• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

1. Observasi pendahuluan

Observasi pendahuluan dilaksanakan pada Selasa, 13 Januari 2009 yaitu pada pukul 13.00-13.45 WIB. Guru mitra dalam penelitian ini adalah Ibu Catharina Cahyadiyanti S.Pd sebagai guru bidang studi ekonomi. Jumlah siswa kelas X-E pada tahun ajaran 2008-2009 adalah 21 siswa yang semuanya

berjenis kelamin perempuan. Adapun materi yang dipelajari pada siklus pertama ini adalah pokok bahasan ekonomi mikro dan makro dengan standar kompetensi memahami kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi, kompetensi dasar mendeskripsikan perbedaan antara ekonomi mikro dan ekonomi makro, sub pokok bahasan pengertian ekonomi mikro dan makro, perbedaan antara ekonomi mikro dan makro, dan contoh di masyarakat tentang ekonomi mikro dan ekonomi makro. Dalam observasi pendahuluan ini, ada tiga hal yang diobservasi yaitu guru, perilaku siswa, dan kelas. Berikut dapat diuraikan hasil dari observasi pendahuluan :

a. Observasi guru (observing teacher)

Kegiatan guru selama proses pembelajaran tampak dalam catatan anekdotal hasil observasi kegiatan guru (lampiran 4a). Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam kepada siswa, guru memeriksa kesiapan siswa dan dilanjutkan dengan mempresensi siswa. Setelah itu, guru melakukan apersepsi mengenai pelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan memberikan uraian tentang materi yang sebelumnya. Hal ini guna merangsang perhatian siswa dalam memasuki materi yang akan dipelajari. Selanjutnya guru mulai masuk ke dalam materi pembelajaran. Selama menjelaskan materi guru cenderung menggunakan metode ceramah sehingga peran guru dirasa lebih dominan dibandingkan dengan peran siswanya, hal ini dikarenakan dari waktu yang tersedia sebagian besar dimanfaatkan guru untuk berceramah dibandingkan waktu

untuk siswa mengolah pengetahuan yang telah disampaikan kepada mereka. Selama pembelajaran guru tidak memanfaatkan media yang tersedia, guru hanya menyampaikan materi secara lisan. Guru juga memberikan contoh terkait dengan materi yang sedang dipelajari, namun terkadang pembicaraan justru keluar dari pokok permasalahan sehingga dapat mengalihkan perhatian siswa. Guru juga menegur siswa yang membuat kegaduhan di kelas. Interaksi antara guru dan siswa juga dirasa kurang, hanya beberapa siswa yang berinteraksi dengan guru sehingga suasana kelas tampak menjadi kaku. Selama proses pembelajaran guru lebih sering berada di depan sehingga kurang dapat memantau kegiatan seluruh siswa. Jika ada kesulitan guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya agar siswa tidak merasa bingung dengan kesulitan yang dihadapi. Di samping itu, di pertengahan pelajaran ketika ada kesulitan yang dihadapi guru menyuruh siswa untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan teman sebangku. Selama diskusi berlangsung guru tidak mengobservasi kegiatan siswa selama diskusi, guru hanya sekedar melihat kegiatan siswa dari depan kelas. Karena adanya kebingungan maka guru memberikan rangsangan pemikiran kepada siswa guna lebih mempermudah dalam memecahkan masalah, namun guru tidak memberikan dorongan kepada semua siswa agar dapat bekerja sama dengan baik. Interaksi guru dengan siswa hanya sebatas untuk memberikan penjelasan atau menjawab pertanyaan dari siswa dan tidak

untuk meningkatkan semangat kerja siswa. Setelah diskusi dirasa cukup, guru menawarkan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat dari hasil diskusi mereka. Pada akhir pembelajaran, guru tidak menarik kesimpulan dari pembelajaran yang telah berlangsung, guru hanya memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi yang berikutnya. Karena merupakan jam terakhir maka guru berdoa bersama-sama dengan siswa kemudian mengucapkan salam. Dari seluruh rangkaian kegiatan guru tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3

KEGIATAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

No Deskriptor Ya Tidak Catatan

1 Guru membuka pelajaran √ Guru mengucapkan salam

2 Guru memeriksa kesiapan siswa √ Guru mengabsen siswa √ 3 Guru mengulas materi yang lalu

dan dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari

√ 4 Selama KBM peran guru lebih

dominan

5 Guru memanfaatkan media √ 6 Guru memberikan contoh konkrit

terkait dengan materi pelajaran

√ 7 Guru berinteraksi dengan seluruh

siswa dengan baik

√ Interaksi baik hanya dengan beberapa siswa 8 Guru memberikan kesempatan

untuk berdiskusi

√ Siswa berdiskusi dengan teman sebangku.

9 Guru memberikan rangsangan pemikiran kepada siswa.

10 Guru berinteraksi dengan siswa, menumbuhkan semangat kerja.

√ 11 Guru berinteraksi dengan siswa

dengan cara berdiri di depan untuk memberikan penjelasan atau menjawab pertanyaan dari siswa

12 Guru hanya memperhatikan beberapa siswa tertentu saja.

√ 13 Guru dan siswa sama-sama asyik

dengan pekerjaannya masing-masing sehingga suasana kelas menjadi kaku.

14 Guru membicarakan sesuatu di luar materi sehingga memicu kegaduhan kelas.

√ 15 Guru menegur siswa ketika siswa

melakukan kelalaian

√ 16 guru membimbing siswa membuat

rangkuman

√ 17 Guru memberikan tugas (PR/baca

buku/mencari informasi, dsb) untuk pertemuan berikutnya

√ 18 Guru menutup pelajaran dengan

mengucapkan salam.

b. Observasi perilaku siswa (observing student)

Perilaku siswa selama proses pembelajaran tampak dalam catatan anekdotal hasil observasi kegiatan siswa (lampiran 5a) dan lembar observasi keaktifan dan keterlibatan belajar siswa (lampiran 9a). Sebelum memulai pembelajaran siswa terlebih dahulu mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran. Siswa cukup berantusias pada awal mengikuti pelajaran, siswa mempersiapkan segala materi dan perlengkapan yang akan digunakan. Setelah siswa mempersiapkan diri, guru menjelaskan

materi pelajaran. Sebagian besar perhatian siswa tertuju pada penjelasan guru, namun ada beberapa siswa yang sibuk dengan kegiatannya sendiri seperti ngobrol dengan teman yang lain, melamun, memainkan benda-benda yang ada di dekat mereka. Peneliti menduga siswa merasa jenuh mendengarkan ceramah dari guru. Siswa menjadi lebih ribut lagi ketika guru memberikan contoh-contoh konkrit yang terkadang keluar dari topik pembicaraan. Hal ini dikarenakan pembicaraan cenderung mengacu ke arah “guyonan” dimana hal ini lebih dapat menarik perhatian siswa jika dibandingkan dengan membahas pelajaran, hal semacam ini sudah umum terjadi dari dulu hingga sekarang. Ketika ada kesulitan atau kebingungan siswa diminta berdiskusi dengan teman sebangku untuk memecahkan masalah namun tidak semua siswa berdiskusi dengan serius. Ada 8 siswa yang berdiskusi dengan serius. Setelah berdiskusi ada 2 siswa yang mencoba mengemukakan pendapat atau jawaban dari permasalahan yang masih dibingungkan tadi. Ketika waktu sudah habis, siswa diberi tugas untuk mempelajari materi yang berikutnya. Dikarenakan jam terakhir maka sebelum pulang siswa berdoa dan menjawab salam dari guru. Selama proses pembelajaran tercacat ada 2 siswa yang mengajukan pertanyaan, 3 siswa yang menjawab pertanyaan, dan ada 7 siswa yang mengerjakan tugas. Dari seluruh rangkaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4

Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran

No Deskriptor Ya Tidak Catatan

1 Siswa siap mengikuti pelajaran √ 2 Siswa memperhatikan penjelasan

guru

√ 3 Siswa membuat kegaduhan di

kelas

√ Ketika pertengahan pelajaran ada

beberapa siswa yang membuat kegaduhan dikarenakan merasa bosan

4 Siswa mengajukan pertanyaan √ Ada 2 siswa yang mengajukan

pertanyaan.

5 Siswa menjawab pertanyaan √ Ada 3 siswa yang menjawab

pertanyaan 6 Siswa aktif mengerjakan tugas √ Ada 7 siswa yang

mengerjakan tugas 7 Siswa aktif dalam diskusi √ Ada 8 siswa yang

aktif berdiskusi 8 Siswa mengemukakan/

menanggapi pendapat

√ Ada 2 siswa yang berpendapat 9 Siswa diberikan tugas (PR/baca

buku/mencari informasi, dsb) untuk pertemuan berikutnya

√ Siswa diberi tugas untuk mempelajari materi berikutnya

c. Observasi kelas (observing classroom)

Secara fisik ruang kelas sudah cukup memadai dan nyaman untuk melaksanakan kegiatan belajar dan pembelajaran. Di dalam kelas terdapat

2 white board, 1 papan pengumuman/ absensi siswa, 1 meja guru, meja

dan kursi yang dapat digunakan untuk 24 orang, ventilasi yang memadai, pencahayaan yang cukup, serta suasana yang tenang dan nyaman untuk

pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Saat itu, seluruh siswa hadir sehingga jumlah seluruhnya ada 21 siswa. Suasana serta aktivitas kelas selama proses pembelajaran tampak dalam catatan anekdotal hasil observasi kegiatan kelas (lampiran 6a). Suasana kelas ketika pergantian jam pelajaran awalnya kurang kondusif. Hal ini dikarenakan ketika pergantian jam pelajaran siswa harus mempersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan pada pelajaran yang berbeda. Saat guru masuk ke kelas dan meminta siswa untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran, mempresensi siswa, dan mengucapkan salam masih ada keributan-keributan kecil dikarenakan masih ada beberapa siswa yang asyik ngobrol dengan temannya. Suasana kelas mulai terkendali ketika guru menerangkan materi karena siswa harus memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Tetapi suasana mulai kurang kondusif ketika guru memberikan contoh konkrit dan terkadang keluar dari pokok permasalahan dikarenakan siswa terpancing membicarakan sesuatu di luar materi pembelajaran yang bisa dikatakan sebagai “guyonan”, peneliti menduga siswa merasa bosan dengan ceramah dari guru sehingga mereka merasa terhibur dengan hal tersebut. Ketika ada kesulitan siswa diminta untuk berdiskusi dengan teman sebangku. Selama berdiskusi kerjasama antar siswa kurang begitu baik, sebagian besar cenderung lebih berfikir sendiri-sendiri bahkan sibuk dengan aktivitasnya sendiri ditambah lagi lemahnya pengawasan dari guru sehingga suasana kelas kurang begitu

terkendali. Usai berdiskusi ada beberapa siswa yang berpendapat atau menjawab pertanyaan yang masih dirasa sulit tadi. Ketika waktu sudah habis, siswa diberi tugas untuk mempelajari materi yang berikutnya. Dikarenakan jam terakhir maka sebelum pulang siswa dan guru berdoa dilanjutkan menjawab salam dari guru. Dari seluruh rangkaian keadaan kelas tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5

Keadaan Kelas Selama Proses Pembelajaran

No Deskriptor Ya Tidak Catatan

1 Kondisi kelas mendukung untuk pelaksanaan KBM

√ 2 Ada sejumlah aturan yang harus

diikuti oleh para siswa

√ 3 Siswa mengalami kesulitan

dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.

√ 4 Buku-buku dan perlengkapan

siswa mudah ditemukan di kelas (lingkungan)

√ 5 Ada kegaduhan di dalam kelas

sehingga menghambat jalannya proses pembelajaran.

√ 6 Banyak siswa yang bertanya

kepada guru jika menghadapi kesulitan.

7 Kelas terorganisir dengan baik. √ Cukup terorganisir dengan baik

8 Selama berdiskusi siswa saling memberikan pendapat atau masukan.

Berdasarkan hasil observasi pada guru, perilaku siswa, dan suasana kelas serta wawancara dengan siswa berikut ini disajikan analisis situasi

pembelajaran dari hasil observasi pendahuluan. Selama pembelajaran berlangsung guru menggunakan metode ceramah dan diskusi. Metode ceramah merupakan suatu metode dimana guru mentransfer materi pembelajaran kepada siswa secara lisan. Guru menggunakan metode ceramah ketika menyampaikan materi pembelajaran serta memberikan penjelasan kepada siswa. peneliti menduga guru menggunakan metode ceramah karena disamping memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran juga lebih menghemat waktu. Dengan metode ceramah pada mulanya siswa masih antusias dalam mendengarkan penjelasan dari guru, namun lama-kelamaan siswa cenderung menjadi bosan sehingga akan mencari kesibukan sendiri seperti berbincang dengan siswa yang lain, memainkan benda-benda di sekitar mereka sehingga perhatian mereka terpecah. Sedangkan bagi kelas dengan penerapan metode ceramah pada awal-awal pelajaran berlangsung perhatian kelas memang tertuju pada penjelasan guru namun selanjutnya ketika siswa merasa bosan dan perhatian mereka terpecah maka akan memicu suasana kelas yang kurang kondusif sehingga dapat menghambat proses pembelajaran. Ketika ada siswa yang merasa bingung atau ragu-ragu terhadap suatu jawaban atau pertanyaan maka guru meminta agar siswa berdiskusi dengan teman sebangku. Hal ini mungkin bertujuan untuk mendorong siswa agar memikirkan suatu permasalahan secara bersama-sama sehingga akan mempermudah dalam menyelesaikannya. Ketika diskusi berlangsung tidak semua siswa berdiskusi dengan baik, sebagian cenderung bekerja secara

individu dan kurang serius, serta sebagian lagi berdiskusi dengan sungguh-sungguh. Peneliti menduga hal ini dikarenakan guru hanya sebatas memberikan rangsangan peminkiran saja, guru tidak mengawasi secara mendalam jalannya diskusi dan tidak memberikan dorongan kepada siswa untuk saling bekerja sama. Suasana kelas selama jalannya diskusi juga kurang begitu terkendali karena lemahnya pengawasan serta motivasi dari guru. Secara keseluruhan, peranan siswa dalam pembelajaran dirasa kurang karena guru berperan lebih dominan di dalam pembelajaran. Saat ini idealnya di dalam pembelajaran guru berperan sebagai fasilitator sedangkan siswa yang berusaha untuk menemukan atau memahami pengetahuan dengan kemampuan yang dimilikinya baik dengan membaca, berdiskusi, bertanya, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti menemukan beberapa permasalahan pembelajaran diantaranya rendahnya partisipasi aktif dari siswa selama proses pembelajaran. Hal ini tampak dari kemauan siswa selama proses pembelajaran berlangsung baik untuk bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, mengerjakan tugas, dan interaksi dalam diskusi dirasa masih tergolong rendah. Peneliti menduga akar dari permasalahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek diantaranya interaksi antara guru dan siswa yang dirasa kurang terjalin dengan baik, kebosanan siswa terhadap metode yang dipergunakan guru selama ini yang dirasa monoton dan tidak bervariasi, serta mental siswa yang kurang terdidik untuk berani berpendapat atau mengemukakan pendapat serta rasa percaya diri yang rendah. Dari

permasalahan tersebut, menurut peneliti alternatif pemecahannya yaitu perlunya menciptakan suatu proses pembelajaran yang bervariasi, dapat lebih memberdayakan kemampuan siswa, melatih mental siswa untuk lebih berani mengungkapkan sesuatu, lebih percaya diri, lebih bertanggung jawab, dan tentunya yang mendorong terciptanya suasana pembelajaran yang harmonis baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa. Untuk itu guru harus mampu menerapkan suatu metode yang berbeda dan variatif. Ada berbagai model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dimana masing-masing model memiliki langkah-langkah yang bervariasi.

Dari permasalahan tersebut, peneliti berkolaborasi dengan guru mitra bermaksud menerapkan suatu metode pembelajaran alternatif di samping metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab yaitu metode kooperatif tipe

jigsaw. Dalam metode ini tugas guru sebagai fasilitator terutama ketika

jalannya diskusi, jadi guru tidak lagi menjadi pusat pembelajaran melainkan siswa yang menjadi pusat pembelajaran. Guru tidak perlu berceramah panjang lebar seperti ceramah pada umumnya. Siswa juga tidak merasa jenuh mendengarkan ceramah dari guru karena dalam metode jigsaw siswa bekerja sama dengan siswa yang lain di dalam kelompok. Selama jalannya diskusi juga berbeda dengan diskusi yang biasanya. Jika diskusi pada umumnya siswa hanya membahas suatu masalah di dalam kelompok kemudian mencatat hasil diskusi dan jika perlu dilanjutkan dengan presentasi. Sekilas siswa memang terlibat aktif di dalam diskusi, namun jika dilihat lebih mendalam hanya

beberapa siswa yang aktif dan sungguh-sungguh dalam diskusi sedangkan siswa yang lain sibuk sendiri bahkan bergantung pada jawaban temannya. Berbeda dengan diskusi dalam metode jigsaw, dalam metode ini siswa berdiskusi dalam 2 kelompok (kelompok asal dan kelompok ahli). Semula siswa bergabung dengan kelompok asal dimana di dalamnya terdiri dari beberapa siswa yang mempunyai pertanyaan atau permasalahan yang berbeda-beda. Selanjutnya siswa bergabung dengan kelompok ahli dimana terdiri dari beberapa siswa yang memiliki permasalahan yang sama. Di dalam kelompok ahli siswa mendiskusikan permasalahan yang didapatkannya. Dengan menerapkan metode ini siswa lebih merdeka dalam mengungkapkan pendapat, pertanyaan, dan kesulitan mereka. Berbeda dengan diskusi pada umumnya, di sini selain berdiskusi siswa juga memiliki kewajiban untuk menjelaskan hasil diskusinya kepada siswa yang lain di dalam kelompok asal sehingga siswa mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskan materi yang didapatnya kepada siswa yang lain dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian secara tidak langsung siswa harus terdorong untuk dapat memahami materi yang didapatnya. Tugas guru adalah sebagai fasilitator bagi siswa jika siswa menemui kesulitan baik ketika berdiskusi dalam kelompok maupun ketika presentasi. Dengan menerapkan metode ini tidak menutup kemungkinan akan timbul banyak pertanyaan serta perdebatan dikarenakan perbedaan pendapat antara siswa satu dengan yang lainnya maka diharapkan suasana akan menjadi lebih hidup dan bervariasi.

Dokumen terkait