• Tidak ada hasil yang ditemukan

oleh kampus.”

Dalam dokumen GERBANG PARA PEMIMPI (Halaman 100-102)

Itulah fakta, dan Anda mungkin heran dan kecewa. Tapi pasti, nanti akan terbiasa. Apakah Anda kan larut dengan fenomena itu, atau melakukan perubahan budaya akademik? Jadilah teladan dan inspirasi di lingkungan akademis anda!

Kehidupan Bertetangga

Indonesia adalah negara yang disebut-sebut memiliki tradisi ketimuran. Kehidupan bertetangga di negeri ini mungkin berbeda dengan kehidupan di luar negeri. Kehidupan bertetangga di Indonesia lebih guyub, dan dihiasi banyak kegiatan dalam masyarakat. Menghadiri acara pernikahan, perkumpulan RT, kegiatan organisasi, kegiatan di masjid, dan bahkan mungkin acara ronda. Mungkin saja, kita merasakan bahwa energi yang diperlukan untuk menghadiri pelbagai acara itu cukup banyak dan menyita waktu. Akan tetapi, kita harus mampu menyesuaikan dengan ritme kehidupan masyarakat tanpa kehilangan fokus kerja dan mengurangi kinerja kita.

Lingkungan tempat kita tinggal pun barangkali menentukan pola hidup masyarakat. Ada yang tertib, kurang tertib dan sangat idak tertib dalam banyak hal. Misalnya membuang sampah rumah tangga sembarangan, dan tidak adanya sistem pengelolaan sampah di kampung tempat kita tinggal yang dikelola secara terintegrasi dan professional seperti yang anda saksikan di luar negeri.

Kehidupan Jalan Raya

Kehidupan di jalan raya adalah kehidupan yang mungkin paling membuat shock bagi orang yang sudah lama tinggal di luar negeri, khususnya di Eropa dan Amerika. Padatnya arus lalu lintas dan perilaku berkendaraan yang tidak disiplin dan tidak beraturan adalah salah satu faktornya. Ketidaktersediaan sarana transportasi umum/masal yang memadai adalah faktor lain yang menjadikan jalan raya menjadi tempat yang semerawut, terutama di kota-kota besar. Sudah pasti, kenyamanan mengendarai kereta api, tram, dan bus untuk kegiatan rutin tiap hari seperti yang ada di negara-negara maju, masih belum bisa dirasakan di Indonesia. Karena itu, ketika kita tidak terbiasa mengendarai kendaraan sendiri, baik roda dua atau roda empat, karena sarana transportasi umum yang memadai di luar negeri, maka kita akan dipaksa untuk membeli kendaraan sendiri di dalam negeri, menyetir sendiri dan ikut larut dalam hiruk pikuk jalan raya. Begitu pula dengan fenomena anak jalanan dan pengamen jalanan yang mangkal di hampir setiap lampu merah, pelanggaran lalu lintas, razia lalu lintas oleh kepolisian yang kadang mencari

Bab 10_Persiapan Pulang

95 kesalahan kecil dan tidak penting dari penumpang, dan kebiasaan untuk denda ditempat oleh petugas kepolisian, selain bisa membuat heran juga membuat kita bertanya-tanya, ada apa dengan bangsa ini. Lagi-lagi, kita harus siap menghadapi semua itu. Kehidupan jalanan yang keras dan semrawut nampaknya akan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Mental yang kuat dan kesabaran serta konsistensi dalam perilaku berkendaraan yang tertib adalah kunci untuk bisa menjalani kehidupan di dalam negeri, khususnya di kota-kota besar.

Mencari Peluang dan Membangun Jaringan Baru

Hal yang harus segera dilakukan begitu tiba di Indonesia adalah mengaktifkan kembali seluruh jaringan yang pernah kita miliki di masa lalu. Salah satu konsekuensi dari studi di luar negeri adalah semakin renggangnya jaringan yang kita miliki dengan kolega maupun kesempatan- kesempatan yang sudah diisi orang lain. Fenomena tersebut adalah hal biasa yang harus dihadapi oleh seorang ‘pendatang baru’. Namun, demikian, hal itu sejatinya tidak menyurutkan kepulangan kita ke negeri ibu pertiwi, dan malah harus dijadikan sebagai tantangan untuk berkarir.

Kita harus dapat memahami bahwa studi lanjut di luar negeri adalah bagian integral dari proses pembinaan karir yang kita miliki di dalam negeri. Masa studi adalah masa-masa bersemayam, masa menggalian potensi, masa pendalaman kemampuan akademis dan professional, dan masa kita mematangkan keterampilan di bidang kita secara keilmuan. Lepas dari itu, kita masuk ke dalam masa transisi untuk kemudian ke bergelut dalam dunia nyata di dunia kerja, baik di bidang akademik mapun lembaga professional. Dalam konteks inilah, merajut kembali jaringan diperlukan. Tentu saja membuat jaringan baru atau mengaktifkan jaringan lama tidaklah mudah dan butuh proses. Kita tidak bisa berangan-angan ataupun berharap secara berlebihan akan posisi-posisi baru dan strategis karena banyak faktor yang menentukan proses pengembangan karir seseorang ketika baru kembali ke tanah air, faktor iklim akademik di peruruan tinggi, masalah jadwal rotasi, masalah politik, dan sebagainya.

Satu hal yang harus dipegang teguh oleh para ilmuan dan sarjana yang akan kembali ke Indonesia adalah membuktikan kapasitas yang dimilikinya serta kemampuan khusus yang dikuasainya. Tunjukanlah bahwa kita punya karya dan mampu terus berkarya. Kita tidak perlu khawatir bahwa kita akan kehilangan tempat. Sebaliknya, kita harus yakin bahwa orang akan menghargai karya nyata yang telah kita perbuat. Dengan kapasitas, kemampuan khusus, dan keahlian yang kita miliki, tentu akan banyak peluang yang terbuka di luar sana. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengisi peluang tersebut.

Bab 10_Persiapan Pulang

96 Hidup di dunia perguruan tinggi bukan hanya dimaknai sebagai sebuah kerja-kerja professional, melainkan juga sebuah pengabdian. Tentu saja konsep professionalisme dan pengabdian berbeda, meskipun satu dengan lainnya akan memiliki irisan yang sama. Pengabdian dalam didunia kerja, termasuk dalam dunia akademik, didasarkan pada komitmen dan dedikasi untuk mengembangkan ilmu pengetahun yang dilakukan dengan cara-cara yang professional. Kita berkomitmen untuk mengembangkan institusi tempat kita mengabdi dan sekaligus meningkatkan karir kita sebagai seorang akademisi atau seorang professional. Pengalaman studi di luar negeri di kampus- kampus yang memiliki tradisi akademiik yang kuat setidaknya memberikan pengalaman dan visi bagi kita ke arah mana lembaga tempat kita mengabdi akan kita kembangkan.

Mungkin juga pengabdian dimaknai dalam makna tradisionalnya, yaitu dikaitkan dengan konsep reward dari kerja-kerja kita. Bila kita mengukur segala sesuatunya dengan rupiah, tentu tidak akan ada cukupnya. Selalu saja merasa kurang dan mungkin akan membuat kita tinggi hati, membandingkan pernghargaan terhadap karya yang telah kita buat dengan rupiah yang kita dapatkan. Tetapi harus kita catat bahwa konsep reward juga berkelindan dengan punishment. Bila kita tidak berprestasi, maka siap-siap saja untuk menerima hukumannya, terutama dari publik. Mungkin publik akan menilai, “ternyata alumni universitas ini dan itu tidak ada apa- apanya.” Karena itulah, kita harus bersikap adil dalam memaknai pengabdian, reward, penghargaan, dan kinerja.

Dalam dokumen GERBANG PARA PEMIMPI (Halaman 100-102)