BAB III KEDUDUKAN BPK SEBAGAI AKUNTAN
C. Opini Audit BPK Terhadap Laporan Keuangan Suatu Instansi
Kedudukan BPK sebagai lembaga negara yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, BPK menjadi salah satu pihak yang berperan besar dalam menjaga dan memastikan keuangan negara dipergunakan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Ketertiban dalam penggunaan uang pemerintah dan basis dari perbaikan yang disebut dengan istilah
good governance tidak akan berhasil, jika laporan keuangan tidak memenuhi
kualitas. Jadi, laporan keuangan yang berkualitas merupakan syarat mutlak untuk
mencapai predikat “good governance.” Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean government) adalah merupakan tuntutan rakyat untuk mendapatkan pelayanan publik yang transparan dan akuntabel sesuai dengan prinsip-prinsip good governance.
Pemeriksaan yang dilakukan dengan baik oleh BPK akan memberi dampak yaitu mendorong penggunaan keuangan negara secara transparan dan akuntabel,untuk mewujudkan pelayanan publik yang optimal, mengatasi ketimpangan pemerataan pembangunan, dan akhirnya berujung pada kesejahteraan rakyat. Hasil pemeriksaan BPK tersebut tersermin dari opini yang diberikannya pada LKPD yang notabene merupakan representasi dari akuntabilitas pengelolaan keuangan negara/daerah.58 Sebagaimana yang telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (selanjutnya disebut UU No. 15 Tahun 2004) , BPK memberikan empat jenis opini, yaitu :
1. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion).
Adalah pendapat yang menyatakan bahwa laporan keuangan pemerintah daerah yang diperiksa menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, Laporan Realisasi APBD, Laporan Arus Kas, Neraca dan Catatan Atas Laporan Keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Jika laporan keuangan diberikan opini jenis ini, artinya auditor meyakini berdasarkan bukti-bukti audit yang dikumpulkan, pemerintah daerah tersebut dianggap telah menyelenggarakan prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan baik, dan kalaupun ada kesalahan, kesalahannya dianggap tidak material dan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan. 2. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion).
Adalah pendapat yang menyatakan bahwa laporan keuangan pemerintah daerah yang diperiksa menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, Laporan Realisasi APBD, Laporan Arus Kas, Neraca dan Catatan Atas Laporan Keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. Sebagian Pemeriksa memberikan julukan little adverse (ketidakwajaran yang kecil) terhadap opini jenis ini, untuk menunjukan adanya ketidakwajaran dalam item tertentu, namun demikian ketidakwajaran tersebut tidak mempengaruhi kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.
3. Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion).
Adalah pendapat yang menyatakan bahwa laporan keuangan pemerintah daerah yang diperiksa tidak menyajikan secara wajar Laporan Realisasi APBD, Laporan Arus Kas, Neraca dan Catatan Atas Laporan Keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Jika laporan keuangan mendapatkan opini jenis ini, berarti auditor meyakini laporan keuangan pemerintah daerah diragukan kebenarannya, sehingga bisa menyesatkan pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan. 4. Pernyataan Menolak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion).
Adalah pendapat yang menyatakan bahwa Auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan, jika bukti pemeriksaan/audit tidak cukup untuk membuat kesimpulan. Opini ini bisa diterbitkan jika auditor menganggap ada ruang lingkup audit yang dibatasi oleh pemerintah daerah yang diaudit, misalnya karena auditor tidak bisa memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan untuk bisa menyimpulkan dan menyatakan laporan sudah disajikan dengan wajar.
Didukung oleh salah satu kriteria pemeriksaan atas laporan keuangan, yang dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan,yang disajikan dalam laporan keuangan salah satunya berdasarkan pada pengungkapan yanglengkap (full disclosure). Oleh karena itu pengungkapan (disclosure) merupakan hal yang sangat penting dalam pemeriksaan untuk mengeluarkan opini atas laporan keuangan tersebut.
Begitu pentingnya peran pengungkapan (disclosure) dalam laporan keuangan, pemeriksaan laporan keuangan dilakukan oleh pihak yang independen dikarenakan informasi pengungkapan dalam laporan keuangan memiliki konsekuensi ekonomis yang substansial dalam pengambilan keputusan. Selain itu para pengguna laporan keuangan memerlukan pihak yang independen, untuk mendapatkan penjelasan tentang informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
BAB IV
PERAN BPK DALAM MELAKUKAN AUDIT TERHADAP LAPORAN KEUANGAN BPPT PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA
A. Pelaksanaan Pemeriksaan Laporan Keuangan BPPT Provinsi Sumatera Utara Sebagai Pertanggungjawaban Terhadap Laporan Keuangan Pemerintahan Daerah(LKPD)
Laporan Keuangan BPPT Provinsi Sumatera Utara disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan BPPT Provinsi Sumatera Utara selama satu periode pelaporan. Laporan Keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan dan belanja dengan anggaran yang ditetapkan, menilai kondisi keuangan, menilai efektivitas dan efisiensi unit kerja dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan. Tujuan pelaporan keuangan adalah :
1. menyediakan informasi mengenai gambaran posisi aset, kewajiban dan ekuitas dana yang berada di bawah tanggung jawab BPPT Provinsi Sumatera Utara; 2. menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi
(aset), kewajiban dan ekuitas dana yang berada dibawah tanggung jawab BPPT Provinsi Sumatera Utara;
3. menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam program/kegiatan operasional BPPT Provinsi Sumatera Utara serta hasil-hasil yang telah dicapai;59
59
Wawancara dengan Pardamean Hutabarat (Kepala Sub Bagian Keuangan BPPT Provinsi Sumatera Utara)
Sistem pengelolaan keuangan pemerintah daerah terdiri dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan anggaran, dan pertanggungjawaban keuangan. Berikut penjelasan mengenai sistem pengelolaan keuangan pemerintah daerah:
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan tahap awal dari sistem pengelolaan keuangan pemda. Perencanaan melibatkan aspirasi dari semua pihak, baik masyarakat, pemerintah pemda, serta pemerintah pusat yang dilakukan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (selanjutnya disebut Musrenbang). Perencanaan pembangunan diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (selanjutnya disebut UU No. 25 Tahun 2004). SPPN adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan jangka tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah.
Rencana pembangunan dalam lingkup pemda meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP Daerah), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD), dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pardamean Hutabarat selaku Kepala Sub Bagian Keuangan di BPPT Provinsi Sumatera Utara, tahap perencanaan yang dilakukan oleh BPPT Provinsi Sumatera Utara meliputi :
a. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah) yang disusun setiap 5 (lima) tahun sekali yang memuat program kerja yang diusulkan untuk lima tahun ke depan beserta rancana anggarannya.
b. RPJM Daerah tersebut dituangkan lebih teknis untuk pelaksanaannya dalam bentuk Rencana Strategis ( Renstra) yang dibuat untuk 5(lima) tahun kedepan untuk melaksanakan RPJM Daerah yang tujuannya adalah mewujudkan visi dan misi Kepala Daerah/Gubernur, yang mana untuk ruang lingkup BPPT Provsu ditinjau dari sudut pelayanan dan perijinannya. Namun dalam pelaksanaannya, walaupun telah disusun sedemikian rupa, terkadang terdapat hal-hal yang dianggap memerlukan perbaikan baik dari program kerja, visi misi maupun rencana anggarannya. Perbaikan Rencana Strategis ini disebut dengan Revisi Rencana Strategis (Revisi Renstra) yang nantinya akan dituangkan ke dalam Rencana Kerja. c. Renstra yang telah disusun kemudian dituangkan dalam bentuk Rencana
Kerja (Renja) yang disusun setiap tahunnya. Dimana dalam penyusunannya, Kepala Badan memanggil semua bidang-bidang untuk melihat program-program kegiatan yang diprioritaskan untuk dilaksanakan. Dalam kenyataannya, yang sering terjadi walaupun RPJM Daerah dan Renstra telah disusun dengan anggaran yang maksimal, dana yang dialokasikan dari Biro Keuangan /Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) /Tim Anggaran Pemerintah Daerah tidak memenuhi dan tidak sesuai dari anggaran yang diusulkan, Misalnya,
anggaran yang diusulkan oleh BPPT Provsu sebesar 25 Milyar, namun yang dialokasikan dari Biro Keuangan untuk BPPT Provsu hanyalah 15 Milyar. Maka dari itu, haruslah dipilah mana program kerja yang prioritas untuk dilaksanakan dan akan ada program yang dikorbankan.
Semua Rencana Kerja (Renja) dari setiap SKPD akan dikompilasikan oleh Bappeda menjadi suatu Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). d. Setelah Rencana Kerja disusun, selanjutnya adalah penyusunan Rencana
Kerja Anggaran (RKA) yang memuat detail anggaran, indikator kinerja berupa tolak ukur kinerja serta target-target kinerja. Satu RKA memuat satu kegiatan yang memuat tujuan/target yang ingin dicapai yang mana di BPPT Provsu sendiri dilaksanakan oleh Eselon III yang merangkap sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPATK).
Seluruh RKA dari setiap SKPD akan dihimpun dan dikompilasikan oleh Biro Keuangan/Bappeda/ Tim Anggaran Pemerintah Daerah untuk penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sumatera Utara (APBD Provsu).
2. Penganggaran
Penganggaran dalam pemerintah berkaitan dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk setiap program dan aktivitas dalam satuan moneter. Berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pegelolaan Keuangan Daerah (selanjutnya disebut Permendagri No. 13 Tahun 2006), penyusunan anggaran dilaksanakan dengan tahap sebagai berikut :
a. Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA)
b. Penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) c. Penyusunan RKA-SKPD
d. Penyiapan Rancangan Peraturan Daerah APBD (Raperda APBD) e. Penetapan APBD
f. Pelaksanaan Anggaran
Dasar penyusunan anggaran di BPPT Provinsi Sumatera Utara berpedoman pada Permendagri No. 13 Tahun 2006 yang dihitung sesuai dengan program kerja yang akan dilaksanakan oleh BPPT Provinsi Sumatera Utara.
3. Pelaksanaan Anggaran
Penerimaan dan pengeluaran dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah, seluruhnya diatur dan dikelola dalam APBD. Pelaksanaan APBD diawali dengan penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (selanjutnya disebut DPA-SKPD), yaitu dokumen yang Memuat pendapatan dan belanja setiap SKPD yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD selaku pengguna anggaran.
Pelaksanaan anggaran di BPPT Provinsi Sumatera Utara dilaksanakan setelah adanya dasar pelaksanaan anggaran. BPPT Provinsi Sumatera Utara wajib membuat suatu Dokumen Pelaksanaan Anggaran (selanjutnya disebut DPA) yang menjadi dasar pelaksanaan anggaran. Setelah DPA selesai dibuat, barulah dapat dilaksanakan anggaran dan dilakukan pengeluaran uang. DPA ini disetujui oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Utara, disahkan oleh pejabat pengelola keuangan daerah yaitu Kepala Biro Keuangan, penyusun anggaran yaitu
Kepala BPPT Provinsi Sumatera Utara serta Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Dalam pelaksanaan anggaran di BPPT Provinsi Sumatera Utara, pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan anggaran meliputi :
a. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ( PPTK); b. Panitia/Pejabat Pengadaan;
c. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan; d. Panitia/Pejabat Penata Hasil Keuangan; e. Bendahara Pengeluaran;
f. Pengguna Anggaran;
g. Pendukung lainnya, seperti pengguna anggaran.
Pelaksanaan anggaran di BPPT Provinsi Sumatera Utara memiliki rekam jejak berupa tanda tangan setiap yang berkepentingan dalam suatu transaksi keuangan sebelum pada akhirnya disampaikan ke bendahara untuk dicairkan/dibayarkan.60
4. Pertanggungjawaban Keuangan
Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang dan ekuitas dana dalam tanggung jawabnya, serta menyiapkan laporan keuangan sehubungan dengan pelaksanaan anggaran dan barang yang dikelolanya. Laporan keuangan tersebut kemudian disampaikan kepada kepala daerah melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah ( selanjutnya disebut PPKD) selambat-lambatnya dua bulan setelah tahun anggaran berakhir. Selanjutnya, PPKD menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset,
60
utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya, serta menyusun LKPD yang terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan paling lambat tigabulan setelah berakhirnya tahun anggaran berkenaan. LKPD disampaikan kepada kepala daerah dalam rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Kepala daerah kemudian menyampaikan LKPD Kepada BPK selambat-lambatnya tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir.Pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK diselesaikan selambat-lambatnya dua bulan setelah menerima laporan keuangan. Setelah menerima laporan hasil pemeriksaan dari BPK,kepala daerah memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap LKPD serta menyampaikan Raperda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK paling lambat enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. Persetujuan bersama terhadap Raperda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD oleh DPRD paling lama satu bulan terhitung sejak Raperda diterima.
Penggunaan teknologi dalam penyusunan laporan keuangan zaman sekarang ini sudah tidak asing lagi. BPPT Provinsi Sumatera Utara dalam melakukan penyusunan laporan keuangan sebagai suatu bentuk pertanggungjawaban keuangannya, menggunakan suatu program aplikasi yaitu Sistem Informasi Manajemen Daerah (selanjutnya disebut SIMDA). SIMDA digunakan untuk menginput setiap transaksi yang terjadi. Transaksi yang terjadi dilihat dari data yang diambil dari Surat Pertanggungjawaban Fungsional (selanjutnya disebut SPJ Fungsional) yang disusun berdasarkan data yang
bersumber dari dokumen-dokumen bukti transaksi. Dokumen-dokumen transaksi yang dimaksud mencakup surat-surat perintah, surat perintah perjalanan dinas, perjanjian/kontrak. Setelah dokumen transaksi tersebut dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam SPJ Fungsional, maka secara teknis data yang tersebut dapat langsung diinput ke dalam sistem aplikasi SIMDA sehingga sistem penyusunan laporan keuangan daerah menjadi lebih cepat dan akurat.
Sistem aplikasi yang mempermudah penyusunan laporan keuangan di BPPT Provinsi Sumatera Utara ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah daerah demi terwujudnya good governance. Namun dalam kenyataannya, penyusunan laporan keuangan tidak secepat apa yang diharapkan dikarenakan dokumen-dokumen transaksi seperti yang telah disebutkan diatas, terlambat diserahkan oleh pelaksana kegiatan dalam hal ini disebut Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (selanjutnya disebut PPTK), Pejabat Pengadaan, sehingga data belum dapat diinput dan penyusunan laporan keuangan tidak dapat dilakukan. Tetapi apabila data-data transaksi tersebut telah lengkap dan dapat dilakukan penyusunan laporan keuangan, setelah laporan keuangan tersebut selesai, maka laporan keuangan tersebut akan ditandatangani oleh Kepala Badan BPPT Provinsi Sumatera Utara. Laporan keuangan inilah yang selanjutnya akan diperiksa oleh BPK selaku pemeriksa eksternal yang akan menghasilkan suatu opini/pendapat mengenai kewajaran suatu laporan keuangan.61
Setiap pemeriksaan dimulai dengan penentuan jenis pemeriksaan yang akan dilaksanakan, penetapan tujuan serta standar yang harus diikuti oleh
61
pemeriksa. Berdasarkan Pasal 5 ayat 1 UU No.15 tahun 2004, pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh BPK dilaksanakan berdasarkan standar pemeriksaan yang disusun oleh BPK, setelah berkonsultasi dengan Pemerintah.
Standar Pemeriksaan yang disusun oleh BPK yaitu Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (selanjutnya disebut SPKN) yang diundangkan melalui Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 01 tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara. SPKN memuat persyaratan profesional pemeriksa, mutu pelaksanaan pemeriksaan, dan persyaratan laporan pemeriksaan yang profesional. Pelaksanaan pemeriksaan yang didasarkan pada Standar Pemeriksaan akan meningkatkan kredibilitas informasi yang dilaporkan atau diperoleh dari entitas yang diperiksa melalui pengumpulan dan pengujian bukti secara obyektif. Apabila pemeriksa melaksanakan pemeriksaan dengan cara ini dan melaporkan hasilnya sesuai dengan Standar Pemeriksaan maka hasil pemeriksaan tersebut akan dapat mendukung peningkatan mutu pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara serta pengambilan keputusan Penyelenggara negara. Pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara juga merupakan salah satu unsur penting dalam rangka terciptanya akuntabilitas publik. Tujuan standar pemeriksaan ini adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi para pemeriksa dan organisasi pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. SPKN terdiri atas Pendahuluan Standar Pemeriksaan dan 7 (tujuh) Pernyataan Standar Pemeriksaan (PSP) berikut ini:
a. PSP Nomor 01 tentang Standar Umum
b. PSP Nomor 02 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan c. PSP Nomor 03 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Keuangan d. PSP Nomor 04 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja e. PSP Nomor 05 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Kinerja
f. PSP Nomor 06 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
g. PSP Nomor 07 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
Dengan demikian, pernyataan standar yang digunakan untuk pemeriksaan keuangan meliputi PSP 01, PSP 02, dan PSP 03.
B. Penyajian Laporan Keuangan BPPT Provinsi Sumatera Utara Sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan yang Berlaku
Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut PP No. 71 Tahun 2010 adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah daerah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki, diantaranya adalah:
1. Relevan (Relevance)
Laporan keuangan pemerintah daerah dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna laporan
a. Memiliki manfaat umpan balik (feedback value), artinya bahwa laporan keuangan Pemerintah Daerah harus memuat informasi yang memungkinkan pengguna laporan untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasinya di masa lalu;
b. Memiliki manfaat prediktif (predictive value), artinya bahwa laporan keuangan harus memuat informasi yang dapat membantu pengguna laporan untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini;
c. Tepat waktu(Timeliness), artinya bahwa laporan keuangan Pemerintah Daerah harus disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna untuk pembuatan keputusan pengguna laporan keuangan; dan d. Lengkap (Complete), artinya bahwa penyajian laporan keuangan
Pemerintah Daerah harus memuat informasi yang selengkap mungkin, yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pembuatan keputusan pengguna laporan. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan harus diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah.
2. Andal (Reliable)
Informasi dalam laporan keuangan Pemerintah Daerah harus bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap kenyataan secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi yang andal harus memenuhi karakteristik:
a. Jujur(Representational Faithfullness), artinya bahwa laporan keuangan Pemerintah Daerah harus memuat informasi yang menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan;
b. Dapat diverifikasi (verifiability), artinya bahwa laporan keuangan Pemerintah Daerah harus memuat informasi yang dapat diuji, dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda, hasilnya harus tetap menunjukkan simpulan yang tidak jauh berbeda;
c. Netralitas(Neutral), artinya bahwa laporan keuangan Pemerintah Daerah harus memuat informasi yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan umum dan bias pada kebutuhan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan pihak tertentu, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain.
3. Dapat dibandingkan (Comparable)
Informasi yang termuat dalam laporan keuangan Pemerintah Daerah akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan pemerintah daerah lain pada umumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila pemerintah daerah menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila pemerintah daerah yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama.
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus dapat dipahami oleh pengguna laporan keuangan dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna laporan.
Menurut Bapak Pardamean Hutabarat selaku Kepala Sub Bagian Keuangan, pelaksanaan kegiatan dari anggaran yang telah disusun harus dibuktikan dengan bukti-bukti keuangan/ bukti-bukti realisasi anggaran yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, baik ketentuan keuangan maupun dasar kegiatan/program yang akan dilaksanakan tersebut. Diakhir dari kegiatan/program tersebut, bukti-bukti itulah yang nantinya menjadi bahan pertanggungjawaban yang menjadi dasar dalam penyusunan laporan keuangan. Dalam penyusunan laporan keuangan terdapat beberapa proses pertanggungjawaban keuangan meliputi :
1. Laporan keuangan yang disusun setiap bulan yang merupakan suatu realisasi yang harus dipertanggungjawabkan dan dilaporkan yang terdiri dari :
a. Laporan realisasi fisik dan keuangan
b. Laporan SPJ/Pertanggungjawaban Fungsional
c. Laporan SPJ/Pertanggungjawaban administratif bendahara 2. Laporan Realisasi Anggaran Per-Semester.
Laporan ini menyajikan informasi realisasi pendapatan dan belanja BPPT Provinsi Sumatera Utara yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode yang disusun setiap 6(enam) bulan sekali. Dalam penyusunan laporan realisasi anggaran semester ini disertai dengan
prognosis. Prognosis merupakan uraian atau penjelasan terhadap kelebihan atau kekurangan anggaran, dan bisa juga berisi rencana pergeseran anggaran untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Jadi, jika terdapat kemungkinan terjadinya Perubahan APBD (selanjutnya disebut PAPBD), di dalam prognosis sudah dicantumkan sindikasinya. Misalnya, gaji pegawai kurang Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dikarenakan adanya penambahan pegawai, maka nanti akan dijelaskan dalam prognosis bahwa ada PAPBD berupa penambahan jumlah anggaran untuk dikaji.
3. Laporan Keuangan Akhir Tahun, merupakan laporan utama dalam pelaksanaan program dan kegiatan selama 1 (satu) tahun. Karena masih menggunakan sistem akuntansi berbasis kas menuju akrual, maka laporan keuangan SKPD BPPT Provinsi Sumatera Utara tahun anggaran 2014 terdiri dari :
a. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan keuangan yang disusun setiap bulan dihimpun dan disinkronkan sampai kepada penyusunan laporan keuangan akhir tahun. Sehingga laporan keuangan tiap bulan yang jumlahnya 12 laporan dalam setahun yang berisi laporan realisasi fisik dan keuangan, laporan SPJ Fungsional serta laporan SPJ administratif bendahara yang kemudian ditambahkan dengan laporan semester, maka haruslah sama dengan laporan keuangan akhir tahun di laporan realisasi anggaran di akhir tahun.
Penyusunan laporan realisasi anggaran di BPPT Provinsi Sumatera Utara mempunyai 2 versi/model penyusunannya yaitu :
1) Menurut Permendagri No. 13 Tahun 2006 dimana kekhususan dalam Permendagri ini mengatur mengenai belanja langsung dan belanja tidak langsung yang tidak dikenal dalam penyusunan laporan keuangan yang berlandaskan PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi