BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
7. Opini Audit
Opini audit adalah suatu pernyataan yang merupakan hasil pertimbangan (judgment), sedangkan opini auditor merupakan pendapat atau pernyataan seorang auditor yang terdaftar di kantor akuntan publik terhadap penilaiannya atas kewajaran laporan keuangan yang disajikan manajemen (Verawati & Wirakusuma, 2016). Opini audit disampaikan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report lag) yang dapat
meningkatkan ataupun menurunkan tingkat kepercayaan pemakai laporan keuangan, seperti ketika suatu perusahaan mendapatkan opini wajar maka akan meningkatkan kepercayaan pemakai laporan keuangan pada informasi yang tercantum dalam laporan tersebut (Hery, 2017). Dalam melaksanakan tanggung jawabnya auditor memiliki standar atau tolak ukur audit. Standar ini ditetapkan oleh organisasi profesi audit dan berisi tentang batas yang harus dipenuhi auditor dalam melaksanakan tugas pemeriksaan (Ardianingsih, 2018: 7). Standar audit menurut AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) yang menyatakan bahwa keseluruhan auditor dalam melakukan audit atas laporan keuangan mempunyai tujuan sebagai berikut :
a. Untuk memperoleh keyakinan yang layak bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah bebas dari salah saji yang material, baik karena kecurangan atau kesalahan, sehingga memungkinkan auditor untuk menyatakan pendapat tentang apakah laporan keuangan itu disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka kerja pelaporan keuangan yang berlaku (Arens et al., 2015: 170).
b. Untuk melaporkan tentang laporan keuangan dan berkomunikasi seperti yang disyaratkan oleh standar auditing, sesuai dengan temuan auditor (Arens et al., 2015: 170).
Tahap selanjutnya setelah tahap penilaian adalah tahap pernyataan auditor terhadap laporan keuangan perusahaan atau yang disebut opini audit.
Dalam bukunya, Mulyadi (2002) menjelaskan lima jenis opini audit, antara lain sebagai berikut:
a. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
Pendapat wajar tanpa pengecualian diberikan auditor apabila lingkup audit tidak dibatasi, pengecualian yang terjadi tidak signifikan perihal kewajaran, penerapan serta konsistensi perusahaan dalam menggunakan prinsip akuntansi berterima umum dalam penyusunan laporan keuangan dan pengungkapan laporan keuangan yang memadai.
b. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelasan (Unqualified Opinion report with Explanatory Language)
Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas diberikan jika audit telah dilaksanakan sesuai standar auditing. Penyajian laporan keuangan sesuai prinsip akuntansi yang berterima umum, tetapi terdapat suatu keadaan tertentu yang membutuhkan bahasa penjelas sehingga mengharuskan auditor menambahkan suatu paragraf penjelasan (penjelasan lain) laporan audit, meskipun laporan posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan klien disajikan secara wajar.
c. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Auditor memberikan pendapat wajar dengan pengecualian dalam laporan audit karena terjadi beberapa keadaan tertentu seperti klien membatasi lingkup audit, auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupun auditor,
prinsip akuntansi berterima umum tidak digunakan dalam penyusunan laporan keuangan, meskipun dalam penyusunan laporan keuangan menggunakan prinsip akuntansi berterima umum namun penerapannya tidak dilaksanakan secara konsisten.
d. Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Kebalikan dari pendapat tidak wajar adalah pendapat wajar tanpa pengecualian. Pemberian pendapat tidak wajar terjadi apabila klien dalam menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perusahan ekuitas dan arus kas perusahaan klien.
Jika suatu perusahaan menerima pendapat tidak wajar artinya informasi yang disajikan dalam laporan keuangan oleh klien sama sekali tidak dapat dipercaya sehingga informasi tersebut tidak dapat digunakan pemakai dalam mengambil keputusan.
e. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion) Ketika auditor tidak memberikan pendapat atas laporan keuangan, maka laporan keuangan auditan ini dapat dikatakan sebagai laporan tanpa pendapat (no opinion report). Alasan auditor tidak memberikan pendapat adalah karena terjadi beberapa keadaan seperti pembatasan lingkup audit yang sifatnya luar biasa serta auditor tidak independen dalam hubungan dengan kliennya. Hal yang membedakan pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar adalah saat auditor memberikan pendapat tidak wajar berarti auditor mengetahui
adanya ketidakwajaran pada laporan keuangan klien, namun ketika auditor tidak cukup dalam memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan auditan atau karena auditor tidak independen dalam hubungannya dengan klien.
Opini audit yang diberikan kepada perusahaan merupakan cerminan kinerja manajemen dalam penyusunan laporan keuangan serta penerapannya pada prinsip akuntansi berterima umum. Dari kelima jenis opini audit tersebut, pendapat wajar tanpa pengecualian merupakan pendapat yang mempunyai makna bebas dari keragu-raguan atau ketidakjujuran serta informasi yang lengkap. Perusahaan akan cenderung mempublikasi laporan keuangan auditan lebih awal ketika mendapat opini wajar tanpa pengecualian. Hal ini karena pendapat wajar tanpa pengecualian merupakan kabar baik (good news) dan perusahaan tidak akan menunda publikasi kabar baik tersebut, sedangkan pemberian pendapat selain wajar tanpa pengecualian akan menimbulkan audit report lag yang cukup panjang karena dalam pemberian pendapat selain wajar tanpa pengecualian auditor akan mengikutsertakan negosiasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit senior atau staf teknis lainnya dan perluasan lingkup audit (Aryani &
Agustin, 2018). Pengukuran opini audit menggunakan variabel dummy, yaitu dengan menggunakan penyimbolan angka, angka 1 diberikan kepada perusahaan yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian dan angka 0 diberikan untuk perusahaan yang mendapatkan opini selain wajar tanpa pengecualian (Saraswati & Herawaty, 2019).
Lanjutan B. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan penelitian-penelitian yang telah dilakukan dengan variabel dependen yang sama, sehinga penelitian-penelitian tersebut dapat digunakan sebagai bahan acuan peneliti dalam penelitiannya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sebanyak 12 jurnal penelitian terdahulu sebagai berikut :
Tabel 2.1
Studi Penelitian Terdahulu No. Peneliti Judul Penelitian Alat
Analisis Hasil
secara parsial ketiga terhadap audit delay.
4. (Verawati dan komite audit tidak berpengaruh terhadap
berpengaruh terhadap audit delay. Dilanjutkan
Lanjutan
Lanjutan dan ukuran KAP tidak perpengaruh terhadap
9. (Putro &
Terhadap Audit
Dari tabel studi penelitian mengenai audit report lag tersebut dapat dilihat bahwa penelitian dari Lestari & Saitri (2017) menggunakan variabel independen ukuran perusahaan, profitabilitas, solvabilitas, kualitas audit dan audit tenure. Kemudian dalam penelitian Pratiwi (2018), variabel independen yang digunakan yaitu profitabilitas, leverage, komite audit dan komisaris independen. Namun penelitian yang dilakukan Verawati & Wirakusuma (2016) menggunakan variabel independen pergantian auditor, reputasi KAP, opini
audit dan komite audit. Sedangkan penelitian Ginting & Sembiring (2018) salah satu variabel independennya menggunakan laba rugi. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu penelitian ini menggabungkan beberapa variabel independen tersebut yaitu ukuran perusahaan, laba rugi, leverage dan opini audit. Selain itu perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini juga terdapat pada tahun penelitian, populasi serta metode pengambilan sampel. Populasi dalam penelitian ini merupakan perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2019, dan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling.
C. Kerangka Pemikiran Konseptual
1. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Audit Report Lag
Ukuran perusahaan merupakan penggolongan perusahaan berdasarkan besar kecilnya suatu perusahaan. Perusahaan yang berskala besar cenderung memiliki audit report lag yang pendek, hal ini karena perusahaan berskala besar cenderung memiliki teknologi serta sistem pengendalian yang lebih maju sehingga perusahaan besar akan mempercepat publikasi laporan keuangan. Ketepatan publikasi ini akan dianggap sebagai sinyal bagi penggunanya. Hal inilah yang menjadi adanya pengaruh ukuran perusahaan terhadap audit report lag (Agustin et al., 2018).
2. Pengaruh Laba Rugi terhadap Audit Report Lag
Laba merupakan kondisi yang dapat menjadi sinyal baik bagi investor, karena laba menunjukkan prestasi atau pencapaian manajemen.
Perusahaan yang mengalami laba tidak ada alasan untuk menunda publikasi laporan keuangannya, berbeda ketika perusahaan mengalami rugi maka perusahaan tersebut akan cenderung menunda laporan keuangannya sehingga dapat menjadi sinyal buruk bagi perusahaan serta menimbulkan audit report lag yang cukup panjang. Penelitian Ginting & Sembiring (2018) menghasilkan bahwa laba rugi mempengaruhi audit report lag.
3. Pengaruh Leverage terhadap Audit Report Lag
Leverage merupakan kemampuan perusahaan dalam melunasi utang-utangnya, baik utang jangka panjang maupun utang jangka pendek.
Semakin banyak utang yang digunakan sebagai sumber pendanaannya semakin lama pengauditannya karena meningkatnya utang akan meningkatkan resiko auditnya, sehingga menyebabkan audit report lag yang panjang. Tingkat leverage yang tinggi dapat diartikan sebagai sinyal buruk bagi publik, hal ini karena akan berdampak pada penilaian oleh stakeholder pada perusahaan. Seperti pada penelitian Pratiwi (2018) menghasilkan bahwa terdapat pengaruh leverage pada audit report lag.
4. Pengaruh Opini Audit terhadap Audit Report Lag
Opini audit merupakan simpulan yang dikeluarkan auditor setelah melakukan proses audit pada suatu perusahaan selama satu periode mengenai kewajaran atas laporan keuangan yang disajikan perusahaan (Verawati & Wirakusuma, 2016). Opini audit dapat menjadi tolak ukur atau standar yang dapat digunakan stakeholder dalam mempengaruhi keputusannya. Semakin baik laporan keuangan yang disajikan maka opini
wajar tanpa pengecualian yang akan didapatkan, hal ini disebabkan rendahnya resiko audit sehingga audit report lag perusahaan akan semakin pendek. Opini audit menghasilkan pengaruh terhadap audit report lag, seperti pada penelitian (Saraswati & Herawaty, 2019).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kerangka pemikiran dalam penelitian mengenai audit report lag, dirumuskan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Keterangan Gambar :
= Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial.
D. Hipotesis
Hipotesis diartikan sebagai dugaan sementara peneliti pada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Hipotesis juga dapat dikatakan sebagai jawaban berdasarkan teori dari rumusan masalah penelitian.
Hipotesis dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut : Ukuran Perusahaan (X1)
Laba Rugi (X2)
Leverage (X3)
Opini Audit (X4) H1
H2
H3
H4
Audit Report Lag (Y)
H1 : Diduga terdapat pengaruh ukuran perusahaan secara parsial terhadap audit report lag pada perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI Tahun 2016-2019.
H2 : Diduga terdapat pengaruh laba rugi secara parsial terhadap audit report lag pada perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI Tahun 2016-2019.
H3 : Diduga terdapat pengaruh leverage secara parsial terhadap audit report lag pada perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI Tahun 2016-2019.
H4 : Diduga terdapat pengaruh opini audit secara parsial terhadap audit report lag pada perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI Tahun 2016-2019.
37
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah dibuat peneliti, sedangkan pendekatan deskriptif bertujuan untuk mengetahui sifat atau karakter dan hubungan yang lebih spesifik antara dua variabel di mana data tersebut diolah, dianalisis menggunakan teori-teori yang ditetapkan kemudian ditarik sebuah kesimpulan (Sugiono, 2017).
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang berjumlah 23 perusahaan. Berikut merupakan populasi dalam penelitian ini:
Tabel 3.1
Daftar Populasi Penelitian
No. Kode Nama Perusahaan
1. ADES Akasha Wira International Tbk 2. AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
Dilanjutkan
3. ALTO Tri Banyan Tirta Tbk
4. BTEK Bumi Tenokultural Unggul Tbk 5. BUDI Budi Starch & Sweetener Tbk 6. CAMP Campina Ice Cream Industry Tbk 7. CEKA Wilmar Indonesia Tbk
8. CLEO Sariguna Primatirta Tbk
9. COCO Wahana Interfood Nusantara Tbk 10. DLTA Delta Djakarta Tbk
11. FOOD Sentra Food Indonesia Tbk 12. GOOD Garuda Food Indonesia Tbk 13. HOKI Buyung Poetra Sembada Tbk 14. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 15. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk 16. MLBI Multi Bintang Tbk
17. MYOR Mayora Indah Tbk
18. PCAR Prima Cakrawala Abadi Tbk 19. PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk 20. ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk 21. SKLT Sekar Laut Tbk
22. STTP Siantar Top Tbk 23. ULTJ Ultra Jaya Tbk
Sumber: www.idx.co.id 2020
2. Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah metode purposive sampling. Metode purposive sampling merupakan metode pengambilan sampel dengan pertimbangan atau kriteria tertentu, di mana populasi yang dapat memenuhi kriteria tersebut dapat menjadi sampel (Sugiono, 2017). Adapun kriteria dalam pemilihan sampel, di antaranya sebagai berikut:
Tabel 3.2
Prosedur Penentuan Sampel
No. Kriteria Sampel
1. Perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 23
2.
Perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman yang menerbitkan laporan keuangan secara lengkap dan konsisten pada tahun 2016-2019.
(12)
Perusahaan yang memenuhi kriteria menjadi sampel 11
Jumlah tahun penelitian 4
Jumlah sampel penelitian 44
Sumber: Data diolah peneliti (2020).
Dari kriteria di atas maka perusahaan yang memenuhi persyaratan sebagai sampel sebanyak 11 perusahaan dengan tahun penelitian selama 4 tahun (2016-2019), sehingga total sampel dalam penelitian ini adalah 44 data laporan keuangan. Berikut perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini:
Tabel 3.3
Daftar Sampel Penelitian
No. Kode Nama Perusahaan
1. BTEK Bumi Teknokultural Unggul Tbk
Dilanjutkan
2. BUDI Budi Starch & Sweetener Tbk 3. CEKA Wilmar Indonesia Tbk
4. DLTA Delta Djakarta Tbk
5. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 6. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk 7. MLBI Multi Bintang Tbk
8. MYOR Mayora Indah Tbk
9. ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk 10. SKLT Sekar Laut Tbk
11. ULTJ Ultra Jaya Tbk Sumber: Data diolah peneliti (2020)
C. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel 1. Definisi Konseptual
a. Audit Report Lag (Y)
Audit report lag merupakan selisih waktu antara akhir tahun laporan keuangan dengan tanggal penyelesaian proses audit yang tertera dalam laporan keuangan (Hermawan & Suzan, 2018). Dengan kata lain Audit report lag merupakan lamanya waktu penyelesaian audit yang diukur mulai dari tanggal tutup buku tahunan sampai laporan keuangan auditan dipublikasi (Verawati & Wirakusuma, 2016).
b. Ukuran Perusahaan (X1)
Ukuran perusahaan dapat didefinisikan sebagai pengklasifikasian perusahaan berdasarkan besar dan kecilnya (Agustin et al., 2018).
Perusahaan besar cenderung mendapat tekanan lebih karena diawasi secara ketat oleh investor, badan pengawas, pemerintah dan krediturnya,
perusahaan besar juga memiliki proses perencanaan audit yang lebih lama apabila dibandingkan dengan perusahaan kecil, hal ini disebabkan karena besarnya aset yang dimiliki.
c. Laba Rugi (X2)
Laporan laba rugi merupakan laporan yang menyajikan informasi kinerja perusahaan mengenai hasil usaha dalam satu periode, di mana ketika terjadi kenaikan hasil usaha berarti perusahaan mengalami laba sebaliknya jika terjadi penurunan hasil usaha maka perusahaan menderita kerugian (Ginting & Sembiring, 2018).
d. Leverage (X3)
Leverage merupakan kapasitas perusahaan dalam melunasi utang-utangnya, baik utang jangka panjang maupun utang jangka pendek (Hermawan & Suzan, 2018). Semakin tinggi tingkat leverage yang dimiliki perusahaan maka semakin memerlukan banyak pengujian yang dilakukan auditor (Pratiwi, 2018).
e. Opini Audit (X4)
Opini audit merupakan pendapat yang diberikan auditor kepada perusahaan atas kebenaran laporan keuangan atas penilaian dari proses audit yang telat dilakukan (Verawati & Wirakusuma, 2016). Semakin baik opini yang didapatoleh perusahaan maka akan menambah citra baik perusahaan yang dapat memperngaruhi keputusan investor dan calon investor (Saraswati & Herawaty, 2019).
2. Definisi Operasional Variabel
Operasional variabel merupakan panduan mengenai cara mengukur suatu variabel dalam suatu penelitian. Berikut merupakan operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini :
Tabel 3.4 mana diberikan nilai 1
apabila perusahaan mengalami laba dan diberikan nilai 0 apabila
perusahaan mengalami
selain wajar
tanpapengecualian akan diberi nilai 0.
Sumber: Data diolah peneliti (2020)
D. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari laporan keuangan auditan perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI Tahun 2016-2019 yang dapat diperoleh melalui Bursa Efek Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal dan di akses melalui www.idx.co.id. Kemudian jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang sudah ada dan peneliti tidak perlu mengumpulkannya sendiri. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, di mana pengumpulan datanya berupa catatan yang berbentuk tulisan, gambar, atau karya orang yang terdahulu (Sekaran, 2016). Kemudian Medote pengolahan data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dan dibantu dengan menggunakan program komputer yaitu Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 22. Penggunaan program ini bertujuan untuk menghindari kesalahan pada kalkulasi oleh peneliti atau human error.
E. Metode Analisis Data dan Uji Hipotesis
Analisis data merupakan kegiatan mengklasifikasikan data menurut variabel dan jenis responden, mentabulasi atau menyajikan data dalam bentuk
tabel menurut variabel dan keseluruhan responden, menyajikan data setiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan (Sugiono, 2017).
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan sekumpulan data dalam bentuk angka yang dipergunakan dalam menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan suatu data dengan melihat nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum, minimum (Ghozali, 2018).
2. Uji Asumsi Klasik
Suatu model regresi yang baik harus memenuhi asumsi klasik, yaitu asumsi normalitas, autokorelasi, multikolonieritas dan heteroskedastisitas.
Untuk memenuhi asumsi klasik tersebut diperlukan adanya pengujian normalitas, autokorelasi, multikolonieritas dan heteroskedastisitas. Berikut penjelasan mengenai uji asumsi klasik dalam penelitian ini (Ghozali, 2018).
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi variabel pengganggu atau residal mempunyai distribusi normal. Uji normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data pada sumbu diagonalnya, apabila data menyebar di sekitar garis diagonal serta mengikuti arah garis diagonalnya, artinya model regresi memenuhi asumsi normalitas. Untuk menguji normalitas juga dapat menggunakan
one sample kolmogorov smirnov test, dengan cara melihat nilai asymp.
sig. > 0,05 (Ghozali, 2018: 161).
b. Uji Mutikolonieritas
Tujuan dari uji ini adalah untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak saling berhubungan di antara variabel independen, apabila ada korelasi antar variabel independen maka variabel-variabel ini tidak ortogonal atau variabel independen sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas dengan cara melihat nilai tolerance dan variance inlation factor (VIF). Model regresi dikatakan bebas multikolonieritas jika nilai VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,1 (Ghozali, 2018: 107).
c. Uji Autokorelasi
Dalam uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya), jika terdapat korelasi dinamakan ada problem autokorelasi (Ghozali, 2018).
Dalam mendeteksi autokorelasi dapat menggunakan uji Durbin Watson dengan pengambilan keputusan sebagai berikut:
1) Apabila DU < DW < 4 - DU maka diterima yang artinya tidak terjadi autokorelasi.
2) Apabila DL ≤ DW ≤ DU atau 4 – DU ≤ DW ≤ 4 – DL artinya tidak ada kesimpulan yang pasti.
3) Apabila DW < DL atau DW > 4 – DL maka ditolak yang artinya terjadi autokorelasi.
d. Uji Heteroskedastisitas
Tujuan dari pengujian heteroskedastisitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variasi dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Sedangkan homoskedastisitas terjadi apabila variasi dari residual satu pengamatan kepengamatan lain tetap. Model regresi yang baik adalah ketika terjadi homoskedastisitas.
Untuk pengujian ini dapat menggunakan Uji Park. Dengan analisis jika nilai signifikansi (sig.) pada variabel > α = 0,05 maka dapat dikatakan bahwa dalam model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2018: 137).
3. Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda adalah ketika jumlah variabel yang digunakan lebih dari dua, yaitu satu variabel dependen dan selebihnya merupakan variabel independen (Qudratullah, 2013).
Secara umum regresi linear berganda dengan variabel dependennya (Y) yang merupakan fungsi linear dari ρ variabel independen (X1, X2, X3, Xρ), dapat dirumuskan :
Di mana:
Y : Variabel dependen (audit report lag) Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 +β4X4 + ε
X1 : Ukuran perusahaan X2 : Laba rugi
X3 : Leverage
X4 : Opini audit
β0 : Intercept
β1, β2, β3, β4 : Koefisien regresi pada variabel Xρ
ε : Variabel pengganggu / residual 4. Uji Hipotesis
a. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji signifikan parameter individual untuk menunjukkan seberapa besar pengaruh dari setiap variabel independen yaitu ukuran perusahaan, laba rugi, leverage dan opini audit dalam mempengaruhi variabel dependennya atau audit report lag (Ghozali, 2018). Dalam menguji hipotesis dalam uji statistik t digunakan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:
1) Apabila nilai signifikansi < 0,05 maka hipotesis diterima yang artinya variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.
2) Apabila nilai signifikansi > 0,05 maka hipotesis ditolak yang artinya variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
b. Koefisien Determinasi (Adjusted R2)
Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berkisar antara 0 dan 1. Apabila nilai R2 yang kecil berarti pengaruh variabel-variabel independen sangat terbatas, dan sebaliknya apabila nilai R2 yang besar (mendekati 1) maka variabel-variabel independen semakin berpengaruh terhadap variabel-variabel dependen (Ghozali, 2018: 97).
49 1. Sejarah Bursa Efek Indonesia
Pasar modal telah lama hadir bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau disebut dengan bursa efek telah hadir tepatnya tahun 1912 di Batavia yang pada masa itu merupakan jaman kolonial Belanda. Pasar modal didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan tujuan untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.
Perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, seperti saat terjadinya perang dunia ke I, perpindahan kekuasaan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia, serta kondisi-kondisi lain yang menyebabkan kegiatan pasar modal sempat mengalami kevakuman.
Dampak positif dari pengoperasian bursa efek di Batavia mendorong pemerintah kolonial untuk membuka bursa efek di Semarang dan Surabaya pada tahu 1925-1942. Diawal tahun 1939 terjadi isu politik perang dunia II, keadaan yang tidak menguntungkan bagi kolonial sehingga menjadikan bursa efek di Semarang dan Surabaya ditutup. Menyusul bursa efek di Semarang dan Surabaya, bursa efek Jakarta akhirnya ditutup kembali pada tahun 1942-1952 akibat perang dunia ke II.
Dampak positif dari pengoperasian bursa efek di Batavia mendorong pemerintah kolonial untuk membuka bursa efek di Semarang dan Surabaya pada tahu 1925-1942. Diawal tahun 1939 terjadi isu politik perang dunia II, keadaan yang tidak menguntungkan bagi kolonial sehingga menjadikan bursa efek di Semarang dan Surabaya ditutup. Menyusul bursa efek di Semarang dan Surabaya, bursa efek Jakarta akhirnya ditutup kembali pada tahun 1942-1952 akibat perang dunia ke II.