BAB II PENDEKATAN TEORISTIS TENTANG FUNGSI GURU
B. Optimalisasi Bimbingan dan Konseling Islam
1. Optimalisasi
Menurut kamus besar bahasa Indonesia optimalisasi adalah berasal dari kata dasar optimal yang berarti terbaik, tertinggi, paling menguntungkan, menjadi paling baik, menjadi paling tinggi, dan lebih efektif.1
Optimalisasi bimbingan konseling Islam disekolah merupakan salah satu alternatif `pemberdayaan dalam memberikan layanan pada siswa. Jadi sangat dibutuhkan atau dihadirkan seorang guru yang bisa mengatasi itu semua. Dimana guru tersebut telah memenuhi kriteria, dan keahlian dalam bidang tersebut yaitu mengatasi masalah siswanya, dalam memberikan layanan
1
Kamus Besar Indonesia, (Jakarta: Balai Puataka, 1995), h. 705
bimbingan dan konseling. Pemberian layanan bimbingan yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan peserta didik masih sulit diwujudkan karena dibutuhkan guru atau BK yang profesional. Dalam proses pendidikan, khususnya disekolah, adanya bidang-bidang tugas atau pelayanan yang saling terkait. Bidang-bidang tersebut hendaknya secara lengkap ada apabila diinginkan agar pendidikan disekolah dapat berjalan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi secara optimal kebutuhan peserta didik dalam proses perkembangan.2
Dari pendapat beberapa para ahli penulis menyimpulkan bahwa optimalisasi bimbingan dan konseling umum adalah bimbingan dan konseling tidak dihubungkan dengan tuhanmaupun ajaran agama maka layanan bimbingan dan konseling di anggap sebagai hal yang semata-mata masalah kedunawian, sedangkan bimbingan dan konseling Islam mengajarkan aktifitas layanan bimbingan dan konseling itu merupakan suatu ibadah kepada Allah SWT suatu bantuan kepada orang lain, termasuk layanan bimbingan dan konseling dalam ajaran Islam di hitung sebagai suatu ibadah.
2. Fungsi Guru
a. Mengajarkan
Sudah lazim kita ketahui bahwa fungsi seorang guru adalah mengajarkan. Mengajarkan artinya menginformasikan pengetahuan kepada orang lain secara berurutan, langkah demi langkah. Ketika seorang guru masuk dalam
2
kelas, berhadapan dengan murid-murid, maka yang harus ditekankan di dalam hati guru adalah dia akan mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya.
b. Membimbing atau mengarahkan
Fungsi guru berikutnya adalah membimbing dan atau mengarahkan. Membimbing artinya memberikan petunjuk kepada orang yang tidak atau belum tahu. Sedangkan mengarahkan adalah pekerjaan lanjut dari bimbingan, yaitu memberikan arahan kepada orang yang di bimbing itu agar tetap on the track, suapa tidak salah langkah atau tersesat dijalan. c. Membina
Fungsi guru yang sangat vital adalah membina. Ini adalah puncak dari rangkaian fungsi sebelumnya. Membina adalah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjadikan sesuatu lebih baik dan terus lebih baik dari sebelumnya. Setelah guru mengarkan murid-murid,lalu dia akan membimbing dan mengarahkan, baru kemudia membina mereka.3
3. Fungsi Bimbingan dan Konseling
a. Fungsi pemahaman
Pemahaman yang sangat perlu dihasilkan oleh pelayanan bimbingan dan konseling adalah pemahaman tentang diri klien berdasarkan permasalahannya oleh klien sendiri dan oleh pihak-pihak
3
Hamka Abdul Aziz, Karakter Guru Profesonal melahirkan murid unggul menjawab tentang masa depan (Jakatra selatan: Al-Mawardi Prima, 2016), Cet 4, h. 29-34.
yang akan membantu klien, serta pemahaman tentang lingkungan klien oleh klien.
1) Pemahaman tentang klien
Pemahaman tentang klien merupakan titik tolak upaya pemberian bantuan terhadap klien. Sebelum seorang konselor atau pihak-pihak lain dapat memberikan layanan tertentu kepada klien, maka mereka perlu terlebih dahulu memhami individu yang akan dibantu itu. Pemaham tersebut tidak hanya sekedar mengenai diri klien, melainkan lebih jauh lagi, yaitu pemahaman yang menyangkut latar belakang pribadi klien, kekuatan dan kelemahannya, serta kondisi lingkungannya. Pemahaman orang tua terhadap anaknya sangat penting, dan pihak lain yang sangat berkepentingan dengan pemahaman terhadap klien adalah konselor.
2) Pemahaman tentang masalah klien
Pemahaman terhadap masalah klien merupakan sesuatu yang wajib adanya. Tanpa pemahaman terhadap masalah, penanganan terhadap masalah itu tidak mungkin dilakukan. Pemahaman terhadap masalah klien itu terutama menyangkut jenis masalahnya, itensitasnya, sangkut-pautnya, sebab-sebabnya, dan kemungkinan berkembangnya (kalau tidak segera diatasi). Dari uraian di atas, jelaslah bahwa pemahaman masalah oleh individu (klien) sendiri merupakan modal dasar bagi pemecahan masalah tersebut. Sejak awal prosesnya,
pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan mampu mengantarkan klien memahami masalah yang dihadapinya.
3) Pemahaman tentang lingkungan yang “lebih luas”
Secara sempit lingkungan diartikan sebagai kondisi sekitar individu yang secara langsung mempengaruhi individu tersebut, seperti keadaan rumah tempat tinggal, keadaaan sosio ekonomi dan sosioemosional kluarga, keadaaan hubungan antar tetangga dan teman sebaya, dan sebagainya. Paparan singkat lebih lanjut berikut ini
menyangkut beberapa jenis lingkungan yang “lebih luas”, seperti
lingkungan sekolah bagi para siswa, lingkungan kerja dan industri bagi para karyawan. Termasuk kedalam lingkungan yang lebih luas itu adalah berbagai informasi yang diperlukan oleh individu, seperti informasi pendidikan dan jabatan bagi para siswa, informasi promosi dan pendidikan lebih lanjut bagi para karyawan, dan sebagainya. Para siswa perlu memahami dengan baik lingkungan sekolah, yang meliputi lingkungan fisik, berbagai hak dan tanggung jawab siswa terhadap sekolah, disiplin yang harus dipatuhi oleh siswa, aturan-aturan yang menyangkut kurikulum, pengajaran, penilaian, kenaikan kelas, dan hubungan guru dan sesama siswa.
b. Fungi pencegahan
1) Pengertian pencegahan
Dalam dunia kesehatan mental “pencegahan” didefenisikan sebagai upaya mempengaruhi dengan cara yang positif bijaksana lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian sebelum kesulitan atau kerugian itu benar-benar terjadi. Lingkungan yang baik akan memberikan pengaruh positif terhadap individu. Oleh karena itu, lingkungan harus dipelihara dan di kembangkan.
2) Upaya pencegahan
Kurikulum “keterampilan pencegahan masalah sosial” yang mengajarkan kepada anak-anak ( di Philadelphia) menghasilkan pada diri anak-anak itu penyesuaian sosial yang lebih baik, kesadaran yang lebih mendalam tentang perasaan-perasaan mereka sendiri, seraca pengendalian diri yang lebih tinggi.
c. Fungsi pengentasan
Orang yang memliki masalah dianggap berada dalam suatu keadaan yang tidak mengenakan sehingga perlu diangkat atau dikeluarkan dari badannya yang tidak mengenakan. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan itu adalah upaya pengentasan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Dalam hal itu bimbingan dan konseling menyelenggarakan fungsi pengentasan.
d. Fungi pemeliharaan
Fungsi pemeliharaan berarti memilihara segala sesuatu yang baik yang ada pada diri individu, baik hal yang meupakan pembawaan maupun hasil-hasil perkembangan yang telah dicapai selama ini. Inteligensi yang tinggi, bakat yang istimewa, minat yang menonjol untuk hal-hal yang positif dan produktif, sikap dan kebiasaan yang telah terbina dalam bertindak dan bertingkah laku sehari-hari. Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, fungsi pemeliharaan dan pengembangan dilaksanakan memalui berbagai pengaturan, kegiatan, dan program. Misalnya di sekolah, bentuk dan ukuran meja/kelas murid disesuaikan dengan ukuran tubuh (dan besarnya) serat sikap tubuh yang diharapkan (tegap dan gagah).4
4. Bimbingan dan Konseling Islam
Secara umum bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu (klien) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya, supaya konseling mempunyai kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mempunyai kemampuan memecahkan masalah sendiri. Atau proses pemberian bantuan yang sistematis dari pembimbing (konselor) kepada konseling (siswa) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik
4
Prayitno & Erman amti, Dasar-darar Bimbingan dan Konseling ( Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004 ), Cet 2, h. 196-215
antara keduanya untuk mengungkap masalah konseling sehingga konseli mempunyai kemampuan menerima dirinya sendiri sesuai dengan potensinya, dan mampu memecahkan sendiri masalah yang di hadapinya.5
Sedangkan Bimbingan konseling Islam adalah proses pemberian batuan terarah, kontinew dan sistematis kepada setiap individu agar ia dapat mengembangkan potensi atau pitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam al’quran dan hadits Rasulullah ke dalam dirinya, sehingga ia dapat
hidup selaras dan sesuai dengan tuntunan al’quran dan hadis.
Dalam firman Allah SWT. (QS Al-Asr [103]:1-3):
Artinya : Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS Al-Asr [103]:1-3).
Berdasarkan penjelasan diatas, maksud judul skripsi ini adalah suatu penelitian untuk memberikan arahan memecahkan masalah melalui tenaga pendidik dan untuk mencapai keberhasilan dalam mendidik siswa dan siswi di sekolah.
5
Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan bahwa bimbingan dan konseling umun tidak dihubungkan dengan tuhan maupun ajaran agam. Maka layanan bimbingan dan konseling dianggap sebagai hal yang semata-mata masalah keduniawian, sedangkan bimbingan dan konseling Islam menganjurkan aktifitas layanan bimbingan dan konseling itu merupaka suatu ibadah kepada Allah SWT suatu bantuan kepada orang lain, termasuk layanan bimbingan dan konseling dalam Islam di hitung sebagai suatu sedekah.
B. Alasan Memilih Judul 1. Objektif
Karena fungsi guru bimbingan dan konseling Islam disekolah sangat penting dalam memberikan pelayanan bantuan kepada siswa, guru bimbingan dan konseling dapat memberikan pelayanan bimbingan dan konseling dengan baik, dan mencapai perkembangan yang optimal bagi peserta didik. Hadirnya guru bimbingan dan konseling Islam di sekolah sangat penting karena adanya fakta yang tidak bisa dihindari yakni perbedaaan individu, setiap anak didik mempunyai pemikiran, sikap, kepribadian yang berbeda dan juga setiap anak atau individu mengalami perkembangan dalam berbagai aspek.
Selain itu juga guru bimbingan dan konseling Islam di MTs N 1 Liwa Lampung Barat kurang aktif dalam membimbing dan mengkonseling peserta didiknya, guru bimbingan dan konseling bukan hanya untuk membantu
siswanya yang bermasalah akan tetapi juga harus aktif dalam membimbing siswa. Untuk siswanya sendiri banyak siswa yang sering kali terlambat, membolos,dan melompati tembok. Maka dari itu fungsi guru bimbingan dan konseling Islam sangat di butuhkan untuk membantu mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.
2. Subjektif
Tersedianya literatur, data lapangan, waktu, dana dan tempat bagi peneliti untuk menunjang keberhasilan penelitian ini.
C. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan alat untuk meningkatkan peradaban, mengembangkan masyarakat, dan membuat generasi mampu berbuat banyak bagi kepentingan mereka. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan formal melalui proses belajar mengajar, berusaha dengan segala upaya untuk mengarahkan siswa pada tujuan yang telah di tetapkan. Dalam hal ini sejauh beban yang diberikan kepada sekolah dapat dilaksanakan oleh lembaga sekolah, apabila sekolah itu ingin meningkatkan mutu dalam rangka mencapai perkembangan yang optimal siswanya, maka sekolah hendaknya memberikan pelayanana yang optimal.
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan bagi manusia, karena guru merupakan salah satu usaha manusia untuk menjawab masalah kehidupan, oleh karena itu guru hendaknya dapat berperan terhadap upaya pembentukan akhlak peserta didik. Pendidikan meupakan persoalan penting bagi semua umat. Pendidik selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan
individu dan masyarakat. Pendidik merupakan alat untuk meningkatkan peradaban, mengembangkan masyarakat, dan membuat generasi mampu berbuat banyak bagi kepentingan mereka. Dalam menyelenggarakan proses pendidikan di sekolah adanya bidang-bidang tugas atau pelayanan memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Bidang-bidang tersebut dimaksudkan agar pendidikan disekolah dapat berjalan secara baik untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dalam proses perkembangannya. Pelayanan bimbingan dan konseling disekolah merupakan kegiatan yang sistematis, terarah dan berkelanjutan. Kemampuan yang hendak dicapai tidak hanya menyangkut aspek akademis, tetapi juga menyangkut aspek perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai peserta didik.Pendidik merupakan faktor yang sangat penting dan dominan untuk membentuk kesadaran, kepribadian, dan sikap untuk berprilaku yang lebih baik yang sesuai dengan norma dan aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Sekolah memiliki kewajuban menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling Islam terhadap terhadap siswa berkenaan dengan perkembangan pribadi, sosial, perubahan sikap.
Salah satu fungsi guru bimbingan dan konseling Islam adalah fungsi perkembangan disini tergambar bahwa bimbingan dan konseling Islam berfungi untuk meningkatkan kualitas pendidikan pada umunya dan meningkatkan mutu anak didik khususnya. Penulis ingin mengetaui berjalan optimal atau tidaknya proses pemberian layanan bimbingan dan konseling jika jumlah guru bimbingan
dan konseling berjumlah dua orang, dan teknik-teknik apa saja yang dilakukan guru bimbingan dan konseling dalam menyelesaikan masalah peserta didik. Adapun yang mendasar disekolah adalah memberikan pelayanan yang sesuai dengan apa tujuan bimbingan dan konseling Islam yakni membantu individu memperkembangkan kemampuan dasar dan bentuk-bentuknya, bebagai latar belakang yang ada seperti : keluarga, pendidikan, perubahan sikap. ini semua di aplikasikan dalam bentuk layanan bimbingan dan konseling Islam. Dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling disekolah haruslah terperinci dan tepat sasaran baik dari segi peserta didik yang akan di bimbing jenis layanan dan kegiatan pendukung yang akan diberikan, waktu, sarana dan prasarana, biaya, dan sebagainya. Agar tercipta dan tepat sasaran seorang guru bimbingan dan konseling harus menyusun program bimbingan dan konseling. Program bimbingan dan konseling adalah program yang tertuju pada yang ingin dicapai dari tujuan bimbingan dan konseling sehingga program tersebut dapat dilaksanakan efesien dan efektif.
MTs Negeri 1 Liwa Lampung Barat terletak di Gunung Sugih, Balik Bukit, Gn.Sugih, Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Jumlah semua guru berjumlah 40 orang dan siswanya berjumalah 500 orang. Banyaknya siswa yang melanggar aturan-aturan sekolah seperti merokok, membolos, berkelahi, tidak mengikuti upacara, tidak mengikuti olahraga dan menghisap lem. Faktor ini bisa disebabkan oleh pergaulan siswa ataupun kuranya perhatian keluarga memperhatikan tingkah laku anaknya dan kurangnya perhatian dalam
membimbing anaknya. Selain itu juga faktor penyebab terjadinya penyimpangan bisa juga terjadi kurang aktifnya perhatian guru bimbingan dan konseling.
Pada hakikatnya seorang guru bimbingan dan konseling adalah guru yang memperhatikan psikologi anak, tingkah laku anak. Seringkali kita ketahui bahwa guru bimbingan dan konseling dianggap sebagai polisi sekolah, siswa hanya tau bahwa masuk ruangan bimbingan dan konseling adalah orang yang mempunyai masalah dan biasanya siswa akan lebih takut terhadap guru bimbingan dan konseling hal ini tidaklah benar, karena guru bimbingan dan konseling adalah tempat mengadu ketika seseorang tertimpa masalah baik masalah keluarga, masalah dengan teman ataupun masalah disekolah itu sendiri.
Penulis tertarik ingin mengetahui pelayanan apa saja yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling dalam menyelesaikan masalah yang ada pada siswa, selain itu juga dengan jumlah guru bimbingan dan konseling yang berjumlah dua orang apakah pelayanan bimbingan dan konseling berjalan secara optimal atau tidak, pelayanan bimbingan dan konseling di MTs Negeri 1 Liwa Lampung Barat sudah berjalan 1 tahun.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah yang di ambil adalah sebagai berikut :
Bagaimana Optimalisasi fungsi guru bimbingan dan konseling Islam di MTs N 1 Liwa Lampung Barat ?
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Ada pun tujuan dari pada penelitian ini :
Untuk mengetahui optimalisasi fungsi guru bimbingan dan konseling Islam di MTs Negeri 1 Liwa Lampung Barat.
2. Kegunaan Penelitian
a. Bagi pengambilan kebijakan, sebagai sumabangan pemikiran dalam menetapkan tenaga yang profesonal dan meningkatkan mutu anak didik dalam rangka menyusun strategi dalam proses kegiatan belajar mengajar. b. Bagi pihak sekolah MTs N 1 Liwa Lampung Barat sebagai bahan
masukan, terutama agar dapat meningkatkan kerja sama dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling secara komprehensif kepada seluruh anak didik.
c. Bagi guru pembimbing yaitu memperdalam dan memperluas wawasan keilmuan, baik dalam teori maupun implementasinya dilapangan mengenai fungsi bimbingan dan konseling terutama dalam meningkatkan pelayanan yang baik.
d. Bagi siswa terbantu dalam perkembangan diri secara optimal dan dapat meningkatkan prestasinya.
F. Kajian Pustaka
Skripsi ditulis oleh Aliman (2010) dengan judul “Optimalisasi fungsi bimbingan konseling di MTs MATHA’UL Anwar kecapi padang cermin
kabupaten pesawaran”. Dalam skripsi ini dijelaskan bahwa Optimalisasi fungsi bimbingan konseling di MTs MATHA’UL Anwar kecapi padang cermin kabupaten pesawaran telah terbukti berhasil dan berjalan secara optimal karena
guru bimbingan dan konseling islam di MTs MATHA’UL sangat berperan dalam
membimbing atau membina peserta didik.
Sebuah penelitian yang dilakuakn oleh Khairiah ninda (2014) dengan judul
“Optimalisasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di MAN 2 AMUNTAI
kabupaten hulu sungai utara”. Dalam hasil penelitian tersebut dipaparkan bahwa berdasarkan hasil kolerasi penelitian menunjukkan bahwa upaya guru dalam mengoptimalkan pelaksanaan bimbingan dan konseling di MAN 2 amuntai kabupaten hulu sungai utara meliputi optimalisasi layanan orientasi yaitu dengan pemberian orientasi yang tidak terbatas kepada siswa namun orientasi juga diberikan kepada orang tua siswa.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Marzuki ismail (tahun 13) yang berjudul “Optimalisasi peran guru bimbingan dan konseling di siswa di sekolah”. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Marzuku ismail tersebut menyatakan bahwa peran guru kelas sebagai konselor adalah salah satu cara guru dalam membimbing anak peserta didiknya. tentang upaya pengoptimalan fungsi guru bimbingan dan konseling untuk memotivasi diri untuk meningkatkan peran dan fungsinya sebagai pembimbing.
Penelitian yang penulis lakukan di MTs Negeri 1 Liwa Lampung Barat sebelumnya belum pernah dilakukan oleh orang lain, dan perbedaan penelitian
penulis dengan penelitian lain yaitu penulis melakukan penelitian terhadap guru bimbingan dan konseling optimal atau tidaknya guru bimbingan dan konseling dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap siswa.
G. Metode Penelitian
Metodologi penelitian dalam bahasa inggris yaitu “Science Research Method”. Metodologi berasa dari kata methodology, maknanya ilmu yang menerangkan metode-metode /cara-cara. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research” yang terdiri dari kata re (mengulang) dan search (pencarian, pengejaran, penelusuran, penyelidikan, atau penelitian), maka research berulang melakukan pencaria. Metodologi penelitian bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu Untuk diolah, dianalisi, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya.6
Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang7
1. Jenis dan sifat penelitian a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah “Penelitian lapangan (field research) yaitu
penelitian lapangan yang dilakukan dalam kancah kehidupan yang
6
Wardi Bactiar, Metodologi Penelitian, Ilmu Dakwah (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997). 7
sebenarnya.8 Penelitian lapangan (field research) yaitu dengan mencatat dan mendeskripsikan gejala-gejala sosial, dihubungkan dengan gejala lain.9
b. Sifat Penelitian
Sifat penelitian kualitatif yaitu bersifat menerapkan, yaitu bertujuan mendeskripsikan dan menginterprestasikan apa yang ada (bisa mengenai kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi atau kecenderungan yang tengah berkembang).10
Dalam kaitan dengan penelitian ini penulis menggunakan data-data yang dibutuhkan tentang Optimalisasi fungsi guru bimbingan dan konseling islam di MTs N 1 Liwa Lampung Barat.
2. Populasi Penelitian
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup, dan waktu yang sudah ditentukan. Senada dengan pendapat diatas, populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.11 Populasi dalam penelitian ini yaitu Drs. Mihri dan
8
Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial , (Bandung: Mandar Maju, 2006), Cet 3, h. 33.
9
Wardi Batiar, Metode Penelitian ,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), h. 54.
10
Sumanto, teori Dan Aplikasi Metode Penelitian Psikologis, Pendidikan, Ekonomi Bisnis, dan Sosial (Jakarta: CPAS (Center of Academic PublishingService), 2014), h. 179.
11
Whindiyawaty S.Pd, berjumlah dua orang namun jumlah keseluruhan pupulasinya adalah 500 orang yang akan di teliti hanya dua orang.
Dalam penelitian ini ditentukan subjek sebagai sumber data yang relevan dengan masalah yang diteliti Untuk dipelajari, dan ditarik kesimpulannya.
3. Sampel penelitian
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.12 Dalam penelitian ini, tidak semua populasi akan dijadikan sumber data, melainkan dari sampelnya saja, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode non randem sampling, yaitu tidak semua individu dalam populasi diberi peluang sama untuk ditugaskan menjadi anggota sampel.13 Untuk lebih jelasnya, teknik non random sampling ini penulis menggunakan jenis purposive sampling. Yaitu metode penelitian yang didasarkan pada ciri-ciri yang ada di dalam populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Adapun yang menjadi Sampel dalam penelitian ini adalah guru bimbingan dan konseling Islam di MTs N 1 Liwa Lampung Barat yang berjumlah dua orang.
12
Ibid, h. 81.
13
4. Metode Pengumpulan Data a. Metode Observasi
Dalam observasi peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.14 Observasi dilakukan untuk melihat dan mencatat bagaimana optimalisasi fungsi guru bimbingan dan konseling Islam di MTs Negeri 1 Liwa Lampung Barat.
b. Metode Wawancara
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana penulis tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara