DASAR PEMIKIRAN, PERMASALAHAN, ANALISIS, DAN USUL PENYEMPURNAAN
4.5 Organisasi Perangkat Daerah 1 Dasar Pemikiran
Organisasi perangkat daerah memiliki posisi yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Desain, struktur, mekanisme kerja, dan kualitas aparatur sangat menentukan kinerja daerah. Seberapa tepat daerah merancang desain, struktur, dan proses kerja sehingga mampu menjalankan fungsi secara efisien, efektif, dan sinergik menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Dalam merancang desain dan struktur birokrasinya, daerah tentunya harus mendasarkan pada urusan wajib terkait pelayanan dasar yang menjadi prioritas daerah dan urusan pilihan sesuai dengan potensi unggulan daerah Pengembangan birokrasi di daerah harus juga mempertimbangkan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, dan kemudahan interaksi. Struktur perangkat daerah harus efisien. Prinsip efisiensi ini mengajarkan bahwa struktur harus sederhana dan ramping tapi mampu mengemban banyak fungsi. Dengan struktur yang seperti ini maka daerah akan dapat menyelenggarakan urusan yang menjadi kewenangannya dengan pengorbanan sumber daya yang kecil.
Dengan berazaskan pada prinsip efektivitas maka daerah
harus mengembangkan struktur organisasi yang mampu
mewujudkan outputs dan outcomes sesuai yang diharapkan dari penyelenggaraan setiap urusan pemerintahan daerah. Efektivitas mengukur kemampuan struktur organisasi untuk merealisasikan program-program yang dikembangkan oleh daerah. Sedangkan, prinsip kemudahan interaksi menjamin adanya kemudahan interaksi antar organisasi di daerah dan antar organisasi dengan warganya.
Dengan mengembangkan struktur organisasi atau perangkat daerah yang memenuhi ketiga prinsip diatas, maka daerah akan
dapat mengembangkan organisasi yang ramping tetapi
melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan efektif. Organisasi daerah juga mampu berinteraksi secara wajar dan saling melengkapi dan mendukung kegiatan-kegiatan dari organisasi daerah lainnya sehingga sinergi antar organisasi di daerah dapat diwujudkan. Kemudahan interaksi antara organisasi daerah dengan warganya juga sangat penting diwujudkan karena kemudahan interaksi akan sangat warga untuk mengakses
pelayanan publik di daerahnya. Kemudahan interaksi akan dapat menghemat energi pemerintah daerah dan warganya dalam mengakses pelayanan publik dan kegiatan pemerintahan lainnya.
4.5.2 Identifikasi Permasalahan
Pengalaman dalam pelaksanaan otonomi daerah menunjukan kecenderungan daerah untuk membentuk organisasi perangkat daerah yang banyak jumlahnya dan kurang didasarkan pada kebutuhan nyata daerah yang bersangkutan.11 Besarnya organisasi perangkat daerah yang dimaksud dapat dilihat dari banyaknya jumlah dinas daerah, jumlah badan dan jumlah kantor. Banyak daerah kabupaten dan kota yang mempunyai dinas yang sebenarnya kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat atau potensi unggulan yang ada di daerah tersebut. Masih banyak dijumpai adanya dinas pertanian atau bahkan kehutanan di daerah perkotaan. Berbagai studi menunjukan bahwa para pemangku kepentingan di daerah menilai struktur birokrasi di daerah cenderung gemuk dan menyerap anggaran yang besar. Akibatnya, banyak anggaran pemerintah yang terserap untuk belanja pegawai dan memenuhi kebutuhan birokrasi
daripada yang digunakan untuk membiayai pelayanan
masyarakat.
Disamping struktur birokrasi yang besar dan kompleks, masalah lainnya adalah adanya orientasi pegawai daerah untuk menduduki jabatan struktural sangat tinggi dan berlebihan. Hal ini disebabkan karena jabatan struktural dalam birokrasi publik memiliki fungsi yang multidimensional. Jabatan struktural bukan hanya memberikan mereka kekuasaan, penghormatan, tetapi juga
11 Diskusi tentang hal ini dapat dibaca dalam Roy Salomo, “Pokok-Pokok Pemikiran
Untuk Penyempurnaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004: Perangkat Daerah”, paper tidak diterbitkan
tambahan penghasilan yang berarti. Semakin tinggi jabatan strukturalnya, semakin besar nilai yang diperoleh oleh pejabatnya. Hal seperti ini mendorong birokrasi dan para pejabatnya untuk memperbesar struktur birokrasi di daerah sehingga dapat menyediakan banyak tempat bagi para pejabat birokrasi di daerah. Karenanya tidak mengherankan kalau banyak daerah yang mengembangkan struktur birokrasi yang besar dan kompleks.
Orientasi yang berlebih pada jabatan struktural, membuat pengembangan jabatan fungsional kurang berkembang di dalam birokrasi daerah. Banyak daerah yang belum mengembangkan jabatan fungsional. Padahal jabatan fungsional tidak menuntut organisasi yang besar, bahkan dapat memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah daerah melalui peningkatan kapasitas aparatur birokrasi. Penciptaan jabatan fungsional dalam birokrasi pemerintah di daerah penting didorong agar daerah dapat mempercepat pengembangan kapasitas aparaturnya dengan baik dan cepat.
Belum adanya analisis jabatan dan analisis beban kerja membuat daerah tidak pernah tahu secara pasti berapa besar organisasi yang dibutuhkan dan berapa banyak jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Akibatnya, pengembangan struktur birokrasi di daerah seringkali lebih banyak didasarkan atas pertimbangan subyektif, jangka pendek, dan pemahaman yang kurang tepat terhadap kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh Daerah.
Masalah lainnya adalah adanya kecenderungan dari
kementerian/LPNK untuk mendesak daerah membuat struktur organisasi sebagaimana yang ada di pusat dengan tawaran akan diberi bantuan. Disamping itu munculnya berbagai undang-
undang sektoral yang mengharuskan daerah untuk membentuk suatu organisasi yang sering relevansinya tidak ada di daerah yang bersangkutan seperti kewajiban membuat organisasi bencana walaupun daerah tersebut bukan berpotensi bencana. Sama halnya dengan diwajibkannya daerah membuat lembaga penyuluhan pertanian di daerah perkotaan yang tidak ada petaninya. Pada akhirnya semua instruksi dan desakan tersebut akan bermuara pada membengkaknya kelembagaan daerah yang sekaligus juga meningkatkan overhead cost dan mengurangi biaya pelayanan publik.
4.5.3 Analisis
Ada beberapa penyebab mengapa daerah cenderung
mengembangkan struktur organisasi yang besar dan kompleks.12 Pertama, kecenderungan semakin kuatnya politisasi birokrasi di daerah. Pilkada yang membutuhkan resources yang besar memberi peluang kepada aparat birokrasi untuk terlibat pemenangan calon kepala daerah. Banyak aparat birokrasi yang terlibat menjadi tim sukses dari calon kepala daerah dengan harapan jika calonnya terpilih akan memperoleh kedudukan yang lebih baik dalam birokrasi di daerah. Disamping itu, kepala daerah terpilih sering berusaha memasukan pendukungnya dalam jabatan birokrasi
sehingga diharapkan dapat memberi dukungan terhadap
keberhasilan program-program yang dijanjikannya dalam Pilkada. Untuk dapat menampung para pendukungnya sering kepala daerah kemudian mengembangkan struktur birokrasi di daerah.
Kedua, jumlah pegawai negeri yang besar di daerah mendorong mereka mengembangkan struktur organisasi yang besar
12Disamping berbagai hal diatas Salomo juga menjelaskan faktor-faktor lainnya seperti
orientasi pada jabatan struktural yang sangat besar dan dampak dari pembubaran instansi vertikal di daerah yang sering memaksa daerah membuat struktur yang gemuk.
agar dapat menampungnya dalam jabatan-jabatan struktural yang ada. Dilihat dari kepentingan birokrasi, pengembangan struktur yang besar tentu menguntungkan. Namun, dilihat dari kepentingan publik sangat merugikan karena banyak anggaran yang kemudian terserap untuk pembiayaan birokrasi daripada untuk kepentingan publik. Disamping memerlukan pembiayaan yang tinggi, struktur yang besar dan kompleks juga cenderung mempersulit interaksi antara pemerintah dengan warganya. Pelayanan publik menjadi semakin rumit dan panjang.
Ketiga, belum ada tradisi untuk melakukan evaluasi kinerja (performance review) yang secara periodik menilai ketepatan antara struktur birokrasi dengan visi dan misi daerah. Akibatnya, banyak daerah tidak memiliki visi dan misi yang jelas sehingga mereka dapat mengembangkan struktur birokrasi yang tidak sesuai dengan
kebutuhan daerah dan mengembangkan struktur berdasar
kepentingan sempit dan jangka pendek. Analisis jabatan juga sangat jarang dilakukan. Karenanya tidak mengherankan kalau daerah cenderung memiliki struktur yang besar dan kompleks. Pelaksanaan otonomi yang diharapkan dapat dijadikan sebagai peluang bagi daerah untuk merestrukturisasi birokrasi sehingga lebih efisien ternyata tidak menjadi kenyataan.
Dengan melihat kondisi yang seperti ini, maka tidak mengherankan kalau banyak anggaran daerah yang terserap untuk membiayai struktur yang gemuk tersebut. Sejauh ini data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa rata-rata provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia mengalokasikan dana sekitar 77,45% pada tahun 2004, dan 76,43% pada tahun 2005 dari anggarannya untuk belanja aparatur. Sedangkan dari besaran anggaran untuk belanja publik masih terdapat komponen biaya overhead. Akibatnya biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat menjadi semakin kecil. Hal ini menjelaskan mengapa desentralisasi di Indonesia belum banyak memperbaiki kesejahteraan rakyat di daerah.
Pembengkakan organisasi juga berdampak pada melebarnya rentang kendali (span of control) dan menimbulkan masalah "inkoherensi institusional" karena fungsi yang seharusnya ditangani dalam satu kesatuan unit harus diderivasi ke beberapa unit organisasi sehingga pada akhirnya mengarah pada proliferasi birokrasi. Kondisi tersebut lebih jauh juga berpotensi menimbulkan dis-harmoni atau bahkan friksi antar unit organisasi sebagai akibat tarik-menarik kewenangan. Untuk itu pengaturan bagi perangkat daerah yang efektif harus menjadi perhatian penting dalam penyempurnaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.
4.5.4 Usulan Penyempurnaan
1) Perlu ada pengaturan tentang norma, kriteria, dan standar
dalam pengembangan Organisasi perangkat daerah.
Pengaturan harus mendorong daerah untuk dapat membentuk organisasi perangkat yang sesuai dengan kewenangan yang dimiliki; karakteristik potensi dan kebutuhan daerah; kemampuan keuangan daerah; ketersediaan sumber daya aparatur; dan pengembangan pola kemitraan antar daerah serta dengan pihak ketiga.
2) Perlu adanya pengetatan struktur organisasi daerah agar mempunyai struktur organisasi sesuai dengan prioritas kebutuhan pelayanan dasar serta sektor unggulan yang potensial dikembangkan di daerah yang bersangkutan. Untuk
itu perlu adanya pemetaan atau mapping dari
kementerian/LPNK di pusat untuk memetakan daerah-daerah dengan potensi unggulan atau prioritas pelayanan dasar sesuai
dengan kewenangan kementerian/LPNK terkait. Dengan cara
tersebut setiap kementerian/LPNK akan mempunyai
stakeholders yang jelas yang akan dilibatkan dalam pencapaian target nasional dari kementerian/LPNK tersebut. Cara tersebut akan menghilangkan pola instruksi yang memaksakan daerah untuk membuat organisasi yang seragam di seluruh daerah, tapi akan sesuai dengan sektor unggulan dan prioritas pelayanan dasar dari daerah tersebut. Pendekatan tersebut akan menciptakan pola asimetris antar daerah dalam menerapkan organisasi perangkat daerah.
3) Perlu juga disusun pengaturan yang mendorong daerah melakukan analisis jabatan dan menjadikannya sebagai dasar
dalam mereformasi perangkat pemerintahannya yang
dimilikinya. Analisis jabatan harus dapat memberi informasi kepada daerah tentang kebutuhan jabatan, klasifikasi jabatan, standar kompetensi jabatan, sistem renumerasi, dan sistem informasi kepegawaian.
4) Pengaturan organisasi perangkat daerah perlu memikirkan pengembangan jabatan fungsional secara signifikan. Jika daerah mampu untuk mengembangkan jabatan fungsional secara signifikan maka daerah dapat mengurangi tekanan yang
ada padanya untuk membuat struktur gemuk demi
menampung tenaga kerja yang jumlahnya cukup besar. Selain itu pengembangan jabatan fungsional juga dapat membantu
pengembangan profesionalisme pegawai daerah untuk
meningkatkan kualitas pelayanan daerah.
5) Perlu juga disusun pengaturan tentang insentif berbasis kinerja sehingga orientasi pegawai daerah yang cenderung untuk menduduki jabatan struktural dapat berubah. Dengan
mengembangkan ukuran kinerja yang jelas dan memberikan insentif berbasis pada kinerja, maka minat aparat daerah untuk menduduki jabatan fungsional dapat ditingkatkan dan pengembangan profesionalisme aparat di daerah dapat dipercepat dan mengurangi tekanan birokrasi atas jabatan struktural yang cenderung akan memicu penggembungan struktur organisasi pemerintah daerah.
6) Perlu ada pengaturan yang membatasi besaran anggaran untuk belanja pegawai. Pengaturan tentang hal ini dapat dilakukan dengan menentukan besaran proporsi anggaran belanja pegawai terhadap APBD. Besaran belanja pegawai
yang sekarang ini berkisar 70-90% APBD sudah amat
merugikan kepentingan publik di daerah. Anggaran untuk belanja pegawai setidak-tidaknya tidak boleh melebihi besaran
anggaran yang disediakan untuk pelayanan publik.
Pengaturan tentang masa transisi untuk mendorong daerah agar dapat memperkecil proporsi anggaran untuk belanja pegawai sangat diperlukan.
4.6 Kecamatan
4.6.1 Dasar Pemikiran
Peran dan fungsi kecamatan mengalami pergeseran yang sangat berarti sesuai dengan konteks politik dan legal, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974, Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999, dan Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974
kecamatan memiliki kedudukan yang sangat kuat, karena kecamatan diakui sebagai wilayah administratif dan sebagai kepala wilayah camat juga menjalankan tugas dekonsentrasi.
Dalam kedudukan yang seperti ini, kecamatan memiliki peran yang strategis karena menjadi ujung tombak dari banyak kegiatan pemerintahan.
Namun, dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1979 peran
kecamatan mengalami perubahan yang sangat mendasar.
Kecamatan bukan lagi perangkat dekonsentrasi tetapi berubah menjadi perangkat daerah. Camat sebagai perangkat daerah
berperan membantu bupati/walikota menjalankan tugas
desentralisasi dan tugas dekonsentrasi dalam konteks
pemerintahan daerah hanya dilakukan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Camat berdasarkan kewenangan yang dilimpahkan oleh bupati/walikota memiliki kewenangan untuk melakukan Binwas terhadap kepala desa, karena eksistensi desa yang diatur dengan Perda kabupaten/kota dan berada dalam ranah Binwas kabupaten/kota dan desa diperlakukan sebagai kesatuan masyarakat hukum yang otonom berbasis adat dan tradisi. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 kecamatan tetap diperlakukan sebagai perangkat daerah dan karena itu, keberadaan dan fungsinya sangat tergantung pada daerah, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
Sebagai perangkat daerah, kecamatan semestinya dapat difungsikan sebagai salah satu agen pelayanan atau menjadi intermediaries yang penting dalam hubungan antara warga dengan kabupaten/kota. Di daerah tertentu yang memiliki lingkungan geografis yang luas dan akses terhadap pusat pemerintahan di kabupaten sangat sulit kecamatan dapat menjadi salah satu agen pelayanan publik dan menjadi intermediaries dalam hubungan antara pemerintah dengan warganya. Namun, sayang keberadaan kecamatan selama ini belum memperoleh apresiasi yang wajar dan dimanfaatkan oleh kabupaten/kota memfasilitasi pelayanan
kepada warganya. Sedangkan, potensi yang tersedia di kecamatan sebenarnya dapat diberdayakan untuk menjadi salah satu pilihan bagi kabupaten/kota untuk memperbaiki kinerja pelayanan dan pemerintahannya. Bupati/walikota dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada camat untuk memberi pelayanan kepada warganya.
4.6.2 Identifikasi Permasalahan
Salah satu masalah utama dalam pengembangan kecamatan adalah ketidakjelasan tentang kedudukan camat. Walaupun camat sudah tidak lagi sebagai kepala wilayah, namun seringkali masyarakat dan warganya masih menganggap dan mengharapkan
camat untuk berperan sebagai kepala wilayah. Namun,
kedudukan camat sebagai perangkat daerah sekarang ini memiliki kewenangan yang terbatas, yaitu kewenangan atributif untuk menjalankan fungsi kordinatif. Belum banyak bupati/walikota
yang melimpahkan kewenangan kepada camat untuk
menyelenggarakan pelayanan pemerintah yang berskala
kecamatan berdasarkan prinsip delegatif. Sedangkan, potensi yang tersedia di kecamatan sering memadai untuk dijadikan sebagai salah satu agen pelayanan pemerintah.
Sebagai akibat dari ketidakjelasan peranannya, kecamatan pada umumnya juga belum memiliki anggaran yang jelas. Sementara ekspektasi masyarakat untuk mengambil peran tertentu dalam pelayanan dan menjalankan fungsi pemerintahan umum sangat besar. Dalam posisi seperti ini camat seringkali menghadapi situasi yang sulit untuk dapat memainkan peran sesuai dengan harapan masyarakat. Karena itu, status, fungsi, dan anggaran kecamatan perlu diperjelas sehingga keberadaannya membawa manfaat bagi masyarakat di wilayahnya.
4.6.3 Analisis
Secara paradigmatik, kedudukan kecamatan mengalami
perubahan besar, sejak Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dikeluarkan oleh
pemerintah. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974
kecamatan diperlakukan sebagai perangkat dekonsentrasi dan sekaligus sebagai kepala wilayah. Sedangkan dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 kecamatan diperlakukan sebagai perangkat daerah. Perubahan kedudukan yang mendasar ini tentu
memiliki pengaruh terhadap keberadaan kecamatan dan
kontribusinya terhadap keberhasilan penyelenggaraan
pemerintahan di daerah.
Sebagai perangkat daerah, peran camat kemudian sangat tergantung pada tindakan yang diambil oleh bupati/walikota, apakah mereka bersedia mendelegasikan sebagian perannya dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Beberapa daerah memberdayakan kecamatan dengan memberikan kewenangan delegatif kepada camat untuk menyelenggarakan pelayanan tertentu. Sebaliknya, banyak bupati/walikota yang tidak mau mendelegasikan kewenangannya kepada camat sehingga peran camat menjadi sangat terbatas.
Untuk melihat kedudukan kecamatan dalam
penyelenggaraan pemerintahan di daerah, maka posisi kecamatan dapat dilihat dari dua perspektif yang berbeda dalam mengelola
kegiatan pemerintahan di daerah. Perspektif pertama
menggunakan wawasan kewilayahan dalam melihat kedudukan dan peran kecamatan. Dalam perspektif ini kecamatan dapat menjadi SKPD yang digunakan oleh daerah sebagai penyelenggara kegiatan pelayanan tertentu yang berskala kecamatan, seperti
pengelolaan kebersihan, pengawasan bangunan, perizinan kegiatan usaha berskala kecamatan, administrasi kependudukan, pengelolaan kebersihan, prasarana umum, dan pelayanan lainnya sesuai dengan karakteristik kecamatan yang bersangkutan.
Dalam perspektif ini, kecamatan diberi kewenangan delegatif untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat. Untuk itu perlu diatur mengenai kewenangan delegatif minimal yang harus dilimpahkan kepada camat dan kejelasan mengenai sumber pembiayaan, perangkat serta sarana dan prasarana yang diperlukan. Pelimpahan kewenangan bupati/walikota tersebut adalah untuk pelayanan publik yang berskala kecamatan dan sesuai dengan karakteristik kecamatan yang bersangkutan. Perspektif ini cocok digunakan menjelaskan peran kecamatan terutama untuk daerah yang memiliki wilayah geografis yang luas dan kendala transportasi bagi warganya untuk dapat mengakses pelayanan pada tingkat kabupaten/kota.
Dalam perspektif kedua, yang mengutamakan pendekatan sektoral dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, peran kecamatan menjadi sangat terbatas. Ketika pelayanan publik dan kegiatan pemerintahan dikelola secara sektoral dan akses masyarakat luas untuk mengakses pelayanan pada tingkat kabupaten/kota sangat mudah maka pengembangan struktur birokrasi berbasis sektoral menjadi pilihan yang cocok. Daerah dapat mengembangkan pelayanan di tingkat kabupaten/kota seperti pelayanan One-Stop Service (satu pintu) yang mengabaikan
peran kecamatan. Warga dapat berinteraksi dengan
pemerintahnya di tingkat kabupaten/kota dengan mudah dan murah.
Yang menjadi masalah sekarang ini adalah ketika daerah
mengembangkan struktur kelembagaan yang tidak jelas
orientasinya, apakah berbasis sektoral, kewilayahan, atau kombinasi dari keduanya. Jika hal seperti ini terus berlanjut maka daerah akan sulit mengembangkan pemerintahan yang efisien, efektif, responsif, dan interaktif. Konflik antara kepentingan wilayah dan sektor akan selalu terjadi dan kepentingan warga akan adanya pelayanan publik yang mudah diakses, efisien, dan efektif akan sulit untuk diwujudkan. Karena itu daerah perlu didorong untuk memiliki orientasi yang jelas dalam pengembangan
perangkat daerah dan pendekatan yang digunakan dalam
penyelenggaraan pelayanan publik.
Untuk daerah yang secara geografis cakupan wilayahnya sangat luas, akses terhadap pelayanan di ibukota kabupaten/kota sulit dan mahal, dan kendala transportasi masih sangat berarti,
maka penguatan kelembagaan kecamatan menjadi pusat
pelayanan sangat diperlukan. Daerah perlu memberi kewenangan delegatif kepada kecamatan secara lebih jelas dan rinci. Namun, untuk daerah kota yang wilayah geografisnya relatif sempit, akses terhadap pelayanan di kota mudah dan murah, dan transportasi mudah diperoleh maka keberadaan kecamatan menjadi tidak begitu penting. Daerah dapat mendorong penyelenggaraan
pelayanan publik yang tersentralisasi di kota dengan
menggunakan satu pintu, sehingga penyelenggaraan pelayanan publik menjadi murah, mudah, dan lebih akuntabel.
4.6.4 Usul Penyempurnaan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disampaikan usulan
penyempurnaan pengaturan mengenai kecamatan sebagai
1) Tetap menjadikan kecamatan sebagai SKPD, tidak dikembalikan lagi menjadi wilayah administrasi pemerintahan seperti pada masa Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974. Sebagai SKPD peran kecamatan perlu ditempatkan pada kedudukan yang jelas, sesuai dengan kebutuhan daerah. Jika dari pertimbangan kewilayahan, aksesibilitas, dan transportasi
keberadaan kecamatan sebagai pusat pelayanan amat
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan publik tertentu maka kecamatan perlu diberdayakan sebagai pusat pelayanan publik pada skala kecamatan.
2) Untuk daerah yang ingin menjadikan kecamatan sebagai pusat pelayanan publik maka bupati/walikota wajib melimpahan kewenangan delegatif tertentu kepada camat. Beberapa pelayanan seperti: pengelolaan kebersihan, pemeliharaan prasarana umum, perizinan usaha kecil skala kecamatan dan
pengawasan tata ruang dapat didelegasikan kepada
kecamatan. Dalam hal ini daerah harus memberikan perangkat
kelembagaan, pembiayaan, dan personel yang memadai
kepada kecamatan agar mereka dapat menjalankan perannya secara optimal.
3) Untuk kawasan kota yang wilayah geografisnya relatif sempit, pelayanan di kota mudah diakses, dan sarana transportasi mudah diperoleh, daerah dapat mengembangkan pelayanan satu atap dan terpusat di kota. Dalam konteks ini daerah tidak memerlukan perangkat kecamatan sebagai pusat pelayanan. Untuk daerah yang seperti ini keberadaan kecamatan yang kuat menjadi tidak relevan dan karena tugas utama camat adalah membantu bupati/walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan di tingkat kecamatan. Pengaturan yang memberi kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan struktur
kelembagaan dan perangkat daerah yang berbeda sesuai dengan kondisi daerahnya perlu diatur dengan jelas dalam undang-undang ini.
4) Pembentukan, penggabungan, dan pembubaran kecamatan perlu diatur dengan ukuran dan kriteria yang jelas agar tindakan yang diambil oleh daerah benar-benar bermanfaat bagi kepentingan warga di daerah. Khusus untuk penambahan kecamatan baru, yang cenderung marak di berbagai daerah, perlu dibuat pengaturan yang lebih ketat agar pembentukan Kecamatan baru benar-benar dilakukan untuk kepentingan masyarakat di daerah bukan hanya untuk kepentingan elit di daerah. Selain itu, pembentukan kecamatan perlu melalui proses persiapan sesuai tahap dan parameter yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, sehingga daerah kabupaten/kota tidak dengan mudah membentuk kecamatan baru tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.