METODE PENELITIAN
3.4 Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Observasi atau pengamatan
Observasi merupakan teknik yang digunakan jika objek penelitian bersifat perilaku manusia, proses kerja, gejala alam, dan jumlah informannya sedikit (Sugiyono, 2011:203). Dengan teknik ini memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proposional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data. Menurut Syaodih N (2006) yang
di kutip oleh Djam’an Satori dan Aan Komariah dalam bukunya Metodologi
Penelitian Kualitatif (2012:105) menyatakan bahwa, observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.
Menurut Patton dalam Sugiyono (2009:228), dinyatakan bahwa manfaat observasi adalah sebagai berikut:
1. Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh;
2. Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung, sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif. Jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau disvovery;
3. Dengan observasi, peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara;
4. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-halyang sedianya tidak akan terungkap oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga;
5. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang di luar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif;
6. Melalui pengamatan di lapangan, peneliti tidak hanya mengumpulkan data yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan merasakan suasana situasi soial yang diteliti.
Observasi dilakukan ketika proses pembelajaran berlangsung. Tujuannya adalah agar peneliti dapat mengamati langsung realita keadaannya serta implementasi dari penggunaan media pembelajaran secara langsung. Karena, dengan observasi memungkinkan peneliti melihat serta mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Dalam pengumpulan data dengan observasi, menurut Sugiyono (2009:225) observasi dibagi menjadi 3 macam. Macam-macam observasi tersebut adalah:
1. Observasi Partisipatif
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pad aitngkat makna dari setiap perilaku yang Nampak.
2. Observasi Terus Terang atau Tersamar
Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Jadi mereka yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti. Tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan, kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.
3. Observasi Tak Berstruktur
Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak berstruktur, karena fokus penelitian belm jelas. Fokus observasi akan berkembang selama kegiatan observasi berlangsung. Kalau masalah penelitian sudah jelas seperti dalam penelitian kuantitatif, maka observasi dapat dilakukan secara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi.
Sedangkan menurut Junker (dalam Moleong, 2006:176) menggambarkan macam-macam jenis peran peneliti sebagai pengamat dalam observasi seperti berikut.
1. Berperanserta Secara Lengkap
Pengamat dalam hal ini menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamatinya. Dengan demikian ia dapat memperoleh informasi apa saja yang dibutuhkannya, termasuk yang dirahasiakan.
2. Pemeranserta Sebagai Pengamat
Peranan peneliti sebagai pengamat dalam hal ini tidak sepenuhnya sebagai pemeranserta tetapi melakukan fungsi pengamatan. Ia sebagai anggota pura-pura, jadi tidak melebur dalam arti seungguhnya. Peranan demikian masih membatasi para subjek menyerahkan dan memberikan informasi terutama yang bersifat rahasia.
3. Pengamat Sebagai Pemeranserta
Peranan pengamat secara terbuka diketahui oleh umum bahkan mungkin ia atau mereka disponsori oleh para subjek. Karena itu maka segala macam informasi termasuk rahasia sekalipun dapat dengan mudah diperoleh. 4. Pengamat Penuh
Biasanya hal ini terjadi pada pengamatan sesuatu eksperimen di laboratorium yang menggunakan kaca sepihak (one way screen). Peneliti dengan bebas mengamati secara jelas subjeknya dari belakang kaca sedangkan subjeknya sama sekali tidak mengetahui apakah mereka sedang diamati.
Di sini, peneliti menggunakan observasi terus terang atau tersamar, yang artinya menurut Sugiyono (2009:228), peneliti dalam pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Sehingga, mereka yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti. Dengan observasi terus terang atau tersamar ini, nantinya memudahkan peneliti dalam melakukan observasi di SPMA Negeri H. MOENADI, karena siswa sebagai informan dapat memahami maksud serta tujuan dari peneliti sejak awal hingga akhir proses penelitian. Kemudian Sugiyono (2009:228), juga menjelaskan bahwa observasi terus terang atau tersamar ini dalam suatu peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih rahasia. Kemungkinan tidak diijinkan untuk melakukan observasi.
3.4.2 Wawancara
Menurut Moleong (2006:186) Wawancara adalah percakapan dnegan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Menurut Licoln dan Guba yang ditulis oleh Moleong (2006:186) maksud mengadakan wawancara antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan; merekonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu; memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang; memverifikasi, mengubah, dan memperluas informasiyang diperoleh dari orang
lain, baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi); dan memverifikasi, mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.
Wawancara sendiri memiliki macam-macamnya. Menurut Patton (dalam Moleong, 2006:186), wawancara dibagi menjadi tiga, yaitu :
1) Wawancara Pembicaraan Informal
Pada jenis wawancara ini pertanyaan yang diajukan sangat bergantung pada pewawancara itu sendiri, jadi bergantung pada spontanitasnya dalam mengajukan pertanyaan kepada terwawancara. Hubungan pewawancara dengan terwawancara adalah dalam suasana biasa, wajar, sedangkan peranyaan dan jawabannya berjalan seperti pembicaraan biasa dalam kehidupan sehari-hari saja. Sewaktu pembicaraan berjalan, terwawancara malah barangkali tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancarai.
2) Pendekatan Menggunakan Petunjuk Umum Wawancara
Jenis wawancara ini mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dirumuskan tidak perlu ditanyakan secara berurutan. Demikian pula penggunaan dan pemilihan kata-kata untuk wawancara dalam hal tertentu tidak perlu dilakukan sebelumnya. Peunjuk wawancara hanyalah berisi petunjuk secara garis besar tentang proses da nisi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup.
3) Wawancara Baku Terbuka
Jenis wawancara ini adalah wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku. Urutan pertanyaan, kata-katanya, dan cara penyajiannya pun sama untuk setiap responden. Keluwesan mengadakan pertanyaan (probing) terbatas, dan hal itu bergantung pada situasi wawancara dan kecakapan pewawancara. Wawancara demikian digunakan jika dipandang sangat perlu untuk mengurangi sedapat-dapatnya variasi yang bias terjadi antara seorang terwawancara dengan yang liannya. Wawancara jenis ini bermanfaat pula dilakukan apabila pewawancara ada beberapa orang dan terwawancara cukup banyak jumlahnya.
Sedangkan Esterberg (dalam Sugiyono, 2009:233) mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu :
1) Wawancara Terstruktur (Structured Interview)
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karna itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrument peneliian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya. Dengan wawancara terstruktur ini pula, pengumpulan data dapat menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpul data. Supaya setiap
pewawancara mempunyai ketrampilan yang sama, maka diperlukan training kepada calon pewawancara.
Dalam melakukan wawancara, selai harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancer.
2) Wawancara Semiterstruktur (Semistructure Interview)
Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dpet interview, di mana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana fihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa ynag dikemukakan oleh informan.
3) Wawancara Tak Berstruktur (Unsructured Interview)
Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak mengguanakan pedoman wawancara yang telah terusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Dalam metode wawancara ini, peneliti menggunakan wawancara terstruktur dengan pendekatan petunjuk umum wawancara, yaitu dengan membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dirumuskan serta tidak perlu
ditanyakan secara berurutan. Petunjuk wawancara hanya berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup.
Dengan metode wawancara ini nantinya akan digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data utama dan informasi berupa persepsi siswa mengenai penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran. Waktu wawancara dilakukan sesuai waktu yang diberikan oleh guru dan kesepakatan antara peneliti dengan siswa.