• Tidak ada hasil yang ditemukan

Orientasi Partai: Vote Seeking, Office Seeking, dan Policy Seeking

Klasiikasi ini lebih menekankan orientasinya pada upaya pemecahan masalah heurisic melalui penggunaan metode ataupun sejumlah pendekatan dibandingkan upaya untuk mencari deinisi. Se-bagai derivasi berSe-bagai riset beserta penerapannya, menjadi pening untuk idak sekedar menghasil-kan pembedaan partai berdasarmenghasil-kan skema, klasiikasi, ataupun ipe, namun lebih berman’aat jika dapat menjawab berbagai pertanyaan yang dibutuhkan.71

69 Ibid 7 Ibid

7 Ibid, Wolinetz, hal. 9

Tabel . Perbedaan Mass-bureaucraic paries dan Electoral-pro’esional paries

Untuk kebutuhan tersebut, analisa partai berdasarkan orientasinya menjadi salah satu pendekatan yang berguna untuk melakukan respesiikasi. Pendekatan berbasis studi perilaku dan pilihan rasional ini memberikan sumbangan pening dalam studi partai, dan memunculkan iga model berdasarkan orientasinya, antara lain: policy seeking, votes seeking, dan oice seeking. Terminologi ini disumbangkan oleh Kaare Størm dalam melakukan analisa terhadap berbagai variabel sosial poliik yang mempen-garuhi partai masuk atau mendukung pemerintahan minoritas, khususnya dalam konteks koalisi.72 Membincang demokrasi kontemporer, idak dapat dilepaskan dari topik sistem kompeisi partai.

Pimpinan poliik yang biasanya adalah pemimpin partai secara ruin harus membuat keputusan, meski kerap keputusan tersebut idak seperi yang diinginkan. Ini mungkin akibat in’ormasi yang idak leng-kap, ataupun karena kesadaran bahwa keputusan tersebut memiliki risiko inggi. Tidak sekedar me-nentukan mana pilihan terbaik dari sekian alternai’ yang sama-sama buruk. Bisa saja keputusan berbeda tersebut merupakan trade of dari tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ininya, kepemimpinan adalah segala hal yang bersangkut-paut dengan pembuatan keputusan yang normalnya kompleks.73 Situasi di atas kerap memunculkan apa yang disebut sebagai dilema koleki’ bagi pemimpin poliik, terlebih lagi yang menjadi bagian dari partai pemerintah berkuasa. Sebab harus melibatkan sejumlah datar masalah dan mengambil indakan secara koleki’, dalam perjalanan karirnya untuk kembali terpilih. Perspeki’ ini menjadi inspirasi lebih lanjut dalam analisa polarisasi partai, khususnya per-tumbukan antara tujuan partai dengan perilakunya.74

Secara sederhana, pembedaan iga model partai berdasarkan orientasinya dibedakan; The Poli-cy-Seeking Party, The Votes-Seeking Party, dan The Oice Seeking Party tersebut dinyatakan demikian.75

The Policy-Seeking Party. Partai yang berorientasi pada maksimalisasi dampak kebijakan yang dihasil-kan sebagaimana tercermin dari berbagai literatur tentang ’ungsi partai, seperi yang dipahami se-lama ini. Aspek utama dari model ini adalah, orientasi dan prioritas yang inggi di’okuskan pada aspek kebijakan yang diusung oleh partai. Kebijakan ini melipui idak saja program-program ataupun ari-kulasi ideologi partai, termasuk di dalamnya fokus terhadap isu-isu tertentu ataupun tuntutan-tun-tutan partai.76

Partai yang berorientasi pada kebijakan kerap disebut sebagai bentuk puncak dari jenis partai sebel-umnya, yaitu party o” mass integraion, dan dalam beberapa kasus kontemporer diteruskan oleh par-tai-partai hijau ataupun yang berbasis pada isu lingkungan. Tidak terbatas pada partai yang spektrum poliiknya kiri partai hijau ataupun pro konservasi , termasuk di dalamnya partai-partai yang berada dalam spektrum poliik kanan sepanjang mampu mendeinisikan secara jelas orientasi ataupun tu-juan-tujuannya.77

7 Op. Cit, Wolinetz, hal.

7 Kaare Strøm and Wol’gang Müller eds , Policy, Oice, or Votes?: How Poliical Paries in West Europe Make Hard Decisions , Cambridge University Press, London, 999, hal.

7 Ibid, hal. -7 Ibid, hal. -8 76 Ibid, Wolinetz 77 Op. Cit, Wolinetz

Model partai ini berjuang untuk lakukan deinisi ulang terhadap apa yang disebut agenda poliik, dalam rangka membawa perubahan di sejumlah area publik atau Negara. Karakter utama dari model ini, partai seringkali memberikan prioritas dalam konteks arikulasi atau mempertahankan kebija-kannya, dibanding maksimalisasi suara ataupun dalam rangka mengamankan posisi atau jabatannya.

Sebagai contoh dari model ini, hampir semua partai sosial demokrat di Eropa Utara, sejumlah partai liberal dan partai kristen demokrat, termasuk di dalamnya Partai Hijau, libertarian kiri, dan beberapa partai kanan baru.78

The Votes-Seeking Party. Partai yang berorientasi pada memaksimalisasi suaranya untuk pemenangan pemilu, dalam rangka menguasai pemerintahan. Orientasi dasar model partai ini adalah pemenangan pemilu, sedangkan kebijakan ataupun posisi partai terhadap isu lebih lentur. Pada ingkat tertentu, kelenturan tersebut kerap dipergunakan sebagai intrumen manipulai’, dalam rangka maksimalisasi ataupun menjangkau semakin banyak suara.79

Jika dioperasikan dalam masyarakat yang heterogen dan diterapkan dalam sistem winner take all model pemilu Amerika Serikat ataupun Westminster-Inggris . Model partai ini mungkin akan mem-bangun struktur koalisi yang berupaya menjangkau kelompok-kelompok sosial berbeda. Ini dimak-sudkan dalam rangka memperbesar peluang partai untuk menang dan meneguhkan posisi sebagai mayoritas. Dalam sistem muli partai, model ini setara dengan catch-all party ataupun

electoral-pro-”essional party yang berupaya memaksimalkan dukungan, meski bukan berasal dari basis pemilih uta-ma.80

Model ini mengorganisir hampir semua ingkatan di mana pemilu dilakukan. Namun pengelolaan organisasi difokuskan dalam konteks rekrutmen dan seleksi para kandidat yang berpeluang menang.

Pengorganisasian pemilu yang sebelumnya merupakan kerja padat karya dengan melibatkan banyak personel dalam akivitas kampanye, mulai diinggalkan dan digani dengan kerja padat modal yang melibatkan konsultan kampanye ataupun markeing poliik.81

Struktur dan akivitas organisasi juga berubah sesuai dengan kebutuhan. Pada saat pemilu, ada struk-tur yang ringkas, melibatkan kalangan pro’esional, kandidat/calon kandidat, ataupun relawan jika dibutuhkan. Begitu juga dengan kegiatan pada masa kampanye. Akivitas organisasi berlangsung sangat intensi’, dan iba-iba menghilang begitu masa kontestasi usai. Meskipun anggota memiliki suara untuk menentukan kandidat yang diusung, namun idak keika berbicara tentang kebijakan partai.82

Sejumlah partai di Kanada yang kebijakannya kerap berubah-ubah dari pemilu ke pemilu bergantung pre’erensi pemimpin partai menjadi salah satu contoh dalam model ini. Contoh lain, partai-partai di Amerika yang meski memiliki struktur organisasi, namun idak memiliki substansi program yang permanen. Partai sekedar menjadi kendaraan atau alat untuk pemilu, sedangkan substansi program yang dituangkan bergantung pada hasil dan wilayah pertarungan dalam pemilu. Begitu juga dengan partai yang memusatkan diri pada sosok pemimpin, seperi the Gaulist di Perancis yang idak

memi-78 Op. Cit, Wolinetz 79 Ibid, hal.

80 Ibid

8 Op. Cit, Wollinetz, hal.

82 Ibid

liki orientasi ideologi jelas. Demikian halnya dengan catch-all party klasik seperi CDU di Jerman, dan termasuk partai-partai yang ada dalam sistem presidensialisme.83

The Oice-Seeking Party. Partai yang berorientasi pada maksimalisasi manfaat dan kontrol atas posisi yang dikuasainya. Orientasi utama guna mengamankan posisi atau jabatan ini, kerap harus dibayar dengan tanggalnya tujuan-tujuan organisasi maupun maksimalisasi suara. Model partai ini berupaya untuk memegang kekuasaan, baik sendirian ataupun berbagi dengan pihak lainnya. Baik dalam kon-teks eksistensi ataupun sebagai sistem penyeimbang, dalam rangka memperoleh akses ke patron.

Komitmen terhadap kebijakan merupakan hal yang dihindari oleh partai dalam model ini. Hal itu dipandang kontraproduki’ dalam konteks koalisi ataupun pemilu, sebab dapat menjadi serangan terhadap partai lain dan menutup peluang berkoalisi.84

Wujud dari model partai ini bisa berupa sebuah partai besar atau kecil, membangun jaringan pa-tron-client yang dalam operasionalnya membutuhkan man’aat secara berkelanjutan. Atau dapat ber-wujud, sebuah partai kecil dalam sistem mulipartai yang berkeinginan untuk dilibatkan dalam koalisi dengan harapan dapat meningkatkan reputasinya.85

Sebagaimana partai yang berorientasi pada suara, model ini juga mengikui pemilu yang diselengga-rakan pada semua ingkatan. Alih-alih merekrut akivis yang biasanya lebih berorientasi pada kebi-jakan. Model ini meletakkan preferensinya justru pada orang-orang yang berorientasi jabatan atau seidaknya memiliki pengalaman memegang jabatan. Mereka inilah parisipan yang utama.86

Sebagai contoh atas model keiga ini. Partai-partai yang secara regular bergabung dalam koalisi con-sociaional koalisi mulipartai tanpa ada satu partai dominan ataupun koalisi pemerintahan mayori-tas dikuasai oleh satu partai dominan. Beberapa partai, seperi Chrisian Historical Union CHU yang merupakan hasil merger antara Chrisian Democraic Appeal CDA dengan Partai mainstream Belgia di Belanda, Partai Liberal PLI dan Partai Republikan PRI , Partai Chrisian Democrat DC , dan Partai Sosialis PSI di Italia sebelum era 99 merupakan contoh dari model ini.87

Keiga model orientasi partai di atas, idak dimaksudkan untuk membedakan secara determinan an-tara satu partai dengan partai yang lain. Dengan kata lain, salah satu dari iga model orientasi terse-but bukanlah atriterse-but yang secara eksklusi’ melekat di tubuh satu partai dengan salah satu model.

Tidak tertutup kemungkinan, satu partai bisa dianalisa dan diukur derajat kecenderungannya ber-dasarkan iga model yang tersedia. Tabel di bawah menyediakan sejumlah indikator yang berguna untuk melakukan pendekatan dan Analisa, pada sisi mana sebuah partai dapat dilakukan klasiikasi berdasarkan orientasinya.

8 Op. Cit, Wollinetz, hal.

8 Ibid 8 Ibid, hal.

86 Ibid, hal.

87 Ibid

Indikator Partai

Orientasi kebijakan Orientasi Suara Orientasi Jabatan/Posisi Waktu yang disediakan

dalam debat perumusan kebijakan

Tinggi Rendah Rendah

Karakter perdebatan Intensif, berlanjut, fokus pada isu

Formalitas, tersebar, idak fokus

Formalitas, tersebar, idak ’okus

Derajat keterlibatan Terbuka; melibatkan hampir semua level

Tinggi Variai’ Rendah

Strategi determinasi Ditentukan oleh

Rendah menengah Tinggi Rendah menengah

Infrastuktur pendukung

Tabel . Model Orientasi Partai: Kebijakan, Suara, dan Jabatan

BAB III

Dokumen terkait