BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Kerangka Konseptual
2.2.3 Output
Dari hasil proses pengolahan data maka selanjutnya akan didapat hasil analisis data berupa kesimpulan dan saran.
Gambar 2.11 Kerangka Konseptual
a. Data Primer
1. Ukuran penampang/geometri terowongan dan pipa 2. Pengukuran kecepatan angin
menggunakan alat anemometer.
3. Emisi gas methan dan gas-gas lain menggunakan alat multigas detector.
4. Temperatur kering dan basah menggunakan alat sling psikometer.
b. Data Sekunder 1. Jumlah pekerja dan alat 2. Sejarah dan profil prusahaan 3. Peta Lay out tambang bawah
7. Peta kesampaian daerah 8. Struktur organisasi a. Mencari luas penampang
b. Mencari luas duct/host
c. Perhitungan kuantitas udara Q = π x A
d. Kuantitas udara dan menghitung kebutuhan udara pada front kerja.
= Jumlah pekerja Γkebutuhan udara perorang (m3/detik) e. Kebutuhan udara untuk alat
= 3 m3/menit x setiap tenaga kuda 2. Kualitas udara
a. menganalisis temperatur efektif menggunakan grafik temperatur efektif.
b. Menganalisis kelembaban relatif c. merancang pemasangan ventilasi
hisap
d. analisis temperatur efektif dan kelembaban relatif setelah pemasangan ventilasi hisap
38
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian terapan (applied research). Menurut Sugiyono (2009:9-11), penelitian terapan adalah menerapkan, menguji, mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah praktis.
Penelitian terapan ini digolongkan menurut tujuan, penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan yang secara praktis dapat diaplikasikan.
Walaupun ada kalanya penelitian terapan juga untuk mengembangkan produk penelitian dan pengembangan bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan memvalidasi suatu produk.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1. Tempat Penelitian
Lokasi Penelitian dilakukan di CV. BMK secara administratif terletak pada Job Site Tanah Kuning, Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat. Untuk mencapai lokasi kegiatan penelitian dapat ditempuh dari kota Padang dan perjalanan dapat dilakukan melalui jalan darat menggunakan kendaraan roda empat dengan jarak Β±117 km yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam perjalanan.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9 juni 2018 sampai dengan tanggal 30 juni 2018.
3.3. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti. Maka variabel dari penelitian ini adalah analisis temperatur efektif dan kelembaban relatif untuk meningkatkan produksi pada lubang bukaan tambang BMK-35 CV.
Bara Mitra Kencana.
3.4. Data dan Sumber Data 3.4.1. Data
3.4.1.1 Data Primer
Data primer yang dibutuhkan adalah:
5. Ukuran penampang/geometri terowongan dan duct/host.
6. Kecepatan angin ventilasi pada jalur utama ventilasi (intake airway dan outlet), front penambangan menggunakan alat anemometer.
7. Kadar gas methan dan gas gas lain di permuka kerja dan jalur jalur udara menggunakan alat multigas detector.
8. Temperatur kering, temperatur basah, dan kelembaban relatif menggunakan alat sling digital psikometer AZ 8746.
3.4.1.2. Data sekunder:
Data sekunder yang dibutuhkan adalah:
9. Jumlah pekerja dan alat
11. Peta Lay out tambang bawah tanah 12. Spesifikasi fan/blower
13. Peta IUP CV. Bara Mitra Kencana 14. Peta topografi
15. Peta kesampaian daerah 16. Struktur organisasi 3.4.2. Sumber Data
Sumber data yang didapatkan berasal dari pengamatan langsung di lapangan, buku-buku, literatur dan dokumentasi dari CV. Bara Mitra Kencana.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. Kuantitas udara
a. Pengukuran geometri terowongan dan geometri duct/host.
Pengukuran geometri ini menggunakan alat meteran dan dilakukan di tiga titik yaitu di kanopi, percabangan dan front kerja.
Selanjutnya dihitung luas penampang terowongan dan luas penampang duct/host.
b. Pengukuran kecepatan aliran udara pada lubang tambang BMK-35 menggunakan alat anemometer. Pengukuran kecepatan angin dilakukan di tiga titik yaitu di kanopi, percabangan dan front kerja.
a. Pengukuran emisi gas O2, CO, CH4, dan H2S pada front kerja BMK-35 menggunakan alat multigas detector. Untuk pengukuran gas metan, alat diletakkan di bagian atap karena gas metan bersifat ringan, untuk gas H2S dilakukan di bagian lantai karena H2S bersifat berat, dan untuk gas lainya dilakukan di bagian tengah terowongan.
b. Pengukuran temperatur kering, temperatur basah, dan kelembaban relatif pada front kerja menggunakan alat sling psikometer.
pengukuran dilakukan di tiga titik yaitu di kanopi, percabangan dan front kerja.
3.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 3.6.1. Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara dan proses untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan. Pada pengolahan data ini ada beberapa hal yang akan dibahas yaitu:
1. Kuantitas udara
a. Menghitung luas penampang terowongan dan duct/host dari data geometri terowongan dan duct/host yang diketahui.
b. Menghitung kuantitas udara mengunakan rumus persamaan (2.3) dengan diketahui kecepatan udara dan luas penampang terowongan.
menggunakan rumus persamaan (2.4)
d. Perhitungan kebutuhan udara untuk alat pekerja pada front kerja menggunakan rumus persamaan (2.5)
2. Kualitas udara
a. Menghitung temperatur efektif menggunakan grafik temperatur efektif dengan data temperatur kering,temperatur basah, dan kecepatan angin yang di ketahui.
b. Analisis kelembaban relatif yang sudah terdeteksi oleh alat digital sling psikometer AZ 8746
c. Pemasangan ventilasi hisap pada jalan keluar
d. Menghitung temperatur efektif menggunakan grafik temperatur efektif dan kelembaban relatif setelah pemasangan ventilasi hisap.
3.6.2. Analisa Data
Analisis perhitungan temperatur efektif dan kelembaban relatif, Perhitungan kuantitas udara pada tambanag bawah tanah, meliputi tahap pengukuran gas dan debu yang ada di dalam tambang.
1. Perhitungan kuantitas udara pada lubang bukaan tambang BMK-35
Analisis selanjutnya yang penulis lakukan adalah menganalisis kuantitas udara yang ada pada lokasi lubang bukaan tambang BMK-35 tambang bawah tanah dengan diperolehnya data kecepatan angin dan penampang terowongan.
2. Perhitungan kebutuhan udara untuk operasional penambangan
kebutuhan udara untuk kegiatan penambangan yang meliputi kebutuhan udara untuk pernafasan, dan untuk setiap tenaga kerja yang sedang produksi di lokasi tambang bawah tanah.
3. Analisis temperatur efektif dan kelembaban relatif sebelum pemasangan ventilasi hisap pada lubang bukaan tambang BMK-35
Dengan diketahuinya suhu dan kecepatan angin, maka dapat ditentukan temperatur efektif menggunakan grafik temperatur efektif dan kelembaban relatif sebelum pemasangan ventilasi hisap. Serta dengan adanya data data mengenai udara apa saja yang ditemui di lokasi tambang bawah tanah maka dapat diketahui kualitas udara tambang dalam kondisi baik atau tidak.
4. Analisis temperatur efektif dan kelembaban relatif setelah pemasangan ventilasi hisap ada lubang bukaan tambang BMK-35.
Setelah pemasangan ventilasi hisab di jalan keluar BMK-35, maka dengan diketahuinya suhu dan kecepatan angin, dapat ditentukan temperatur efektif menggunakan grafik temperatur efektif dan kelembaban relatif sesudah pemasangan ventilasi hisap. Serta dengan adanya data data mengenai udara apa saja yang ditemui di lokasi tambang bawah tanah maka dapat diketahui kualitas udara tambang dalam kondisi baik atau tidak.
3.7. Kerangka Metodologi
Kerangka metodologi yang digunakan adalah seperti diperlihatkan pada gambar diagram alir di bawah ini.
Tujuan Penelitian
1. Mendapatkan nilai temperatur efektif dan kelembaban relatif pada lubang tambang BMK-35 CV. Bara Mitra Kencana.
2. Merancang pengaturan suhu dan kelembaban udara yang baik untuk kebutuhan pekerja pada lubang tambang BMK-35 CV. Bara Mitra Kencana.
3. Mendapatkan nilai temperatur efektif dan kelembaban relatif setelah pemasangan ventilasi hisap pada lubang tambang BMK-35 CV. Bara Mitra Kencana.
Identifikasi Masalah
1. Temperatur udara pada tanggal 9 Juni 2018 di dalam lubang tambang front kerja BMK-35 melebihi ambang batas yaitu 26oC.
2. Kurang optimalnya fungsi duct/host yang menyebabkan kurangnya kuantitas udara alami yang masuk ke dalam tambang
3. Terdapat gas-gas berbahaya yang melebihi nilai ambang batas pada tambang bawah tanah.
4. Terjadinya ledakan gas tambang batubara pada tanggal 29 maret 2017.
Pengambilan Data
3. Perhitungan kebutuhan udara pada front kerja 4. Analisis temperatur efektif
5. Analisis kelembaban relatif
6. Pemasangan ventilasi hisap pada jalur udara keluar
7. Analisis temperatur efektif menggunakan grafik temperatur efektif dan kelembaban relatif setelah pemasangan ventilasi hisap
Sekunder 9. Jumlah pekerja dan alat 10. Sejarah dan profil prusahaan 11. Peta Lay out tambang bawah tanah 12. Spesifikasi Fan/Blower
13. Peta IUP CV. Bara Mitra Kencana 14. Peta topografi
15. Peta kesampaian daerah 16. Struktur organisasi
6.
Primer
5. Ukuran penampang/geometri terowongan dan pipa
6. Pengukuran kecepatan angin menggunakan alat anemometer.
7. Emisi gas methan dan gas-gas lain menggunakan alat multigas detector.
8. Temperatur kering, temperatur basah, dan kelembaban relatif menggunakan alat digital sling psikometer AZ 8746..
Kualitas Pada Lubang Tambang Bawah Tanah Front Kerja BMK35 CV. Bara Mitra Kencana Kota Sawahlunto, Sumatera Barat
A
Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian
Kualitas udara yang baik demi keamanan dan kenyamanan pekerja saat melakukan kegiatan penambangan
Analisi Data
1. Perhitungan kuantitas udara pada lubang bukaan tambang BMK-35 2. Perhitungan kebutuhan udara untuk operasional penambangan
3. Analisis temperatur efektif dan kelembaban relatif pada lubang bukaan tambang BMK-35
4. Analisis temperatur efektif dan kelembaban relatif setelah pemasangan ventilasi hisap
46 BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1. Pengumpulan Data
Sebelum melakukan perhitungan terhadap rancangan sistem ventilasi, terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder yang bersumber dari pengamatan langsung di lapangan dan arsip perusahaan, adapun data-data tersebut berupa:
4.1.1. Data Primer
Jenis data ini merupakan data yang diperoleh secara berdasarkan penelitian langsung di lapangan terutama sistem ventilasi tambang bawah tanah. Data tersebut berupa pengamatan aplikasi di lokasi penambangan dan pengukuran secara langsung, data itu berupa:
1. Ukuran Penampang/Geometri Terowongan
Geometri penampang terowongan yang diukur yaitu pada lubang utama, percabangan dan front kerja pada lubang tambang BMK-35 menggunakan alat meteran. Penampang terowongan pada lubang utama berbentuk archis, sedangkan pada percabangan dan front kerja berbentuk trapesium. Hasil pengukuran dimensi lubang bukaan terlihat pada lampiran E.
2. Pengukuran Penampang/Geometri Duct/Host
Duct/host yang digunakan di BMK-35 berbentuk lingkaran. pengukuran geometri duct/host dilakukan di tiga titik yaitu lubang bukaan utama, percabangan dan front kerja pada lubang tambang BMK35. Pengukuran dilakukan
menggunakan meteran. Data pengukuran geometri duct/host dapat dilihat pada lampiran E.
3. Pengukuran Kecepatan Angin
Kecepatan angin di ukur menggunakan alat anemometer CFM 8901 dapat dilihat pada gambar 4.1 dan dilakukan di tiga titik yaitu pada lubang bukaan utama, percabangan dan front kerja. Data pengukuran kecepatan angin dapat dilihat pada lampiran E.
Gambar 4.1 Anemometer CFM 8091 4. Pengukuran Emisi Gas Metan dan Gas Lainya
Pengukuran gas metan dan gas lainya di CV. Bara mitra kencana menggunakan alat multigas detector. Pengukuran dilakukan oleh pengawas di pagi hari sebelum pekerja memasuki lubang tambang, dan setelah istirahat siang sebelum pekerja masuk ke dalam lubang tambang. Alat multigas detector dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut:
Gambar 4.2.Multigas Detector
Kadar gas yang dapat terdeteksi oleh alat multigas detector antara lain gas O2, CH4, CO,dan H2S. adapun hasil pengukuran emisi gas menggunakan alat multigas detector dapat dilihat pada lampiran E.
5. Pengukuran Temperatur Udara
Temperatur udara diukur menggunakan alat sling psikometer meliputi temperatur kering dan temperatur basah, pengukuran temperatur udara ini dilakukan di tiga titik yaitu lubang bukaan utama, percabangan dan front perja.
Data pengukuran temperatur udara dapat dilihat pada lampiran E dan alat sling psikometer dapat dilihat pada gambar 4.3 berikut:
Gambar 4.3 Digital Sling Psychrometer (AZ 8746) 4.1.2 Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang telah ada di perusahaan, bersumber dari arsip dan literatur yang menyangkut kajian penelitian berupa:
1. Jumlah Pekerja
Proses penambangan di CV. Bara Mitra Kencana adalah dengan cara manual. Aktifitas penambangan pada CV. Bara Mitra Kencana yang dilakukan saat melakukan penelitian adalah pekerjaan penggalian lubang maju khususnya BMK-35. Adapun tenaga kerja adalah dalam 1 shift dengan 3 orang untuk setiap
dalam front kerja. Pada penumpukan batubara di stockyard dilakukan penambangan dengan khususnya tenaga kerja 2 orang untuk memasukkan batubara ke dalam lori.
2. Spesifikasi Fan/ Blower
Mesin angin yang digunakan CV. Bara Mitra Kencana untuk menunjang lubang maju khususnya lubang tambang BMK-35 menggunakan sistem hembus.
Mesin angin ini akan menekan udara ke dalam tambang sehingga udara mengalir melalui jalan-jalan udara di dalam tambang. Adapun spesifikasi mesin angin dapat dilihat pada Gambar 4.4
Gambar 4.4 Spesifikasi Fan/Blower Hembus 3. Peta Topografi
Pemetaan topografi pada CV. Bara Mitra Kencana dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi dan bentang alam di wilayah konsesi. Pengukuran dan pemetaan topografi dengan skala 1 : 5.000 dilakukan pada wilayah seluas 70,53 Ha (sebelum penciutan), sedangkan peta topografi yang lebih detail yaitu dengan skala 1 : 2.000 pada daerah prospek seluas 49,61 Ha (rencana penciutan). Pete topografi dapat dilihat pada lampiran B.
4. Peta Lay out tambang bawah tanah
Peta lay out dapat dilihat pada lampiran C. Pengukuran dan pemetaan di atas lahan 49,61 Ha juga dibangun berbagai fasilitas penunjang kelancaran
operasional kegiatan, baik berupa areal tertutup seperti basecamp, kantor, workshop (bengkel), mesjid, kantin, P3K, ruang kelistrikan maupun areal terbuka, seperti jalan masuk tambang dan overburden, stockpile serta kolam pengendap.
5. Peralatan Penunjang Penambangan
Alat penunjang penambangan merupakan alat yang digunakan sebagai penunjang proses pengambilan batubara. Adapun alat yang digunakan CV. Bara Mitra Kencana adalah:
a. Kayu, digunakan sebagai penyangga pada lubang tambang bawah tanah.
b. Gancu (baling), merupakan alat manual yang masih menggunakan tenaga manusia yang terdiri dari ganggang yang terbuat dari kayu dan matanya yang terbuat dari besi.
c. Sekop dan cangkul, digunakan dalam proses pemuatan batubara ke dalam gerobak, batubara yang ada di dalam gerobak kemudian akan di angkut menuju lori yang ada pada jalur utama.
d. Gerobak, alat angkut batubara dari masing masing cabang ke jalur utama pada jalur lori.
e. Lori merupakan alat angkut batubara dari dalam lubang.
f. Pompa, digunakan untuk mengeluarkan air yang ada di dalam lubang tambang yang akan disalurkan ke dalam sediment pond (bak penampungan).
g. Mesin angin (blower), digunakan untuk menyuplai udara segar ke dalam permukaan kerja.
h. Gas detektor, berfungsi untuk mendeteksi gasβgas yang terdapat di dalam lubang tambang bawah tanah
i. Lampu, sebagai penerangan.
4.2. Pengolahan Data
4.2.1. Perhitungan Luas Terowongan
Penampang terowongan pada BMK35 umumnya berbentuk arcis dan trapesium. Arcis merupakan gabungan dari setengah lingkaran dan persegi panjang. Berikut adalah cara mencari luas terowongan pada BMK35 CV. BMK:
1. Luas Penampang Setengah Lingkaran
r ο½1,325m
d ο½2,65m
Gambar 4.5 Menghitung Luas Setengah Lingkaran πΏπ’ππ πππ‘ππππβ πΏππππππππ = 1 2 ππ2
3,14 1,3252 12ο΄ ο΄
ο½
ο½4,1605m2
2. Luas Penampang Persegi Panjang
lο½2,30m
pο½2,65m
Gambar 4.6 Menghitung Persegi Panjang
ο΄ο¬
Gambar 4.7 Menghitung Luas Penampang Arcis
= ππ’ππ π ππ‘ππππβ πππππππππ + ππ’ππ ππππ πππ πππππππ
Gambar 4.8 Menghitung Penampang Trapesium l ο½ aο«bο΄h
Luas penampang terowongan dapat di lihat pada tabel 4.6 berikut:
Duct/host berbetuk lingkaran, oleh karena itu mencari luas duct/host menggunakan rumus luas lingkaran yaitu 1
4ππΒ², r merupakan jari-jari dari duct/host.
Luas duct/host kanopi 1 = 1
4π₯ 3,14π₯ 0,36Β² = 0,102 m2 Adapun luas duct/host dapat dilihat dalam tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.2
Kuantitas dari hasil pengamatan terhadap sistem ventilasi tambang yang ada di CV. BMK, maka dilakukan berdasarkan kecepatan angin dan selisih antara luas terowongan dan luas penampang pipa khususnya lubang tambang BMK-35 dengan rumus Q=VxA
Q (kanopi) = 3,49 m/s x (10,25-0,102)m = 35,21 m3/s
Kuantitas udara pada lubang tambang BMK35 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3
4.2.4. Kebutuhan Udara Untuk Pernapasan Pada Front Kerja BMK-35
Dari hasil perhitungan di lapangan untuk kebutuhan udara untuk pernafasan para pekerja menurut KEPMEN 555K adalah 2 m3 menit (0,03m3 s) di front kerja yaitu:
a. Berdasarkan kebutuhan udara untuk pernafasan 3 orang para pekerja pershift di front kerja yaitu:
Jumlah udara per orang = 2 m3/menit Jumlah pekerja = 3 orang/shift
= Jumlah pekerja x kebutuhan udara per orang 2 m3/menit
= 3 orang x 2 m3/menit = 6 m3/menit
Jadi, kebutuhan udara untuk pekerja adalah 6 m3/menit. Dengan dikonversikan 1m3/menit = 0,0166667 m3/detik, maka kebutuhan udara untuk pekerja adalah 0,10 m3/detik.
b. Berdasarkan kebutuhan udara untuk alat
Pada KEPMEN 555 K pasal 369 dijelaskan bahwa kebutuhan udara untuk alat yaitu 3 m3/menit untuk setiap tenaga kuda apabila mesin di operasikan maka:
1) Untuk 1 unit pompa air 75 HP
= 75 HP x 3 m3/menit = 225 m3/menit = 3,75 m3/detik 2) Untuk 1 lampu penerangan 10 watt
10 watt = 0,0134 HP
= 0,0134 x 3 m3/menit = 0,0402 m3/menit = 0,00067 m3/detik
Maka kebutuhan udara untuk pernapasan pekerja dan alat dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4
Kebutuhan Udara Pada Front Kerja
LOKASI Jumlah
pekerja Alat (Unit) Kebutuhan udara untuk pernapasan (m/s)
4.2.5. Perhitungan Temperatur Udara Efektif
Perhitungan temperatur efektif dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut:
Tabel 4.5
4.2.6. Kelembaban Relatif
Kelembaban relatif sudah dapat terdeteksi secara langsung oleh digital sling psiometer (AZ 8746). Kelembaban relatif pada lubang tambang BMK 35 dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut:
Tabel 4.6
4.2.7. Merancang Pemasangan Ventilasi Hisap
Pemasangan ventilasi hisap dilakukan pada jalur udara keluar dengan menutup rapat lubang tambang agar tidak terjadi kebocoran udara saat udara dalam lubang tambang dihisap keluar, dapat dilihat pada lampiran G dan spesifikasi alat ventilasi hisap pada lampiran H. Letak pemasangan ventilasi hisap dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.9 Rancangan Pemasangan Ventilasi Hisap 4.2.8. Perhitungan Temperatur Efektif Setalah Pemasangan Ventilasi Hisap
Setelah dilakukan pemasangan ventilasi hisap pada jalur udara keluar maka didapatkan temperatur efektif pada tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.7
Temperatur Efektif Setelah Pemasangan Ventilasi Hisap
LOKASI
4.2.9. Kelembaban Relatif Setelah Pemasangan Ventilasi Hisap
Kelembaban relatif setelah dilakukanya pemasangan ventilasi hisap ada jalur udara keluar menggunakan alat digital sling psikometer (AZ 8746) dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut:
Tabel 4.8
Kelembaban Udara Relatif Setelah Pemasangan Ventilasi Hisap
4.2.10. Perbandingan Temperatur Efektif Sebelum Ventilasi Hisap dan Sesudah Pemasangan Ventilasi Hisap
Setelah dilakukanya pemasangan ventilasi hisap terjadi penurunan suhu dari sebelum dilakukanya pemasangan ventilasi hisap. Perbandingan temperatur efektif sebelum ventilasi hisap dan sesudah pemasangan ventilasi hisap dapat dilihat pada grafik berikut :
LOKASI
Tgl: 21 Juni 2018 Tgl:22 Juni 2018 Tgl:23 Juni 2018 Pagi Siang Pagi Siang Pagi Siang
0 5 10 15 20 25 30
3.1 3.12 2.6 2.51 2.65 2.59 2.61 2.5 3.33 3.31 3.2 3.19 3.2 3.16 3.21 3.29
TEMPERATUR EFEKTIF (OC)
KECEPATAN UDARA (m/s)
Perbandingan Temperatur Efektif BMK35
Pagi(oC)1 Siang(oC)1 Pagi(oC)2 Siang(oC)2 Max Min
Gambar 4.10 Perbandingan Temperatur Efektif Sebelum dan Sesudah Pemasangan Ventilasi Hisap
Keterangan :
Pagi (oC)1 = Temperatur efektif pagi sebelum pemasangan ventilasi hisap Siang (oC)1= Temperatur efektif siang sebelum pemasangan ventilasi hisap Pagi (oC)2 = Temperatur efektif pagi setelah pemasangan ventilasi hisap Siang (oC)2= Temperatur efektif siang setelah pemasangan ventilasi hisap Max = Suhu maksimum yang di perbolehkan menurut KEPMEN 555K Min = Tuhu minimum yang di perbolehkan menurut KEPMEN 555K
61 BAB V ANALISA DATA
Kegiatan penambangan di CV. Bara Mitra Kencana dilakukan dengan menggunakan alat manual, untuk mendukung efektifitas penambangan perlu dilakukan sistem ventilasi tambang yang baik, untuk itu sangat penting diperhatikan beberapa aspek yang mempengaruhi sistem ventilasi dengan menggunakan perhitungan sistem ventilasi secara manual. Dari pengumpulan dan pengolahan data, maka didapatkan hasil yang digunakan dalam menganalisa sistem ventilasi yang baik bagi CV. Bara Mitra Kencana.
5.1 Analisa Perhitungan Kuantitas Udara
Dari hasil pengukuran dan perhitungan diketahui kecepatan udara dialirkan ke setiap front kerja dan luas terowongan untuk kegiatan penggalian lubang maju sehingga kuantitas udara yang masuk pada kanopi 1 sebesar 35,21 m3/s , pada percabangan sebesar 13,25 β 16,21 m3/s, kedalam front kerja sebesar 19,74-27,69 m3/s, dan pada kanopi 2 sebesar 31,50 m3/s. Kuantitas yang tersedia sudah mencukupi untuk aktifitas penambangan
5.2 Analisa Perhitungan Kebutuhan Udara Pada Front Kerja BMK 35
Kebutuhan udara pada kegiatan pengalian lubang maju pada front kerja lubang tambang BMK-35 diketahui dari perkalian jumlah pekerja dan jumlah udara per orang. Kebutuhan udara pada setiap front kerja yaitu 6 m3/menit, dan kebutuhan
udara untuk alat sebesar 0,00067 β 3,750676 m3/menit. Dengan kuantitas udara yang tersedia maka dapat dikatakan cukup untuk kebutuhan pernafasan pekerja dan alat.
5.3 Analisa Perhitungan Temperatur Efektif dan Kelembaban Relatif Sebelum Pemasangan Ventilasi Hisap
Perhitungan temperatur efektif menggunakan grafik psikometri dengan diketahui kecepatan aliran udara pada lubang tambang masih di atas NAB yaitu mencapai 26oC dan kelembaban relatif mencapai 95% sedangkan temperatur efektif yang diperbolehkan oleh KEPMEN 555K yaitu 18-24 oC dan kelebaban relatif maksimum 85%. dengan suhu yang tersedia tersebut pekerja tidak efektif dalam melaksanakan kegiatan penambangan.
5.4 Analisa Perhitungan Temperatur Efektif dan Kelembaban Relatif Setelah Pemasangan Ventilasi Hisap
Setelah dilakukanya pemasangan ventilasi hisap pada jalur udara keluar temperatur udara pada lubang tambang BMK35 mengalami penurunan yaitu sesuai dengan NAB yang diatur oleh KEPMEN 555 K yaitu dibawah suhu 24oC dan kelembaban relatif 85%.
63 BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan pada bab sebelumnya berdasarkan penelitian di lapangan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Nilai temperatur efektif dan kelembaban relatif pada lubang tambang BMK-35 CV. BMK sebelum di pasang ventilasi hisap pada lokasi:
a. Lubang bukaan (kanopi) dengan kecepatan udara 3,02-3,06 m/detik didapatkan nilai temperatur udara efektif yaitu 19,9-21oC dengan kelembaban relatif sebesar 78-83%.
b. Percabangan dengan kecepatan udara 2,42 β 2,6 m/detik didapatkan nilai temperatur udara efektif yaitu 23,3-25,8oC dengan kelembaban relatif sebesar 88-90,4 %.
c. Front kerja dengan kecepatan udara 3-3,20 m/detik didapatkan nilai temperatur udara efektif yaitu 23-26oC dengan kelembaban relatif 91,9 - 95,4 %.
2. Pemasangan ventilasi hisap diletakkan pada jalur udara keluar dengan menutup rapat terowongan agar tidak terjadi kebocoran udara yang dihisap.
Hal tersebut di lakukan dengan pertimbangan desain lubang tambang yang ada pada CV. BMK.
3. Nilai temperatur udara efektif dan kelembaban relatif pada lubang tambang BMK-35 CV. BMK setelah dipasang ventilasi hisap pada lokasi:
3. Nilai temperatur udara efektif dan kelembaban relatif pada lubang tambang BMK-35 CV. BMK setelah dipasang ventilasi hisap pada lokasi: