• Tidak ada hasil yang ditemukan

BANGUNAN KEILMUAN DAN ORIENTASI ALUMNI

D. Organisasi dan Orientasi Kehidupan Alumni

2. Orientasi Kehidupan Alumni

Para lulusan pesantren Musthafawiyah jika dilihat kepada orientasi kehidupan dan kegiatan mereka adalah terdapat berbagai macam kehidupan. Sebagaimana disebutkan pada bagian sistem pendidikan yang berlangsung di pesantren ini adalah untuk menuntut ilmu keislaman namun dalam kenyataannya setelah mereka selesai dan menammmatkan pendidikannya di pesantren Musthafawiyah akan kembali kemasyarakat. Jika dilihat jenis kegiatan dan pekerjaan para alumni dapat diklasifikasikan kepada empat macam orientasi yaitu:

a. Lulusan sebelum tahun 1945 lebih berorientasi menjadi tenaga agama dan menjadi guru agama dalam masyarakat terutama memberikan pendidikan Islam di madrasah-madrasah diniyah. Kegiatan dibidang keagamaan ini adalah sesuai dengan situasi pada saat itu dimana masyarakat sangat membutuhkan guru agama yang dapat mengajari dan membimbing masyaraka sesuai dengan ajaran Islam. Para lulusan ini menjadi panutan bagi masyarakatnya baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin masyarakat.

b. Lulusan tahun 1946-1965 selain tetap berorientasi seperti di atas, para lulusan mulai melibatkan diri dalam organisasi-organisasi keagamaan. Keaktifan mereka dalam berorganisasi karena pada saat itu situasi sosial dan kenegaraan menuntut adanya kekuatan dalam masyarakat untuk mencapai cita-cita yang diinginkan masyarakat. Selain hal tersebut, bahwa selama mereka belajar di pesantren telah mulai diper-kenalkan organisasi seperti Al-Ittihadul Islamiyah (AII) yang berpusat di Purbabaru kemudian dilebur menjadi Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Para lulusan pesantren ini banyak yang menjadi pimpinan organisasi tersebut dan kemudian menjadi partai politik baik ditingkat regional maupun ditingkat nasional.

c. Lulusan tahun 1966-1985 selain berorientasi pada periode sebelunya, sebagian lulusan pesantren mulai melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Islam seperti IAIN atau perguruan Tinmggi Islam lainnya termasuk melanjutkan ke Makkah dan Al-Azhar Kairo Mesir. Demikian pula para lulusan mulai pergi merantau keperkotaan untuk mencari lapangan pekerjaan yang lebih baik. Diperkotaan, mereka dapat menjadi tenaga agama seperti menjadi guru agama Islam dan berwiraswasta. Salah satu faktor yang menyebabkan mereka pergi keluar dari daerahnya adalah menyangkut dengan keberadaan mereka sebagai lulusan pesantren terhalang oleh lulusan yang lebih senior dan pada umumnya masih mempunyai peranan dalam masyarakat.

d. Lulusan tahun 1986 sampai sekarang lebih berorientasi untuk keluar dari daerahnya setelah tammat di pesantren Musthafawiyah. Selain yang dialami oleh sebagian lulusan sebelumnya telah muncul semacam persepsi masyarakat yang kurang percaya terhadap kualitas lulusan belakangan ini. Maka alternatif untuk mendapatkan suatu kehidupan yang lebih baik adalah dengan pergi merantau atau melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Islam.

Bagi lulusan pesantren Musthafawiyah yang tinggal di kampung halamannya, selalu dan tetap mendapat penghormatan dari masyarakat. Penghormatan itu diberikan selama mereka konsisten menempatkan dirinya sebagai lulusan sekolah agama. Namun tidak seluruhnya lulusan itu menempatkan dirinya sebagai yang berpengetahuan dan berpendidikan agama dimana mereka setelah beradaptasi dan menyatu dengan sistem kehidupan masyarakat kebanyakan telah terjadi tarik menarik antara kepentingan duniawi dan mempertahankan identitas santrinya. Lulusan semacam ini memang tidak seluruhnya demikian dimana dalam hal yang menyangkut dengan aturan dan norma-norma keislaman bahwa mereka masih tetap menunjukkan identitasnya sebagai lulusan pesantren Musthafawiyah. Lulusan pesantren Musthafawiyah yang melanjutkan ke perguruan tinggi dan setelah selesai pendidikan (sarjana) sebagian ada yang menjadi pegawai negeri atau bekerja diberbagai sektor swasta. Pada umumnya mereka yang menjadi pegawai negeri itu adalah sebagai guru agama di sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi Islam. Bagi mereka yang melanjutkan ke Makkah atau Al-Azhar Mesir, setelah kembali ke daerahnya, mereka menjadi pemuka agama atau ulama dan sebagian besar membuka dan mendirikan Pondok Pesantren. Di daerah Mandailing Natal para lulusan dari Makkah dan Mesir telah mengasuh pesantren sebanyak sembilan buah, dan sebagiannya menjadi guru di pesantren Musthafawiyah.

Pada lima tahun terakhir jika dilihat pada orientasi sosial keagamaan para lulusan Musthafawiyah yang belajar di Makkah dan Mesir terlihat ada kecenderungan bahw pemahaman dan bangunan keislaman yang disampaikan mereka kepada masyarakat lebih reaktif dan berani membuka konfrontasi dengan tradisi yang dikembangkan di pesantren Musthafawiyah selama ini. Pada tahun 1980-an Haji Abdul Kadir Nasution sempat menjadi guru di pesantren Musthafawiyah setelah kembali ke Mandailing. Beliau dipercayakan mengajar di kelas tujuh sesuai dengan kedalaman ilmu Islam yang diperdapatnya di Makkah. Dalam berbagai kesempatan memberikan pengajian dan ceramah agama Islam kepada masyarakat selalu melakukan kritikan terhadap kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan pada saat tertentu beliau juga secara tidak langsung selalu menyampaikan pemikiran yang kurang sesuai dengan ajaran Islam terhadap kebijakan pimpinan pesantren Musthafawiyah. Setelah diberikan nasehat beberapa kali oleh Mudir pesantren ternyata tidak mendapat tanggapan yang baik, maka akhirnya beliau diberhentikan sebagai guru. Kebijakan pimpinan pesantren yang diprotesnya adalah atas kehadiran Panglima TNI LB Murdani

pada tahun 1985 karena beliau bukan beragama Islam. Haji Abdul Kadir pada saat ini mengajar di kelas tujuh, dalam pesannya kepada murid “siapa yang ikut menghadiri upacara kedatangan Panglima TNI LB Murdani nantinya beliau tidak mengizinkan ilmu yang diajarkannya selama ini“. Setelah beliau diberhentikan sebagai guru di pesantren Musthafawiyah, Haji Abdul Kadir mensponsori mendirikan pesantren dengan nama “Ma’had Darul Ikhlas” sekitar tujuh kilometer dari desa Purbabaru menuju kota Panyabungan. Bangunan pesantren ini adalah atas swadaya masyarakat terutama dari masyarakat yang tinggal di Mandailing. Sistem pendidikan di Ma’had ini adalah sama dengan pendidikan di Makkah yaitu tidak mem-berikan pelajaran umum dan tidak boleh melakukan ujian negara sebagaimana yang telah dilakukan beberapa pesantren lainnya. Setelah pesantren ini berdiri dan telah berjalan beberapa tahun, beliau tidak lagi ikut mengasuh pesantren ini dan akhirnya mendirikan pesantren baru di kampung halamannya desa Jambur Padang Matinggi dengan nama Ma’had Darut Tauhid sekitar enam kilometer dari kota Panyabungan kearah Padang Sidempuan. Pada satu sisi memang paham keislamannya cukup mendasar dari sudut pandangan teologi Islam, namun pada sisi lain bahwa beliau kurang membaca situasi sosio-politik yang berkembang apalagi pada saat itu sistem pemerintahan yang kurang menguntungkan umat Islam.

Dilihat pada orientasi politik lulusan pesantren Musthafawiyah yang melanjutkan ke Timur Tengah setelah mereka berada kembali di daerahnya dan para alumni pada umumnya adalah cenderung kepada organisasi Islam yang benar-benar memperjuangkan kepentingan umat Islam sebagaimana terlihat pada pemilihan umum 1999 dan 2004. Pada tahun 1999 sosok yang menjadi idola mereka adalah seperti Amin Rais, maka di Mandailing Partai Amanat Nasional (PAN) mendapat dukungan yang besar, dan pada tahun 2004 terjadi perubahan yang besar dimana para lulusan pesantren ini mendukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Para lulusan pesantren Musthafawiyah tidak banyak tertarik lagi kepada organisasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) yang orientasi politiknya adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Berarti jika dibandingkan pada tahun 1955 dan 1971, bahwa lulusan pesantren ini adalah pendukung Partai Nahdlatul Ulama (NU). Demikian pula dalam pemilihan Presiden putaran pertama tahun 2004 di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) adalah dimenangkan oleh Amin Rais yang merupakan tokoh Muhammadiyah, dan pada pemilihan Presiden putara kedua adalah dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Widoyono dan M. Yusuf Kalla, para alumni kebanyakan tidak memilih

KH Ahmad Hasyim Muzadi (calon Wakil Presiden) yang pada saat itu sebagai Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU).