• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ruang dan Perilaku Arsitektural

2.1.6. Organisasi Ruang

Beberapa bangunan sebenarnya terdiri dari beberapa ruang mandiri. Ruang-ruang tersebut umumnya tersusun atas sejumlah Ruang-ruang yang berkaitan erat satu sama lain menurut fungsi, jarak, atau alur gerak.

Cara penyusunan ruang-ruang dapat menjelaskan tingkat kepentingan dan fungsi serta peran simbolis ruang-ruang tersebut di dalam organisasi bangunan. Jenis organisasi yang harus digunakan pada suatu bangunan bergantung kepada:

1. Kebutuhan atas program bangunan, seperti pendekatan fungsional, ukuran, hirarki ruang, pencapaian, pencahayaan, dan view.

2. Kondisi eksterior tapak yang mungkin akan mempengaruhi organisasi ruang.

1. Organisasi terpusat

Merupakan komposisi terpusat dan stabil yang terdiri dari sejumlah ruang sekunder, dikelompokkan mengelilingi sebuah ruang pusat yang luas dan dominan.

Sumber: D.K.Ching, 2000 Gambar 2.4. Organisasi Terpusat

2. Organisasi linier

Organisasi linier pada dasarnya terdiri dari sederetan ruang, yang dapat berhubungan secara langsung satu dengan yang lain, atau dihubungkan melalui ruang linier yang berbeda dan terpisah.

Sumber: D.K.Ching, 2000 Gambar 2.5. Organisasi Linier

Memadukan unsur-unsur terpusat maupun linier. Organisasi ini terdiri dari ruang pusat yang dominan di mana organisasi liniernya berkembang menurut arah jari-jarinya. Organisasi radial adalah sebuah bentuk yang ekstrovert.

Sumber: D.K.Ching, 2000 Gambar 2.6. Organisasi Radial

4. Organisasi cluster

Merupakan kelompok ruang berdasarkan kedekatan hubungan atau bersama-sama memanfaatkan satu ciri atau hubungan visual.

Sumber: D.K.Ching, 2000 Gambar 2.7. Organisasi Cluster

Organisasi grid terdiri dari bentuk-bentuk dan ruang-ruang yang posisinya dalam ruang dan hubungan antar ruang diatur oleh pola atau bidang grid tiga dimensi.

Sumber: D.K.Ching, 2000 Gambar 2.8. Organisasi Grid

Rumah

Dalam pengertian yang luas, rumah tinggal bukan hanya sebuah bangunan (structural), melainkan juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, dipandang dari berbagai segi kehidupan.

Rumah dapat dimengerti sebagai tempat perlindungan untuk menikmati kehidupan, beristirahat dan bersuka ria bersama keluarga. Di dalam rumah, penghuni memperoleh kesan pertama dari kehidupannya di dalam dunia ini. Rumah harus menjamin kepentingan keluarga, yaitu untuk tumbuh, memberi kemungkinan untuk hidup bergaul dengan tetangganya; lebih dari itu, rumah harus memberi ketenangan, kesenangan, kebahagiaan dan kenyamanan pada segala peristiwa hidupnya (Pusat Informasi Teknik Bangunan D.I.Yogyakarta dalam Kurniasih, 2007).

Rumah bukan hanya sekedar sebuah bangunan untuk tempat tinggal. Dari rumah dan lingkungannya, penghuni dibentuk dan dikembangkan menjadi manusia yang berkepribadian. Menurut Meganada (dalam Dewi & Swanendri, 2007), konsep rumah dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Rumah sebagai pengejawantahan jati diri: rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai selera penghuninya.

2. Rumah sebagai wadah keakraban: rasa memiliki, kebersamaan, kehangatan, kasih, dan rasa aman.

3. Rumah sebagai tempat menyendiri dan menyepi: tempat melepaskan diri dari dunia luar dan rutinitas.

4. Rumah sebagai akar dan kesinambungan: rumah atau kampung halaman dilihat sebagai tempat untuk kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan suatu rumah: 1. Faktor kultur

Pada umumnya setiap daerah mempunyai konsep yang berbeda-beda mengenai bentuk rumahnya yang dipengaruhi oleh konsep kultural yang berbeda mengenai bentuk dan pola rumah.

2. Faktor religi

Dalam masyarakat tradisional rumah merupakan wujud mikro dari makro kosmos yaitu alam semesta. Setiap unsur yang membentuk rumah melambangkan unsur tertentu dari alam.

3. Faktor perilaku

Perilaku dan lingkungan fisik saling mempengaruhi dan akhirnya mewujudkan suatu pola kehidupan yang spesifik.

Rapoport (1969) berpendapat bahwa rumah merupakan suatu gejala struktural yang bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya yang dimilikinya, serta erat hubungannya dengan kehidupan penghuninya. Makna simbolisme dan fungsi akan mencerminkan status penghuninya, manusia sebagai penghuni, rumah, budaya serta lingkungannya merupakan satu kesatuan yang erat, sehingga rumah sebagai lingkungan binaan merupakan refleksi dari kekuatan sosial budaya seperti kepercayaan, hubungan keluarga, organisasi sosial serta interaksi sosial antar individu. Antara penghuni dan rumahnya mempunyai suatu hubungan yang saling bergantung satu sama lain, yaitu manusia mempengaruhi rumah dan sebaliknya rumah mempengaruhi penghuninya. Lebih lanjut Rapoport (1969) menambahkan bahwa rumah banyak ditentukan oleh nilai-nilai, budaya penghuninya, iklim dan kebutuhan akan pelindung, bahan bangunan, konstruksi dan teknologi, karakter tapak, ekonomi, pertahanan serta agama. Perubahan budaya berpengaruh terhadap rumah dan lingkungannya, di mana bentuk perubahan tidak berlangsung spontan dan menyeluruh, tetapi tergantung pada kedudukan elemen rumah dan lingkungannya dalam sistem budaya, sehingga ada elemen yang tidak berubah dan ada elemen yang berubah sesuai perkembangan jaman (Rapoport, 1983).

Perubahan Rumah

Menurut Kellet, et.al. (1993), alasan seseorang melakukan perubahan berasal dari ‘hubungan timbal balik antara penghuni dengan tempat tinggalnya’. Alasan ini juga bergantung kepada kondisi penghuni, aspek fisik dari tempat tinggal, dan persyaratan sosio budaya dari penghuni itu sendiri.

Para penghuni memperbaiki dan mengubah struktur fisik rumah berdasarkan harapan dan kebutuhan mereka masing-masing. Perubahan dalam aspek fisik juga memperlihatkan kemampuan dan kapabilitas pemakai dalam melakukan perubahan tempat tinggal.

Keuntungan yang diperoleh dalam melakukan perubahan rumah yaitu dapat memperbaiki standar kualitas rumah, seperti memperbaiki penampilan fisik rumah (konstruksi, bahan, finishing), menyediakan ruang yang lebih luas kepada rumah tangga inti (main household), tersedianya ruang yang lebih banyak per orang, menurunkan tingkat okupansi, dapat mengakomodasi lebih banyak orang tanpa harus memperluas kota (untuk penyewa, dll), dan dapat meningkatkan kepuasan pemilik dan penghuni rumah itu sendiri (Tipple, 1999). Selain hal tersebut di atas, perubahan rumah ini memberi dampak yang positif terhadap ekonomi, yaitu dengan menyediakan ruang yang lebih banyak untuk menghasilkan uang melalui

‘home-based enterprises’ dan penyewaan, meningkatkan investasi yang memicu aktivitas

ekonomi.

Menurut Sueca (2004), perubahan rumah mencegah menurun dan memburuknya penampilan dan meningkatkan ketersediaan rumah (yang dikaitkan

dengan jumlah ruang yang tersedia, sumber daya yang dapat disewakan, dll). Partisipasi pemakai bukan hanya dipandang sebagai sumber tenaga, tetapi lebih dari itu bahwa ide-ide (temuan) mereka, kreativitasnya, keterampilan, tenaga, dan inisiatifnya mempunyai peranan penting dalam transformasi.

Peranan penghuni dalam perubahan terhadap rumah diperkuat oleh penelitian Amad (2000) di Nablus, Palestina. Beliau menyimpulkan bahwa:

1. Selama awal hingga pertengahan era 1920-an para penghuni rumah di Palestina memberi kontribusi yang besar dalam konsep desain rumah.

2. Perubahan atau perkembangan desain rumah dapat dilihat sebagai sebuah proses organik yang normal. Perubahan ini dipengaruhi oleh aspek sosial budaya, politik, ekonomi, dan lingkungan.

3. Kontribusi penghuni dapat dikategorikan dalam dua hal, yaitu penghuni

mempertahankan bentuk yang ada dan penghuni mengadakan perubahan desain rumah.

4. Aspek yang tetap dipertahankan adalah jalur sirkulasi dan pemisahan antara ruang publik dan ruang privat.

5. Aspek yang berubah adalah luasan ruang dan orientasi dalam rumah.

Terkadang dalam mengakomodasikan perubahan yang dibutuhkan, penghuni rumah melakukan beberapa penyesuaian diri, yang terbagi atas empat bentuk, yaitu (Sinai, 2001):

1. Adaptasi peraturan keluarga; di mana keluarga akan merubah peraturan (norma-norma) untuk beradaptasi dengan kondisi perumahan.

2. Struktur adaptasi keluarga; di mana terjadi pengelompokan komposisi dan organisasi adaptasi untuk perumahan ini.

3. Mobilitas tempat tinggal; termasuk migrasi dan antar mobilitas urban. 4. Merubah tempat tinggal agar menjadi lebih layak.

Menyinggung faktor yang berkaitan dengan pendapatan, berdasarkan penelitian di Ghana, Mesir, dan Bangladesh, Tipple, et.al. (2000) menyimpulkan bahwa pendapatan memiliki efek penting terhadap keputusan untuk melakukan perubahan. Kondisi finansial yang lebih baik, memberi peluang untuk mengadakan perubahan yang lebih besar. Para penghuni yang memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi mempunyai peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sehingga mempunyai pendapatan yang cukup besar. Mereka mempunyai standar kualitas rumah yang lebih baik sehingga mempunyai kecenderungan lebih besar untuk melakukan perubahan rumah (Sueca, 2005).

Perubahan terhadap rumah membawa kepada pemahaman yang mendalam bahwa kualitas rumah berbanding lurus dengan kemampuan ekonomi seseorang atau sebuah keluarga. Sebagaimana diungkapkan oleh Yudohusodo (1991) bahwa masyarakat miskin di kota ternyata mampu membangun rumahnya sendiri dengan proses bertahap, mula-mula dengan bahan bangunan bekas atau sederhana tetapi lambat laun diperbaikinya menjadi bangunan berkualitas baik, permanen bahkan beberapa rumah telah bertingkat.

Berdasarkan ukuran dan komposisi rumah tangga, Tipple (2000) berpendapat bahwa rumah tangga dengan jumlah yang lebih besar mempunyai korelasi positif

terhadap perubahan rumah. Rumah tangga yang terdiri atas lebih banyak orang dewasa besar kemungkinan mengalami perubahan dibandingkan dengan rumah tangga yang masih memiliki anak kecil. Pada saat anak-anak beranjak dewasa, mereka membutuhkan privasi yang lebih tinggi, sehingga tekanan terhadap kebutuhan rumah meningkat.

Perumahan yang ditujukan untuk golongan masyarakat berpenghasilan rendah, biasanya rumah yang disediakan oleh pihak pengembang hanya terdiri dari satu kamar tidur dan kamar mandi tanpa adanya dapur ataupun ruang lainnya, sehingga mengharuskan penghuni untuk mengadakan perluasan untuk menampung aktivitas rumah tangga (Sueca, 2005). Ditambahkan oleh Garrod, et.al. (dalam Sueca, 2005) bahwa mereka yang mempunyai ruang lebih sedikit, besar kemungkinan mengadakan perluasan rumah dibandingkan dengan mereka yang memiki ruang yang lebih banyak.

Budihardjo (1997) menyatakan bahwa bahwa pada dasarnya membangun rumah adalah merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh pribadi, keluarga atau masyarakat sendiri. Namun sekarang ini pembangunan perumahan telah menjadi suatu kegiatan industri yang sangat kompleks dan canggih, yang dianggap sekedar sebagai komoditi, sebagai produk akhir barang jadi, sebagai shelter. Aspek-aspek sosial budaya, kesejahteraan ekonomi, tata nilai dan perilaku manusianya lepas dari pengamatan. Menurut Budihardjo, wawasan terlalu ditekankan pada pencapaian target fisik dan kuantitas pengadaan rumah dengan perencanaan model prototype, menggunakan komponen bangunan produk teknologi mutakhir yang serba prefab dan

standar, tanpa mempedulikan keunikan dan potensi lokal. Beliau mengingatkan bahwa perumahan merupakan proses kegiatan membangun secara evolusioner, menerus dan incremental. Sama sekali bukan suatu hasil yang mandeg. Pada akhirnya Budihardjo menekankan perlunya memberikan kesempatan atau peluang bagian setiap keluarga untuk dapat mengejawantahkan diri, berkreasi sarat dengan inovasi, merencana dan membangun rumahnya dengan penuh keluwesan agar selalu tanggap terhadap setiap perubahan.

Lebih spesifik berkaitan dengan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah perkotaan, JFC Turner dalam bukunya Housing By People (1976) yang dikutip oleh Johan Silas dalam jurnalnya yang berjudul Perancangan Perumahan Rakyat Terpadu (2002), bahwa yang penting dari rumah bukan what it is, melainkan

what it does terhadap kehidupan dan penghidupan penghuni/pemiliknya.

Ditambahkan juga oleh Akil (2004) bahwa definisi operasional rumah layak huni adalah:

1. Luas lantai minimal 7-9 m2 per kapita.

2. Adanya keterjaminan hak atas tanah untuk bermukim (land tenure security). 3. Terpenuhinya pelayanan prasarana dan sarana dasar lingkungan.

4. Kualitas struktur konstruksi bangunan yang memenuhi persyaratan teknis.

Perancangan Perumahan Rakyat Terpadu

Rumah dalam bentuk apapun tergantung dari tempat keberadaannya. Sedang pengadaannya tergantung dari penduduk bagaimana yang hendak dilayani. Aspek

penduduk ternyata tidak mudah dan sederhana untuk dapat dipahami dengan baik, utamanya bila terkait dengan upaya mengadakan perumahan yang layak.

Aspek yang dominan mempengaruhi perumahan masa kini adalah keberlanjutannya (sustainability). Rumah yang berkelanjutan harus memenuhi lima syarat dasar yang dinikmati oleh penghuni saat ini serta yang akan datang (Silas, 2002), yaitu:

1. Mendukung peningkatan mutu produktivitas kehidupan penghuni baik secara sosial, ekonomi dan politik. Artinya setiap anggota penghuni terinspirasi untuk melakukan tugasnya dengan baik.

2. Tidak menimbulkan gangguan lingkungan dalam bentuk apapun sejak

pembangunan, pemanfaatan dan kelak bila harus dimusnahkan. Ukuran yang dipakai terhadap gangguan yang terjadi terhadap lingkungan adalah efektivitas konsumsi energi.

3. Mendukung peningkatan mobilitas kesejahteraan penghuninya secara fisik dan spiritual. Berarti penghuni mengalami terus peningkatan mutu kehidupan fisik dan non fisik.

4. Menjaga keseimbangan antara perkembangan fisik rumah dengan mobilitas sosial-ekonomi penghuninya. Pada awalnya keadaan fisik rumah lebih tinggi dari keadaan non fisik, namun ini berbalik setelah penghuni mapan di rumah tersebut. 5. Membuka peran penghuni/pemilik yang besar dalam pengambilan keputusan

terhadap proses pengembangan rumah dan Rukun Warga tempat ia berinteraksi dengan tetangga.

Orde Baru menetapkan pengadaan perumahan (dan pemukiman) sebagai program dengan inisiatif dan pelaksanaan oleh pemerintah, sehingga keberadaan perumahan dan pemukiman yang semua berada di domein beralih secara berangsur dan pasti ke domein publik. Orang tidak lagi merumahkan (to house) diri dan keluarganya tetapi dirumahkan (being housed) oleh pihak luar (publik atau swasta). Namun setelah program perumahan publik dilaksanakan lebih dari seperempat abad, ternyata prestasinya tidak lebih baik, sebab hasil perumahan pola ini masih jauh di bawah 10%.

Rumah disebut layak bila ada keterpaduan yang serasi antara:

1. Perkembangan rumah dan penghuninya, artinya rumah bukan hasil akhir yang tetap tetapi proses yang berkembang.

2. Rumah dengan lingkungan (alam) sekitarnya, artinya lingkungan rumah dan lingkungan sekitarnya terjaga selalu baik.

3. Perkembangan rumah dan perkembangan kota, artinya kota yang dituntut makin global dan urbanized memberi manfaat positif bagi kemajuan warga kota di rumah masing-masing.

4. Perkembangan antar kelompok warga dengan standar layak sesuai keadaan dan tuntutan masing-masing kelompok, artinya tiap kelompok warga punya kesempatan sama untuk berkembang sesuai dengan tuntutan yang ditetapkan sendiri.

5. Standar fisik dan dukungan untuk maju bagi penghuni, artinya standar fisik rumah tidak sepenting dan menentukan seperti peningkatan produktivitas yang diberikannya terhadap mobilitas penghuni/pemiliknya.

Berikut beberapa kaidah dasar perancangan rumah yang dikemukakan oleh Silas (2002):

1. Ada fleksibilitas penataan ruang, utamanya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Agar hemat rumah tidak mudah disekat dan terbuka peluang penggunaan ganda dan over-lapping.

2. Memilih bahan bangunan yang mudah diperoleh setempat dan sudah akrab

dipakai oleh warga dengan kesulitan konstruksi yang mudah diatasi oleh keahlian setempat.

3. Penataan ruang yang dilakukan fleksibel dan multi guna serta tidak terkotak-kotak kecil berguna untuk menjamin kedinamisan gerak dan berbagai aktivitas lain dari penghuni serta untuk memberi keleluasaan aliran udara dan cahaya yang tinggi. Selanjutnya pola penataan ruang yang “terbuka” ini juga akan memberi kesan luas sehingga tercapai rasa psikologis yang melegakan guna merangsang produktivitas kehidupan yang tinggi.

4. Tampilan bangunan harus serasi dengan tampilan bangunan yang lazim berlaku di sekitarnya. Prinsip bangunan tropis dengan teritis yang lebar, teduh dan angin mudah lewat serta tidak tampias oleh terpaan hujan lebat merupakan dasar yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh. Perlu pula memberi muatan lokal yang diambil dari prinsip dan unsur arsitektur tradisional setempat.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam upaya penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pemerintah dalam hal ini Perum Perumnas telah membangun rumah murah yang disebut Rumah Sederhana Sehat.

Rumah Sederhana Sehat adalah rumah yang dibangun dengan menggunakan bahan bangunan dan konstruksi sederhana tetapi masih memenuhi standar kebutuhan minimal dari aspek kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Mengingat masih rendahnya daya beli masyarakat golongan masyarakat berpenghasilan rendah ini, mendorong pemerintah mendesain suatu rumah yang disebut rumah antara, yang pertumbuhannya diarahkan menjadi Rumah Sederhana Sehat. Rumah antara disebut juga Rumah Inti Tumbuh (RIT) yaitu rumah yang hanya memenuhi standar kebutuhan minimal rumah, dengan kriteria sebagai berikut:

1. RIT memiliki ruang paling sederhana yaitu sebuah ruang tertutup dan sebuah ruang terbuka beratap dan fasilitas MCK.

2. RIT memiliki bentuk atap dengan mengantisipasi adanya perubahan, yaitu dengan memberi atap pada ruang terbuka yang berfungsi sebagai ruang serbaguna.

3. Bentuk generik atap pada RIT selain pelana dapat berbentuk yang lain sesuai dengan tuntutan daerah tersebut.

4. Penghawaan dan pencahayaan alami pada RIT menggunakan bukaan yang

memungkinkan sirkulasi silang dan masuknya sinar matahari.

Rancangan RIT memenuhi tuntutan kebutuhan paling mendasar dari penghuni untuk mengembangkan rumahnya, dengan ruang-ruang yang perlu disediakan terdiri dari:

1. Satu ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan dan penghawaan yang cukup.

2. Satu ruang serbaguna yang berfungsi untuk melakukan interaksi antar anggota keluarga dan dapat melakukan aktivitas lainnya.

3. Satu kamar mandi/kakus/cuci yang merupakan bagian dari ruang servis. Konsep rancangan Rumah Inti Tumbuh adalah sebagai berikut:

1. RIT adalah embrio dari rumah jadi yang diharapkan pertumbuhannya menjadi rumah sehat.

2. RIT adalah suatu rancangan yang hanya menyediakan wadah untuk kebutuhan ruang-ruang kegiatan paling mendasar dan dapat dikembangkan oleh pemiliknya secara bertahap tergantung tuntutan, kebutuhan, dan kemampuan pemiliknya.

3. Ukuran pembagian ruang berdasarkan satuan ukuran modular dan standar

internasional, sehingga diperoleh ukuran ruang-ruang dalam RIT 1 sebagai berikut:

a. Ruang tidur : 3,00 m x 3,00 m

b. Ruang serbaguna : 3,00 m x 3,00 m

BAB III

Dokumen terkait