BAB III KOMODIFIKASI BENTUK PEPALIHAN DAN RAGAM
3.1.6 Padma
3.1.6 Padma
I Wayan Wirya (1994: 60) mengemukakan bahwa pepalihan padma
sebagai bentuk bunga teratai yang terdiri atas daun bunga, serbuk sari yang distilir menjadi pepalihan wayah, bebentet dan gulasebungkul, tanpa ragam hias. Pepalihan padma adalah gabungan dari beberapa bentuk segi empat panjang, yang merupakan stiliran dari bunga teratai yang sedang mekar, sebagai simbol tempat duduk atau singgasana Tuhan. Adapun bentuk pepalihan padma karya Wirya 1994, seperti gambar 5.17 di bawah ini.
Pepalihan padma adalah stiliran bentuk dari bunga teratai yang sedang mekar, sebagai leher atau pembatas antara pepalihan taman dan pepalihan
badadara menggunakan pepalihan cakepgula. Adapun pepalihan yang
digunakan disini adalah pepalihan padma yang berjumlah lima, dari atas berjumlah lima dan dari bawah berjumlah lima sehingga kalau dihitung jumlahnya menjadi sepuluh, di tengah-tengah menggunakan pepalihan
cakepgula sebagai pengikatnya, semua pepalihan itu diatur untuk mendapatkan
kesempurnaan estetika. Adapun komodifikasi bentuk pepalihan padma karya IBNP, seperti gambar 3.18 di bawah ini.
Tampak dari Depan Tampak dari Samping Tampak dari Belakang Gambar 3.16
Judul: Pepalihan Taman dan Ragam Hias Karya IBNP
Dokumentasi: Agung Jaya 2011
Gambar 5.17
Judul: Pepalihan Padma Karya Wirya 1994 Dokumentasi: Agung Jaya 2011
Ragam hiasnya yang diterapkan pada pepalihan padma adalah motif
ganggong atau daun waru. Gulesebungkul hanya ditutup dengan kertas emas
sebagai pengikat dari bunga teratai yang sedang mekar.
Tujuan diberikan motif ganggong atau daun waru. Cakepgula hanya ditutup dengan kertas emas sebagai pengikat dari bunga teratai yang sedang mekar, dengan komposisi, proporsi, keseimbangan, ruang, dan fokus, akan mencapai hasil karya yang bermutu yang berdasarkan nilai estetika, yang menarik indera mata untuk melihatnya. Adapun ragam hias pada komodifikasi bentuk pepalihan padma karya IBNP, seperti gambar 3.19 di bawah ini.
3.1.7 Bada Dara
Pepalihan bada dara adalah ruang yang berada di atas padmasari yang
terdiri atas tiang dan sendi. Pepalihan bada dara tidak ada ragam hias yang ditonjolkan (Wirya, 1994: 109). Adapun bentuk pepalihan bada dara karya wirya 1994, seperti gambar 3.20 di bawah ini.
Pepalihan bada dara bila tidak dihias akan kelihatan ringan tanpa ada
sesuatu yang bisa ditawarkan. Untuk memberikan tawaran estetika maka 32
Pepalihan dan Ragam Hias Wadah I Gusti Ngurah Agung Jaya CK
Gambar 3.18
Judul: Pepalihan Padma Karya IBNP Dokumentasi: Agung Jaya 2011
Gambar 3.19
Judul: Pepalihan Padma dan Ragam Hias Karya IBNP
Dokumentasi: Agung Jaya 2011 !
Gambar 3.20
Judul: Pepalihan Bada Dara Karya Wirya 1994
dihiaslah dengan menggunakan motif patra cina dan motif kakul-kakulan dan
daun waru/ganggong. Pepalihan bada dara merupakan ruang yang bisa diolah
dengan bentuk garis maupun bentuk keketusan dan pepatran. Sehingga bentuk
pepalihannya tidak berkesan hampa tanpa ada kekuatan yang membantuk
kekokohan dari pepalihan padma. Komodifikasi bentuk pepalihan bada dara karya IBNP, seperti gambar 3.21 di bawah ini.
Pepalihan bada dara membutuhkan nilai estetika yang tinggi diperlukan kreativitas senimannya yang memikirkan garis, bentuk, warna, komposisi, proporsi, ruang, keseimbangan, dan fokus untuk kesempurnaan estetika. Penerapan ragam hias pada komodifikasi bentuk pepalihan bada dara karya IBNP, seperti gambart 3.22 di bawah ini.
3.1.8 Rongan
Pepalihan rongan terdiri atas empat buah tiang sebagai penyanggah pepalihan tumpang/atap, sisi bagian tampak dari belakang ditutup penuh,
tampak dari samping di tutup setengah dari tiang. Ruang ini dipakai untuk
wadah tempat jenazah ditidurkan (Wirya, 1994: 110). Adapun bentuk pepalihan rongan karya Wirya 1994, seperti gambar 3.23 di bawah ini.
Gambar 3.21
Judul: Pepalihan Bada Dara Karya IBNP
Dokumentasi: Agung Jaya 2011
Gambar 3.22
Judul: Pepalihan Bada Dara dan Ragam Hias Karya IBNP
Dokumentasi: Agung Jaya 2011 !
Gambar 3.23
Judul: Pepalihan Rongan Karya Wirya 1994 Dokumentasi: Agung Jaya 2011
Pepalihan rongan adalah tempat untuk menaruh jenazah yang sudah di
masukkan dalam peti. Bentuk pepalihan rongan menampilkan empat tiang dengan komposisi proporsi, ruang dan kesimbangan untuk mendapatkan kesempurnaan estetika. Penanda dan petanda yang dipancarkan untuk mendapatkan nilai ekonomi. Adapun komodifikasi bentuk pepalihan rongan karya IBNP, seperti gambar 3.24 di bawah ini.
Ragam hias yang ditampilkan sebagai besar adalah patra punggel dengan beberapa variasi. Setiap pepalihan rongan yang dikerjakan selalu berbeda sesuai dengan kebutuhan atau ruang yang tersedia untuk menempatkan patra
punggel. Bentuk patra punggel lebih sederhana dan banyak permaian ruang
dalam penerapannya. Hal ini dilakukan untuk mencari kerumitan, komposisi, proporsi dan perspektif, sehingga enak dipandang mata, selain itu untuk nenentukan fokus dari wadah secara keseluruhan dan pencapai keindahan yang tinggi.
Hasil estetika dari rongan karya IBNP adalah lebih banyak menampilkan permainan ruang baik itu pada penempatan ragam hias maupun pepalihannya yang memikirkan garis, ruang, komposisi, proporsi, keseimbangan, dan tekstur untuk menambah nilai artistik pada wadah yang diproduksinya. Penerapan ragam hias pada komodifikasi bentuk pepalihan rongan karya IBNP, seperti gambar 3.25 di bawah ini.
34
Gambar 3.24
Judul: Pepalihan Rongan Karya IBNP Dokumentasi: Agung Jaya 2011
Tampak dari Depan Tampak dari Samping Tampak dari Belakang
Pepalihan dan Ragam Hias Wadah I Gusti Ngurah Agung Jaya CK 3.1.9 Tumpang /Atap
Pepalihan tumpang/atap digunakan untuk menghindari panas dan hujan saat jenazah dibawa menuju kuburan dan sebagai simbol kasta atau derajat dimiliki keluarga yang meninggal (Wirya, 1994: 111). Adapun bentuk
pepalihan tumpang karya Wirya 1994, seperti gambar 3.26 di bawah ini.
Pepalihan tumpang/atap adalah bentuk hiasan kepala, makin keatas makin mengecil hal ini memberikan suatu imajinasi bahwa yang mempunyai kematian adalah orang yang berkasta. Ragam hias yang ditampikan kebanyakan patra
punggel dengan berbagai ukuran, kakul-kakulan dan mas-masan yang
memberikan greget bahwa wadah ini di buat di Bali, khususnya di Desa Angantaka. Untuk memperindahannya dihias dengan kupu-kupu warna warni yang berkelap-kelip yang terbang mengelilingi pepalihan tumpang/atap untuk estetika. Secara keseluruhan komodifikasi bentuk pepalihan tumpang/atap, lebih banyak menampilkan nilai estetika, seperti warna, komposisi, proporsi, ruang, keseimbangan, dan perspektif untuk mendapatkan nilai estetika. Selain itu penanda dan petanda yang ditampilkan untuk mendapatkan nilai ekonomi. Adapun ragam hias yang diterapkan pada komodifikasi bentuk pepalihan
tumpang/atap karya IBNP, seperti gambar 3.27 di bawah ini.
Gambar 3.26
Judul: Pepalihan Tumpang /Atap Karya Wirya 1994 Dokumentasi: Agung Jaya 2011
Gambar 5.27
Judul: Pepalihan Tumpang/Atap dan Ragam Hias Karya IBNP Dokumentasi: Agung Jaya 2011
3.1.10 Komodifikasi Bentuk Pepalihan dan Ragam Hias Karya IBNP