• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Subjek dan Objek Penelitian

2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah motivasi yang dilihat dalam hal ketertarikan, keseriusan, partisipasi, tanggung jawab siswa dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team-Games-Tournament)

3. Materi Pokok

Standar Kompetensi “Memahami hakekat Biologi sebagai ilmu Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu , kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas.” dan Kompetensi Dasar 3.3 yaitu ”Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi dan proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, kehamilan, dan pemberian ASI serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia”. Dengan materi sistem reproduksi manusia.

D. HIPOTESA PENELITIAN

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ( Team-Games-Tournament) dapat meningkatkan motivasi (Ketertarikan, Keseriusan, Partisipasi, Tanggung Jawab) dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta pada materi Sistem Reproduksi Manusia.

E. TUJUAN PENELITIAN

Bertolak dari masalah yang dihadapi dan telah dirumuskan diatas, penelitian ini bertujuan untuk :

1. Meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sistem reproduksi manusia kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

2. Meningkatkan motivasi belajar (Ketertarikan, Keseriusan, Partisipasi, Tanggung Jawab) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

F. MANFAAT PENELITIAN a. Bagi guru

Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kreatifitas dalam proses pembelajaran dan membawa siswa pada pengalaman belajar yang bermakna, dalam menghasilkan proses pembelajaraan yang lebih baik.

b. Bagi siswa

penelitian ini bermanfaat untuk mengatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa, sehingga siswa akan lebih aktif dan terjadi interaksi antara siswa-siswa, siswa-guru selain itu diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai materi sistem reproduksi manusia.

c. Bagi peneliti

penelitian ini bermanfaat sebagai bekal untuk terjun kedalam dunia pendidikan yang akan datang.

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran

Menurut Wilis (2011) Proses belajar adalah proses yang kompleks, tergantung pada teori belajar yang dianutnya. Ada beberapa pengertian belajar, diantaranya:

a. Belajar adalah suatu proses bukan produk. Proses dimana sifat dan tingkah laku ditumbuhkan dan diubah melalui praktek dan latihan.

b. Belajar adalah proses untuk memperoleh perubahan yang dilakukan secara sadar, aktif, dinamis, sistematis, berkesinambungan, integrative dan tujuan yang jelas.

c. Belajar adalah mengubah tingkah laku, perubahan adalah hasil dari pengalaman dan perubahan terjadi dalam perilaku individu.

Jadi, pada hakikatnya belajar adalah segala proses atau usaha yang dilakukan secara sadar, sengaja, akif, sistematis, dan integratif untuk menciptakan perubahan-perubahan dalam dirinya menuju kearah kesempurnaan hidup.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut berikut ini disajikan beberapa teori belajar menurut para ahli yang dikemukakan dalam Eveline (2010):

a. Teori Belajar Behavioristik : belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental

yang berasal dari lingkungan. Belajar atau tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan.

b. Teori Belajar Kognitivistik : teori ini lebih menekankan proses belajar dari pada hasil belajar. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons melainkan lebih melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Selain itu belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti sesuatu. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktikkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

c. Teori Belajar Humanistik : teori ini merupakan proses belajar yang berpusat pada manusia. Proses belajar yang dilakukan pada teori ini adalah memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada individu, sehingga si belajar diharapkan dapat mengambil keputusannya sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang dipilihnya.

d. Teori Konstruktivistik : memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri seseorang yang sedang mengetahui dan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru) kepada orang lain (siswa).

Teori pembelajaran yang terkait dalam penelitian ini adalah teori belajar kognitivistik. Karena pada teori ini siswa dituntut untuk lebih aktif dalam mencari informasi, memecahkan masalah, peka terhadap lingkungan sekitar dan memperoleh pengalaman dalam dirinya.

Sedangkan Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Tujuan pembelajaran (instructional objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Hal ini didasarkan berbagai pendapat tentang makna tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional. Tujuan pembelajaran sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh peserta didik sesuai kompetensi. Selain itu tujuan pembelajaran juga dapat diartikan sebagai suatu pernyataan spefisik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yang menggambarkan hasil belajar yang diharapkan (Hamalik,2003).

Pengertian lain menyebutkan bahwa, tujuan pembelajaran adalah pernyataan mengenai keterampilan atau konsep yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik pada akhir priode pembelajaran (Slavin, 2008). Tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang

dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.

B.Hasil Belajar

Dalam kegiatan pembelajaran aktivitas belajar perlu diadakannya evaluasi. Hal ini penting karena dengan evaluasi guru dapat mengukur dan mengetahui apakah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai atau tidak. Untuk dapat mengetahui tingkat keberhasilan dalam mengajar diperlukan suatu informasi tentang indikator-indikator perubahan tingkah laku dan pribadi peserta. Menurut Bloom dalam Suprijono (2009), prestasi dikategorikan menjadi beberapa ranah yaitu :

a. Ranah Kognitif : remember (mengingat), understand (memahami), apply (mengaplikasi), analyze (menganalisis), evaluate (mengevaluasi), create (menciptakan)

b. Ranah Afektif : receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakteristik)

c. Ranah Psikomotor : keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, dan intelektual.

Menurut Gagne dalam Suprijono (2009), hasil belajar harus meliputi :

a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tertulis.

b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang

c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri.

d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujudnya gerak jasmani.

Dalam penilaian hasil belajar, patokan atau kriteria adalah sejumlah skor yang ditetapkan sebagai syarat untuk dianggap mencapai keberhasilan belajar, sedangkan norma adalah skor rata-rata dari semua siswa yang menempuh ujian yang sama, hasil ini digunakan sebagai pembanding untuk menilai kelebihan, kesamaan atau kekurangan dari hasil yang diperoleh siswa. Menurut Waridjan (1984) pemanfaatan informasi tentang hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:

1. Dengan mengetahui hasil belajar siswa guru dapat mengetahui dan mendesain program pengajaran yang apabila dilaksanakan akan mengisi selisih antara apa yang telah dicapai siswa dengan apa yang telah dikehendaki oleh tujuan pegajaran.

2. Dengan mengetahui hasil belajar siswa dari waktu ke waktu, proses kemajuan dan kemunduran siswa dalam belajar dapat diikuti untuk tujuan-tujuan memberikan motivasi dalam belajar.

3. Dengan mengetahui hasil belajar siswa, dapat mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa dan konselor pengajaran mendiagnosa kesulitan belajar siwa dalam rangka memberikan bimbingan dan konseling pengajaran.

4. Dengan mengetahui hasil belajar siswa dapat diramalkan keberhasilan belajar siswa di masa depan.

5. Dengan mengetahui hasil belajar siswa, dapat menetapkan siswa dalam kualifikasi tertentu (lulus atau tidak lulus), menetapkan peringkat siswa dalam prestasi belajar siswa (peringkat hasil ujian), menggolongkan siswa ke dalam kelompok tertentu (pandai atau kelompok kurang pandai) serta menyeleksi siswa untuk maksud-maksud tertentu (memenuhi syarat atau tidak)

6. Dengan mengetahui hasil belajar siswa menjadi termotivasi untuk belajar secara lebih bersemangat, tekun dan teliti.

Berdasarkan cakupan hasil belajar diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan sesuatu yang diperoleh setelah seseorang mengalami suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor berupa pemahaman dan pengetahuan terhadap berbagai hal. Hasil belajar yang dipakai untuk mengukur pemahaman serta kemampuan siswa dalam penelitian ini adalah hasil belajar ranah kognitif dan hasil belajar ranah afektif. Karena pada penelitian ini siswa diajak untuk mengulas kembali pemahaman-pemahaman yang didapat siswa dalam pembelajaran serta mengajak siswa secara mandiri memecahkan suatu masalah

dan menilainya sesuai dengan pemahaman siswa itu sendiri. Sedangkan untuk ranah afektif siswa diajarkan untuk dapat menerima kekalahan dengan lapang dada, dan dapat membentuk karakter siswa yang dapat memotivasi dirinya sendiri.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Dalam pencapaian hasil belajar banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Syah (2008) menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu sebagai berikut :

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor ini menyangkut tentang keadaaan / kondisi jasmani ataupun rohani siswa. Faktor internal terbagi menjadi dua aspek yaitu :

a. Aspek fisiologis, aspek ini meliputi semangat siswa dan intensitas siswa dalam mengikuti pembelajaran.

b. Aspek psikologis.

Aspek psikologis merupakan aspek yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas pembelajaran yang diperoleh siswa seperti tingkat kecerdasan/inteligensi siswa, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa. Kuantitas dan kualitas siswa dapat terbentuk dengan adanya stimulus yang direspon oleh siswa hingga muncul suatu dorongan keinginan yang mampu meningkatkan kecerdasan, minat, bakat dan motivasi dari diri siswa itu sendiri. Dari dorongan keinginan yang

muncul itulah timbul suatu perlakuan yang dapat menghasilkan suatu produk (hasil).

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa menyangkut kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal dikelompokkan kedalam 3 faktor yaitu : faktor keluarga, faktor lingkungan sekolah dan faktor lingkungan masyarakat.

a. Faktor keluarga meliputi cara orang tua dalam mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana / kondisi rumah, dan keadaan perekonomian keluarga.

b. Faktor lingkungan sekolah

Pada faktor ini lingkungan sekolah juga memiliki peran yang sangat penting dalam belajar siswa. Faktor sekolah yang dapat mempengaruhi siswa dalam belajar meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, lingkungan sekolah, metode belajar dan tugas yang diberikan oleh guru.

c. Faktor lingkungan masyarakat meliputi teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat sekitar.

Dalam penelitian ini faktor yang dipakai untuk meningkatkan hasil belajar adalah faktor internal yang meliputi motivasi siswa dan faktor eksternal yang meliputi metode mengajar.

D. Motivasi Belajar 1. Motivasi

Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak dan berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu (Isbandi, 1994). Menurut Gerungan (1996) Motif dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :

a. Motif Biogenetis, kebutuhan organisme demi kelanjutan hidupnya, misalnya kelaparan, haus, kebutuhan akan kegiatan dan istirahat, mengambil napas, seksualitas, dan sebagainya.

b. Motif sosiogenetis, yaitu motif-motif yang berkembang berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang tersebut berada. Jadi motif ini tidak berkembang dengan sendirinya, tetapi dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan setempat, misalnya keinginan mendengarkan music, makan coklat, membaca buku, dan lain-lain.

c. Motif teologis, Misalnya keinginan untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk merealisasikan norma-norma sesuai agamanya.

Menurut Winkel (1996) motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian Motivasi merupakan usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu (Ngalim, 1990). Motivasi juga dapat diartikan sebagai suatu perubahan energy pribadi seseorang yang

ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan menurut Oemar Hamalik dalam Sanjaya (2010). Motivasi mempunyai peran besar dalam proses belajar.

Banyak teori motivasi yang didasarkan dari asas kebutuhan (need). Kebutuhan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk dapat memenuhinya. Motivasi adalah proses psikologi yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Perilaku hakikatnya merupakan orientasi pada satu tujuan. Dengan kata lain, perilaku seseorang dirancang untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan proses interaksi dari beberapa unsur. Dengan demikian motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuannya. Kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti : Keinginan yang hendak dipenuhinya, tingkah laku, tujuan, umpan balik.

2. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi belajar dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik tumbuh dari dalam diri seseorang berupa hasrat dan keinginan berhasil dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan motivasi ekstrinsik terjadi karena adanya rangsangan dari luar selain itu dipengaruhi juga oleh adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan

belajar yang menarik. Karena rasa ingin tahu maka seseorang berusaha belajar untuk mendapatkan pengetahuan adalah merupakan bentuk motivasi intrinsik, sedangkan seorang anak yang rajin belajar karena dituntut oleh orang tuanya adalah bentuk dari motivasi ekstrinsik. Kedua faktor ini saling mendukung karena dengan keselarasan akan terjadi proses pembelajaran yang maksimal selain itu disebabkan oleh rangsangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat. Perspektif motivasional pada pembelajaran kooperatif terutama memfokuskan pada penghargaan atau struktur tujuan di mana para siswa bekerja (Slavin, 2008).

Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Indikator yang mendukung dalam keberhasilan seseorang dalam belajar meliputi:

a. Ketertarikan b. Keseriusan c. Partisipasi d. Tanggung Jawab

3. Upaya-Upaya Memotivasi dalam Belajar

Motivasi dalam belajar kadangkala naik begitu pesat tetapi terkadang turun secara drastis, berdasarkan hal tersebut perlu ada semacam upaya untuk memotivasi pembelajar. Menurut Ali Imron (1996) ada beberapa upaya yang

dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi belajar pembelajar. Cara tersebut adalah sebagai berikut:

a. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. b. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis pembelajaran.

c. Mengoptimalkan pemanfaatan upaya guru dalam membelajarkan pembelajar.

d. Mengembangkan aspirasi dalam belajar

Terkait dengan hal tersebut, sejumlah prinsip-prinsip yang harus dioptimalkan sebagai upaya untuk memotivasi dalam belajar. Prinsip-prinsip tersebut terdiri dari prinsip perhatian, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan belajar, rangsangan dan tantangan, pemberian balikan dan penguatan. Untuk mengoptimalkan prinsip-prinsip tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang tepat agar mengurangi kendala-kendala yang ditemui dalam proses optimalisasi tesebut. Beberapa cara untuk mengoptimalisasi upaya dalam memotivasi belajar siswa antara lain:

1) Membiarkan siswa menangkap sesuai kemampuan dan pengalamannya. 2) Mengkaitkan pengalaman belajar saat ini dengan pengalaman masa lalu

dengan kemampuan siswa.

3) Memberi kesempatan siswa untuk membandingkan apa yang telah dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimilikinya. 4) Melakukan penggalian pengalaman dan kemampuan yang dimiliki siswa,

misalnya melalui tes lisan dan tertulis.

Berdasarkan cara tersebut upaya yang akan diangkat dalam penelitian ini untuk mengoptimalisasi dalam memotivasi belajar siswa adalah memberi kesempatan

siswa untuk membandingkan apa yang telah dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimilikinya.

E. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepensi efektif di antara anggota kelompok.

Menurut Slavin (dalam http://ipotes.wordpress.com) pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk lebih mudah memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerja sama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk lebih mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan dapat pula menjadi narasumber bagi teman yang lain.

1. Prinsip Dasar Dan Ciri-Ciri Model Pembelajaran Kooperatif.

Menurut Nur (2005), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.

b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.

c. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.

d. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.

e. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

f. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Sedangkan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : 1) Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar

sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.

2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.

3) Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.

Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, dan dapat saling membantu dalam hal belajar.

2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Terdapat 6 (enam) langkah dalam model pembelajaran kooperatif yaitu : a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Guru menyampaikan tujuan

pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.

b. Menyajikan informasi. Guru menyajikan informasi kepada siswa.

c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Guru menginformasikan pengelompokan siswa.

d. Membimbing kelompok belajar. Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok kelompok belajar.

e. Evaluasi. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.

f. Memberikan penghargaan. Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.

3. Macam-macam model pembelajaran Kooperatif

Menurut Slavin (2008), pembelajaran kooperatif, merupakan model pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen. Untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif dan meningkatkan kemampuan siswa dalam kelompok, model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe dengan langkah yang berbeda. Tipe model pembelajaran kooperatif tersebut antara lain :

a. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share

Model pembelajaran Think Pair Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Think Pair Share dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil

b. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Model pembelajaran jigsaw merupakan model pembelajaran yang dirancang dengan membentuk kelompok ahli dan kelompok asal

c. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Divisions.

Model pembelajaran ini merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan adanya aktivitas dan interaksi antar siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran. d. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok

model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi.

e. Model Pembelajaran Kooperatif Langsung

Model pembelajaran ini sering disebut metode ceramah atau ekspositori. Pada pembelajaran ini siswa diberikan informasi dengan cara disampaikan secara langsung.

f. Model Pembelajaran Kooperatif Berbasis Masalah

Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari. g. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered-Heads Together

Model pembelajaran ini diawali oleh guru dengan melemparkan pertanyaan pada anggota kelompok yang dibentuk, dan setiap anggota kelompok akan saling membantu demi tanggung jawab dan nama baik kelompok. Dengan pembelajaran ini diharapkan setiap siswa antusias dalam memahami permasalahan.

h. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament

Team Games Tournament adalah suatu model pembelajaran yang

Dokumen terkait