• Tidak ada hasil yang ditemukan

Omnivora-univora Sebagai Kuasi Distinction

4 TINJAUAN ATAS KRITIK TERHADAP DITINCTION

4.2 Omnivora-univora Sebagai Kuasi Distinction

Peterson dan Kern (1996) mengklaim bahwa omnivora-univora merupakan bentuk baru distinction menggantikan homologi struktural. Klaim ini kemudian dieksplorasi secara khusus oleh Bryson (1996) dan Warde (2008) dengan pendekatan metodologis berbeda yang mengkonfirmasi klaim tersebut bekerja secara nyata dalam realitas sosial atau memiliki evidensi empirisnya. Namun persoalan-persoalan teoritis dan metodologis yang terkandung di dalam pendekatannya membuat klaim dan konfirmasi empiris tersebut, dalam batasan tertentu, adalah kuasi distinction.

Persoalan teoritis dan metodologis yang fundamental adalah mengoperasionalisasikan modal budaya berdasarkan bentuk objektif modal budaya. Operasionalisasi modal budaya berdasarkan bentuk objektfinya ini berangkat dari pembacaan bahwa selera kelas atas adalah eksklusif snob atau hanya mengkonsumsi objek-objek legitim dan menolak objek-objek kultural non- legitim. Dengan demikian Distinction dibaca sebagai teori tentang bagaimana kelas atas menggunakan produk-produk legitim untuk membangun garis batas kelas dan memisahkan dirinya dengan kelas bawah.

Dalam telaah yang berhati-hati melalui perbandingan apple to apple atas klaim omnivora-univora dan Distinciton, Lizardo (2013: 4-12) menunjukkan bahwa Distinction bukan teori tentang bagaimana kelas atas menggunakan objek- objek legitim untuk membangun garis batas kelas sebagaimana dipahami tesis omnivora-univora, tetapi memaparkan bahwa garis batas kelas dibangun baik oleh kelas atas maupun kelas bawah melalui pertentangan habitus kelas di antara keduanya. Kelas atas menerapkan estetiska Kantian yang lebih mementingkan

bentuk daripada fungsi dan menolak estetika popular kelas bawah yang, di sisi lain, menekankan pada fungsi dan menolak perayaan atas bentuk (anti-Kantian aesthetic).

Dalam hal ini, alih-alih objek-objek kultural (khususnya objek-objek legitim), yang menentukan pembedaan (distinction) adalah habitus kelas. Dalam kaitan itu Lizardo (2013: 21-22) memandang bahwa kebanyakan analis gagal mengapresiasi fakta bahwa teori selera Bourdieu mengajukan suatu sosiologi kognitif (cognitive sociology) tentang perbedaan-perbedaan disposisi estetis berbasis kelas. Bahwa menurut perspektif Bourdieu disposisi estetis diproduksi oleh skema kognitif (habitus kelas) yang secara asali menjadi penanda kelas (sebab diproduksi secara tertutup atau domestik dalam lingkungan skolastik). Habitus kelas memberikan kemampuan kepada anggota kelas atas untuk memperluas dan mentransformasikan bentuk formal apresiasi estetis yang semula ditujukan khusus untuk produk-produk seni murni (legitim) ke semua objek konsumsi budaya yang umum ataupun yang kurang legitim. Mengutip Bourdieu (1984: 3), Lizardo mengungkapkan bawah dalam perspektif Bourdieu disposisi estetis sejatinya merupakan kemampuan untuk mengenali objek pada dirinya sendiri (in and for them selves) sebagai bentuk daripada fungsi bukan hanya pada karya-karya legitim, tetapi semua yang ada di dunia ini, termasuk objek-objek kultural yang tidak tergolong adiluhung. Menurut Lizardo kemampuan untuk mentransformasikan skema kognitif yang sama pada objek-objek berbeda tidak hanya pada objek kultural legitim inilah yang menjadi kunci distinction.

Persoalan habitus kelas tersebut gagal ditangkap tesis omnivora-univora dengan mengoperasionalisasikan modal budaya dalam bentuk objektinya. Berangkat dari pijakan yang sama, dalam tinjuan kritisnya atas kecenderungan operasionalisasi teori selera Bourdieu berdasarkan bentuk objektif modal budaya dalam sosiologi budaya Amerika, Holt (1997) berpendapat bahwa distinction tidak ditentukan oleh bentuk objektif modal budaya yang terdapat dalam seni legitim, tetapi oleh modal budaya dalam bentuknya sebagai disposisi yang menubuh dalam pikiran dan tubuh agen (embodied cultural capital).

Menurut Holt teori selera Bourdieu bukan sebuah konstruksi nomotetik. Objek-objek kultural yang dideskripsikan Bourdieu sebagai sarana untuk mengkpresikan selera yang bersifat ekslusif di Prancis 1960an tidak harus beroperasi di semua seting sosio-historis yang berbeda. Alih-alih sebuah teori nomotetik, teori selera Bourdieu merupakan suatu sintesa antara kondisi sosial, selera, arena konsumsi budaya dan reproduksi sosial yang perlu disesuaikan dengan konteks partikular konfigurasi historis tertentu (Holt, 1997: 100).

Dalam masyarakat posmodern di mana batas antara seni tinggi dan seni populer sangat cair, menurut Holt distinction tidak diakuisisi melalui konsumsi atas objek-objek legitim, tetapi melalui konsumsi dengan cara yang langka yang tidak dapat dijangkau oleh mereka yang bermodal budaya rendah (Holt, 103).

Dalam konteks yang lebih kontemporer argumentasi tersebut menemukan validitas empirsinya dalam riset Friedman tentang bagaimana kelas dominan menginkorporasi komedi menjadi arena distinction di Inggris kontemporer.

dominan mengaktifkan embodied cultural capital yang diperolehnya untuk membaca dan mendekode selera dalam cara yang tidak dapat diakses oleh kelas- kelas lain.

Kelas dominan menerapkan skema nir-kepentingan (disinteresness) dalam mengapresiasi yaitu menilai komedi dari bentuk formalnya; menggunakan kategori-kategori klasifikasi seperti intelektual, ambigu, gelap, kompleks dan eksperimental dalam pilihan dan penilaiannya atas komedi yang bagus dan mengekspresikan ketidaksukaannya atas komedi yang buruk dengan kategori seperti vulgar, hanya sekadar lucu dan menghibur (Friedman, 2011: 22-24).

Kategorisasi tersebut merupakan strategi membedakan diri (distinction) dengan kesenangan barbar (barbarous pleasure) selera rendah kelas bawah. Di mana Friedman secara empris menemukan bahwa kelas bawah, atau responden dengan modal budaya rendah, cenderung memandang komedi selalu sebagai hiburan; melihat komedi terutama dari fungsinya sebagai acara yang menghibur, yang membuat tertawa dan membuat nyaman (Friedman, 2011: 22-31).

Melalui strategi di atas, seperti disimpulkan Friedman (2011: 37-38), yakni dengan menerapkan mode apresiasi yang berbeda (distinct) atas komedi, kelas dominan memobilisasi arena komedi menjadi instrumen distinction. Alih- alih bentuk objektif modal budaya, menurut Friedman, yang membedakan kelas dominan di dalam arena komedi adalah embodied cultural capital.

Temuan Friedman tersebut menggambarkan bahwa dalam masyarakat kontemporer hirarkisasi selera dan objek-objek kultural berbasis kelas terutama

dilakukan melalui cara atau praktik mengkonsumsi. Hal ini tidak dapat ditangkap dengan mengoperasionalisasikan modal budaya dalam bentuk objektifnya. Argumen tesis omnivora-univora bahwa terjadi pergesaran relasi antara kelas dan selera dari homologi struktural ke relasi omniore-univora tidak adekuat dalam konteks ini. Hal ini juga ditunjukan oleh Friedman (op.cit) bahwa dalam pengungkapan statistik sebagian responden kelas atas terlihat eklektik omnivora, namun setelah didekati mode-mode apresiasinya, selera terstratifikasi secara homologis dengan kelas sosial.

Dalam batasan tersebut dapat dibangun argumentasi bahwa klaim tesis omnivora-univora mengenai relasi antara selera dan kelas sosial dalam bentuk omnivora-univora merupakan bentuk baru distinction adalah kuasi distinction.

Dalam pengertian bahwa relasi tersebut hanya menggambarkan distinsi dalam preferensi objek-obek, tetapi tidak menggambarkan aspek yang paling menentukan yaitu cara mengkonsumsi. Dalam hal ini, sebagai kuasi distinction,

tesis omnivora-univora tidak adekuat menjelaskan fungsi sosial selera dalam proses reproduksi kelas. .

Dokumen terkait