ab_channel= KOMPASTV, Diakses pada 1 April 2021

Tanggapan sesama nitizen juga tidak hanya berupa komentar, kadang juga berupa like ataupun dislike.

Dokumen terkait