BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
3. Pajak Bumi dan Bangunan
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah terakhir kali dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Mardiasmo, 2009:317).
b. Definisi Umum
Menurut Mardiasmo (2009:311), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) didefinisikan sebagai berikut:
1) Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya, meliputi tanah dan perairan pedalaman (termasuk rawa, tambak, perairan) serta laut wilayah RI.
2) Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan atau perairan. Termasuk pengertian bangunan adalah:
(a) Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu komplek bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, dan lain-lain yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut; (b) Jalan TOL;
(c) Kolam renang; (d) Pagar mewah; (e) Tempat olahraga;
(f) Galangan kapal, dermaga; (g) Taman mewah;
(h) Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak; (i) Fasilitas lain yang memberikan manfaat.
Sehingga, PBB merupakan pajak yang bersifat kebendaan dan besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan/atau bangunan. Keadaan subjek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besar pajak.
c. Subjek Pajak
Subjek Pajak merupakan orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan atau memperoleh manfaat atas bumi, dan atau memiliki, menguasai, dan atau memperoleh manfaat atas bangunan. Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi wajib pajak menurut undang-undang ini (Suandy, 2006:354). d. Objek Pajak
Objek Pajak adalah bumi dan atau bangunan. Klasifikasi Objek Pajak diatur oleh Menteri Keuangan. Sedangkan, klasifikasi Objek Pajak adalah pengelompokkan bumi dan bangunan menurut nilai jualnya dan digunakan sebagai pedoman serta untuk memudahkan perhitungan pajak yang terutang (Suandy, 2006:355).
Dalam menentukan klasifikasi bumi/tanah faktor-faktor yang diperhatikan adalah sebagai berikut:
1) Letak; 2) Peruntukkan; 3) Pemanfaatan;
4) Kondisi lingkungan, dan lain-lain.
Dalam menentukan klasifikasi bangunan faktor-faktor yang diperhatikan adalah sebagai berikut:
1) Bahan yang dugunakan; 2) Rekayasa;
4) Kondisi lingkungan, dan lain-lain.
Objek Pajak yang tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan adalah Objek Pajak yang:
1) Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan; 2) Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis
dengan itu;
3) Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak;
4) Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;
5) Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri keuangan.
Contohnya adalah pesantren atau sejenis dengan itu, madrasah, tanah wakaf, rumah sakit umum, dan Objek Pajak yang digunakan oleh negara untuk penyelenggaraan pemerintahan, penentuan pengenaan pajaknya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah (Suandy, 2006:355).
e. Tahun Pajak dan Tempat Pajak yang Terutang
Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender (UU No.28 tahun 2007).
Menurut Suandy (2003:356) Tempat Pajak yang Terutang meliputi: 1) Untuk daerah Jakarta, di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta; 2) Untuk daerah lainnya, di wilayah kabupaten Daerah Tingkat II atau
Kotamadya Daerah Tingkat II; yang meliputi letak Objek Pajak. f. Pendataan, Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), Surat
Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), dan Surat Ketetapan Pajak Dalam rangka pendataan, Subjek Pajak wajib mendaftarkan Objek Pajaknya dengan mengisi Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). Wajib Pajak akan diberikan SPOP untuk diisi dan dikembalikan kepada Direktorat Jenderal Pajak. Wajib Pajak yang pernah dikenakan IPEDA tidak wajib mendaftarkan Objek Pajaknya kecuali jika ia menerima SPOP, maka ia wajib mengisinya dan mengembalikannya kepada Direktorat Jenderal Pajak. SPOP harus diisi dengan jelas, benar, lengkap, dan tepat waktu serta ditandatangani dan disampaikan kepada Dirjen Pajak yang wilayah keadaannya meliputi letak Objek Pajak selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal diterimanya SPOP oleh Subjek Pajak (Suandy, 2006:356).
wajib pajak SPPT dapat diterbitkan berdasarkan data Objek Pajak yang telah ada pada Direktorat Jenderal Pajak (Suandy, 2006:357).
Direktur Jenderal pajak dapat mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak dalam hal-hal sebagia berikut:
1) Apabila SPOP tidak disampaikan dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam surat teguran. 2) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata
jumlah pajak yang terutang (seharusnya) lebih besar dari jumlah pajak yang dihitung berdasarkan SPOP yang disampaikan oleh Wajib Pajak.
Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPOP pada waktunya, walaupun sudah ditegur secara tertulis juga tidak menyampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Surat Teguran itu, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat ketetapan Pajak (SKP) secara jabatan (Suandy, 2006:357).
Apabila berdasarkan pemeriksaan atau keterangan lain yang ada pada Direktorat Jenderal Pajak ternyata jumlah Pajak yang terutang lebih besar dari jumlah pajak dalam SPPT yang dihitung atas dasar SPOP yang disampaikan oleh Wajib Pajak, Dirjen Pajak menerbitkan SKP secara jabatan. Jumlah pajak yang terutang dalam SKP adalah pokok pajak ditambah dengan denda administrasi sebesar 25% dihitung dari pokok pajak (Suandy, 2006:357).
Menurut Undang-Undang No.28 Tahun 2007:2, Surat Pemberitahuan Objek Pajak adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan data Objek Pajak menurut ketentuan undang- undang. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang adalah surat yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak terutang kepada Wajib Pajak.
g. Tata Cara Pembayaran dan Penagihan
Pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang harus dilunasi selambat-lambatnya enam bulan sejak tanggal diterimanya Surat Pemberitahuan Pajak Terutang oleh Wajib Pajak. Pajak yang terutang berdasarkan SKP harus dilunasi selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya SKP oleh Wajib Pajak. Pajak yang terutang yang pada saat jatuh tempo pembayaran tidak dibayar atau kurang dibayar, dikenakan denda administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan, yang dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan pembayaran untuk jangka waktu paling lambat 24 (dua puluh empat) bulan (Suandy, 2006:358).
h. Sanksi Perpajakan
Sanksi perpajakan ini terdiri dari dua sanksi, yaitu: sanksi administrasi dan sanksi pidana (Suandy,2006:357).
1) Sanksi administrasi dikenakan terhadap:
(a) Sanksi administrasi yang dikenakan terhadap Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPOP, dikenakan sanksi sebagai tambahan terhadap pokok pajak yaitu sebesar 25% dari pokok pajak. (b) Wajib Pajak yang berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan
lain ternyata jumlah pajak terutang lebih besar dari jumlah pajak yang dihitung berdasarkan SPOP, maka selisih pajak yangn terutang tersebut ditambah atau dikenakan sanksi admiinistrasi berupa denda sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari hasil selisih pajak yang terutang.
(c) Wajib Pajak tidak membayar atau kurang membayar. Pajak yang terutang pada saat jatuh tempo pembayaran, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) sebulan yang dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan hari pembayaran untuk jangka waktu paling lama 24 bulan (dua puluh empat) bulan atau setinggi-tingginya 48%.
SKP ini berdasarkan data yang ada pada Direktorat Jenderal Pajak memuat penetapan Objek Pajak dan besarnya pajak yang terutang beserta denda administrasi yang dikenakan kepada Wajib Pajak (Suandy,2006:357).
2) Sanksi Pidana
Sanksi pidana dikenakan karena kealpaan wajib pajak tidak mengembalikan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan Objek
Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak, dikenakan juga apabila menyampaikan SPOP, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar; sehingga menimbulkan kerugian pada Negara, dipidana dengan kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya sebesar 2 (dua) kali pajak yang terutang (Suandy,2006:357).
i. Tarif pajak, Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Nilai Jual Kena Pajak (NJKP), dasar pengenaan PBB
Besarnya Tarif Pajak sesuai dengan Pasal 5 UU No.12 Tahun 1994 adalah sebesar 0,5%, sedangkan tarif efektif PBB adalah 0,5%x20% atau 0,1% untuk objek PBB yang Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) < Rp. 1 Milyar dan 0,5%x40% atau 0,2% bila NJOP>Rp.1 Milyar (Direktorat Jenderal Pajak, 2008:2).
Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terjadi transaksi jual beli Nilai Jual Objek Pajak ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau Nilai Jual Objek Pajak pengganti.
Besarnya Nilai Jual Objek Pajak ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri Keuangan, kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan daerahnya. Yang dimaksud dengan:
cara membandingkannya dengan Objek Pajak lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan fungsinya sama dan telah diketahui harga jualnya.
2) Nilai perolehan baru adalah suatu pendekatan/metode penentuan nilai jual suatu Objek Pajak dengan cara menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh objek tersebut pada saat penilaian dilakukan, yang dikurangi dengan penyusutan berdasarkan kondisi fisik objek tersebut.
3) Nilai jual pengganti suatu pendekatan/ metode penentuan nilai jual suatu Objek Pajak yang berdasarkan pada hasil produksi Objek Pajak tersebut.
Besarnya Nilai Jual Kena Pajak sebagai dasar penghitungan pajak yang terutang, ditetapkan untuk:
1) Objek Pajak perkebunan sebesar 40% (empat puluh persen) dari Nilai Jual Objek Pajak;
2) Objek Pajak kehutanan sebesar 40% (empat puluh persen) dari Nilai Jual Objek Pajak;
3) Objek Pajak pertambangan sebesar 20% (dua puluh persen) dari Nilai Jual Objek Pajak;
4) Objek Pajak lainnya:
(a) Sebesar 40% (empat puluh persen) dari Nilai Jual Objek Pajaknya Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) atau lebih;
(b) Sebesar 20% (dua puluh persen) dari Nilai Jual Objek Pajak apabila Nilai Jual Objek Pajaknya kurang dari 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Dasar Penghitungan Pajak adalah Nilai Jual Kena Pajak yang ditetapkan serendah-rendahnya 20% (dua puluh persen) dan setinggi- tingginya 100% (seratus persen) dari Nilai Jual Objek Pajak (Suandy, 2006:368).