1 Pendahuluan
3.1 Paduk (Baseline) Lingkungan Hidup dan Sosial
Bima di Provinsi Nusa Tenggara
Bima terletak di ujung DAS Wawo, yang meliputi Kota Bima dan Kabupaten Bima. Tiga sungai utama:
Padolo, Melayu, dan Sadia, dan banyak sungai kecil (Sungai Dodu, Nggoro dan Lampe) muncul dari perbukitan. Di bagian hilir, Sungai Padolo dan Sungai Melayu menjadi batas wilayah inti perkotaan.
Perubahan penggunaan lahan baru-baru ini di daerah hulu telah mengakibatkan penggundulan hutan/deforestasi berskala besar dan erosi tanah. Hal ini menyebabkan limpasan yang lebih cepat dan debit puncak yang lebih tinggi serta beban sedimentasi yang sangat tinggi. Profil sungai yang ada sudah tidak mampu lagi menampung limpasan air dan sedimen yang semakin meningkat, sementara saluran drainase tersumbat sampah plastik dan sampah berukuran besar. Deforestasi yang sedang berlangsung yang membuka jalan untuk pertanian jagung di lereng bukit dan sawah yang diubah menjadi pemukiman perkotaan telah memperburuk risiko banjir.
Gambar 2. Tujuh kota yang berpartisipasi dalam NUFReP North Sumatra
(Medan)
Central Java (Semarang)
South Kalimantan (Banjarmasin)
West Nusa Tenggara (Bima)
East Kalimantan
(KIPP IKN) North Sulawesi (Manado)
Gorontalo (Gorontalo)
22 Bima rentan terhadap bahaya banjir fluvial (sering disebut sebagai banjir kiriman – pent.) yang disebabkan oleh kombinasi peningkatan debit sungai dan pendangkalan sungai (akibat perubahan penggunaan lahan di daerah hulu) dan kapasitas tanggul di kota yang di bawah persyaratan kapasitas desain banjir dan perlu perbaikan dan perkuatan. Rumah-rumah dibangun dekat dengan tanggul yang mengakibatkan perambahan bantaran sungai. Banjir pluvial (banjir karena meluapnya air di sungai atau saluran air – pent.) dilaporkan merupakan masalah yang sering terjadi di Bima yang terutama terjadi karena tersumbatnya aliran sungai karena penumpukan sedimen dan/atau limbah padat atau jika di atas saluran air perkotaan didirikan bangunan, misalnya, di sepanjang jalan utama dan di lingkungan daerah hunian padat. Kedalaman genangan air biasanya dibatasi sekitar 0,5 m. Hal ini disebabkan oleh kombinasi dari 1) pemeliharaan sistem saluran air hujan perkotaan yang tidak memadai yang dipenuhi dengan penumpukan sedimen dan limbah padat, 2) rencana drainase kota yang tidak didasarkan pada analisis banjir pluvial yang terperinci dan 3) kurangnya kapasitas desain sistem. Gabungan gelombang badai dan air pasang dapat menyebabkan penggenangan daerah dataran rendah di zona pantai karena daerah ini tidak terlindung dari banjir rob (coastal flooding).
Akan tetapi, di saat kering, area ini menyediakan ruang publik dan kesempatan untuk rekreasi.
Tingkat kemiskinan di Bima adalah sebesar 8,88%, sedikit lebih rendah dari rata-rata nasional (10,41).
Indeks Pembangunan Desa adalah sebesar 64,05, atau di atas rata-rata nasional (59,36). Indeks Pembangunan Manusia adalah sebesar 66,30 (di bawah rata-rata nasional 71,94). Dou Mbojo (Suku Bima) adalah suku yang teridentifikasi di Kabupaten Bima dan Kota Bima dan telah ada sejak Kerajaan Majapahit (telah ada antara abad ke-13 dan ke-16).
Mata pencaharian utama masyarakat Bima adalah bertani. Bima di zaman dahulu dianggap sebagai segitiga emas pertanian bersama Makassar di Provinsi Sulawesi Selatan dan Ternate di Provinsi Maluku Utara.
Manado in Provinsi Sulawesi Utara
Manado berada di delta dari delapan DAS, dengan lima sungai utama (Tondano, Tikala, Sario, Malalayang, dan Bailang) yang mengalir melalui kota. Di daerah dataran tinggi, sungai-sungai ini memotong koridor sempit melalui perbukitan, membuat daerah-daerah tersebut rentan terhadap banjir yang meningkat dengan cepat dan dalam. Wilayah perkotaan Manado berada di dataran rendah yang relatif datar di antara pegunungan dan laut, dan mengalami banjir pluvial yang kronis.
Pembangunan ekonomi yang berkembang pesat yang didorong oleh pariwisata membentuk ulang lanskap, yang menyebabkan deforestasi dari pemukiman baru di daerah hulu serta reklamasi di zona pesisir dataran rendah, yang keduanya berkontribusi pada peningkatan risiko banjir perkotaan.
Masyarakat memanfaatkan kawasan bantaran sungai untuk perumahan, melakukan interaksi sosial, kegiatan ekonomi, rekreasi, dan kegiatan mata pencaharian seperti mencuci dan mandi. Masyarakat penjual ikan perkotaan dapat ditemukan di kota, meskipun jumlahnya semakin berkurang. Di Manado, jumlah penduduk perkotaan meningkat pesat dan pemekaran perkotaan, khususnya pembangunan perumahan di pinggiran kota dan di sepanjang lereng bukit yang curam, memperburuk masalah erosi dan banjir. Adanya eksplorasi lahan, proyek infrastruktur baru (termasuk jalan tol) dan penambangan pasir di daerah hulu berpotensi menimbulkan sedimentasi di Sungai Tondano.
Ketiga jenis bahaya banjir (banjir rob, fluvial dan pluvial) dapat diamati di Manado. Kedalaman banjir bisa dalam, tetapi luasan banjir terbatas. Banjir pluvial dan fluvial merupakan masalah yang semakin signifikan di Manado; curah hujan yang lebih sering dan lebih deras di daerah tangkapan air (wilayah kota dan pedalaman) mengakibatkan kondisi banjir yang berbahaya. Banjir fluvial terutama berdampak pada daerah datar di sepanjang daerah hilir sungai Tondano dan daerah yang berdekatan
23 dengan sungai-sungai lainnya. Banjir pluvial terutama terjadi di sepanjang 'anak sungai' yang dirambah, anak sungai kecil yang berasal dari Manado. Banjir rob dan gelombang pasang terjadi di kawasan pesisir berhutan bakau tetapi secara keseluruhan, banjir rob belum menjadi risiko yang signifikan di daerah perkotaan kecuali di daerah reklamasi dataran rendah baru-baru ini.
Tingkat kemiskinan di Manado, sebesar 6,19 pada tahun 2021, relatif rendah dibandingkan dengan rata nasional (10,41). Indeks Pembangunan Manusia adalah sebesar 78,93, lebih tinggi dari rata-rata nasional (71,94). Meskipun tidak ada masyarakat adat yang teramati di Manado, satu suku bernama Hulu Ongkag Tanoyan teridentifikasi di kabupaten tetangga, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, di Provinsi Sulawesi Utara. Suku ini berasal dari dataran tinggi kabupaten dan mata pencaharian utama mereka adalah bertani, kegiatan pertambangan, bekerja sebagai pegawai negeri dan berjualan barang. Di kabupaten ini, upacara adat yang disebut Mogonow Kon Lipu dilakukan di sungai. Masyarakat meminum obat tradisional dari daun woka (genus Livistona), yang dipercaya masyarakat setempat baik untuk kesehatan, menjaga pikiran positif, dan mendapat perlindungan dari Tuhan.
Pada tahun 2021, Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat dua konflik agraria di Provinsi Sulawesi Utara. Konflik pertama terjadi di Kabupaten Minahasa (kurang lebih 50 km dari Manado), di mana fasilitas militer tumpang tindih dengan tanah masyarakat. Tanah seluas 20 hektar yang dikelola oleh sekitar 300 warga Desa Kalasey II diklaim sebagai fasilitas militer. Kedua, di Pulau Sangihe, di mana konflik agraria terjadi setelah perusahaan pertambangan swasta di Pulau Sangihe diberi hak konsesi hingga 42.000 hektar atau setengah dari total luas pulau. Masyarakat menolak kegiatan penambangan karena akan menyebabkan kerusakan lingkungan hidup dan mengancam mata pencaharian mereka.
Banjarmasin di Provinsi Kalimantan Selatan
Banjarmasin adalah suatu kota dan ibu kota provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Berada di pulau delta dekat persimpangan sungai Barito dan Martapura. Secara historis pusat kebudayaan Banjar dan ibu kota Kesultanan Banjar ini, merupakan kota terbesar di Kalimantan Selatan dan salah satu kota utama di Kalimantan. Kota ini meliputi kawasan seluas 98,46 kilometer persegi (38,02 mil persegi) dan memiliki perkiraan jumlah penduduk sebesar 657.663 jiwa pada tahun 2020. Banjarmasin Raya, juga dikenal sebagai Banjarbakula, adalah aglomerasi perkotaan dari sekitar dua juta orang dengan luas 8.136 kilometer persegi (3.141 mil persegi), yang meliputi Banjarbaru, sebagian Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut dan mencakup hampir setengah dari jumlah penduduk provinsi. Kota ini adalah kota terpadat ketiga di pulau Kalimantan setelah Samarinda dan Balikpapan, dan wilayah metropolitan yang diakui secara resmi sebagai kota terpadat di seluruh pulau ini dengan lebih dari tiga kali jumlah penduduk wilayah metropolitan Kuching, wilayah metropolitan terbesar kedua yang diakui secara resmi di pulau ini.
Kota ini secara de jure adalah tempat kedudukan gubernur Kalimantan Selatan meskipun beberapa bangunan provinsi telah dipindahkan ke Banjarbaru dan juga lokasi gedung DPRD provinsi. Kota ini adalah satu-satunya wilayah metropolitan yang diakui secara resmi yang berada di Kalimantan pada tahun 2019.
Banjarmasin berada di cekungan Barito dan dibelah oleh Sungai Martapura menjadi dua bagian.
Kemiringan kota adalah 0,13% dan tanahnya secara umum datar dan merupakan dataran rendah.
Fondasi geologis kota ini didominasi oleh tanah liat dan batuan pasir, tetapi juga termasuk sedimen aluvial dari sungai. Beberapa sungai kecil ada yang membentuk pola drainase bercabang-cabang
24 (dendritic). Semua sungai yang lebih kecil terhubung ke Sungai Martapura atau Sungai Barito. Sistem sungai kota ini dipengaruhi oleh pasang surut. Kota ini berada di daerah rawa dan umumnya berada di bawah permukaan air laut, sehingga rawan dibanjiri gelombang pasang. Selama gelombang badai muson (Desember 2020 dan Januari 2021), banjir besar telah memaksa sekitar 100.000 orang mengungsi dari rumah mereka.
Angka kemiskinan di Banjarmasin pada tahun 2021 adalah sebesar 4,81%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional (10,41). Indeks Pembangunan Manusia adalah sebesar 77,10, relatif tinggi dibandingkan rata-rata nasional (71,94).
Beberapa suku yang teridentifikasi di Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu suku Banjar, Dayak Bakumpai, Dayak Baraki, Dayak Maanyan, Dayak Lawangan, Dayak Bukit Ngaju, Melayu Jawa, dan Bugis. Suku Bugis memiliki tradisi memberikan sesajen ke laut yang disebut Mappanretasi. Acara adat ini secara rutin selalu diadakan selama tiga minggu di bulan April. Pemanfaatan lain wilayah pesisir adalah sebagai ruang pasar terapung, yang telah menjadi bagian dari budaya setempat secara turun temurun.
Peraturan Gubernur Kalsel No. 74 Tahun 2015 tentang Zonasi dan Pengelolaan Pesisir telah memasukkan aspek budaya tersebut.
Tidak ada konflik sosial khusus di Banjarmasin yang dilaporkan akhir-akhir ini, akan tetapi Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat konflik antara masyarakat setempat dengan perusahaan tambang di Kabupaten Tabalong (250 km dari Banjarmasin) pada tahun 2021. Masyarakat menolak beroperasinya kegiatan pertambangan karena adanya ketidakpastian mengenai pembayaran ganti rugi, di mana mereka merasa bahwa tanah mereka digusur secara sepihak tanpa adanya kesepakatan ganti rugi.
Medan in Provinsi Sumatera Utara
Medan adalah ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Sebagai pusat penghubung (hub) regional Sumatera, Medan adalah salah satu dari empat kota pusat penghubung utama di Indonesia, bersama dengan Jakarta, Surabaya di Provinsi Jawa Timur, dan Makassar di Provinsi Sulawesi Selatan. Medan berpenduduk 2,4 juta jiwa, menjadikannya sebagai kota terpadat kelima di Indonesia. Wilayah metropolitan Medan — yang meliputi kota-kota tetangga Binjai, Kabupaten Deli Serdang, dan sebagian Kabupaten Karo — merupakan wilayah metropolitan terbesar di luar Pulau Jawa, dengan jumlah penduduk 4,7 juta jiwa pada tahun 2020. Medan menyediakan pintu gerbang di bagian barat Indonesia melalui Pelabuhan Belawan dan Bandara Internasional Kualanamu, keduanya terhubung ke pusat kota melalui jalan tol dan kereta api.
Kota ini didirikan oleh Guru Patimpus, seorang pria dari suku Karo yang menamakan kawasan rawa-rawa di pertemuan Sungai Deli dan sungai Babura sebagai Kampung Medan Putri. Kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Deli yang berdiri pada tahun 1632. Dengan bantuan Sultan ke-9, Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alam, dan pengusaha Tionghoa Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie, perkembangan ekonomi yang pesat berubah. Medan menjadi pusat perdagangan yang disebut Het Dollar Land, yang berarti “tanah uang” dalam bahasa Belanda. Medan dijuluki sebagai Parijs van Sumatra karena kemiripannya dengan kota Paris.
Angka kemiskinan di Medan pada tahun 2021 adalah sebesar 8,34, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional (10,41). Indeks Pembangunan Manusia adalah sebesar 80,98, relatif tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional (71,94). Setidaknya terdapat 14 suku di Medan, antara lain Kampung Lubuk Pakam, Kampung Bangun Rejo, Kampung Tadukan Raga, Kampung Patumbak, Kampung Tembong, Kampung Denai, Kampung Medan Area, Kampung Marendal, Kampung Baru, Kampung Tanah Enam
25 Ratus, Kampung Rengas Pulau, Kampung Mabar Dataran, dan Kampung Amplas. Dari empat belas suku tersebut, teridentifikasi hanya tiga masyarakat adat yang bertempat tinggal di daratan (Kampung Tadukan Raga dan Kampung Mabar) dan dataran tinggi (Kampung Amplas). Mata pencaharian utama di Kampung Tadukan Raga adalah berjualan barang dan bertani. Kegiatan buruh dan bertani juga teridentifikasi sebagai mata pencaharian masyarakat di Kampung Mabar. Di dataran tinggi, masyarakat adat Kampung Amplas menanam kelapa sawit sebagai mata pencaharian mereka.
Tidak ada konflik sosial khusus yang dilaporkan di Medan pada tahun 2021, tetapi kabupaten tetangganya, Kabupaten Deli Serdang yang berjarak 30 km dari Medan, memiliki konflik yang terkait dengan masyarakat adat, menurut Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Tanah milik masyarakat adat yang sudah puluhan tahun ditinggali terancam hilang akibat adanya Proyek Megapolitan Deli.
Dalam proyek tersebut, kawasan perumahan dan industri akan dibangun di atas tanah seluas 8.077 hektar, di mana 1.303 hektar di antaranya berada di atas tanah dan pemukiman masyarakat adat.
Pada tahun 2020, masyarakat adat Kampung Petumbukan dan Durian Selemak di Kecamatan Stabat, Langkat, juga menghadapi ancaman penggusuran dan kekerasan yang melibatkan aparat kepolisian dan militer Indonesia (TNI).
Semarang di Provinsi Jawa Tengah
Semarang adalah ibu kota Provinsi Jawa Tengah dengan 1.653.524 penduduk pada tahun 2020, yabg menjadikannya sebagai kota terpadat kesembilan di Indonesia. Wilayah metropolitan Semarang, yang dikenal sebagai Kedungsepur, terdiri dari enam kotamadya di sekitar Semarang dengan jumlah penduduk lebih dari 6 juta jiwa pada tahun 2020.
Semarang rentan terhadap bahaya banjir rob, banjir fluvial, dan banjir pluvial. Gabungan air pasang dan kondisi geografis daerah dataran rendah dengan permukaan tanah yang lebih rendah atau sama dengan rata-rata permukaan laut dapat menyebabkan banjir rob di bagian utara kota, selain masalah penurunan tanah selama beberapa tahun terakhir ini. Sedangkan banjir fluvial dan banjir pluvial disebabkan oleh kombinasi peningkatan debit sungai dan terbatasnya kapasitas drainase perkotaan di daerah padat penduduk.
Angka kemiskinan di Semarang pada tahun 2021 mencapai 17,89, relatif tinggi dibandingkan rata-rata nasional (10,41). Indeks Pembangunan Manusia adalah sebesar 74,10, di atas rata-rata nasional (71,94). Tidak ada kelompok Masyarakat Adat yang dilaporkan ada di kota ini.
Konflik sosial terkait proyek normalisasi Sungai Kanal Banjir Timur terjadi pada tahun 2019. Proyek ini mensyaratkan adanya relokasi untuk 97 kepala keluarga. Pemerintah kota telah mendirikan rumah susun sementara sewa (rusunawa), tetapi masyarakat yang terkena dampak, terutama nelayan, menolak pindah karena lokasi perumahan tersebut terlalu jauh dari sumber mata pencaharian mereka. Kesepakatan antara pemilik proyek, yang dimediasi oleh Gubernur Jawa Tengah, kemudian dibuat dengan berkonsultasi dengan masyarakat yang terkena dampak bahwa mereka akan dipindahkan ke tempat yang lebih dekat dengan sumber mata pencaharian mereka.
Gorontalo in Provinsi Gorontalo
Gorontalo adalah ibu kota Provinsi Gorontalo dengan jumlah penduduk sebesar 198.539 jiwa, di mana 59.449 laki-laki di kelompok usia produktif dan 41.996 perempuan di kelompok usia produktif pada tahun 2020. Angka kemiskinan di Gorontalo adalah sebesar 17,89%, sedikit tinggi dibandingkan rata-rata provinsi (15,61) atau relatif tinggi dibandingkan dengan rata-rata-rata-rata nasional (10,41). Indeks
26 Pembangunan Manusia adalah sebesar 77,13, sedangkan rata-rata nasional adalah sebesar 71,94.
Indeks Pembangunan Desa adalah sebesar 65,96, atau di atas rata-rata provinsi (64,21) dan rata-rata nasional (59,36).
Dilihat dari kondisi topografinya, sebagian besar daratan di Gorontalo berbukit dan bergunung-gunung. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Gorontalo, lebih dari 70% daratan Gorontalo memiliki kemiringan lebih dari 15% dan aliran air hujan yang berkecepatan tinggi. Hal ini menyebabkan debit banjir yang cepat ke sungai dan potensi erosi yang besar. Sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menangani banjir, Peraturan Presiden mengenai Penanggulangan Banjir Gorontalo sedang disusun. Peraturan ini diharapkan dapat melibatkan kementerian/lembaga terkait untuk meningkatkan upaya terpadu dalam mengatasi masalah banjir.
Dilihat dari kondisi topografinya, sebagian besar daratan di Gorontalo berbukit dan bergunung-gunung. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Gorontalo, lebih dari 70% daratan Gorontalo memiliki kemiringan lebih dari 15% dan aliran air hujan yang berkecepatan tinggi. Hal ini menyebabkan debit banjir yang cepat ke sungai dan potensi erosi yang besar. Sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menangani banjir, Peraturan Presiden mengenai Penanggulangan Banjir Gorontalo sedang disusun. Peraturan ini diharapkan dapat melibatkan kementerian/lembaga terkait untuk meningkatkan upaya terpadu dalam mengatasi masalah banjir.
Di Provinsi Gorontalo, masyarakat di beberapa desa, yakni Desa Tuloa, Kecamatan Bulango Utara, Desa Owata dan Desa Mongilo, Kabupaten Bone Bolango berpotensi kehilangan tanahnya, menurut Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Dalam laporan KPA tahun 2021, tak kurang 747 KK akan tergusur akibat rencana pembangunan Bendungan Bulango Ulu, proyek strategis nasional yang dilaksanakan oleh Balai Besar Daerah Aliran Sungai Gorontalo Sulawesi II, yang sudah berlangsung sejak tahun 2018. Konflik pun pecah pada tahun 2021 karena bendungan yang direncanakan beroperasi pada tahun 2023 itu memulai tahap baru dari pekerjaan konstruksi. Masyarakat setempat menolak proyek tersebut karena kurangnya kejelasan mengenai kompensasi dan pemulihan mata pencaharian mereka yang belum diselesaikan.
Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Negara (KIPP IKN)
Pengembangan kawasan Ibu Kota Negara Baru (IKN) ini berada di Kabupaten Penajem Paser Utara Provinsi Kalimantan Timur dengan pusat pemerintahan berada di Kabupaten Sepaku. Kabupaten ini meliputi wilayah seluas 3.333-kilometer persegi, termasuk 272 kilometer persegi wilayah laut.
Kabupaten ini berpenduduk sebesar 178.681 jiwa (2020). Penajam Paser Utara mencakup wilayah yang terkecil di antara tujuh kabupaten di Kalimantan Timur. Daerah yang membentuk Penajam Paser Utara pada awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Paser sebelum terjadinya pemisahan administratif pada tahun 2002.