BAB II KAJIAN PUSTAKA
2. Organisasi Lembaga Pendidikan
Berdasarkan dari berbagai definisi organisasi diatas, maka organisasi lembaga
pendidikan itu sendiri merupakan suatu unit sosial mengenai usaha-usaha kerja
sama yang dilakukan lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dengan memberi struktur atau susunan yakni dalam penyusunan atau
penempatan orang-orang dalam suatu kelompok kerja sama dengan maksud
menempatkan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak dan tanggung
jawab.
Tujuan pendidikan nasional itu sendiri tercantum dalam Undang- Undang
Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) nomor 20 tahun 2003 bahwa
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sejalan dengan berbagai perubahan, tantangan dalam pendidikan nasional
menurut Mada Sutapa (2002: 14) adalah sebagai berikut:
a. Akibat krisis ekonomi, pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan
hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai.
b. Mengantisipasi era globalisasi, pendidikan dituntut untuk mempersiapkan
SDM yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar global.
c. Sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, sistem pendidikan
dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat
mewujudkan proses pendidikan yang demokratis, memperhatikan
keberagaman, dan mendorong partisipasi masyarakat.
Dampak dari berbagai perubahan tersebut dimana sistem pendidikan harus
menyesuaikan dengan kebijakan otonomi daerah juga dikemukakan oleh Fasli
Jalal dan Dedi Supriadi (2001: xxxiii) tentang ditetapkannya UU No. 22/1999 dan
PP No. 25/2000, maka menjadi jelas pembagian kewenangan di bidang
pendidikan dan kebudayaan antar pemerintah, propinsi, dan kabupaten/ kota. Pada
dasarnya, kewenangan yang ada pada pemerintah (yaitu pemerintah pusat) adalah
kewenangan yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut identitas dan
integritas bangsa, persatuan dan kesatuan nasional, pelayanan yang mempunyai
jangkauan nasional dan internasional, penentuan standar nasional, pengendalian
dan pemantauan mutu, dan urusan yang menyangkut lintas propinsi. Kewenangan
tersebut bersifat penetapan kebijakan, pedoman, norma standar, persyaratan,
prosedur, dan pengaturan. Kewenangan pelaksanaan ada pada pihak kabupaten
atau kota.
Sebelum diberlakukannya otonomi daerah, kewenangan pemerintah daerah
dalam mengelola pendidikan terbatas untuk tingkat sekolah dasar.Jenjang
pendidikan diatasnya (SLTP, SLTA, Perguruan Tinggi) ditangani oleh Depdiknas.
Dengan berlakunya otonomi daerah maka pemerintah daerah menangani sebagian
besar urusan pendidikan mulai tingkat dasar hingga menengah , bahkan tingkat
provinsi juga meliputi sebagian urusan pengelolaan perguruan tinggi. Perluasan
wewenang pemerintah daerah itu menuntut kapasitas yang lebih tinggi dari Pemda
melalui Dinas Pendidikan untuk mengelola pendidikan (Fasli Jalal dan Dedi
Supriadi, 2001: 100).
Hal tersebut juga dikemukakan oleh Mada Sutapa (2002: 153),mengemukakan
konsep pengelolaan organisasi pendidikan bahwa kemandirian sebagai tuntutan
desentralisasi pendidikan pada daerah kabupaten dan kota lebih menekankan pada
kemandirian dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang dimiliki
untuk mengimplementasikan kebijakan yang sudah ditetapkan oleh otoritas pusat
dan provinsi.
Sejalan dengan pemberlakuan UU Nomor 22 Tahun 1999, pendekatan
pengaturan penyelenggaraan pendidikan bergeser dari semula bersifat sentralistik
menjadi desentralistik. Sebagian besar kewenangan untuk mengurus
penyelenggaraan pendidikan diserahkan kepada pemerintah kabupaten atau kota.
Tugas pemerintah pusat lebih pada pengembangan dan penetapan berbagai
standar yang dapat menjamin pemerataan kualitas pendidikan secara nasional.
Dengan pemberlakuan otonomi daerah tersebut maka sebutan instansi
pengelola pendidikan di setiap daerah tidak selalu sama, tergantung pada Struktur
Organisasi dan Tata Kerja (SOT) atau Organisasi dan Tata Kerja (OTK) yang
ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD setempat, misal ada yang
dinamakan Dinas Pendidikan Nasional Daerah, Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Pengajaran, Suku Dinas Pendidikan, atau
Kantor Inspeksi Pendidikan (Mada Sutapa, 2002: 162-163).
Gambar 1. Organisasi Lembaga Pendidikan (Sesudah Pemberlakuan UU. 22 / 1999)
Keterangan:
a. Pemerintah Pusat sebagai pengarah, Pembina dan penentu kebijakan
nasional bidang pendidikan.
b. Pemerintah Propinsi sebagai Pembina dan koordinator penyelenggaraan
pendidikan lintas kabupaten/kota.
Pemerintah Pusat Dep. Lain Depdiknas Perguruan Tinggi Kantor Pengelola Pendidikan Pemerintah Propinsi Pemerintah Kabupaten/ Kota Kantor Pengelola Pendidikan SD-SLTP-SLTA
P E N D I D I K A N DEPDIKNAS Gubernur (Dinas Pendidikan Provinsi) Bupati/ walikota (Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota Masyarakat Standar Pendidikan Administrasi Murid, Guru, Keuangan, Kurikulum, Sarana dan Prasarana. Sekolah Kurikulum, ketenagaan, kesiswaan, kelembagaan,mutu pendidikan, sarana dan prasarana Dekonsentrasi Koordinasi dan Bantuan Desentralisasi Pelayanan memenuhi kebutuhan sekolah (Man Money, and Material) Peserta Didik (Kegiatan Belajar) Konsultatif Koordinatif Pelayanan Kesehatan
c. Pemerintah Kabupaten / Kota bertanggung jawab penuh didalam
penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan arah kebijakan, standar
nasional, dan kebutuhan lokal. Nama instansi tidak selalu sama, sesuai
SOT atau OTK pemerintah daerah setempat (Mada Sutapa, 2002: 163).
Sedangkan menurut Mukhtar (2009: 27) menjelaskan tentang sistem
administrasi pendidikan di Indonesia dengan diagram sebagai berikut:
Gambar 2. Diagram Tataran Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pendidikan