• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

B. Konstruksi Realitas Politik

1. Opini Publik

Istilah opini publik diserap secara utuh dari bahasa Inggris public opinion,

yang kemudian disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Opini adalah suatu respon aktif terhadap stimulus suatu respon yang di konstruksi melalui interpretasi

26 Ibid, h. 7 27 Ibid, h. 7-8 28

Hafied Cangara, Komunikasi Politik : Konsep, Teori, dan Strategi, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2009), Edisi 1, h. 88

pribadi yang berkembang dari dan menyumbang citra (image). Sedangkan publik adalah suatu kumpulan orang-orang yang sama minat dan kepentingannya terhadap sesuatu isu.29

Menurut Nurudin opini publik adalah kelompok yang tidak terorganisasi serta menyebar di berbagai tempat dengan disatukan oleh suatu isu tertentu dengan saling mengadakan kontak satu sama lain dan biasanya melalui media massa.30

Sedangkan menurut Dan Nimmo opini publik adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat komunitas, cara singkat untuk melukiskan kepercayaan atau keyakinan yang berlaku di masyarakat tertentu bahwa hukum-hukum tertentu bermanfaat, suatu gejala dan proses kelompok dan opini pribadi orang-orang yang oleh pemerintah dianggap bijaksana untuk diindahkan.31

Jadi yang dimaksud dengan opini publik yaitu suatu opini yang menyangkut isu atau kejadian yang mengandung keprihatinan (concern) publik. Dengan demikian opini publik bukan karena banyaknya jumlah orang melainkan karena sifatnya yang menyangkut isu publik.32

Menurut James Bryces dalam “Modern Democracy” opini publik merupakan

kumpulan pendapat dari sejumlah orang tentang masalah-masalah yang dapat mempengaruhi atau menarik minat atau perhatian masyarakat di dalam suatu daerah

29

Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida. Komunikasi Politik, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), h. 89

30

Nurudin. Komunikasi Propaganda. (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2008), h. 55

31

Dan Nimmo. “Komunikasi Politik : Komunikator, Pesan dan Media”. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), h. 10

32

tertentu. Secara sederhana opini publik merupakan kegiatan untuk mengungkapkan atau menyampaikan apa yang oleh masyarakat tertentu diyakini, dinilai, dan diharapkan oleh seseorang untuk kepentingan mereka dari situasi tertentu, issue

diharapkan dapat menguntungkan pribadi atau kelompok.33

Opini memiliki beberapa proses yang dikenal dengan konstruksi, yaitu:34 1. Konstruksi Personal

Opini berupa pengamatan dan interpretasi atas sesuatu secara sendiri-sendiri dan subjektif.

2. Konstrusi Sosial yang terdiri dari :

a. Opini Kelompok: Opini pribadi di atas kemudian diangkat dalam kelompok tertentu. Maka jadilah opini kelompok.

b. Opini Rakyat: Opini yang tersistematiskan melalui jalur yang bebas seperti pemilihan umum atau hasil polling.

c. Opini Massa: Opini yang berserakan, ini bisa berbentuk budaya atau konsensus. Inilah yang oleh para politikus disebut sebagai opini publik.

3. Konstruksi Politik

Ketiga opini hasil konstruksi sosial diatas dihubungkan dengan kegiatan pejabat publik yang mengurus masalah kebijakan umum. Inilah opini publik yang dikaji dalam komunikasi politik.

33

Ibid, h. 90

34

a. Komponen-komponen Opini Publik : 1. Keyakinan

a. Credulity, atau soal percaya atau tidak hal ini menyangkut apakah sesuatu yang diperbincangkan itu dipercaya atau justru sebaliknya tidak dipercaya oleh khalayak

b. Salience, yakni tingkat pentingnya kepercayaan bagi seseorang. Apa yang

sudah dipercayai oleh khalayak belum tentu langsung dianggapnya penting. Terdapat proses perangkingan isu, oleh karenanya opini publik juga terkait dengan beragam cara menjadikan sesuatu yang dipercaya itu menjadi penting dalam persepsi khalayak

2. Nilai-nilai

a. Nilai-nilai kesejahteraan (welfare values). Hampir seluruh opini publik terkait dengan apa yang dirasakan atau diupayakan didapat oleh khalayak terutama berkenaan dengan nilai kesejahteraan. Seperti misalnya pembicaraan soal korupsi, kebijakan publik, pengaturan pajak, kenaikan harga dan lain-lain menjadi perbincangan opini publik, salah satunya karena terkait dengan nilai kesejahteraan

b. Nilai-nilai deferensi (deference values). Hal ini berkaitan erat dengan bagaimana opini dipertukarkan oleh sesama masyarakat. Misalnya penanaman respek, menghormati cara dan kebiasaan orang berpendapat dan lain-lain. Nilai deferensi ini mengacu pada asumsi dasar opini publik yang tidak pernah bermakna tunggal

3. Ekspektasi berkaitan dengan konatif atau kecenderungan, seringkali disamakan dengan impuls, keinginan, usaha keras atau striving. Opini publik bukan semata perbincangan yang mengalir tanpa arah, opini publik sebenarnya berkaitan erat dengan keinginan dan usaha keras dari sebagian

masyarakat yang menginginkan suatu isu itu solid menjadi „sesuatu‟ yang

diperhatikan masyarakat. Dalam konteks ini kita kerap melihat opini publik diarahkan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan kepentingan mereka masing-masing.35

b. Karakteristik Opini Publik

Dan Nimmo membagi karakteristik opini kedalam dua bagian: opini pribadi dan opini publik. Karakteristik utama opini pribadi ialah: opini mempunyai isi (opini adalah tentang sesuatu), arah (percaya-tidak percaya, mendukung-tidak mendukung), dan intensitas (kuat, sedang atau lemah).36

Opini publik sebagai fenomena sosial dan politik khususnya di bidang komunikasi politik memiliki karakteristik tertentu. Namun ada empat karakteristik utama dalam opini publik, yaitu :

1) Mempunyai arah 2) Mempunyai content 3) Stabil 4) Mempunyai intensitas 35

Heryanto dan Farida. Komunikasi Politik, h. 91-92

36

Sementara Ithel de Sola Pool dalam Heryanto, mengemukakan bahwa opini publik sekurang-kurangnya memiliki satu diantara tiga keharusan (atau memiliki ketiga-tiganya), yaitu: pertama, diekspresikan (dinyatakan) secara umum. Kedua,

menyangkut kepentingan umum. Dan ketiga, dimiliki oleh banyak orang.37

Sedangkan Floyd Allpord dalam Heryanto mengumpulkan 12 karakteristik opini publik. Secara ringkas pokok-pokok karakteristik itu ialah opini publik merupakan perilaku manusia-manusia individu; dinyatakan secara verbal; melibatkan banyak individu; situasi dan objeknya dikenal secara luas; penting untuk banyak orang; pendukungnya berbuat atau bersedia untuknya; disadari; diekspresikan; pendukungnya tidak mesti berada pada tempat yang sama; bersifat menentang atau mendukung sesuatu; mengandung unsur-unsur pertentangan; dan efektif untuk mencapai objektivitas.38

Menurut Helena Olii Opini publik merupakan suatu pengumpulan citra yang diciptakan proses komunikasi. Pergeseran persepsi mengenai citra tergantung pada siapa saja yang terlibat dalam proses komunikasi, setiap kali jaringan komunikasi berubah, opini publik juga berubah. Perubahan dalam opini publik adalah dinamika komunikasi, sedangkan substansi opini publik tidak berubah karena ketika proses pembentukan opini publik berlangsung, pengalaman dari peserta komunikasi itu telah terjadi.39

37

Heryanto dan Farida. Komunikasi Politik, h. 95

38

Ibid, h. 93

39

Sedangkan Redi Panuju dalam Olii menegaskan, dalam pergeseran yang terjadi dalam opini publik disebabkan beberapa faktor:40

1. Faktor Psikologis

Antara individu yang satu dengan yang lainnya tidak ada kesamaan, ada hanya kemiripan yang memiliki banyak perbedaan. Perbedaan atas individu bisa meliputi pengalaman, selera, dan kerangka berpikir, sehingga setiap individu berbeda dalam bentuk dan cara merespon stimulus yang menghampirinya.

2. Faktor Sosiologis Politik

Ada anggapan bahwa opini publik terlibat dalam interaksi sosial, seperti misalnya pada:

a. Saat mewakili citra superioritas, yaitu barang siapa menguasai opini publik, maka ia akan mengdalikan orang lain. Apa yang disebutkan sebagai menguasai tidaklah tepat karena opini publik bukan suatu barang. Tetapi, karena opini publik bersifat dinamis, maka keberpihakannya pun bersifat relatif dan cenderung berpihak pada kelompok atau individu yang memiliki kedekatan hubungan.

b. Opini publik mewakili suatu kejadian, sehingga individu merasa keberadaannya dalam opini publik serta keterlibatannya sebagai bagian anggota masyarakat.

40

c. Opini publik berhubungan dengan citra, rencana, dan operasi (action). Kenneth R. Boulding dalam Olii mengutarakan, citra, rencana, dan operasi merupakan matriks dari tahap-tahap kegiatan dalam situasi yang selalu berubah.

d. Opini publik disesuaikan dengan kemauan banyak orang. Untuk itu, banyak orang berlomba memanfaatkan opini publik sebagai argumentasi atas alasan memutuskan sesuatu.

e. Opini publik identik dengan hegemoni ideologi. Kelompok atau pemerintahan ingin tetap terus berkuasa, maka mereka harus mampu menjadikan ideologi kekuasaan menjadi dominan dalam opini publik.

3. Faktor Budaya

Budaya mempunyai pengertian yang aneka ragam. Budaya diartikan sebagai seperangkat nilai yang dipergunakan untuk mengelola kehidupan manusia. Nilai-nilai yang terhimpun dalam sistem budaya itu oleh individu menjadi identitas sosialnya, menjadi ciri-ciri dari anggota komunitas budaya tertentu.

4. Faktor Media Massa

Interaksi antara media dengan institusi masyarakat menghasilkan produk isi media (media content). Oleh audiens, isi media diubah menjadi gugusan-gugusan makna, apakah yang dihasilkan dari proses penyandian pesan itu, sangat ditentukan oleh norma-norma yang berlaku dalam

masyarakatnya, pengalaman yang lalu, kepribadian dan selektivitas dalam penafsiran.

c. Pembentukan Opini Publik

Opini publik sebagai efek politik terbentuk melalui proses komunikasi politik yang dimulai dari opini setiap individu. Setiap pesan atau pembicaraan politik yang menyentuh individu itu dapat ditolak atau diterima, pada umumnya melalui proses terbentuknya pengertian dan pengetahuan (knowledge), dan proses terbentuknya sikap dan pendapat menyetujui atau tidak menyetujui (attitude and opinion), serta proses terjadinya gerak pelaksanaan (practice).

Ketiga proses diatas itu menurut E. Rogers dan Shoemakers dalam Heryanto pada dasarnya melalui lima tahap, yaitu: kesadaran; perhatian; evaluasi; coba-coba; dan adopsi. Kelima tahap ini dirumuskannya dalam kerangka komunikasi inovasi atau komunikasi pembaharuan. Dapat dikatakan bahwa pengertian dan pengetahuan lahir setelah melewati pintu kesadaran dan perhatian. Dengan kata lain bahwa suatu pesan atau pembicaraan politik dapat diketahui dan dimengerti oleh seseorang untuk kemudian melahirkan sikap dan opini (pendapat), harus terlebih dahulu seseorang itu memiliki kesadaran akan adanya rangsangan yang menyentuhnya. Rangsangan itu kemudian menimbulkan pengamatan dan perhatian.41

Sedangkan menurut Nimmo, pembentukan opini adalah proses empat tahap yang melibatkan kesaling-lingkupan aspek personal, sosial, dan politik melalui munculnya :

41

1. Pertikaian yang mempunyai potensi menjadi isu, 2. Kepemimpinan politik,

3. Interpretasi personal dan pertimbangan sosial,

4. Kesediaan mengungkapkan opini pribadi di depan umum.

Sebelum menyebutkannya, ada dua hal yang menurut Nimmo perlu dibicarakan. Pertama, dalam memberikan peran utama kepada interpretasi personal yang aktif dalam membentuk opini, kita tidak mengulang esensial contoh manusia rasional dari perilaku manusia. Kedua, yang perlu dibicarakan mengenai pembentukan opini sebelum kita meninjau implikasi pandangan kita, ialah mengenai karakteristik opini dan opini publik.42

Jika publik menghadapi suatu isu maka akan timbul perbedaan opini, hal ini menurut Santoso Sastropoetro dalam Olii disebabkan karena. Pertama, adanya perbedaan pandangan terhadap fakta dari masing-masing individu. Kedua, perbedaan perkiraan tentang cara-cara terbaik untuk mencapai tujuan. Dan ketiga, adanya perbedaan motif yang serupa guna mencapai tujuan.43

Arifin dalam Heryanto mengungkapkan bahwa dalam psikologi dijelaskan bahwa suatu pesan atau pembicaraan politik baru dapat disebut rangsangan apabila ia menyentuh alat indera manusia. Rangsangan itu kemudian dibawa ke otak oleh urat saraf, dan karena reaksi otak terjadilah pengamatan. Sejak itulah orang tersebut sadar akan adanya pesan atau pembicaraan politik yang menyentuhnya. Dalam hal ini

42

Nimmo, Komunikasi Politik “Khalayak dan Efek, h. 24-25

43

Thomas A. Aquino menyatakan bahwa tiada sesuatu yang dapat masuk kedalam pikiran yang tidak ditangkap oleh panca indera.44

Dalam hubungannya dengan penilaian terhadap suatu opini publik, perlu diperhitungkan empat pokok, yaitu:45

a. Difusi, yaitu apakah opini yang timbul merupakan suara terbanyak, akibat

adanya kepentingan golongan.

b. Persistense, yaitu kepastian atau ketetapan tentang masa berlangsungnya isu karena di samping itu opini pun perlu diperhitungkan.

c. Intensitas, yaitu ketajaman terhadap isu.

d. Reasonableness, yaitu pertimbangan-pertimbangan yang tepat dan

beralasan.

Opini publik terbentuk karena adanya aktivitas komunikasi yang bertujuan memengaruhi dan mengubah cara pandang orang lain terhadap suatu isu, pun terkadang dalam prosesnya seringkali terjadi perubahan antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Agar pihak lain terpengaruh tidak jarang menggunakan proses tawar menawar dengan cara penekanan, agitasi (provokator), ataupun intimidasi atau ancaman.

Dokumen terkait