• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Dimas Nurfauzi

Dalam dokumen RAGAM KARYA & CERITA DARI DESA NUSANTARA (Halaman 40-45)

PKBM Sinar Pagi merupakan sebuah yayasan yang berpusat

dan beroperasi di Desa Wonorejo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. Yayasan ini didirikan oleh Bapak Eko Wahyudi atau yang akrab di panggil warga sebagai Pak Eko yang juga merupakan warga asli dari Desa Wonorejo. Pada Awal yayasan ini berdiri, yayasan ini bergerak dalam bidang pendidikan. Setelahsaya melakukan wawancara dengan Pak Eko selaku pendiri sekaligus direktur dari yayasan PKBM Sinar Pagi, awal mula ide untuk mendirikan sebuah yayasan berbasis pendidikan dimulai ketika saat itu banyak terdengar kabar mengenai kristenisasi di beberapa daerah terlebih daerah-daerah pegunungan atau bisa disebut pelosok, dan yang menjadi salah satu sasaranya adalah Desa Wonorejo. Melihat kondisi penduduk desa yang masih awam dan sedikit tertinggal dalam hal pendidikan ini menyebabkan Desa Wonorejo bisa menjadi sasaran empuk untuk oknum-oknum yang ingin melakukan kristenisasi pada masyarakat. Melihat hal ini Pak Eko yang merupakan sosok aktivis sejak muda tidak tinggal diam, kemudian beliau menemukan sebuah ide untuk mendirikan sebuah yayasan yang mana yayasan ini di harapkan bisa menjadi tameng dan membantu masyarakat menolak adanya proses kristenisasi di Desa Wonorejo. beliau beranggapan “Karena saya (Pak Eko) masih

32

kurang begitu paham dan lihai mengenai keagamaaan seperti halnya mengaji kitab, Al Qur’an dan pendidikan islam lainya, maka dari itu saya berfikir apa yang harus saya perbuat agar setidaknya mengantisipasi atau pun mengurangi masalah yang mulai timbul di Desa Wonorejo. Saya beranggapan kalau yang dituju adalah masyarakat yang sudah berumur atau bisa dibilang kaum tua maka ini akan sulit karena akan berbenturan dengan paham masing-masing maka dari itu saya mendirikan yayasan Sinar Pagi yang mengarah kepada pendidikan anak-anak, sepertihalnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kannak-kanak (TK).”tutur beliau.

Pada awalnya yayasan ini hanya bernama Yayasan Sinar Pagi, untuk beralih nama atau mengimbuhi nama PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) harus memenuhi syarat yaitu yayasan tersebut harus memiliki tiga lembaga. Setelah adanya lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan juga Taman Kanak-kanak (TK), Sinar Pagi mendirikan satu lembaga lagi yaitu Taman Baca Siswa. Respon masyarakat dengan adanya Yayasan PKBM Sinar Pagi begitu bagus masyarakat sangat antusias untuk mensekolahkan anak-anaknya di Sekolah PAUD maupun TK yang Yayasan PKBM Sinar Pagi miliki, hal ini terjadi karena sebelum berdirinya PKBM Sinar Pagi hanya ada satu tempat pembelajaran untuk anak-anak sebelum menginjak bangku Sekolah Dasar. Hal ini membuat PKBM Sinar Pagi mempunyai sebuah konsep tata letak TK dan PAUD yang bertujuan agar semua wilayah yang berada di Desa Wonorejo bisa mengakses pendidikan yang yayasan sediakan khususnya untuk anak-anak. Pada akhirnya Yayasan mengambil keputusan untuk tempat mengajar setiap dua dusun paling tidak mempunyai satu tempat yang digunakan untuk kegiatan mengajar sehingga akan merata, hal ini juga disebabkan Desa Wonorejo yang lumayan luas.

Seiring berjalanya waktu PKBM Sinar Pagi juga mulai memperhatikan pendidikan masyarakat tidak hanya anak-anak saja namun juga pemuda desa. Melihat kondisi dari pemuda Desa Wonorejo yang mayoritas hanya berpendidikan SMP bahkan ada juga yang hanya sampai SD, Yayasan berinisiatif untuk membuka

33

kegiatan kejar paket A, B, dan C untuk memfasilitsi masyarakat yang belum terfasilitasi pendidikan formal, sehingga mereka yang belum merasakan sekolah di jenjang yang lebih tinggi bisa sekolah disini. Hal tersebut membuat warga Desa Wonorejo semakin terbantu dengan adanya PKBM Sinar Pagi, tidak hanya pemuda saja namun orang tua yang sudah berumah tanggapun sangat antusias untuk mengikuti program kejar paket yang di adakan yayasan. Bahkan untuk program kejar paket ini tidak hanya di Desa Wonorejo, desa-desa tetanggapun banyak yang mendaftar program kejar paket PKBM Sinar Pagi. Dan untuk memudahkan pengajaran kejar paket dari desa lain yayasan juga merekrut beberapa anggota yang berdomisili di luar desa.

Setelah berhasil mengagagas beberapa program dalam bidang pendidikan PKBM Sinar Pagi mulai mempertimbangkan untuk terjun dalam bidang ekonomi hal ini diutarakan oleh Pak Eko selaku direktur yayasan. “pada tahun 2016 kami mencoba menggagas tentang kebutuhan mendasar. Jadi kami beranggapan bahwa pendidikan yang utama adalah yang bisa memberi solusi masalah yang dihadapi masyarakat terlebih dalam bidang ekonomi. Disini kami agak terlalu berani, pada saat itu target saya adalah farming education center for global standart yaitu bagaimana produk lokal ini masuk kedalam produk global jadi kami sempat bekerja sama dengan PASKOMNAS (pasar komoditi nasional) di Jakarta yang bisa menerima produk lokal dari masyarakat. Dan kami juga bekerja sama dengan FPI (Frount Pers Indonesia) yang berada di dekat bandara Soekarna-Hatta yang bisa memfasilitasi dalam bidang eksport import.”ujar beliau. Pada awalnya program ini berjalan cukup baik, yayasan mampu mengikuti standar produk global yang ditentukan, yayasan juga mampu memproduksi lumayan banyak sayuran dan rempah-rempah seperti jagung manis, jahe, jeruk limao, kangkung, kacang panjang, kemiri dll. Namun pada tahun 2018 yayasan mulai kesulitan untuk memenuhi standart yang di tentukan oleh pasar global yang dirasa cukup berat, hingga PKBM Sinar Pagi

34

akhirnya memutuskan untuk berhenti mensuplai produk lokal yang di miliki.

Mearasa gagal dalam upayanya untuk masuk dan eksis dalam pasar global PKBM Sinar Pagi membuat program baru yang mereka lebih fokuskan dalam menggali potensi masyarakat. Dalam program baru ini PKBM Sinar Pagi mengajak langsung masyarakat untuk ikut serta dalam program yang diadakan dan yang nantinya program ini diharapkan bisa terus berkembang dan bisa menghasilkan manfaat baik berupa financial maupun skil. Pada program baru ini PKBM Sinar Pagi tidak hanya berlingkup satu desa tapi merangkul empat desa. Pak Eko selaku direktur dari yayasan yang merupakan aktivis yang sudah terkenal di daerahnya mempunyai banyak patner yang kemudian akan diterjunkan dalam bidangnya masing-masing kesetiap desa. Untuk mampu menggali sebuah potensi dari satu desa kedesa lainya PKBM Sinar Pagi membentuk sebuah distrik-distrik atau bagian, jadi satu desa akan difokuskan dalam satu bidang. Keempat desa yang menjadi sasaran dari PKBM Sinar Pagi diantaranya adalah :

Desa Wonorejo Untuk Desa Wonorejo kami jadikan basis industrial yaitu industri jahit dan keset.

 Desa Mulyosari

Untuk Desa Mulyosari ini kami jadikan basis wisata dan pertanian. Salah satunya ada di wisata taman Khayangan disana ada greenhouse yang mulai kami garap menuju ke yang lebih modern.

 Desa Segawe

Untuk Desa segawe kami jadikan basis budaya. Disana ada pembelajaran kebudayaan seperti karawitan dan sebagainya.

 Desa Samar

Untuk Desa Samar ini kami jadikan basis pesantren atau ilmu keagamaan. Disana diajarkan cara mengaji kitab dan juga ada grub-grub sholawat.

Desa Wonorejo merupakan salah satu dari keempat desa yang PKBM Sinar Pagi pilih untuk program yang diadakan. Desa Wonorejo menjadi pusat dari industri jahit dan keset .”Jadi untuk industri jahit

35

dan keset ini saling berhubungan, untuk jahitnya kami mempunyai kurang lebih 15 penjahit binaan kami, disini yang kami gandeng adalah masyarakat yang kurang beruntung dalam hal pendidikan dan ekonomi jadi untuk mesinnya yayasan yang belikan nanti bisa di bawa pulang untuk hasilnya nanti bisa disetor lagi ke yayasan untuk dipasarkan. Untuk kesetnya sendiri bahan dasarnya adalah sisa kain dari penjahit kemudian kami sebarkan kepada masyarakat yang ingin memproduksi keset yang sebelumnya sudah kami beri penjelasan tantang tata cara pembuatanya, dan hasilnya nnti bisa dijual sendiri atau dititipkan ke yayasan untuk disetorkan kepada supplier” ujar Pak Eko. Untuk hasil dari industry jait ini berupa seragam-seragam sekolah yang kemudian akan disetorkan oleh yayasan kepada supplier. Selain seragam juga ada pakaian dalam laki-laki yang juga di garap oleh para penjahit yang dimiliki oleh PKBM Sinar Pagi. Selain itu limbah dari hasil jait ini yang berupa potongan kain-kain dimanfaatkan untuk dibuat keset, dan program ini bebas untuk masyarakat tidak dipungut biaya, yayasan juga menampung hasil karya dari masyarakat yang kemudian akan disalurkan dan membuahkan hasil finansial bagi masyarakat dan juga yayasan.

36

MAGOT, SI KECIL YANG MENGATASI

Dalam dokumen RAGAM KARYA & CERITA DARI DESA NUSANTARA (Halaman 40-45)