BAB IV. PELAKSANAAN PENELITIAN, LIFE-HISTORY ,
D. Pembahasan
2. Orang yang Ibaratnya Ingin Berguna ( Mitwelt )
Rasa keberartian (sense of significance) dan kehilangan keberartian
(loss of significance) mendapatkan perhatian pokok dalam uraian ini.
Kedua rasa tersebut, dalam hal ini, berada dalam horizon rasa tidak
tergabungnya dalam kolektivitas. Karena tidak tergabung dalam
kolektivitas, Yusuf mengalami kehilangan keberartian. Seperti
digambarkan olehnya bahwa dia ―orang yang ibaratnya ingin berguna‖.
Keinginan untuk berguna ini secara otomatis menggambarkan keadaan
merasa tidak berguna.
Keadaan merasa tidak berguna ini merupakan impak dari
ketidak-kafah-an. Ketidak-kafah-an ini merupakan kegagalan untuk patuh terhadap
dogma. Kegagalan untuk patuh terhadap dogma berarti tidak kafah. Dalam
dogma memeluk Islam secara kafah sendiri hanya ada dua kemungkinan;
―kafah‖ atau ―tidak kafah‖. Untuk mencapai dasein maka diperlukan status Ada atau dengan kata lain ―kafah‖. ―Tidak kafah‖ atau tidak sesuai
dogma mengantar kepada status nonbeing sehingga Ada tidak tercapai. Status nonbeing ini sendiri akan menciptakan kehilangan keberartian. Karena tidak terlibat penuh dalam Islam (terutama dalam masalah
konflik), Yusuf memandang dirinya tidak kafah.
Dalam dunia Yusuf, Nietzche (1954) benar bahwa; ―One man goes
to his neighbor because he seeks himself; another because he would lose
himself.‖ Lewat menerjunkan diri dan perjumpaan dengan masyarakat,
sebuah misi untuk menjadi orang yang berguna. Alasan inilah yang
mendasari Yusuf untuk menggambarkan dirinya seperti ―orang yang ibaratnya ingin berguna‖. Yusuf memahami berguna dalam arti
menyumbangsih untuk kelompok besar. Yusuf menginginkan hidupnya
lebih bermakna. Lewat kerangka untuk menjadi berguna ini, pemahaman
mengenai dunia Yusuf akan semakin mungkin dimengerti.
Menjadi orang berguna dalam konteks ini sudah berbatas pada
―kembali ke nabi‖. Oleh karena itu yang ingin ditemukan Yusuf adalah jawaban atas pertanyaan bagaimana aku bisa ―kembali ke nabi‖ sekaligus
berguna bagi orang lain. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka
pemahaman atas makna rasa berguna akan dielaborasi.
Menurut Yusuf, untuk mencapai posisi sebagai seorang yang
berguna, maka dia harus ―berbuat‖. Dorongan untuk ikut ―berbondong
-bondong‖ (drive for togetherness) menjadi bagian dari penyesuaian terhadap keadaan. Yusuf merasa tidak berarti ketika dia tidak tergabung
dalam kelompok. Namun, dalam hal ini, Yusuf memaknai lingkungan
sekitarnya dalam ranah Umwelt. Penyesuaian terhadap keadaan di sekitar membuktikan bahwa Yusuf memahami ―berbuat‖ dalam ranah Umwelt.
Namun, pemahaman mengenai makna ―berbuat‖ ini terkonversi dari mode Umwelt ke dalam mode Mitwelt. Konversi ini ditunjukkan dengan adanya perubahan dari sekadar ―berbondong-bondong‖ menjadi rasa solidaritas dan merasa menjadi bagian dari Islam secara luas
(kosmopolitan). Rasa solidaritas dan kosmopolitanisme ini kemudian yang
menggerakan Yusuf untuk ―berbuat‖.
Rasa solidaritas yang berubah wujud dan meluas menjadi
kosmopolitanisme inilah yang menjadi fundamen dalam Mitwelt. Rasa solidaritas sendiri berakar dari, meminjam istilah Heidegger, sorge. Sorge
dipahami sebagai kepedulian. Kepedulian ini berupa keprihatinan terhadap
kondisi dasein yang tidak eksis. Dapat dipahami bahwa kepedulian ini bersifat membuka diri terhadap Mitdasein maupun Mitsein. Keterbukaan ini menempatkan eksistensi untuk mengalami perjumpaan dengan Ada
lain sehingga ada keniscayaan terjadinya perjumpaan yang merubah. Oleh
karena itu pemaknaan dunia dalam mode Mitwelt akan cenderung lebih menonjol.
Bukan berarti kemudian mode Umwelt tersisihkan. Kedua mode dunia ini berkelindan satu sama lain. Dengan tidak ―berbuat‖ atau diam
saja melihat konflik, Yusuf adalah orang yang apatis terhadap
permasalahan muslim. Apatisme berarti ketidakpedulian, dan
ketidakpedulian berarti ketidaktercapaian menuju laku ―kembali ke nabi‖
(Umwelt). Yusuf membandingkannya dengan apa yang termaktub dalam
Qur‘an; ―Wahai orang-orang beriman, masuklah kamu itu ke dalam Islam
secara keseluruhan.‖—secara kafah.
Words of God ini merupakan tantangan tersendiri bagi Yusuf
karena statusnya yang sebagai kebenaran tanpa cela (innerant truth). Terciptalah sebuah ketegangan moral dalam dirinya. Ketegangan moral ini
memegang asumsi bahwa khitah agama adalah sebagai tuntunan
kehidupan. Ketegangan moral ini dengan sendirinya berada dalam ranah
ketegangan eksistensial karena pada akhirnya akan dihadapkan pada
pemilihan. Dan dalam ketegangan ini yang harus dipilih adalah menjadi
berguna atau tidak berguna.
Tapi Yusuf telah memilih untuk menjadi berguna. Dari sekian
banyak kontingensi yang mungkin, berpartisipasi dalam kelompok
mujahidin merupakan hal yang akan mengantar dirinya menuju
kebergunaan sekaligus ke-kafah-an. Kelompok ini direduksi menjadi
semata-mata sebuah cara untuk mencapai sesuatu. Nishitani (1961)
mengklaim bahwa ketika memandang agama dari perspektif ini hanya
akan menunjukkan degenerasi dari agama. Memandang agama dari
kacamata utilitaris hanya akan membawa kita ke sumber elementer
kehidupan yang melihat hidup sebagai sesuatu yang tidak berguna.
Di atas semua itu, yang penting dicatat dalam hal ini bahwa
fundamentalisme Yusuf didasari dengan intensionalitas agar menjadi
orang yang berguna. Intensi ini juga ditunjukkan lewat keinginan Yusuf
untuk menjadi panutan bagi juniornya. Bagi Yusuf, panutan bukanlah
sebuah hal yang sepele.
Menjadi panutan adalah sebuah cita-cita. Oleh karena itu keinginan
Yusuf untuk mengenyam bangku perkuliahan hanya sekadar menjadi
sarana untuk mencapai tujuan menjadi senior adalah hal yang masuk akal.
follower adik-adik, diikuti adik-adik. Nanti aku bisa mendidik adik-adik untuk mengerti Islam. Arahnya ke sana.‖
Menjadi penganut dan panutan merupakan tradisi yang bersifat
turun-temurun (sosio-genetik). Sebelum menjadi panutan, Yusuf lebih
dahulu telah menjadi penganut para senior. Tradisi penganut-panutan,
yang sifatnya sosio-genetik ini, merupakan wujud mode Umwelt.
Sedangkan keadaan sebagai penganut atau panutan ini dialami Yusuf
dalam mode Mitwelt.
Ketidakterpisahan antar mode dunia ini mengantarkan kita dalam
pemahaman bahwa Umwelt, Mitwelt, dan Eigenwelt bukanlah sebuah tahapan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila untuk menjadi orang
berguna Yusuf memanifestasikannya dalam mode Umwelt. Hal ini menekankan pada kita bahwa kita memiliki kebebasan yang secara teoritis
absolut, namun secara praktis terbatas. Atau seperti kata Frankl (1988)
bahwa kita bebas namun tidak bisa menggunakan kebebasan itu secara
arbitrer, bahwa kita harus menggunakannya secara bertanggungjawab.
Sebagai pemaknaan atas mode dunia Umwelt, yang lagi-lagi dibatasi dalam dunia ―kembali ke nabi‖ dan implementasinya dalam kehidupan sosial bernegara, maka akan diuraikan mengenai akibat wajar dari
keinginan untuk kembali ke nabi yang berkelindan dengan keinginan