BAB II KUALITAS HADIS LOCKDOWN
H. Pendekatan Sejarah
I. Observasi
88
penderita pes sebanyak 11.384 orang. Jumlah itu kian menyusut dari tahun ke tahun. Pada 1916, jumlahnya tinggal 595 orang.127
I. Observasi
Covid-19 atau corona, yang sedang mewabah memaksa banyak negara melakukan lockdown atau menutup akses ke wilayah negara tersebut. Istilah lockdown karena wabah penyakit tersebut sebenarnya dijelaskan pula dalam hadis.128 Sebagaimana penulis bahas di sebelumnya.
Kebijakan negara dalam proses penanganan kasus virus corona, jika merujuk pada kebijakan nabi Muḥammad saw, kemudian diterapkan dalam konteks kekinian, menurut hemat penulis masih sangat relevan, apa lagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama muslim, akan lebih banyak menerima dibanding menolaknya, tinggal disesuaikan dan disiapkan mulai dari Struktur, Substansi dan Kultur, sehingga kebijakannya dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Misalnya melibatkan tokoh agama dalam mensosialisasikan kebijakan social distance/pembatasan sosial, pembatasan aktivitas dengan masyarakat dengan tujuan memberikan manfaat yang lebih besar dibanding muḍarat-nya.129
Hemat penulis, terkait pelaksanaan antisipasi maupun pencegahan wabah virus corona yang merambah ke berbagai unsur yaitu secara ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan
127 Ibid.
128 Admin, artikel dari; https://kumparan.com/kumparannews/nabi-Muḥammad-pernah-bicara-soal-lockdown-kala-wabah-landa-madinah-1t341MlSnt7/full terbit pada 18 Maret 2020. Dikutip pada 19
89
(IPOLEKSOSBUDHANKAM) dalam sebuah negara, merupakan suatu antisipasi yang harus dilakukan berbagai institusi sebagai upaya heroik karena di dalamnya mengandung unsur bela negara.
Sebagai orang yang beriman dengan memahami pengertian dan pendidikan Islam di atas dalam menghadapi covid-19, yang merupakan virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan Cina pada Desember 2019. Kita semua dapat bertafakkur juga dengan kisah yang pernah terjadi saat zaman kekhalifahan ‘Umar bin Khaṭṭab, dimana pada zaman pemerintahan beliau ini pernah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina, sehingga dinamakan demikian. Di dalam buku biografi ‘Umar bin Khaṭṭab karya Muḥammad Husein Haekal menjelaskan, wabah tersebut menjalar hingga ke Sham (Suri’ah), bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan memicu kepanikan massal saat itu. Di dalam sebuah hadis yang disampaikan ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengenai sabda Rasulullah saw: “Apabila kalian mendengar wabah ṭā‘ūn melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaih).130
Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat ‘Amr bin Ash ra memimpin Sham. Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah swt yang menyelamatkan Sham. ‘Amr bin ‘Ash berkata: “Wahai sekalian manusia,
130 Indriya, “Konsep Tafakur Dalam Al-Qur’an Dalam Menyikapi Coronavirus Covid-19” Salam: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i. Volume 7 Nomor 6 (2020), 10.
90
penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit.” Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. ‘Amr bin ‘Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Awamas mereda dan hilang sama sekali.
Dari kisah di atas kita semua dapat belajar dari orang-orang yang terbaik bersikap, dan juga yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Apa yang dapat kita ambil ibrah atau pembelajarannya adalah:
Pertama, Karantina
Sebagaimana sabda Rasulullah saw di atas, itulah konsep karantina yang hari ini dikenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat. Kita bisa melihat dari sebuah tabel di bawah ini, bersumber dari harian Washington Post.
Keterangan lengkapnya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Orang bergerak bebas, dimana orang menularkan corona secara bersamaan.
2. Kurva kedua dilakukan lockdown, sehingga ada waktu untuk bisa melakukan penyembuhan secara bertahap.
3. Kurva ketiga dilakukan “social distancing”, dengan berdiam diri di rumah dan mengurangi berbagai kegiatan sementara waktu.
91
4. Kurva keempat dilakukan dengan sangat extreme, dengan melakukan jam malam dan sangat ketat, untuk tidak keluar rumah bahkan diberikan jam waktu.131
Kedua, Sabar
Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali ‘Āishah bertanya kepada nabi Muḥammad saw tentang wabah penyakit. Rasulullah saw bersabda,
ىهلاصَ ِّالله الوُس ار ُتْلاأاس : ْتالااق ااههناأ ،اةاشَِّّئااع ْناع
الاع ُالله
ِّنُوُعاهطلا ِّناع امَهلاس او ِّهِْي
؟
اصَ ِّالله ُلوُس ار يِّن ارابْخاأاف
:امَهلاس او ِّهِْيالاع ُالله ىهل
”
ُهِهناأ
ْنام ىالاع ُالله ُهُِثاعْباي اًبااذاع انُااك
اي
،ُءَااشَّ
لا ُعاقاي ٍلُج ار ْنِّم اسْيالاف ،انيِّنِّم ْؤُمْلِّل ًةامْح ار ُهِالاعاجاف
ا ًرِّبااصَ ِّهِِّتُْياب يِّف ُثُكْماياف ،ُنُوُعاهط
ُالله اباتُاك اام هلَِّإ ُهُِبي ِّصُي الَ ُهِهناأ ُمَالْعاي اًبِّساتُْحُم
ال
ِّديِّههشَّلا ِّرْجاأ ُلْثِّم ُهِال انُااك هلَِّإ ُهِ
“
Dari ‘Āishah ra, bahwasanya dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang wabah (ṭā‘ūn), maka Rasulullah saw mengabarkan kepadaku: "Zaman dulu, wabah (ṭā‘ūn) itu adalah ‘adhab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (ṭā‘ūn) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala shahīd.” (HR Bukhari).132
131 Indriya, Konsep Tafakur Dalam Al-Qur’an Dalam Menyikapi Corona virus Covid-19 Salam: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i. Volume 7 Nomor 6 (2020), 21.
132 Al-Nawawi, Al-Minhaj, Sharah Ṣaḥīḥ Muslim Ibnil Hajjaj, juz VII (Kairo, Dār al-Ḥadith: 2001 M/1422 H), 466.
92
Ketiga, Berbaik Sangka dan Berikhtiar
Karena Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah Allah swt menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya.” (HARI Bukhari).
Dalam kisah ‘Umar bin Khaṭṭab berikhtiar menghindarinya, serta ‘Amr bin ‘Ash berikhtiar menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social distancing”, dilansir dari The Atlantic, tindakan yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus. Artinya juga sementara waktu menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia.133
Keempat, Banyak Berdoa
Perbanyak doa-doa keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah saw untuk dilafaẓkan di setiap pagi dan sore berikut ini: “Bismillahi ladhi laa yaẓurru ma‘asmihi, shai‘un fi arḍi wa la fi al-samā’i wa huwa sami‘ul ‘alīm.” “Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui. Barang siapa yang membaca dzikir tersebut tiga kali dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memuḍaratkannya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).134
93
Berdasarkan pemahaman Spiritualisme dan Rasionalisme dapat dikatakan juga, seseorang yang memiliki tingkat spiritual tinggi, maka akan memiliki hormon endorphin yang lebih banyak dibandingkan dengan yang tingkat spiritual rendah. Walaupun belum ditemukan penelitian secara ilmiahnya, namun logikanya secara sederhana bisa kita perhatikan pada orang yang jauh dari Allah swt, biasanya mudah mengalami stress, pada kondisi stress hormon yang bekerja adalah adrenalin, norepinephrine dan kortisol. Hormon stress akan menyebabkan asam lambung naik, sistem imun turun, sehingga mudah terkena penyakit. Sebaliknya pada oang-orang yang beriman dan tawakal, hormon oxytocin bekerja lebih baik, sehingga akan menghasilkan endorphin yang tinggi yang menimbulkan kedamaian, ketenangan sehingga sistem imun tubuh menjadi lebih kuat.135