Bab V. Catatan Penutup
1. Open source Sebagai Gerakan Sosial Baru
Dunia telah menyaksikan perjuangan kaum tertindas melawan ketidakadilan. Jenis, bentuk, sifat, organisasi dan lain-lain yang menjadi karakteristik gerakan perjuangan tersebut, berujung pada satu tujuan, yaitu melawan ketidakadilan, eksploitasi dan kesewenang-wenangan.
Di awal ini telah disinggung tentang kemunculan gerakan sosial baru. Gerakan ini dipahami sebagai lawan dari gerakan sosial lama. Di negara-negara yang lebih dulu mengalami industrialisasi, gerakan buruh merupakan sentral dalam gerakan sosial lama, sehingga partai buruh dan partai komunis yang mendukung gerakan ini tumbuh subur. Selain itu gerakan orang Katolik di Jerman dan Italia yang dilakukan sejak akhir abad ke 19 untuk menerapkan ajaran sosial Katolik, juga dikelompokkan kedalam gerakan sosial. Demikian halnya dengan gerakan fasisme.
Seiring perkembangan waktu, terutama pasca Perang Dunia II, variasi gerakan sosial mengalami perkembangan yang sangat beragam. Perkembangan jaman dan makin kompleksnya isu yang dihadapi oleh gerakan sosial menyebabkan terjadinya pergeseran karakteristik gerakan sosial. Saat ini gerakan sosial tidak lagi didominasi oleh gerakan buruh semata, tapi mulai menyebar ke berbagai aspek kehidupan manusia. Ada gerakan anti perang, gerakan lingkungan, gerakan perempuan, dan lain sebagainya. Sasaran perjuangan juga mengalami pergeseran. Ada yang melawan negara, ada yang melawan sistem yang menguasai
kehidupan seperti korporasi, gereja, sekolah, ada pula yang melawan sistem pengendalian sosial seperti penjara, rumah sakit dan lain-lain.
Dilihat dari karakteristik gerakan open source , dapat dikatakan bahwa gerakan ini merupakan gerakan sosial. Hal ini dapat dilihat dari ciri khas sebuah gerakan sosial yaitu: gerakan didasari oleh sebuah tujuan yang hendak dicapai, ada ideologi atau keyakinan yang mendasari perjuangan tersebut, dan gerakan tersebut terorganisasi dengan baik. Gerakan open source memiliki tujuan untuk memberikan kebebasan, khususnya terhadap pengguna software. Bebas menurut gerakan ini adalah kebebasan untuk menjalankan program, memodifikasi, mendistribusi ulang (re-distribusi) software original dan/atau software yang telah dimodifikasi 167. Untuk dapat melakukan hal-hal tersebut, maka akses terhadap source code adalah syarat utama yang harus dimiliki seseorang. Inilah inti dari perjuangan gerakan open source .
Tujuan gerakan open source tersebut kemudian berkembang menjadi
sebuah keyakinan atau ideologi, yaitu hacker ethics. Hacker ethics tumbuh subur dalam sebuah kultur saling memberi yang disebut sebagai gift culture. Hacker ethics dan gift culture ini dituangkan dalam berbagai jenis lisensi yang intinya memberikan akses seluas-luasnya pada source code. Selain itu gerakan ini juga
mewujudkan keyakinan mereka dengan menerapkan prinsip copyleft sebagai
upaya perlindungan hukum atas apa yang dilakukan oleh gerakan ini.
Namun, untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan sebuah organisasi gerakan yang baik. Hal ini penting untuk menjaga keberlangsungan isu gerakan, pencapaian tujuan dan penyebaran keyakinan/ideologi. Demikian halnya dengan
gerakan open source . Gerakan ini telah terorganisir dengan baik melalui berbagai inisiatif, baik yang dikembangkan oleh para hacker, maupun oleh para penggunanya. Meski terdapat perbedaan pendapat mengenai kebebasan akses terhadap source code, namun hal ini justru saling melengkapi perjuangan yang dilakukan oleh gerakan ini.
Meski open source adalah gerakan sosial, namun jika dilihat dari berbagai sudut secara lebih cermat, tampak bahwa gerakan open source termasuk kedalam kategori gerakan sosial baru. Hal ini dapat dilihat dari isu atau penyebab muculnya gerakan, yaitu kebebasan akses terhadap source code. Isu-isu seperti telah disinggung, baru muncul pada masyarakat pasca-kapitalis. Kemunculan gerakan-gerakan ini merupakan akibat perubahan hubungan dalam bidang ekonomi, politik dan budaya yang telah mendukung terjadinya transisi dari masyarakat modern menuju masyarakat post-industri. Menurut Castells (1996) dan Giddens (1990), perubahan ini dipahami sebagai kemunculan masyarakat jaringan (network society) dan bentuk baru komunikasi yang mengarahkan pada peningkatan derajat mobilitas dan kompleksitas yang lebih besar di dalam institusi sosial kontemporer.
Kemunculan masyarakat jaringan atau masyarakat informasi telah melibatkan konflik baru terkait dengan kontrol atas informasi, pengetahuan, simbol-simbol kapital dan relasi sosial. Konflik-konflik ini terkait erat dengan ketidaksetaraan atau transformasi relasi kekuasaan antara posisi sosial yang berbeda dalam masyarakat global baru.
Komunitas open source dapat dihubungkan dengan perubahan dalam
melahirkan perdebatan mengenai bagaimana informasi sebaiknya dikembangkan dan dalam bentuk seperti apa. Ketika perusahan hardware dan software besar secara perlahan mendominasi pasar IT, hal ini menimbulkan konsekuensi serius tentang bagaimana relasi kekuasaan antara aktor-aktor dalam bidang pengembangan software diorganisasikan. Resistensi terhadap pengembangan ini
lama muncul di dalam komunitas open source dan melahirkan pertanyaan
mengenai kebebasan berbicara dan informasi.
Secara ringkas, pergeseran karakteristik gerakan sosial dapat dilihat pada tabel berikut:
Gerakan Sosial Lama Gerakan Open source Isu Relasi kekuasaan antara negara-
masyarakat vis-à-vis, misalnya dalam bentuk pemenuhan hak-hak buruh atau petani.
Anti-monopoli pengetahuan dan ekonomi, memberikan kontrol dan kuasa penuh kepada pegguna (user)
Pelaku Kelas menengah bawah : petani, nelayan, buruh
Kalangan professional dalam bidang IT, independent programmer/hacker, siswa/mahasiswa, pelaku bisnis/enterepreneur, pemerintah
Bentuk Organisasi formal, tertutup Terbuka, bebas,
Lokasi Berdasar wilayah geografis Tidak tergantung wilayah geografis
Sarana/media komunikasi
Media massa, radio, selebaran, pamflet, mobilisasi massa
Koneksi internet, mailing list, email, web-base information Sifat gerakan Formal, kaku, terbatas pada waktu
(jarang dilakukan mobilisasi massa pada malam hari)
Cair, informal, cepat (tidak dibatasi waktu-internet memungkinkan pesan atau informasi disebarluaskan, meski itu dilakukan pada tengah malam)
Apa yang telah dilakukan oleh gerakan open source , menimbulkan perubahan yang cukup signifikan, baik dalam dunia IT dimana gerakan ini tumbuh, maupun dalam berbagai bidang yang lebih luas. Dalam bidang IT, gerakan ini telah mengubah preferensi pemerintah, khususnya dalam hal penggunaan software untuk mendukung kinerja pemerintah. Perubahan preferensi ini merupakan sebuah perubahan yang sangat penting, mengingat peran pemerintah sebagai pengambil dan penentu kebijakan masyarakat. Gerakan open
source telah memberikan alternatif pada beberapa negara untuk beralih dan
menggunakan produk gerakan ini sebagai upaya untuk mencapai kebebasan. Berbagai kasus yang terjadi di beberapa negara menunjukkan bahwa gerakan open source telah memberikan peluang untuk lepas dari ketergantungan pada negara lain (dalam hal ini adalah negara industri maju yang diwakili oleh perusahaan
software proprietary). Apa yang dilakukan dan dihasilkan oleh gerakan open
source dilihat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat lokal khususnya dalam
bidang IT.
Selain itu, gerakan open source secara signifikan telah merubah peta
industri IT. Hal ini ditandai dengan makin berkembangnya model-model
pengembangan software yang diinspirasikan dari model pengembangan open
source . Selain itu, support dari berbagai perusahaan komersial besar terhadap gerakan ini menunjukkan bahwa gerakan ini diterima dan diakui sebagai salah satu model pengembangan masa depan.
Apa yang dilakukan oleh Microsoft melalui Shared source Initiatives, merupakan perubahan yang paling menarik dalam perjalanan gerakan open source . Sebagai perusahaan yang sangat ketat memegang rahasia source code, inisiatif
ini merupakan sebuah terobosan penting. Dengan membuka akses terhadap
beberapa source code sistem operasi Windows, pengguna dapat melakukan
berbagai hal sesuai dengan jenis lisensi yang dimiliki. Perubahan sikap Microsoft
ini menjadi penting mengingat industri software saat ini didominasi oleh
perusahaan ini. Selain itu, di awal perkembangan gerakan open source , Microsoft nyata-nyata menunjukkan sikap anti pati dan perlawanan terhadap open source .
Perubahan lain yang dilakukan oleh gerakan open source adalah makin tingginya kesadaran masyarakat dalam hal penegakan hukum, khususnya yang terkait dengan copyright dan perdagangan adil (fair-trade). Terkait dengan copyright, apa yang dilakukan gerakan ini melalui copyleft, justru memberikan perlindungan dan jaminan hukum bagi ketersediaan akses terhadap source code sebuah software.
Sedangkan terkait dengan praktek perdagangan adil (fair-trade), sistem perdagangan yang anti-monopoli menjadi agenda utama penegakan hukum dalam bidang ini. Putusan pengadilan mengenai praktek-praktek monopoli yang dilakukan oleh Microsoft adalah contoh bentuk penegakan hukum yang telah dilakukan. Meski tidak terkait secara langsung dengan gerakan open source , namun tidak bisa dipungkiri bahwa kebebasan pengguna untuk memilih software atau aplikasi komputer yang sesuai dengan kebutuhannya merupakan efek atau
dampak yang ditimbulkan oleh gerakan ini. Model distribusi software yang
dilakukan oleh Microsoft melalui sistem bundling, dianggap telah menutup pintu
kebebasan para pengguna. Pengguna ‘dipaksa’ untuk memakai software atau
aplikasi yang di-bundle dalam sebuah sistem operasi. Selain itu, praktek bundle
kesempatan perusahaan lain untuk bersaing secara sehat dalam meraih keuntungan.
Di luar dunia IT, gerakan open source telah membuka wawasan dan
memberikan inspirasi bagi banyak pihak. Model pengembangan software yang
menekankan pada peer-review, juga diterapkan dalam pembuatan pernyataan hukum oleh Open Law Initiatives. Kasus-kasus hukum didiskusikan secara gotong royong oleh para pengacara, mahasiswa hukum atau pihak-pihak yang konsern dengan persoalan hukum secara terbuka, bebas dan kolaboratif. Yang menarik, isu atau kasus yang ditangani, justru kasus-kasus yang terkait dengan hukum atau aturan hak cipta.