BAB V HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Penelitian
1. Observasi Pendahuluan
Observasi pendahuluan atau observasi sebelum penerapan metode pembelajaran cooperative learning tipe TGT ini dilaksanakan pada hari Selasa, 26 Maret 2013 pada jam pertama sampai dengan jam ke empat yaitu dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 10.00. Guru mitra yang membantu peneliti melaksanakan penelitian tindakan kelas ini ada Ibu Dra. Zita Trimurdani sebagai guru bidang studi Akuntansi. Berdasarkan observasi yang dilakukan jumlah siswa kelas X AK 2 pada tahun pelajaran 2012-2013 ini adalah sebanyak 24 siswa. Saat obervasi pendahuluan dilaksanakan materi yang dipelajari pada saat itu adalah Mutasi Dana Kas Kecil dengan standar kompetensi memproses dokumen dana kas di bank. Berikut ini adalah uraian hasil observasi terhadap guru, siswa, dan kelas. a. Observasi Guru (observising teacher)
Pada kegiatan awal pembelajaran guru membuka pelajaran dengan berdoa lalu mengucapkan salam dan melakukan absensi. Di awal pembelajaran ini guru juga menjelaskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai sehingga akan menimbulkan keberhasilan untuk mencapai sasaran tersebut. Kemudian guru melakukan kegiatan apersepsi dengan mengulang kembali materi yang sebelumnya telah dipelajari oleh siswa. Kegiatan apersepsi ini dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk merangsang siswa dalam menyiapkan materi yang akan dipelajari. Selain itu, kegiatan apersepsi ini juga dapat melihat kesiapan siswa untuk memulai materi yang akan dipelajari
pada saat itu. Saat pembelajaran berlangsung guru selalu memberikan contoh-contoh yang nyata dengan tujuan agar mudah dipahami oleh siswa. Guru menyampaikan materi dengan menggunakan metode pembelajaran kontekstual yaitu metode ceramah dan tanya jawab. Pada umumnya pertanyaan yang diajukan oleh guru mengarah kepada seluruh siswa walaupun terkadang beberapa kali guru mengajukan pertanyaan untuk siswa secara personal. Pertanyaan yang diajukan oleh guru pada dasarnya ditanggapi dengan baik oleh siswa namun hanya beberapa saja tidak semua siswa menjawab apa yang ditanyakan oleh guru. Terlihat saat obesrvasi ada beberapa siswa yang hanya diam, melamun, bermain HP, berbicara dengan teman sebangkunya. Kondisi ini mengartikan siswa-siswa cenderung pasif saat pembelajaran berlangsung. Hal ini dikarenakan guru kurang menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa kurang termotivasi untuk melakukan pembelajaran. Namun, sikap guru yang serius dan tegas mempengaruhi siswa untuk menanggapi pembelajaran yang dilakukan walaupun hanya beberapa saja yang menanggapi. Pembelajaran berlangsung selama empat jam hanya dengan metode ceramah dan tanya jawab.
Selanjutnya pada tahap akhir pembelajaran guru memberikan kesimpulan terhadap pembelajaran yang baru saja disampaikan serta memberikan motivasi terhadap siswa dan memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di rumah. Sebelum guru menutup
pelajaran guru sempat menyampaikan kepada siswa bahwa siswa kurang memiliki motivasi untuk mengikuti pelajaran. Hal itu terlihat saat guru mengajukan beberapa pertanyaan hanya beberapa siswa yang menanggapi sedangkan yang siswa lain hanya diam dan sibuk dengan dirinya sendiri.
Tabel 5.1
Hasil Observasi Kegiatan Guru Dalam Proses Pembelajaran
No Deskripsi Ya Tidak Keterangan
1 Guru membuka pelajaran
√ Memberi salam danmengabsen siswa 2 Guru memeriksa kesiapan siswa √ 3 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran √ 4 Guru melakukan apersepsi √ 5 Guru menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi √ Penjelasan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab 6 Guru menggunakan
media pembelajaran √
Media yang digunakan papan tulis
7 Guru sering bertanya
kepada siswa √
8 Pertanyaan guru diajukan
ke perorangan √
9 Pertanyaan guru diajukan
ke kelas √
10 Guru memanfaatkan
penguatan √ Menegur siswayang tidak fokus terhadap materi 11 Guru memberi tugas
rumah √
12 Sikap guru serius √
13 Sikap guru santai √
14 Guru membuat
rangkuman/kesimpulan pelajaran
√
evaluasi materi
16 Guru menutup pelajaran √
b. Observasi Siswa (observising student)
Saat guru memasuki kelas untuk memulai pembelajaran terlihat semua siswa siap mengikuti pelajaran dengan mempersiapkan buku-buku serta mempersiapkan diri. Siswa terlihat tenang saat akan memulai pelajaran. Selanjutnya, guru membuka pelajaran dengan menyampaikan tujuan serta materi yang akan dipelajari pada hari itu. Saat guru mulai menjelaskan materi terlihat semua siswa memperhatikan dengan baik apa yang sedang dijelaskan oleh guru. Suasana kelas tenang membuat siswa dapat fokus dalam mendengarkan penjelasan materi dari guru. Di tengah-tengah penjelasan materi guru selalu mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa dan di saat seperti itu terlihat bahwa siswa memperhatikan dengan baik saat guru menjelaskan namun siswa tidak paham apa yang guru jelaskan karena peneliti menduga bahwa pikiran siswa tidak untuk pelajaran pada saat itu. Saat guru mengajukan pertanyaan hanya empat siswa yang menanggapi pertanyaan dari guru sedangkan siswa lain hanya diam.
Dalam proses pembelajaran ada beberapa siswa yang mencatat hal-hal penting namun ada juga beberapa siswa yang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Saat terlihat oleh guru ada siswa yang hanya tidur-tiduran di kelas guru langsung mengajukan pertanyaan kepada
siswa tersebut tujuannya agar siswa tersebut kembali fokus kepada pelajaran dan dapat mengubah duduknya untuk tegak. Peneliti menduga kondisi siswa seperti itu dikarenakan siswa merasa bosan dan jenuh terhadap kegiatan pembelajaran dan dapat dikarenakan juga siswa tidak memahami atau tidak mengerti apa yang sedang dipelajari pada hari itu. Sifat guru yang cenderung tegas dan serius seharusnya bisa membuat siswa memperhatikan dengan baik penjelasan dari guru dan mau menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh guru. Kondisi seperti ini dapat menggangu siswa lain yang berniat dan serius untuk mengikuti kegiatan pembelajaran pada hari itu. Rangkaian kegiatan siswa di kelas tersebut selama proses pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.2
Hasil Observasi Kegiatan Siswa Dalam Proses Pembelajaran
No Deskripsi Ya Tidak Keterangan
1 Siswa siap mengikuti pembelajaran √ Saat guru memasuki kelas suasana kelas kondusif 2 Menyiapkan materi
Mutasi Dana Kas Kecil
√
Terlihat siswa sudah membuka buku dengan materi yang akan dibahas 3 Siswa memperhatikan penjelasan guru √ Siswa memperhatikan penjelasan dari guru, namum tidak semua siswa benar-benar fokus mempehatikan 4 Siswa menanggapi pembahasan pembelajaran √
Hanya 4 siswa yang memberikan
5 Siswa mencatat hal-hal penting
√
Hanya 6 siswa yang mencatata materi yang disampaikan guru
6 Siswa mengerjakan tugas
dengan baik √ Guru tidakmemberikan tugas 7 Siswa mendapat teguran
dari guru √
8 Siswa aktif dalam proses
pembelajaran √ Siswa cenderungpasif dalam kelas 9 Siswa menjawab
pertanyaan
√
Terlihat hanya beberapa saja yang menjawab
pertanyaan dari guru
10 Siswa mendapat penghargaan dari guru baik vernal maupun non verbal
√
Selain melakukan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan siswa, peneliti juga menggunakan instrumen kuesioner untuk mengukur tingkat motivasi siswa sebelum menerapkan atau mengimplementasikan tindakan (based-line) serta melakukan pengamatan terhadap motivasi siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk mengtahui tingkat motivasi siswa pra implementasi tindakan, peneliti menggunakan kuesioner untuk mengetahui tercapai atau tidaknya indikator yang terdiri dari 20 pertanyaan. Hasil kuesioner pra implementasi tindakan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5.3
Analisis Motivasi Siswa Pra-Implementasi (Based-Line)
No Interval Frek. Frek. Relatif Iterpretasi
1 69-80 0 0% Sangat Tinggi 2 60-68 7 29.17% Tinggi 3 54-59 12 50% Sedang 4 48-53 5 20.83% Rendah 5 20-47 0 0% Sangat Rendah Total 24 100%
Hasil perhitungan pengkategorian dapat dilihat pada tabel 5.3 dari data tersebut dapat terlihat bahwa persentase siswa yang memiliki tingkat motivasi sangat tinggi adalah 0%, persentase siswa yang memiliki tingkat motivasi tingggi adalah 29.17%, persentase siswa yang memiliki tingkat motivasi sedang adalah 50%, persentase siswa yang memiliki tingkat motivsi rendah adalah 20.83%, dan persentase siswa yang memiliki tingkat motivasi sangat rendah adalah 0%. Berdasarkan analisis motivasi siswa pra-implementasi tindakan ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa tingkat motivasinya sedang yaitu sebanyak 12 siswa dengan persentase 50%. Hal ini juga didukung dengan hasil perhitungan nilai mean yaitu 58 ; median yaitu 58 ; dan modus yaitu 58.
Selain menggunakan kuesioner untuk melihat tingkat motivasi siswa, peneliti juga melakukan pengamatan secara langsung untuk melihat keadaan nyata tingkat motivsi siswa selama melakukan kegiatan proses pembelajaran. Kuesioner saja dirasa belum dapat memperlihatkan kondisi secara nyata tingkat motivasi siswa untuk
belajar akuntansi. Pengamatan motivasi siswa di kelas dilakukan bersamaan dengan melakukan observasi untuk pra implementasi tindakan. Berikut ini adalah hasil pengematan motivasi siswa selama proses kegiatan pembelajaran pra-implementasi tindakan.
Tabel 5.4
Hasil Pengamatan Motivasi Siswa Di Kelas Pra-Implemnetasi Tindakan
No Deskripsi Persentase Keterangan 1 Siswa menjawab
pertanyaan dari guru
16%
Hanya 4 siswa yang menjawab pertanyaan dari guru, siswa kurang mampu menjawab pertanyaan dari guru
2 Siswa aktif dalam kegiatan kelompok
0%
Guru tidak
memberikan tugas baik tugas individu ataupun kelompok 3 Siswa membatu teman lain
saat mengalami kesulitan
0%
Guru tidak
memberikan tugas baik tugas individu ataupun kelompok 4 Siswa antusias saat
mendapat giliran
mengerjakan soal di depan kelas
0%
Guru tidak
memberikan tugas baik tugas individu ataupun kelompok 5 Siswa fokus bekerjasama
dalam kelompok
0%
Guru tidak
memberikan tugas baik tugas individu ataupun kelompok 6 Siswa bersemangat dalam
melakukan kegiatan
kelompok 0%
Guru tidak
memberikan tugas baik tugas individu ataupun kelompok 7 Siswa tidak membicarakan
hal lain diluar tugas
0%
Guru tidak
memberikan tugas baik tugas individu ataupun kelompok
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung, terlihat bahwa siswa yang menjawab pertanyaan dari guru hanya 4 siswa atau 16%, siswa yang aktif dalam kegiatan diskusi sebanyak 0%, siswa yang membantu teman lain saat mengalami kesulitan sebanyak 0%, siswa antusias mendapat giliran mengerjakan soal di depan kelas sebanyak 0%, siswa yang fokus bekerjasama dalam kelompok sebanyak 0%, siswa bersemangat dalam kegiatan kelompok sebanyak 0%, siswa tidak membicarakan hal lain diluar tugas sebanyak 0%. Karena pada saat melakukan pengamatan tersebut guru tidak memberikan tugas kepada siswa dan tidak ada kegiatan diskusi, oleh karena itu pengamatan motivasi yang berhubungan dengan kegiatan diskusi atau pengerjaan tugas tingkat motivasi siswa untuk kegiatan diskusi persentasenya 0%. Pengamatan motivasi yang dilakukan oleh peneliti secara nyata dapat melihat permasalahan yang sebenarnya terjadi saat kegiatan proses pembelajaran berlangsung.
c. Observasi Kelas (observising class)
Secara fisik ruang kelas sudah cukup nyaman untuk berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar. Di dalam kelas terdapat 1 papan tulis, 1 buku untuk mengetahui proses kemajuan setiap mata pelajaran, 1 meja dan 1 kursi untuk guru, dan meja kursi yang digunakan oleh siswa sebanyak 24 orang. Ventilasi yang sangat cukup terdapat di ruang kelas tersebut karena ruang kelas tersebut
cukup terbuka dan ruangan kelas bersih dan rapi dari sampah sehingga kondisi tersebut dapat mendukung proses pembelajaran. Namun karena kondisi ruangan yang agak terbuka dengan tembok yang menutupi kelas tidak tertutup semua sehingga terkadang siswa terganggu dengan keramain yang berada di luar kelas dan membuat kegiatan proses pembelajaran kurang kondusif. Kondisi yang kondusif dapat terjaga oleh siswa sampai dengan akhir pelajaran tetapi saat di pertengahan proses pembelajaran terlihat beberapa siswa tidak fokus pada pembelajaran Namun, guru tetap menegur setiap siswa yang melakukan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan proses pembelajaran karena semua siswa memiliki keistimewaan yang sama. Hal ini dikarenakan siswa mulai bosan dengan metode pembelajaran yang guru gunakan dalam kegiatan proses pembelajaran karena siswa hanya mendengarkan dan mencatat tetapi siswa tidak diberikan kesempatan untuk mengerjakan tugas baik individu ataupun kelompok. Siswa cenderung pasif sehingga saat guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya atau berpendapat tidak ada siswa yang menggunakan kesempatan itu hanya 5 siswa yang menggunakan kesempatan tersebut untuk bertanya hal yang dianggap kurang paham oleh siswa tersebut. Tidak ada kegiatan yang menarik dalam proses pembelajaran saat itu yang dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. Pada akhir pembelajaran guru memberikan tugas dan penguatan terhadap siswa agar dipertemuan berikutnya siswa dapat
lebih bersemangat dalam belajar serta guru juga memberikan kesimpulan terhadap pembelajaran yang dilakukan pada hari itu. Rangkaian hasil observasi kondisi kelas dalam proses pembelajaran pra-implementasi tindakan dapat dilihat pada tebel berikut ini.
Tabel 5.5
Hasil Observasi Kondisi Kelas Dalam Proses Pembelajaran
No Deskripsi Ya Tidak Catatan
1 Fasilitas di dalam kelas mendukung proses pembelajaran
√
Terdapat papan tulis dan meja kursi untuk siswa mencukupi 2 Kondisi kelas mendukung proses
pembelajaran √ Sirkulasi udara di dalam kelas cukup dan penerangan juga mencukupi, kondisi kelas juga rapi dan bersih 3 Siswa membuat keributan atau
kegaduhan √
4 Siswa mengerjakan latihan soal
√ Tidak adatugas dari guru 5 Ada kelompok-kelompok di
dalam kelas yang menghambat kegiatan pembelajaran.
√ 6 Siswa aktif bertanya kepada guru
jika mengalami kesulitan
√ Tidak ada siswa yang bertanya saat guru meberikan kesempatan untuk bertanya 7 Adanya kegiatan yang menarik
dalam proses pembelajaran
√ Guru hanya menggunakan metode ceramah atau tanya jawab
8 Adanya sumber belajar dalam kelas yang mendukung proses
pembelajaran √ Siswa tidak punya refrensi buku, siswa hanya memiliki catatan
9 Kondisi kelas berjalan dengan baik selama pembelajaran.
√
Siswa mampu menjaga suasana kelas kondusif
Berdasarkan hasil observasi terhadap guru, siswa, dan kelas pra-implementasi tindakan berikut ini akan disajikan analisis situasi pembelajaran dari hasil observasi yang telah dilaksanakan oleh peneliti. Selama proses pembelajaran berlangsung guru menggunakan metode pembelajaran ceramah dan tanya jawab. Metode ceramah merupakan metode yang paling sering sering digunakan oleh guru untuk menyampaikan dan menjelaskan materi pembelajaran. Metode ceramah merupakan metode yang paling mudah dan paling praktis saat digunakan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Selain dianggap mudah metode ceramah juga menghemat waktu dan tenaga. Dalam pelaksanaan menggunakan metode ceramah tidak banyak yang harus guru persiapkan sehingga metode ini akan lebih banyak menghemat waktu dan lebih praktis. Sedangkan untuk metode tanya jawab merupakan metode yang digunakan guru untuk menstimulasi siswa atau merangsang pengetahuan siswa terhadap materi pembelajaran. Kegiatan tanya jawab biasanya dilakukan oleh guru ditengah-tengah penyampaian atau penjelasan materi hal itu dikarenakan agar siswa tetap fokus pada pembelajaran dan untuk
melihat sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dijelaskan. Metode tanya jawab ini dapat dijadikan pula sebagai dasar bagi guru untuk melihat tingkat pemahaman siswa terhadap materi. Biasanya guru mengaitkan materi dengan kehidupan nyata yang terjadi di masyarakat sehingga dapat mempermudah siswa dalam memahami materi.
Pada dasarnya kedua metode tersebut sudah sangat baik apabila diterapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar karena metode ini akan lebih mengarah kepada guru untuk menjelaskan materi. Apabila penggunaan metode ini dilakukan secara rutin maka tidak akan ada kegiatan yang menarik dalam kegiatan proses pembelajaran. Guru akan mendominasi peran dalam kegiatan belajar mengajar ini, guru hanya menjelaskan dan menyampaikan materi serta melakukan tanya jawab terhadap siswa. Kegiatan tersebut dapat dikatakan sebagai metode pembelajaran satu arah karena guru yang berperan dalam kegiatan pembelajaran dengan menjelaskan materi sedangkan siswa hanya mencatat hal-hal yang dirasa perlu dan mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Namun sebenarnya metode ceramah memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan komunikasi dua arah yaitu guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa dan siswa diberikan kesempatan untuk menanggapi pertanyaan guru. Akan tetapi metode ini tidak setiap waktu dilakukan secara terus menerus kepada siswa hanya saat tertentu yang dirasa
sesuai guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Saat melakukan observasi pendahuluan guru tidak memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan secara individu ataupun kelompok. Kurangnya variasi metode pembelajaran yang guru terapkan dalam kegiatan proses pembelajaran menyebabkan kurangnya semangat untuk belajar dan berpendapat pada dirinya siswa, selain itu juga kurangnya penghargaan oleh guru yang diberikan kepada siswa baik secara verbal maupun non verbal.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti menemukan beberapa permasalahan pembelajaran salah satunya yaitu rendahnya motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan proses pembelajaran sehingga akan berdampak juga pada hasil belajar siswa. Peneliti menduga berdasarkan hasil pengamatan dan observasi yang dilakukan akar dari permasalahan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran dipengaruhi karena kurangnya variasi metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru sehingga tidak ada kegiatan yang menarik yang mampu meningkatkan hasrat dan motivasi siswa dalam belajar.
Berdasarkan permasalahan tersebut, menurut peneliti alternatif untuk pemecahan masalah tersebut adalah dengan menciptakan metode pembelajaran yang kreatif dan bervariasi sehingga siswa lebih dapat menikmati setiap proses dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa memiliki motivasi dalam belajar akan berdampak pada hasil belajar siswa pula. Ada berbagai model pembelajaran yang dapat
diterapkan dalam kegiatan pembelajaran namun tidak semua model pembelajaran sesuai dengan materi sehingga diperlukan kreatifitas bagi guru untuk menentukan model pembelajaran yang tepat dan menarik. Tidak hanya model pembelajaran yang dapat mendukung meningkatnya motivasi siswa dalam belajar namun juga media yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran juga akan mempengaruhi hasrat siswa untuk belajar, misalnya dengan menggunakan berbagai alat yang digunakan untuk melakukan permainan dibuat semenarik mungkin. Pemilihan metode pembelajaran juga harus memperhatikan kondisi kelas agar metode pembelajaran yang diterapkan tetap menjaga situasi kelas kondusif.
Melihat permasalahan di atas, peneliti bersama dengan guru mitra berdiskusi untuk menerapkan suatu metode pembelajaran alternatif selain metode ceramah dan tanya jawab, yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournamen(TGT).
Dalam metode ini ada beberapa tahapan yang dilakukan yaitu pembagian kelompok, permainan, pertandingan, dan pemberiaan penghargaan kepada kelompok. Pada awal pembelajaran guru akan menyampaikan dan menjelaskan materi dengan metode ceramah dan tanya jawab. Saat guru menjelaskan siswa sudah memiliki handout
sebagai refrensi untuk belajar. Selanjutnya, siswa akan dibagi dalam 6 kelompok yang setiap kelompok terdiri dari 4 siswa. Kelompok
dibentuk peneliti bersama dengan guru mitra karena guru mitra yang lebih tau sifat serta karakteristik setiap siswa. Setelah itu semua siswa berkumpul dalam kelompoknya masing-masing dan guru meminta siswa mendiskusikan soal yang telah disiapkan bersama kelompoknya masing-masing. Selanjutnya, siswa akan melakukan permainan dimana permainan tersebut sudah dirancang untuk membantu siswa dalam memahami materi. Permaianan dilakukan bersama dengan kelompok. Jenis permainan tersebut adalah make a match, dimana siswa bersama kelompoknya diminta untuk menjodohkan soal serta jawaban yang telah disediakan. Tahap selanjutnya setelah permainan adalah pertandingan yaitu setiap kelompok bertanding untuk menjadi yang terbaik. Jenis pertandingan tersebut adalah ranking 1. Pertandingan akan dilakukan secara individual untuk melihat keterlibatan siswa saat melakukan diskusi dan permainan. Setiap individu yang menjadi peserta turnamen merupakan perwakilan terhadap kelompoknya masing-masing sehingga setiap siswa dituntut untuk bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan kelompok. Setelah melakukan pertandingan adalah pemberiaan penghargaan, skor yang dimiliki oleh setiap kelompok akan diakumulasikan dan kelompok yang menjadi kelompok terbaik akan mendapatkan penghargaan. Dengan metode pembelajaran ini kegiatan belajar mengajar berpusat kepada siswa sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pengawas selama proses pembelajaran berlangsung.
Hasil belajar siswa pra-implementasi tindakan peneliti melihat hasil ulangan siswa pada materi Kas Kecil, hasil belajar tersebut yang akan menjadi dasar pembanding untuk melihat perubahan yang terjadi. Berikut ini adalah data hasil belajar siswa pra-implementasi tindakan dengan materi Kas Kecil.
Tabel 5.6
Hasil Belajar Siswa Pra-implementasi Tindakan Pada Materi Kas Kecil
No NIS Nama Nilai
Ketuntasan Belajar Tuntas Tidak
1 132 Aditya Wisnugraha 72 √
2 038 Amanda Trias Dewanti 79 √ 3 050 Anastasia Rita Rahayu 85 √
4 125 Avelina Iva 75 √
5
128 Bernadeta Yanuariksa Dua
Bapa 75 √
6 126 Bibiana Nona Lilianti Gela 75 √ 7
063 Brigita Nawang
Suryaningtyas 75 √
8 003 Chisna Bramasta 72 √
9 036 Corina Widyaningrum 75 √
10 0135 Daniel Budi Utomo 72 √
11 015 Eka Wahyuningsih 72 √
12 127 Emanuel Fernando Gare 80 √
13 117 Emanuel Laka 72 √
14 052 Fransisco Hutasoid S. 70 √
15 044 Fx. Joko Harsono 70 √
16 110 Hendrikus Rangga 75 √
17 009 Inung Dwi Prasetyo 75 √
18 023 Ira Ratnaningsih 80 √
19 029 Kristina Solikah 75 √
20 115 Lilis Karlina Sute 72 √
21 123 Lusia Sere 75 √
22 114 Maria Elisabeth Lisa 75 √ 23 116 Maria Erviana Dei 79 √
Berdasarkan data hasil belajar siswa pra-implementasi tindakan yang peneliti dapatkan dari guru mitra, terlihat siswa yang mengalami ketuntasan sebanyak 15 siswa atau 63% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 9 siswa atau 38%. Nilai ketuntasan belajar untuk mata pelajaran Akuntansi di SMK Putra Tama Bantul adalah 75 dan kriteria keberhasilan PTK adalah 70%. Apabila jumlah siswa yang mendapat nilai 75 tercapai minimal 70%, maka pencapaian tersebut dikatakan memenuhi ktriteria dan tuntas. Dari data di atas jumlah siswa yang mencapai KKM lebih kecil dari 70% maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa rendah dan belum tuntas.
Peneliti tertarik menggunakan metode pembelajarancooperative learning tipe TGT ini karena menurut peneliti metode ini dapat membantu siswa dalam memahami materi menyusun rekonsiliasi bank dimana setiap tahap dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk bisa bertanggungjawab terhadap kelompok dan dirinya sendiri. Setiap siswa dapat belajar menjadi teamwork yang baik dengan metode ini siswa dapat saling membantu temannya untuk memahami materi sehingga seluruh siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran. Diakui metode pembelajaran ini memang terlihat rumit karena