• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA A.Tinjauan Literatur

6. Opini Audit

Pernyataan atas suatu asersi yang dikeluarkan oleh auditor disebut juga pendapat atau opini audit. Opini harus didasarkan atas pemeriksaan yang dilaksanakan sesuai dengan standar audit dan temuan auditor. Hasil pemeriksaan akuntan tertuang dalam suatu laporan yang menyatakan bahwa apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Menurut Mulyadi (2002), opini audit ada lima, yaitu pendapatwajar tanpa pengecualian (unqualified audit opinion), wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan (unqualified opinion report with explanatory language), wajar dengan pengecualian (qualified audit opinion), pendapat tidak wajar (adverse opinion report), dan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion report).

35 Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia. Laporan auditor merupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya, atau apabila keadaan mengharuskan, untuk menyatakan tidak memberikan pendapat, ia harus menyatakan apakah auditnya telah dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI,2011)

Menurut Petronela (2004:47) menyatakan opini audit diberikan oleh auditor dalam beberapa tahap audit sehingga auditor dapat memberi kesimpulan atas opini yang harus diberikan atas laporan keuangan yang diauditnya. Berdasarkan definisi diatas dapat diartikan bahwa opini audit adalah suatu pernyataan yang diberikan oleh auditor terhadap laporan keuangan perusahaan yang didasarkan pada keyakinan profesionalnya. Opini audit merupakan salah satu hal yang penting dalam pengauditan laporan keuangan, laporan keuangan suatu entitas di audit diharapkan agar mendapatkan opini audit, sehingga laporan keuangan yang telah diaudit tersebut dapat dijadikan dasar sebagai sumber informasi untuk para pengguna laporan keuangan baik pihak ekstern maupun intern perusahaan. Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) mengharuskan pembuatan laporan setiap kali kantor akuntan publik dikaitkan dengan

36 laporan keuangan. Laporan auditan hanya dibuat jika audit benar-benar dilakukan.

Laporan audit penting sekali dalam suatu audit atau proses atestasi lainnya karena laporan tersebut dapat menginformasikan kepada pemakai informasi tentang apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya. Bagian dari laporan audit yang merupakan informasi utama dari laporan audit adalah opini audit. Opini audit diberikan oleh auditor melalui beberapa tahap audit sehingga auditor dapat memberikan kesimpulan atas opini yang harus diberikan atas laporan keuangan yang diauditnya.

Menurut Bastian (2007:136), terdapat lima jenis pendapat yang dapat diberikan oleh auditor, yaitu: Pendapat Wajar tanpa Pengecualian (Unqualifed Opinion), Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas (Modified Unqualified Opinion), Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion), Pendapat tidak wajar (adverse opinion), dan Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer).

a. Pendapat Wajar tanpa Pengecualian (Unqualifed Opinion)

Pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diberikan auditor apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar pemeriksaan, penyajian laporan keuangan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan tidak terdapat kondisi atau keadaan tertentu yang memerlukan bahasa penjelas.

37 Dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, auditor menyatakan bahwa keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas suatu entitas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

b. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas (Unqualified Opinion With Explanatory Language)

Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas dapat ditambahkan dalam laporan audit bentuk baku. Pendapat ini diberikan apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar pemeriksaan, penyajian laporan keuangan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, tetapi terdapat keadaan atau kondisi tertentu yang memerlukan bahasa penjelas. Kondisi atau keadaan yang memerlukan bahasa penjelas tambahan antara lain dapat diuraikan sebagai berikut.

1) Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen lain. Auditor harus menjelaskan hal ini dalam paragrapf pengantar untuk menegaskan pemisahan tanggungjawab dalam pelaksanaan audit.

2) Adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh profesi atau pihak yang berwenang. Penyimpangan tersebut adalah yang terpaksa dilakukan agar pemakai laporan keuangan auditan tidak tersesatkan. Auditor harus menjelaskan penyimpangan yang

38 dilakukan berikut taksiran pengaruh maupun alasan penyimpangan dilakukan dalam satu paragraf khusus.

3) Laporan keuangan dipengaruhi oleh ketidakpastian yang material. 4) Auditor meragukan kemampuan satuan usaha dalam

mempertahankan kelangsungan hidupnya.

5) Auditor menemukan penggunaan prinsip dan metode akuntansi. c. Pendapat Wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)

Jenis pendapat ini diberikan apabila :

1) Luas pemeriksaan akuntan sangat dibatasi oleh klien.

2) Akuntan publik tidak dapat melakanakan prosedur pemeriksaan yang penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupun akuntan.

3) Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim.

4) Prinsip akuntansi yang digunakan didalam laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten.

5) Akuntan publik tidak dapat menjaga independensinya dalam hubungan klien.

6) Tidak ada bukti kompeten yang mencukupi atau adanya pembatasan lingkup audit yang material tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan.

39 7) Auditor merasa yakin bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum yang berdampak material, tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan. Penyimpangan tersebut dapat berupa pengungkapan yang tidak memadai maupun perubahan prinsip akuntansi.

8) Pendapat ini hanya diberikan jika secara keseluruhan laporan keuangan yang disajikan oleh klien adalah wajar, tetapi ada beberapa elemen yang di kecualikan yang pengeculainya tidak mempengaruhi kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan. Auditor harus menjelaskan alasan pengecualian dalam satu paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat.

Pendapat wajar dengan pengecualian tersebut baru dapat diterbitkan oleh auditor apabila laporan keuangan menyajikan secara wajar namun, karena dengan kondisi tertentu sehingga auditor memerlukan pendapat wajar dengan pengecualian seperti yang telah disebutkan diatas.

d. Pendapat Tidak Wajar ( Adverse Opinion).

Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Auditor harus menjelaskan alasan mendukung pendapat tidak wajar, dan dampak utama dari hal yang menyebabkan pendapat tidak wajar di berikan terhadap laporan keuangan.

40 Penjelasan tersebuut harus dinyatakan dalam paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat.

Pendapat tidak wajar ini hanya bisa diberikan ketika auditor merasa yakin bahwa keseluruhan laporan keuangan yang disajikan memuat salah saji yang material sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan. Bila auditor menyatakan pendapat tidak wajar, ia harus menjelaskan dalam paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat dalam laporannya (a) semua alasan yang mendukung pendapat tidak wajar, dan (b) dampak utama hal yang menyebabkan pemberian pendapat tidak wajar terhadap posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas, jika secara praktis untuk dilaksanakan. Jika dampak tersebut tidak dapat ditentukan secara beralasan, laporan audit harus menyatakan hal itu. e. Pendapat Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion)

Pernyataan tidak memberikan pendapat ini layak diberikan apabila: 1) Ada lingkup audit yang sangat material.

2) Auditor tidak independen terhadap klien.

Pernyataan ini tidak dapat diberikan apabila auditor merasa yakin bahwa terdapat penyimpangan yang material dari prinsip akuntansi yang berlaku umum. Auditor tidak diperkenankan mencantumkan paragraf lingkup audit, apabila menyatakan alasan mengapa auditnya tidak berdasarkan standar yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam satu paragraf khusus sebelum paragraf pejelasan.

41 Suatu pernyataan dengan tidak menyatakan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Pernyataan tidak memberikan pendapat adalah layak ketika auditor tidak melakasanakan audit yang lingkupnya memadai untuk memberikan pendapat. Suatu pernyataan tidak menyatakan pendapat juga dilakukan jika auditor tidak berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa laporan keuangan yang disajikan adalah wajar. Pernyataan tidak memberikan pendapat timbul karena adanya lingkup audit yang material dan tidak independenya auditor terhadap klien.

Pernyataan tidak memberikan pendapat harus diberikan dalam suatu pengauditan laporan keuangan entitas karena auditor yakin, atas dasar auditnya, bahwa terdapat penyimpangan material dari PABU di Indonesia.

Dokumen terkait