• Tidak ada hasil yang ditemukan

Otonomi Daerah dan Pembangunan Ekonomi Daerah

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Otonomi Daerah dan Pembangunan Ekonomi Daerah

Perencanaan pembangunan pada era Orde Baru sangat sentralistis dan kurang membuka peluang bagi daerah untuk melakukan perencanaan yang penuh dengan inisiatif, kreativitas dan inovatif. Berbeda dengan sekarang, sejak pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 (Revisi atas Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah), maka perencanaan pembangunan ekonomi daerah di era otonomi daerah memerlukan strategi dan inovasi-inovasi agar dayasaing dapat lebih diciptakan.

Otonomi Daerah adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal. Instrumen tersebut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan masyarakat di daerah terutama dalam menghadapi tantangan global, mendorong pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peranserta masyarakat, dan

mengembangkan demokrasi. Inti pelaksanaan otonomi daerah adalah terdapatnya keleluasaan Pemerintah Daerah (discretionary power) untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas dasar prakarsa, kreativitas dan peran serta aktif masyarakat dalam rangka mengembangkan dan memajukan daerahnya (Kaloh, 2002).

Sumber: Kaloh, 2002 dan Anonim, 2008.

Gambar 1. Kronologis Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah Di bidang ekonomi, otonomi daerah di satu pihak harus menjamin lancarnya pelaksanaan kebijakan ekonomi nasional di daerah, dan di lain pihak terbukanya peluang bagi Pemerintah Daerah mengembangkan kebijakan regional

UUD 1945 bab VI pasal 18 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 Panpres Nomor 6 Tahun 1959 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008

dan lokal untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi ekonomi di daerahnya. Dalam konteks ini, otonomi daerah akan akan memungkinkan lahirnya berbagai prakarsa Pemerintah Daerah untuk menawarkan fasilitas investasi, memudahkan proses perizinan usaha, dan membangun berbagai infrastruktur yang menunjang perputaran ekonomi di daerahnya. Dengan demikian, otonomi daerah akan membawa masyarakat ke tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dari waktu ke waktu (Salam, 2007).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 38 Tahun 2007, terdapat pembagian wewenang antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Kewenangan Pemerintah Pusat mencakup bidang-bidang berskala nasional di bawah ini:

 Politik luar negeri  Pertahanan Keamanan  Yustisi

 Moneter dan Fiskal  Agama

Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib meliputi:

a. pendidikan b. kesehatan

c. lingkungan hidup d. pekerjaan umum

e. penataan ruang

f. perencanaan pembangunan g. perumahan

h. kepemudaan dan olahraga i. penanaman modal

j. koperasi dan usaha kecil dan menengah k. kependudukan dan catatan sipil

l. ketenagakerjaan m. ketahanan pangan

n. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak o. keluarga berencana dan keluarga sejahtera

p. perhubungan

q. komunikasi dan informatika r. pertanahan

s. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri

t. otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian

u. pemberdayaan masyarakat dan desa v. sosial

w. kebudayaan x. statistik y. kearsipan z. perpustakaan

Urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Urusan pilihan meliputi:

a. kelautan dan perikanan b. pertanian

c. kehutanan

d. energi dan sumber daya mineral e. pariwisata

f. industri g. perdagangan h. ketransmigrasian

Dengan adanya pembagian wewenang tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa otonomi daerah peran Pemerintah Daerah dalam pembangunan sektor ekonomi sangat memegang peranan penting.

2.3. Uraian Sektor-Sektor Perekonomian

Sektor ekonomi adalah kesatuan dari unit-unit produksi yang dihasilkan oleh suatu wilayah tertentu. Sektor-sektor ekonomi yang ada di Kabupaten Banjarnegara, antara lain : (1) sektor pertanian, (2) sektor pertambangan dan galian, (3) sektor industri pengolahan (4) sektor listrik, gas dan air bersih, (5) sektor bangunan dan konstruksi, (6) sektor perdagangan, hotel dan restoran, (7) sektor angkutan dan komunikasi, (8) sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, (9) sektor jasa-jasa (BPS Kabupaten Banjarnegara, 2007).

Uraian sektoral mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan subsektor perekonomian. Berikut dijelaskan mengenai cakupan sektor perekonomian di Kabupaten Banjarnegara.

A. Pertanian

Sektor ini terdiri dari lima subsektor yaitu subsektor tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan dan hasil-hasil lainnya, kehutanan dan perikanan.

1. Tanaman Bahan Makanan

Subsektor ini mencakup komoditi tanaman bahan makanan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedele, sayur- sayuran, buah-buahan, kentang, kacang hijau, tanaman pangan lainnya, dan hasil-hasil produk lainnya.

2. Tanaman Perkebunan

Komoditi yang dicakup disini adalah hasil tanaman perkebunan yang diusahakan seperti kelapa, kelapa deres, kopi, kapuk, teh, tembakau, cengkeh dan sebagainya termasuk produk ikutannya.

3. Peternakan dan Hasil-Hasil Lainnya

Subsektor ini mencakup produksi ternak besar, ternak kecil, unggas maupun hasil-hasil ternak, seperti sapi, kerbau, babi, kuda, kambing, domba, telur dan susu segar. Produksi ternak diperkirakan sama dengan jumlah ternak yang dipotong ditambah perubahan stok populasi ternak dan ekspor ternak neto.

4. Kehutanan

Subsektor kehutanan mencakup kegiatan seperti penebangan kayu dan pengambilan hasil hutan lainnya. Kegiatan penebangan kayu menghasilkan kayu gelondongan, kayu bakar, arang dan bambu. Sedangkan kegiatan pengambilan hasil hutan lainnya berupa kulit kayu, kopal dan sebagainya. 5. Perikanan

Komoditi yang dicakup adalah semua hasil kegiatan perikanan umum, kolam, sawah dan karamba.

B. Pertambangan dan Penggalian

Sektor ini terdiri dari dua subsektor yaitu subsektor pertambangan yang meliputi pertambangan dan subsektor penggalian.

C. Industri Pengolahan

Sektor ini terdiri dari dua subsektor yaitu industri nonmigas besar dan sedang serta industri kecil kerajinan rumah tangga.

1. Industri Besar dan Sedang

Untuk industri besar memiliki batasan 100 orang ke atas, dan industri sedang antara 20-99 orang.

2. Industri Kecil dan Rumah tangga

Untuk industri kecil dan rumah tangga memiliki tenaga kerja di bawah 20 orang.

D. Listrik, Gas dan Air Bersih

1. Listrik

Subsektor listrik ini mencakup kegiatan produksi dan distribusi listrik, baik yang diusahakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), maupun non PLN. 2. Air Bersih

Subsektor yang dicakup dalam kegiatan ini adalah air bersih yang diusahakan oleh Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAM).

E. Bangunan dan Konstruksi

Sektor bangunan dan konstruksi mencakup semua kegiatan pembangunan fisik konstruksi, baik berupa gedung, jalan, jembatan, terminal, pelabuhan, dam, irigasi, jaringan listrik gas, air, telepon dan sebagainya. Pelaksanaan pembangunan dapat dilaksanakan oleh:

a. Pemborong/kontraktor domestik Banjarnegara b. Pemborong/kontraktor asing

c. Pemborong/kontraktor luar Banjarnegara d. Instansi Pemerintah baik pusat maupun daerah e. Bukan pemborong dan atau oleh perorangan

Tetapi pada dasarnya pelaksanaan pembangunan dan konstruksi dapat dikategorikan dalam dua gologan yaitu kontraktor dan bukan kontraktor.

Seperti diuraikan di atas, bahwa pelaku pembangunan di bidang konstruksi adalah menganut konsep domestik, yang artinya bahwa kegiatan tersebut yang benar-benar dilakukan di Kabupaten Banjarnegara, dengan tanpa melihat asal kontraktor. Ada kemungkinan kontraktor Kabupaten Banjarnegara yang

melakukan kegiatan di luar Banjarnegara, maka dalam hal ini tidak termasuk produk Kabupaten Banjarnegara.

F. Perdagangan, Hotel dan Restoran

Sektor ini mencakup kegiatan perdagangan, hotel dan restoran. 1. Perdagangan Besar dan Eceran

Subsektor ini mencakup besarnya nilai komoditi pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan serta komoditi impor yang diperdagangkan. 2. Hotel

Subsektor ini mencakup semua hotel, serta berbagai jenis penginapan lainnya seperti losmen.

3. Restoran/ Rumah Makan

Subsektor ini mencakup semua restoran yang ada di Kabupaten Banjarnegara. G. Angkutan dan Komunikasi

Sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan umum baik untuk barang dan penumpang, termasuk jasa penunjang komunikasi dan jasa komunikasi.

1. Pengangkutan

Kegiatan yang dicakup meliputi angkutan jalan raya dan jasa penunjang angkutan.

a. Angkutan Jalan Raya

Subsektor ini meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang yang dilakukan oleh perusahaan angkutan umum, baik bermotor, seperti bis, truk ataupun tidak bermotor, seperti dokar, becak dan sebagainya.

b. Jasa Penunjang Angkutan

Meliputi kegiatan pemberian jasa dan penyediaan fasilitas yang sifatnya menunjang dan berkaitan dengan kegiatan pengangkutan, seperti terminal dan parkir, ekspedisi, bongkar muat, serta jasa penunjang lainnya. Untuk terminal dan parkiran mencakup kegiatan pemberian pelayanan dan pengaturan lalu lintas kendaraan/armada yang membongkar atau mengisi muatan, baik barang maupun penumpang.

2. Komunikasi

Kegiatan yang dicakup adalah jasa pos dan giro, serta telekomunikasi. a. Pos dan Giro

Meliputi kegiatan pemberian jasa pos dan giro seperti pengiriman surat, wesel, paket, jasa giro, jasa tabungan dan sebagainya.

b. Telekomunikasi

Mencakup kegiatan pemberian jasa dalam hal pemakaian hubungan telepon, telegrap, dan teleks.

H. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Lainnya

Sektor ini meliputi kegiatan bank, asuransi, pegadaian, koperasi simpan pinjam, lembaga keuangan lainnya, persewaan bagunan tempat tinggal, dan jasa perusahaan.

1. Bank

Cakupan subsektor bank selain kegiatan perbankan juga termasuk kegiatan Badan Perkeditan Rakyat (BPR) yang berusaha di wilayah Kabupaten Banjarnegara.

2. Lembaga Keuangan Bukan Bank dan Jasa Penunjang

Subsektor ini melakukan kegiatan di luar kegiatan bank, yang artinya bahwa hanya terbatas pada mengumpulkan dana dan menyalurkan kembali dalam bentuk pinjaman. Kegiatan yang dicakup meliputi asuransi, koperasi simpan pinjam dan lembaga keuangan lainnya.

3. Sewa Bangunan

Mencakup semua kegiatan jasa atas penggunaan rumah/bangunan sebagai tempat tinggal oleh rumah tangga tanpa memperhatikan apakah rumah itu milik sendiri atau rumah yang disewa.

4. Jasa Perusahaan

Kegiatan jasa perusahaan yang dicakup meliputi advokat, notaris, akuntan/pembukuan, konsultan, periklanan, persewaan alat pesta dan jasa perusahaan lainnya.

I. Sektor Jasa-Jasa

Kegiatan sektor jasa meliputi pemerintahan dan hankam dan jasa swasta, sedangkan jasa swasta meliputi jasa sosial kemasyarakatan, jasa hiburan dan kebudayan serta jasa perorangan dan rumah tangga.

1. Pemerintahan dan Hankam

Subsektor jasa pemerintahan dan hakam terhadap PDRB terdiri dari upah dan gaji rutin pegawai Pemerintahan Pusat dan Daerah, sipil dan TNI, serta perkiraan komponen upah dari belanja pembangunan.

2. Jasa Swasta

Subsektor jasa swasta mencakup seluruh kegiatan ekonomi jasa-jasa yang dikelola oleh swasta, sedangkan yang dikelola pemerintah sudah tercakup di subsektor pemerintahan dan hankam. Adapun kegiatan yang dicakup subsektor jasa swasta adalah jasa sosial kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi serta jasa perorangan dan rumah tangga.

a. Jasa Sosial Kemasyarakatan

Mencakup jasa pendidikan, jasa kesehatan serta jasa kemasyarakatan lainnya seperti jasa palang merah, panti asuhan, panti wreda, yayasan pemeliharaan anak cacat, rumah ibadah dan sebagainya, terbatas yang dikelola oleh pemerintah sudah termasuk dalam subsektor pemerintahan.  Jasa Pendidikan

Mencakup jumlah murid sekolah swasta menurut jenjang pendidikan, data output per murid dan rasio nilai tambah serta IHK kelompok aneka barang dan jasa.

 Jasa Kesehatan

Mencakup jasa rumah sakit, dokter praktek dan jasa kesehatan lainnya yang dikelola oleh swasta.

 Jasa Sosial dan Kemasyarakatan Lainnya

Dari hasil survey khusus terhadap panti asuhan dan panti wredha, diperoleh rata-rata output per anak yang diasuh dan rata-rata orang tua yang dilayani bersumber pada Dinas Sosial dan Data Penunjang Regional Income yang dihasilkan dari data yang didapat oleh para koordinator

statistik kecamatan di tiap-tiap kecamatan sekabupaten Banjarnegara, diperoleh perkiraan output.

 Jasa Hiburan dan Kebudayaan

Subsektor ini mencakup kegiatan studio radio swasta, panggung atau taman hiburan, obyek wisata dan jasa hiburan lainnya.

 Jasa Perorangan dan Rumah Tangga

Subsektor ini mencakup jasa perbengkelan, reparasi, jasa perorangan dan pembantu rumah tangga.

2.4.Pertumbuhan Ekonomi Sektoral dan Analisis Shift Share

Analisis Shift Share merupakan teknik yang sangat berguna dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah dibandingkan dengan perekonomian nasional. Tujuan analisis ini adalah untuk menentukan kinerja atau produktivitas kerja perekonomian daerah dengan membandingkan dengan daerah yang lebih besar (regional atau nasional). Secara umum, analisis ini memberikan data tentang kinerja perekonomian dalam 3 komponen yaitu (Budiharsono dalam Priyarsono, Sahara, dan Firdaus, 2007):

a. Komponen Pertumbuhan Regional (PR), yaitu perubahan produksi/kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi/kesempatan kerja regional, perubahan kebijakan ekonomi regional atau perubahan dalam hal-hal yang memengaruhi perekonomian sektoral dan wilayah.

b. Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP), yaitu perbedaan sektor dalam hal permintaan produk akhir, ketersediaan bahan mentah, kebijakan industri pengolahan dan struktur serta keseragaman pasar.

c. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW), yaitu perubahan PDRB atau kesempatan kerja dalam suatu wilayah terhadap wilayah lainnya. Cepat lambatnya pertumbuhan suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya ditentukan oleh keunggulan komparatif, akses ke pasar, dukungan kelembagaan, prasarana sosial ekonomi serta kebijakan ekonomi regional pada wilayah tersebut.

Hubungan antara ketiga komponen tersebut selengkapnya disajikan pada Gambar 2. Berdasarkan ketiga komponen pertumbuhan wilayah tersebut dapat ditentukan dan diidentifikasikan perkembangan suatu sektor ekonomi pada suatu wilayah. Apabila PP + PPW > 0 maka dapat dikatakan bahwa pertumbuhan sektor ke i di wilayah ke j termasuk ke dalam kelompok progesif (maju). Sementara itu, PP + PPW < 0 menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor ke i pada wilayah ke j tergolong pertumbuhannya lambat.

Sumber: Budiharsono dalam Priyarsono, dkk. (2007)

Gambar 2. Model Analisis Shift Share Kompon Pertumbuhan Regional Wilayah ke-j sektor ke-i Wilayah ke- j sektor ke-i Maju PP+PPW≥0 Lambat PP+PPW<0 Komponen Pertumbuhan Proporsional Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah Komponen Pertumbuhan Regional

Terdapat 6 (enam) langkah dalam analisis Shift Share, yaitu: a. Menentukan wilayah yang akan dianalisis.

b. Menentukan indikator kegiatan ekonomi.

c. Menentukan sektor ekonomi yang akan dianalisis. d. Menghitung perubahan indikator kegiatan ekonomi. e. Menghitung rasio indikator kegiatan ekonomi. f. Menghitung komponen pertumbuhan wilayah.

Analisis Shift Share memiliki banyak kegunaan, diantaranya adalah untuk melihat hal-hal berikut:

a. Perkembangan sektor perekonomian di suatu wilayah terhadap perkembangan ekonomi wilayah yang lebih luas.

b. Perkembangan sektor-sektor perekonomian jika dibandingkan secara relatif dengan sektor-sektor lainnya.

c. Perkembangan suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya sehingga dapat membandingkan besarnya aktivitas suatu sektor pada wilayah tertentu dan pertumbuhan antar wilayah.

d. Perbandingan laju sektor-sektor perekonomian di suatu wilayah dengan laju pertumbuhan perekonomian nasional serta sektor-sektornya.

Kemampuan analisis Shift Share dalam memberikan informasi mengenai pertumbuhan sektor-sektor perekonomian di suatu wilayah tidaklah terlepas dari kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan dalam analisis Shift Share adalah: a. Persamaan Shift Share hanyalah identy equation dan tidak memiliki implikasi-

b. Komponen pertumbuhan nasional secara implisit mengemukakan bahwa laju pertumbuhan suatu wilayah hanya disebabkan oleh kebijakan nasional tanpa memperhatikan sebab-sebab laju pertumbuhan yang bersumber dari wilayah tersebut.

c. Kedua komponen pertumbuhan wilayah yaitu Pertumbuhan Proporsional (PP) dan Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW) mengasumsikan bahwa perubahan penawaran dan permintaan, teknologi dan lokasi diasumsikan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan wilayah. Di samping itu, analisis Shift Share juga mengasumsikan bahwa semua barang dijual secara nasional, padahal tidak semua demikian.

2.5. Penelitian Terdahulu

Restuningsih (2003) menganalisis tentang pertumbuhan sektor-sektor ekonomi di Provinsi DKI Jakarta sebelum dan masa krisis ekonomi, dengan menggunakan analisis Shift Share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada krisis ekonomi, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta dan nasional mengalami penurunan. Jika ditinjau secara sektoral, sektor bangunan dan konstruksi merupakan sektor ekonomi yang mengalami kontraksi terbesar dan sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor ekonomi yang mengalami kontraksi terkecil baik pada Provinsi DKI Jakarta maupun pada perekonomian nasional. Krisis ekonomi menyebabkan sebagian besar sektor ekonomi di Provinsi DKI Jakarta tidak dapat bersaing dengan baik, yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan dan konstruksi dan sektor jasa-jasa. Sedangkan sektor yang dapat bersaing adalah

sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.

Wahyuni (2007) menggunakan analisis Shift Share dalam menganalisis pertumbuhan sektor-sektor ekonomi di Kota Tangerang periode 2001-2005. Pada kurun waktu tersebut, terdapat enam sektor yang memiliki pertumbuhan yang progresif yaitu sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor angkutan dan komunikasi, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan dan konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa. Sektor-sektor perekonomian Kota Tangerang secara umum di dukung oleh dayasaing wilayah yang baik yaitu sektor-sektor perekonomian tersebut memiliki nilai komponen pertumbuhan pangsa wilayah yang positif. Dengan total nilai pergeseran bersih yang positif, ini berarti bahwa pada tahun 2001-2005, Kota Tangerang termasuk kota yang mengalami laju pertumbuhan yang progresif.

Putra (2004) menganalisis tentang pertumbuhan sektor-sektor perekonomian di Kota Jambi periode 1994-2002 dengan menggunakan alat analisis Shift Share. Hasil penelitian menujukkan bahwa pada kurun waktu 1994- 1996, sektor industri pengolahan merupakan sektor yang memiliki laju pertumbuhan paling cepat, sedangkan sektor yang laju pertumbuhannya paling lambat adalah sektor jasa-jasa. Dilihat dari dayasaing, sektor pertambangan merupakan sektor yang memiliki dayasaing paling baik bila dibandingkan dengan kabupaten lain, sedangkan sektor yang tidak mampu bersaing dengan kabupaten lain adalah sektor industri pengolahan. Pada tahun 1997-1999, sektor yang memiliki laju pertumbuhan paling cepat adalah sektor pertambangan. Sedangkan

sektor yang memilki laju pertumbuhan paling lambat adalah sektor bangunan dan konstruksi. Pada masa otonomi daerah tahun 2000-2002, seluruh sektor-sektor ekonomi Kota Jambi memiliki pertumbuhan yang lambat dan kalah bersaing dengan kabupaten lain di Provinsi Jambi. Pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang lambat pada masa otonomi daerah bukan berarti kebijakan otonomi daerah tidak efektif, tetapi karena dalam penelitian tersebut kurun waktu yang digunakan hanya dua tahun yaitu 2000 sampai 2002, sehingga belum terlihat dengan jelas perubahan struktur perekonomian yang ada di Kota Jambi.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, analisis Shift Share dapat digunakan untuk menganalisis sektor-sektor perekonomian dari wilayah kabupaten/kota sampai tingkat nasional dengan melakukan perbandingan laju pertumbuhan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya karena menggunakan periode 1996-2007 sebagai kurun waktu analisis serta dilakukan di tempat penelitian yang berbeda yaitu Kabupaten Banjarnegara.

2.6. Kerangka Pemikiran

Gambar 3. Bagan Kerangka Pemikiran Kondisi Perekonomian Kabupaten Banjarnegara Periode 1996-2007 Sektor-Sektor Perekonomian Analisis Shift-Share Dayasaing Sektor- Sektor Perekonomian Pertumbuhan Sektor- Sektor Perekonomian Tidak Mampu Mampu Lambat Cepat

Pergeseran Bersih dan Profil Pertumbuhan Regulasi Pemerintah Pusat dan Daerah Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan

Dokumen terkait