87 Ibid . AD Bab IV pasal 6
ORGANISASI SOSIAL KEAGAMAAN ISLAM
A. Metode Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah dan Aplikasinya
1. Metode Fatwa Majelis Tarjih
Rumusan Metode Fatwa yang dilakukan MT Muham madiyah secara sistematis dan tertulis dimulai pada tahun 1986, setelah Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Solo oleh kepengurusan Majelis Tarjih peiode 1985-1990, dengan melakukan rekontruksi pemikiran tentang manhajtarjīḥ,1 yang hasil Pokok-Pokok Manhaj Majelis Tarjih antara lain:2
a. Di dalam ber-istidlāl,3 dasar utamanya adalah Al-Qur’an
dan al-Sunnah al-ṣaḥīḥ. Ijtihād dan istinbâth atas dasar
‘illah terhdap hal-hal yang tidak terdapat di dalam nāṣ, dapat dilakukan. Sepanjang tidak menyangkut bidang ta‘abbudi, dan memang merupakan hal yang diajarkan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dengan perkataan lain, Majelis Tarjih menerima ijtihād, terma suk qiyās, sebagai cara dalam menetapkan hukum yang tidak ada nāṣ-nya secara langsung.
b. Dalam memutuskan sesuatu keputusan, dilakukan
dengan cara musyawarah. Dalam menetapkan masalah ijtihad, digunakan sistem ijtihād jama’iy. Dengan
1 Asjmuni Abdurrahman, Manjah Tarjih Muhammadiyah: Metodologi dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), Cet. Ke-1, h. 12
2 Ibid., h. 12-14. Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad Majlis Tarjih Muhammadiyah, (Jakarta: Logos Publishing House, 1995), Cet. Ke-1, h. 161-163.
3 Istidlāl artinya ṭalba al-dalīl (mencari dalil), di kalangan ahli ushul dipakai dalam mencari dalil untuk menetapkan hukum sesuatu masalah yang tidak ada dasar nāṣ Alqur’an dan Assunnah, sehingga penetapan berdasarkan ‘illat. Asjmuni Abdurrahman,
demikian pendapat perorangan dari anggota majelis, tidak dapat dipandang kuat.
c. Tidak mengikat diri kepada suatu madzhab, tetapi pendapat-pendapat madzhab, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum. Sepanjang
sesuai dengan jiwa Alqur’an dan Assunnah, atau da sar-dasar lain yang dipandang kuat.
d. Berprinsip terbuka dan toleran, dan tidak beranggapan bahwa hanya Majelis Tarjih yang paling benar. Keputusan diambil atas landasan dalil-dalil yang dipandang paling kuat, yang didapat ketika keputusan diambil. Dan koreksi dari siapa pun akan diterima. Sepanjang dapat diberikan dalil-dalil lain yang lebih kuat. Dengan demikian, Majelis Tarjih dimungkinkan mengubah keputusan yang pernah ditetapkan.
e. Di dalam masalah akidah (tauhid), hanya digunakan dalil-dalil yang mutawatir.
f. Tidak menolak ijmā‘ shahabat, sebagai dasar sesuatu keputusan.
g. Terhadap dalil-dalil yang nampak mengandung
al-ta‘āruḍ, digunakan cara: al-jam‘u wa al-taufīq. Dan kalau tidak dapat, baru dilakukan tarjīḥ.
h. Menggunakan asas sadd al-żarī‘ah untuk menghindari terjadinya fitnah dan mafsadat.
i. Men-ta‘līl dapat dipergunakan untuk memahami
kandungan dalil-dalil Alqur’an dan Assunnah,
sepanjang sesuai dengan tujuan syari’ah. Adapun
qaidah: al-ḥukmu Yadūrru Ma‘a al-‘Illatihi Wujūdan wa ‘Adaman dalam hal-hal tertentu, dapat berlaku.
j. Penggunaan dalil-dalil untuk menetapkan sesuatu
hukum, dilakukan dengan cara komprehensif, utuh dan bulat. Tidak terpisah.
k. Dalil-dalil umum al-Qur’an dapat di-takhṣīs dengan hadis Ahad, kecuali dalam bidang Aqidah.
l. Dalam mengamalkan agama Islam, menggunakan prinsip al-taysīr.
m. Dalam bidang ibadah yang diperoleh ketentuan-ketentu
annya dari Alqur’an dan Assunnah, pemahamannya dapat dengan menggunakan akal, sepanjang diketahui latar belakang dan tujuannya. Meskipun harus diakui,
bahwa akal bersifat nisbi, sehingga prinsip
mendahulukan nāṣ daripada akal memiliki kelenturan dalam menghadapi perubahan situasi dan kondisi.
n. Dalam hal-hal yang termasuk al-’Umūr al
-Dunyāwiyyah yang tidak termasuk tugas para nabi, penggunaan akal sangat diperlukan, demi kemaslahatan umat.
o. Untuk memahami nāṣ yang musytarak, faham sahabat dapat diterima.
p. Dalam memahami nāṣ, maka ẓahir didahulukan dari
ta’wīldalam bidang ‘aqidah. Dan ta’wīl shahabat dalam hal itu, tidak harus diterima.
Majelis Tarjih pada periode ini telah secara nyata menggunakan metode ijtihad berupa metode bayāni, ta‘līli dan al-istiṣlāḥi, walau sebelumnya istilah ini belum disebut secara nyata sebaga metode ijtihad, akan tetapi prakteknya yang dilakukan selama ini telah menempuh tiga metode ijtihad tersebut.4 Poin 17 dari manhaj tarjih adalah jalan ijtihad yang telah ditempuh meliputi:
Pertama, ijtihād bayāni, yaitu ijtihad terhadap nāṣ yang mujmal, baik karena belum jelas makna lafaẓ yang dimaksud, maupun karena lafaẓ itu mengandung makna ganda, mengandung arti musytarak, ataupun karena pengertian lafaẓ dalam ungkapan yang konteksnya mempunyai arti yang tumbuh (mutasyabihat), atau adanya beberapa dalil yang bertentangan (al-ta‘āruḍ). Al-ta‘āruḍ
digunakan dengan jalan tarjih, apabila tidak ditempuh dengan cara al-jam‘u wa al-taufīq. Kedua, ijtihād qiyāsi, yaitu menyeberangkan hukum yang telah ada nāṣnya kepada masalah baru yang belum ada hukumnya berdasarkan nāṣ, karena adanya kesamaan ‘illat. Dan
Ketiga, ijtihād istiṣlāḥi, yaitu ijtihad terhadap masalah yang tidak ditujuki nāṣ sama sekali secara khusus, maupun tidak adanya nāṣ
mengenai masalah yang ada kesamanya. Dalam masalah yang
demikian penetapan hukum dilakukan berdasarkan ‘illat untuk kemaslahatan.
Hadis atau matan hadis yang akan digunakan harus diukur ke-ṣaḥīḥ-nya oleh Majelis Tarjih dengan cara ber-ijtihād jama‘iy,5 beberapa kaidah penggunaan hadis sebagai dasar hukum yang telah menjadi keputusan Majelis Tarijh sebagai berikut:
a. Hadis mauquf tidak dapat dijadikan ḥujjah. Yang
dimaksud dengan hadis mauquf ialah apa yang
disandarkan kepada sahabat, baik ucapan maupun perbuatan semacamnya, baik bersambung atau tidak. b. Hadis mauquf yang dihukumkan marfu‘ dapat menjadi
ḥujjah.
c. Hadis mursal ṣaḥābīy dapat dijadikan ḥujjah apabila
ada qarinah yang menunjukkan daripadanya
persambungan sanadnya.
d. Hadis mursal tābi‘iy semata, tidak dapat dijadikan
ḥujjah. Hadis ini dapat dijadikan ḥujjah jika ada qarinah yang menunjukkan persambungan sanad sampai kepada Nabi.
e. Hadis-hadis ḍa‘īf yang kuat menguatkan, tidak dapat
dijadikan ḥujjah, kecuali jika banyak jalan
5 Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, Tanya – Jawab Agama III, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Perss “Suara Muhammadiyah”, 1995), Cet. Ke-1, h. 260.
periwayatannya, ada qarinah yang dapat dijadikan
ḥujjahdan tidak bertentangan denga Alqur’an dan hadis
ṣaḥīḥ.
f. Dalam menilai perawi hadis, jarḥ didahulukan daripada
ta’dīl setelah adanya keterangan yang mu‘tabarah
berdasarkan alasan syara‘.
g. Periwayatan orang yang dikenal melakukan tadlis
(mengandung cacat) dapat diterima riwayatnya, jika ada petunjuk bahwa hadis itu muttashil, sedangkan tadlis tidak mengurangi keadilan.6
Hasil Muktamar ke-43 di Banda Aceh tahun 1995 Majelis Tarjih dikembangkan fungsinya dan diberi nama Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam (selanjutnya disebut MTPPI).7 Berdasarkan Surat keputusan PP Muhammadiyah Nomor 17/SK-PP/II-A/1-a/2001 tentang Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional
Tarjih XXIV yang berisi “Kaidah Pokok Manhaj Mejelis Tarjih Dan
Pengembangan Pemikiran Islam”8, sehingga majelis ini dalam berijtihad menggunakan metode sebagai berikut:
a. Sumber Ajaran Islam:
1) Sumber ajaran Islam adalah Alqur’an dan Assunnah
maqbūllah,
2) Pemahaman dilakukan secara komprehensi
integralisitk baik dengan pendekan tekstual maupun kontektual.