BAB III. METODE PENELITIAN
A. Persiapan Penelitian
1. Orientasi Kancah Penelitian
Salah satu tahap yang harus dilalui sebelum penelitian dilaksanakan adalah perlunya memahami kancah atau tempat penelitian dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan jalannya penelitian. Penelitian mengenai perbedaan generativitas pada gay pria pekerja seks dengan gay bukan pria pekerja seks dilakukan di komunitas Gessang yang beralamatkan di Jalan Cokrobaskoro No. 201 B, Tipes, Solo. Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan survei awal untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan subjek.
Gessang didirikan pada tahun 1992 setelah muncul suatu pemikiran baru untuk membentuk suatu organisasi yang lebih solid, yang dapat dijadikan wadah bagi kaum homoseksual untuk berkumpul, bertukar pikiran, dan menambah teman. Gessang adalah singkatan dari Gerakan Sosial, Advokasi dan Hak Asasi Manusia untuk Homoseksual Surakarta. Gessang diambil dari Bahasa Jawa yang berarti hidup.
Gessang memiliki visi dan misi sebagai berikut: a. Menjunjung tinggi hak asasi manusia.
b. Mengubah stigma atau penilaian negatif masyarakat terhadap kaum homoseksual (gay, waria, dan lesbian).
commit to user
c. Memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban homoseksual (gay, waria, dan lesbian) dalam hidup bermasyarakat.
d. Memberikan pendidikan, penyuluhan, dan pembinaan dalam rangka pemberdayaan komunitas homoseksual (gay, waria, dan lesbian) di Surakarta.
e. Memberikan advokasi atau pembelaan terhadap komunitas homoseksual (gay, waria, dan lesbian) yang mempunyai masalah berkaitan dengan hukum.
f. Membina jaringan dan melakukan kerjasama dengan organisasi massa (ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ada dalam menyuarakan hak-hak kaum gay, waria, dan lesbian.
Adapun pemilihan komunitas tersebut sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut :
a. Penelitian mengenai perbedaan generativitas pada gay pria pekerja seks dengan gay bukan pria pekerja seks belum pernah dilakukan di komunitas tersebut. Jumlah gay di Gessang Surakarta sebanyak 1509 orang.
b. Antara anggota tersebut, jumlah sampel yang berusia 40-60 tahun berjumlah 348 orang.
c. Adanya ijin yang telah diperoleh untuk mengadakan penelitian di komunitas tersebut.
2. Persiapan Penelitian
Persiapan penelitian perlu dilakukan agar penelitian berjalan lancar dan terarah. Hal-hal yang dipersiapkan terkait dengan berbagai perijinan guna
commit to user
memudahkan pelaksanaan penelitian dan penyusunan alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini.
a. Persiapan administrasi
Persiapan administrasi meliputi segala sesuatu yang berkenaan dengan masalah perijinan yang diajukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan penelitian. Permohonan ijin tersebut melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1) Peneliti meminta surat pengantar dari Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta yang ditujukan kepada Komunitas Gessang Surakarta dengan nomor 768/H27.1.17.3/TU/2010.
2) Pengajuan surat ijin pada ketua Komunitas Gessang Surakarta.
3) Setelah mendapatkan ijin dari pihak Komunitas Gessang Surakarta, barulah peneliti dapat melakukan penelitian dengan menyebarkan angket pada gay pria pekerja seks dan gay bukan pria pekerja seks. b. Persiapan alat ukur
Penelitian ini menggunkan dua alat ukur yang dikembangkan oleh Mc Adams yang berkaitan dengan teori generativitas, yaitu Loyola Generative Scale
dan Generative Behaviour Checklist. Peneliti menggunakan skala terpakai (try-out
terpakai) sehingga hanya satu kali saja menyebarkan skala. Peneliti tidak melakukan uji coba alat ukur (try-out) tapi peneliti meminta professional judgement untuk memastikan bahwa aitem sudah sesuai dengan blue-print dan aspek perilaku yang hendak diungkap. Alasan peneliti menggunakan metode try-
commit to user
out terpakai karena sedikitnya jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Alat ukur yang digunakan terdiri atas dua buah skala yang disebar kepada 31 subjek. Setelah skala disebar peneliti melakukan analisis aitem Loyola Generativity Scale (LGS) dengan Generative Behaviour Checklist (GBC). Azwar (2001) menyatakan bahwa indeks daya diskriminasi aitem merupakan indikator keselarasan atau konsistensi antara fungsi aitem dengan fungsi skala secara keseluruhan. Untuk mengukur daya beda aitem dari skala generativitas yaitu LGS dan GBC, peneliti menggunakan rumus product moment dari Pearson. Semakin tinggi koefisien korelasi positif antara skor aitem dengan skor skala berarti semakin tinggi konsistensi antara aitem tersebut dengan skala secara keseluruhan yang berarti semakin tinggi daya bedanya.
Analisis secara kuantitatif menggunakan program komputer Statistical Package for Social Science (SPSS) for Windows 16.0 untuk mengetahui nilai validitas dan reliabilitas skala.
1) Loyola Generativitas Scale (LGS)
Loyola Generativity Scale LGS dimaksudkan untuk mengukur perbedaan individual mengenai komitmen awal yang dipengaruhi oleh tuntutan budaya, keinginan dalam diri, perhatian dan kepercayaan yang berkaitan dengan generativitas. Pernyataan pada Loyola Generativity Scale (LGS) sebanyak 20
aitem. Penskoran untuk LGS dengan menunjukkan seberapa sering pernyataan tersebut berlaku bagi seseorang, dengan menandai salah satu 0, 1, 2, atau 3. Angka 0 jika pernyataan tidak pernah berlaku. Angka 1 jika pernyataan
commit to user
jarang berlaku. Angka 2 jika pernyataan cukup sering berlaku. Angka 3 jika pernyataan hampir selalu berlaku.
Hasil analisis aitem yang dilakukan pada Loyola Generativity Scale (LGS)
menunjukkan bahwa dari 20 aitem yang diujicobakan diperoleh 14 aitem yang sahih. Adapun aitem yang gugur adalah aitem nomor 1, 2, 10, 13, 14, dan 15. Koefisien validitasnya bergerak antara 0,373 sampai dengan 0,677 dan koefisien reliabilitasnya sebesar 0,788.
Berikut ini distribusi penyebaran aitem Loyola Generativity Scale (LGS)
setelah melalui uji coba :
Tabel. 6 Sebaran aitem Loyola Generative Scale (LGS) setelah Uji Coba Aspek Indikator Favourable Unfavourable Jumlah perilaku aitem Komitmen Tuntutan budaya 6(4), 16(10) 14 2
Keinginan dari dalam 4(2), 7(5), 11 2 2 Perhatian 1,3(1),12(9), 5(3),15, 6
19(13) 18(12),20(14) Kepercayaan 8(6), 10(8), 13, 9(7) 4 17(11)
Total 10 4 14 Catatan: angka dalam kurung ( ) adalah nomor urut butir baru seteleh di uji coba
2) Generative Behaviour Checklist (GBC)
Generative Behaviour Checklist (GBC) merupakan sejumlah tindakan yang
dilakukan setiap hari yang berkaitan dengan generativitas. Pernyataan pada
Genertivity Behaviour Checklist (GBC) sebanyak 50 pernyataan perilaku, apakah
dua bulan terakhir pernah melakukan perilaku tersebut dan berapa kali melakukan perilaku tersebut. Penskoran untuk GBC dengan menandai 0, 1 atau 2. Angka 0 jika belum melakukan perilaku selama dua bulan terakhir. Angka 1 jika telah
commit to user
melakukan perilaku satu waktu selama dua bulan terakhir. Angka 2 jika telah melakukan perilaku yang lebih dari sekali selama dua bulan terakhir.
Hasil analisis aitem yang dilakukan pada Generative Behaviour Checklist
(GBC) menunjukkan bahwa dari 50 aitem yang diujicobakan diperoleh 35 aitem yang sahih. Adapun aitem yang gugur adalah aitem nomor 3, 6, 8, 10, 12, 17, 23, 26, 27, 28, 33, 37, 38, 44, 49 dan 50. Koefisien validitasnya bergerak antara 0,305 sampai dengan 0,672 dan koefisien reliabilitasnya sebesar 0,888.
Berikut ini distribusi penyebaran aitem Generative Behaviour Checklist (GBC) setelah melalui uji coba :
Tabel. 7 Sebaran aitem Generativity Behaviour Checklist (GBC) setelah Uji Coba
No. Aspek Favourable Unfavourable Jumlah
Item 1. Tuntutan Budaya 2(2), 27, 31(21), 39(26) 5
43(30), 46(32)
2. Keinginan dari dalam 28, 35(24), 36(25), 3, 4(3), 8, 6 44, 48(34) 29(19) ,47(33) 3. Perhatian 7(5), 14(9), 32(22), 11(7), 21(15), 7 37, 3845(31), 50 22(16) 4. Kepercayaan 12, 16(11), 24(17), 33 4 30(20), 34(23), 49 5. Komitmen 15(10), 17, 20(14), 18(12) 3 23 6. Perilaku 1(1), 5(4), 6, 9(6), 13(8), 19(13), 9 10, 25(18),26, 40(27) 41(28),42(29) Total 22 12 34 Catatan: angka dalam kurung ( ) adalah nomor urut butir baru seteleh di uji coba
commit to user
B. Pelaksanaan Penelitian