• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Optimalisasi Peran BPBD dalam Penanggulangan Bencana

jawab bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai organisasi khusus menangani bencana di daerah dan termasuk sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mempunyai peran sebagai berikut : 1. Menambah Sarana Penanggulangan Bencana

a. Alat Transportasi

Alat transportasi yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) antara lain kendaraan roda empat dan roda dua. Sarana penanggulangan bencana seperti bencana tanah longsor sangat penting diperhatikan baik oleh pemerintah maupun Badan

Penanggulangan Bencana Daerah karena bencana ini sangat membutuhkan peralatan.

Peralatan yang digunakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gowa adalah sebagai berikut:

No

Jenis Alat Transportasi BPBD Kab. Gowa

Unit

Mobil Motor

1 Ambulance Gawat Darurat 1 Unit

2 Kendaraan Dinas 1 Unit

3 Kendaraan Dinas 1 Unit

Jumlah Total 3 Unit

Tabel 3. Alat Transportasi BPBD, Diolah oleh peneliti 2015.

Peralatan penanggulangan bencana tentu harus siap-siaga untuk dipergunakan ketika ada bencana. Berikut kutipan wawancara Sekretaris BPBD terkait dengan alat transportasi sebagai berikut:

“…..Alat transportasi yang dimiliki BPBD berupa kendaraan roda dua dan roda empat yaitu motor dan mobil. Kendaraan transportasi ini sangat penting bagi BPBD sebagai kendaraan dinas dan sebagai alat evakuasi korban ketika ada bencana.

Mobil evakuasi (Ambulance Gawat Darurat) digunakan untuk mengangkut korban bencana disuatu wilayah kejadian bencana. Motor yang dimiliki BPBD merupakan salah satu kendaraan dinas yang dipakai oleh pegawai BPBD. Namun, perlu dipahami bahwa BPBD masih membutuhkan penambahan kendaraan roda empat untuk lebih mempermudah proses evakuasi pada suatu wilayah ketika ada bencana (Wawancara MA, 20 April 2015).

Berdasarkan hasil kutipan wawancara di atas, maka dapat disimpulkan bahwa alat transportasi merupakan salah satu sarana

yang perlu ditambah untuk mempermudah proses penanggulangan bencana pada evakuasi korban bencana.

b. Alat Berat

Penanggulangan bencana terutama pada bencana tanah longsor sangat membutuhkan alat pengangkut sedimen/material tanah longsor tersebut untuk mengevakuasi kejadian. Akan tetapi alat berat seperti loader dan skapator ternyata tidak dimiliki oleh BPBD akan tetapi alat besar tersebut yang biasa dipakai adalah milik Dinas Pekerjaan Umum. Berikut kutipan wawancara dengan Sekretaris BPBD terkait alat berat penanggulangan bencana sebagai berikut :

“….Kalau melihat kondisi BPBD memang kesulitan melakukan tindakan penanggulangan secara cepat karena terkendala dengan alat berat yang digunakan. Sebab, alat yang biasa dipakai adalah milik Dinas Pekerjaan Umum yang seharusnya BPBD juga memiliki alat itu. Alat besar tidak dimiliki BPBD seperti skapator dan loder, padahal alat tersebut tentunya harus dimiliki agar penanggulangan yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Akan tetapi alat besar itu tidak kami miliki, Inilah hambatan kami melaksanakan tugas sehingga perlu dicermati oleh pemerintah agar kiranya alat besar bisa dimiliki BPBD” (Wawancara MA, Tanggal 20 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa penyediaan peralatan penanggulangan bencana seperti alat berat belum ada dimiliki BPBD padahal alat berat merupakan salah satu alat yang harus dimiliki untuk penanggulangan bencana.

Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk dilaksanakan sesuai tugas

dan fungsi sebagai salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mengurusi bencana. Melihat hasil wawancara diatas, maka terdapat kekurangan alat penanggulangan bencana. Oleh karena itu, pelaksanaan penanggulangan bencana longsor tentunya membutuhkan alat berat untuk mengevakuasi runtuhan tanah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiap-siagaan dalam penanggulangan bencana membenarkan argumentasi sebelumnya disatas terkait dengan sarana penanggulangan bencana yang dimiliki oleh BPBD demi kelancaran proses pelaksanaan penanggulangan di lapangan, berikut kutipan wawancaranya :

“...Peralatan yang dimiliki oleh BPBD masih kurang, padahal peralatan penanggulangan harus memadai demi kelancaran penanggulangan bencana tanah longsor di lapangan. Alat-alat yang harus dimiliki BPBD seperti : Alat Berat dan Alat Transportasi. Akan tetapi yang dimiliki BPBD baru Alat Transportasi dan Alat Evakuasi, mengenai alat evakuasi juga baru 1 unit. Terkait kekurangan alat penanggulangan bencana sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses evakuasi dilapangan sehingga alat berat yang sering dipakai adalah milik Dinas Pekerjaan Umum yang seharusnya alat berat juga dimiliki BPBD agar tidak terjadi ketimpang siuran, karena terkadang alat berat milik dinas itu dipakai ketika pihak BPBD meminta ijin memakai alat tersebut” (Wawancara MR, Tanggal 20 April 2015).

Sesuai hasil wawancara di atas dengan informan maka dapat simpulkan bahwa bencana tanah longsor akan bisa dievakuasi ketika menggunakan alat berat, namun alat berat tersebut tidak dimiliki

oleh BPBD melainkan alat berat yang biasa digunakan adalah milik Dinas Pekerjaan Umum.

Oleh karena itu, alat berat merupakan alat yang wajib dimiliki BPBD agar proses evakuasi dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah menjelaskan permasalahan peralatan penanggulangan bencana terkait dengan alat evakuasi seperti alat berat dalam kutipan wawancara berikut :

“...Pemerintah telah memberikan sarana kepada BPBD. Akan tetapi, peralatan yang harus dimiliki itu belum ada seperti alat berat. Mengenai permasalahan ini, pihak BPBD berusaha menjalin koordinasi yang baik bagi pemerintah terkait pengadaan alat berat tersebut agar kiranya dimiliki BPBD.

Melihat kondisi peralatan yang dimiliki BPBD memang masih kurang dari apa yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana seperti tanah longsor. BPBD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai organisasi penanggulangan bencana tentunya berusaha melakukan evakuasi ketika ada tanah longsor meskipun alat berat yang digunakan adalah milik Dinas Pekerjaan Umum. Namun celakanya, terkadang alat berat tersebut dipakai juga oleh Dinas Pekerjaan Umum. Inilah masalah yang perlu mendapatkan perhatian serius bagi pemerintah agar penanggulangan bencana tanah longsor dapat dilaksanakan tanpa ada keterbatasan peralatan” (Wawancara AL, Tanggal 21 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa keterbatasan prasarana seperti alat berat menyebabkan penanggulangan di lapangan tidak optimal.

2. Meningkatkan Sumber Dana Penanggulangan Bencana

Dana penanggulangan bencana merupakan anggaran belanja langsung berdasarkan program dan kegiatan. Dana penanggulangan

bencana berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun.

a. Dana Operasional

Berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gowa satu tahun terakhir

Jumlah Total Rp. 261.149.000 Rp. 240.655.200 Tabel 4. Dana Operasional BPBD, Diolah oleh peneliti 2015.

Dana operasional merupakan dana yang diperlukan untuk menunjang/mendukung jalannya suatu kegiatan penanggulangan bencana di lapangan. Penanggulangan bencana memang bukan tugas yang ringan bagi Badan Penanggulngan Bencana Daerah (BPBD), selain peralatan penanggulangan bencana juga perlu menjadi perhatian adalah dana penanggulangan bencana. Dana

penanggulangan bencana adalah suatu hal yang sangat penting diperhatikan baik pemerintah daerah maupun BPBD yang tidak beda jauh pentingya dengan peralatan penanggulangan. Proses penanggulangan bencana tentu membutuhkan anggaran.

Berdasarkan tabel anggaran di atas, Kasubag Keuangan BPBD Kabupaten Gowa menjelaskan dalam kutipan wawancara berikut :

“...Penanggulangan bencana daerah merupakan suatu tugas berat bagi BPBD karena akan berhadapan dengan masalah jiwa, namun itu bukan sebuah hambatan bagi kami akan tetapi perlu ada sinergi baik moril maupun materil antara pengelola bencana dengan pemerintah. Terkait dengan pengelolaan bencana tentu BPBD harus memiliki anggaran yang lebih karena bencana datang tidak kita ketahui (secara tiba-tiba) sehingga perlu ada peningkatan alokasi anggaran Dana Operasional dalam penanggulangan bencana seperti tanah longsor. Olehnya itu, kami berharap bahwa kedepan anggaran penanggulangan bencana perlu di tingkatkan oleh pihak penanggung jawab bencana dalam hal ini pemerintah Kabupaten Gowa” (Wawancara R, Tanggal 22 April 2015).

Hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa BPBD berharap agar anggaran penanggulangan bencana di tingkatkan dengan melihat anggaran pada tahun 2014 lebih tinggi di bandingkan pada tahun 2015. Padahal anggaran penanggulangan bencana seharusnya di tingkatkan sesuai hasil wawancara diatas.

Anggaran dalam penanggulangan bencana memang mempunyai kekuatan yang sangat besar, karena proses penanggulangan membutuhkan peralatan baik peralatan kecil sampai besar tentu menggunakan anggaran. Optimal tidaknya sebuah kegiatan penanggulangan bencana tergantung pada kondisi

keuangan/anggaran yang ada untuk dipakai dalam operasional pelaksanaan. Namun, ketika dilihat dengan kondisi yang dimiliki BPBD terkait dengan anggaran tersebut tentu pihak yang bertanggung jawab sangat berperan penting untuk menyediakan anggaran sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penanggulangan.

b. Dana Siap Pakai

Dana Siap Pakai (DSP) merupakan dana yang sifatnya tidak terduga dalam penanggulangan bencana untuk membantu jalannya proses penanggulangan bencana di lapangan. Pelaksanaan penanggulangan bencana telah dilakukan oleh pelaksana penanggulangan bencana dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan tetapi operasional di lapangan masih belum mencapai sasaran penanggulangan yang optimal. Oleh karena itu, sebuah sistem akan lemah bilamana ada sesuatu yang kurang didalamnya. Berikut wawancara dengan Kasubag Keuangan terkait Dana Siap Pakai (DSP) yaitu:

“....Bencana merupakan kejadian yang sifatnya tidak terduga jadi tentunya dana penanggulangan bencana harus tersedia untuk mengantisipasi bencana di lapangan. Dana Siap Pakai ini berjumlah + 1 Milyar dan cair ketika ada bencana, sehingga apabila ada bencana terjadi secara tiba-tiba pihak BPBD akan kesulitan karena dana ini keluar ketika ada laporan sehingga proses penanggulangan di lapangan akan lambat. Dana ini sangat mendorong kesuksesan sebuah penanganan di lapangan” (Wawancara R, 22 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesuksesan proses penanggulangan bencana di lapangan tidak

terlepas dari anggaran sebab bencana sifatnya tidak terduga dan membutuhkan anggaran.

3. Menambah Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia (SDM), merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam sebuah penanggulangan bencana, karena sumber daya manusia adalah orang yang siap bekerja ketika ada bencana karena jalannya kegiatan tergantung pada kapasitas dari SDM yang dimilki BPBD pada penanggulangan bencana.

a. Menambah Team Relawan Penanggulangan Bencana

Relawan bencana BPBD Kabupaten Gowa merupakan gabungan dari beberapa anggota masyarakat yang bergabung dalam team berasal dari beberapa kecamatan dibawah komando BPBD.

Penanggulangan bencana membutuhkan SDM yang banyak, sehingga masyarakat setempat yang belum bergabung dalam relawan di libatkan dalam proses penanggulangan bencana di lapangan seperti longsoran tanah tebing di Dusun Baliangan. Masyarakat dan team relawan bekerjasama dalam mengevakuasi material timbunan tanah longsor. Namun, pembentukan anggota relawan secara khusus pada lokasi yang sering terjadi longsor belum dibentuk pada setiap titik lokasi di wilayah Kecamatan Biringbulu. Hal tersebut dibenarkan oleh salah seorang warga Dusun Baliangan mengatakan dalam kutipan wawancara berikut:

“...Dalam proses evakuasi masyarakat terlibat langsung membantu anggota team relawan memindahkan material

runtuhan tanah longsor dengan menggunakan alat seperti cangkul dan skop, hal ini dilakukan oleh masyarakat. Namun, saya melihat bahwa perlu ada pembentukan relawan disetiap titik lokasi yang dianggap rawan terjadi tanah longsor untuk memudahkan evakuasi secara cepat serta perlu ada team khusus dari pihak penanggulangan bencana” (Wawancara DJ, 19 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa penanggulangan bencana tanah longsor perlu ada team khusus pada setiap lokasi rawan bencana tanah longsor untuk mempermudah proses evakuasi di lapangan.

Penanggulangan bencana membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menjalankankan sistem yang ada didalam Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Jika kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) kurang baik dari segi ilmu dan pengetahuan maka sistem akan berjalan tidak optimal. Lokasi yang termasuk rawan longsor di Wilayah Kecamatan Biringbulu terdapat dibeberapa tempat ketika ditinjau dari segi kemiringan tanah yang rata-rata + 70 derajat. Tempat tersebut diantaranya Kelurahan Lauwa, Kelurahan Tonrorita, Desa Borimasunggu, Desa Taring, dan Desa Julukanaya yang didominasi kondisi tanah yang miring atau tebing.

Tanah longsor sering terjadi di Kelurahan Lauwa, diantaranya Dusun Ciniayo. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Dusun Ciniayo dengan kutipan wawancara berikut :

“....Kelurahan Lauwa memang sering terjadi tanah longsor setiap tahun seperti yang terjadi di lokasi saya, menyebabkan Buakan (saluran irigasi sawah) yang melintasi dusun saya yakni saluran itu berpusat di Dusun Pangawarrang menuju lahan persawahan masyarakat Kelurahan Tonrorita. Saluran irigasi tersebut merupakan salah satu saluran irigasi terbesar di Kelurahan Lauwa yang mengairi beberapa sawah masyarakat Kelurahan Tonrorita. Saya meninjau langsung lokasi tersebut setelah pasca bencana yaitu 3 hari setelah terjadi longsor. Saya anggap longsor itu cukup parah karena memutuskan saluran irigasi dan selain itu juga merugikan bagi masyarakat petani jagung kuning yang ikut tertimbung material tanah. Tidak ada Dinas dan Badan yang terkait meninjau lokasi longsoran tersebut padahal longsor itu termasuk cukup parah dan sampai sekarang belum ada perbaikan saluran irigasi tersebut. Kami juga melihat bahwa kerentangan bencana longsor di Wilayah Kecamatan Biringbulu perlu ada pembentukan sebuah team pada suatu wilayah yang memang rentang terjadi tanah longsor guna mengantisipasi adanya korban jiwa dan hal itu bisa dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah”

(Wawancara AM, Tanggal 19 April 2015).

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Biringbulu secara umum dan beberapa Kelurahan, Desa dan Dusun perlu ada perhatian khusus bagi BPBD untuk menambah team relawan guna mengantisipasi adanya korban jiwa.

Masyarakat korban longsor material irigasi persawahan mengungkapkan kejadian tanah longsor dikebunnya merupakan suatu kejadian yang disebabkan oleh air yang terus mengalir dalam saluran tersebut sehingga kondisi tanah disekitarnya lembab dan mengikis dasar saluran serta pada saat kejadian longsor sekitar jam 2 dini hari kamis pada bulan Juli 2014. Kejadian itu dibenarkan oleh pihak korban bencana tanah longsor dalam kutipan wawancara berikut :

“...Kampung saya memang sering terjadi tanah longsor salah satunya didusun saya yaitu Dusun Ciniayo, terjadi saluran irigasi persawahan amblas (longsor) yang mengakibatkan perkebunan jagung milik saya ikut longsor. Kerugian saya dalam peristiwa itu banyak, namun yang membuat saya kesal karena tidak ada pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) datang meninjau lokasi longsoran. Longsoran ini perlu mendapat perhatian dari pihak terkait untuk melakukan tindakan penanggulangan. Padahal longsor tersebut cukup parah dengan panjang longsoran + 2500 meter, Lebar + 50 meter, dan kedalaman mencapai 3-4 meter. Akan Tetatpi Alhamdulillah, Pihak saluran irigasi berinisiatif dengan swadaya masyarakat milik lahan persawahan memberikan ganti rugi sebesar Rp.5.000.000 kepada saya. Oleh karena itu, di Kecamatan Biringbulu memang perlu di bentuk team untuk mempermudah proses penanggulangan dilakukan ketika ada bencana” (Wawancara DT, 25 April 2015).

Hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa penanggulangan bencana seperti dilokasi yang rawan bencana belum dilakukan secara merata, sehingga perlu ada peningkatan tenaga kerja yang dibangun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah setiap lokasi rawan longsor seperti menambah team relawan penanggulangan bencana.

Peristiwa tanah longsor yang terjadi merupakan peristiwa yang kesekiankalinya di Wilayah Kecamatan Biringbulu. Hasil keputusan dari peristiwa tanah longsor terkait kerugian yang dialami oleh salah seorang masyarakat warga Dusun Ciniayo yang bernama Dg.

Tompo. Keputusan itu disepakati oleh kedua belah pihak yakni Dg.

Tompo (Korban bencana) dan H. Rekeng (Kadus Kelurahan Tonrorita sebagai pihak swadaya masyarakat lahan persawahan).

Kecamatan Biringbulu sering terjadi tanah longsor, sehingga harus mendapatkan perhatian khusus bagi pemerintah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengantisipasi agar tidak ada korban jiwa. Hal ini dijelaskan oleh Sekretaris Kecamatan Biringbulu dalam kutipan wawancara berikut :

“...Kecamatan Biringbulu memang rentang terjadi tanah longsor setiap tahun yang disebabkan oleh entensitas hujan dan tanah tebing yang sudah gundul sehingga mengalami pergeseran tanah yang hebat. Saya melihat kebanyakan area perkebunan sudah gundul dan rata-rata area perkebunan itu tanahnya cukup terjal dan miring. Harapan saya pada masyarakat agar kiranya waspadah serta harus lebih pandai menyikapi dan memperhatikan lokasi area perkebunan mereka untuk menghindari terjadinya korban jiwa, dan pihak pemerintah telah melakukan koordinasi dengan pihak pengelolah penanggulangan bencana akan tetapi masih banyak hal-hal yang membuat lambang/lambat sebuah penanganan diantaranya saya katakan jarak lokasi kejadian dengan kantor penanggulangan sangat jauh dan ketersediaan alat besar penanggulangan serta tidak adanya team yang menangani secara cepat yang ditempatkan di Kecamatan Biringbulu. Oleh sebab itu, saya berharap kepada pihak terkait untuk menambah sumber daya demi kelancaran penanggulangan bencana di setiap lokasi rawan longsor, sehingga penanggulangan bisa di lakukan dengan baik dan tentunya pembentukan team khusus ini akan bekerja secara cepat ketika ada bencana di Kecamatan Biringbulu” (Wawancara YB, 19 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam mengantisipasi adanya korban jiwa terhadap bencana tanah longsor yang sering terjadi di Kecamatan Biringbulu perlu ada suatu team yang bekerja cepat ketika ada bencana tanah longsor.

Melihat kondisi Kecamatan Biringbulu yang rentang akan tanah longsor salah seorang Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik mengatakan dalam sebuah kutipan wawancara sebagai berikut :

“...Berdasarkan dokumen kontinjensi, telah dilakukan upaya-upaya pencegahan dan mitigasi pada daerah yang berpotensi terjadi longsor atau terjadi lagi longsor. Akan tetapi kegiatan tersebut terkadang tidak seperti yang kita harapkan karena ada hal-hal yang membuat penanganan lambat dilaksanakan yang salah satunya adalah kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gowa seperti team relawan pada lokasi yang rawan terjadi bencana” (Wawancara AID, Tanggal 21 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa, pihak BPBD telah melakukan upaya penanggulangan dengan melakukan proses evakuasi tanah longsor, akan tetapi sumber daya yang dimiliki BPBD kurang.

Jalan poros yang menghubungkan Kecamatan Biringbulu dengan Kecamatan Bontolempangan tepatnya di Desa Ulujangan Dusun Baliangan sering terjadi tanah amblas (longsor) yang biasa menutupi badan jalan sehingga . Letak jalan poros berada dikemiringan tanah yang sangat terjal dilereng gunung perkebunan yang tergolong gundul. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dusun Baliangan dalam kutipan wawancara berikut :

“...Kondisi perkebunan sepanjang jalan poros yang menghubungkan dua Kecamatan yakni Biringbulu dan Bontolempangan itu sudah gundul. Longsornya tanah tebing perkebunan masyarakat merupakan akibat dari gundulnya lokasi tersebut dan didukung oleh kemiringan tanah yang diguyur hujan deras sehingga jalan poros itu tertimbung.

Namun, pemerintah dan pihak terkait mengevakuasi longsoran setelah 2 hari kejadian berlangsung karena akses jalan antara lokasi longsor jauh dari kota. Longsor itu baru bisa dievakuasi dengan baik setelah 2 hari oleh BPBD dengan alat besar milik Dinas Pekerjaan Umum. Proses penanggulangan ini di lakukan oleh BPBD dengan melibatkan masyarakat dalam proses evakuasi karena belum ada team khusus di miliki oleh BPBD sehingga perlu ada kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat setempat” (Wawancara M, 19 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa, penanggulangan bencana tanah longsor dapat dilakukan ketika ada kerjasama antara BPBD, pemerintah dan masyarakat setempat.

Dokumen terkait