TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI 1. Pengertian pajak
3. Pajak Daerah
a. Pengertian pajak daerah
Menurut Soelarno, pajak daerah adalah pajak asli daerah maupun pajak negara yang diserahkan kepada daerah, yang pemungutan diselenggarakan oleh daerah di dalam wilayah kekuasaanya, yang gunanya untuk membiayai pengeluaran daerah
5 Choerul Muzammil, Pedoman Praktis Membayar Pajak , Op Cit, hal 13-20.
sehubungan dengan tugas dan kewajibannya untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Sedangkan menurut Boediono, pajak daerah yaitu sebagai hasil tinjauan dari segi siapakah yang berwenang memungut pajak.
Dalam hal yang memungut pajak adalah pemerintah pusat, jenis-jenis pajak dimaksud digolongkan sebagai pajak negara yang juga disebut pajak pusat. Sebaliknya jenis-jenis pajak yang pemungutannya merupakan hak pemerintah daerah disebut pajak daerah. Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pemungutan pajak daerah oleh pemerintah daerah kepada masyarakat pada dasarnya ditujukan untuk membiayai penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan secara berdaya guna dan berhasil guna dalam upaya meningkatkan taraf hidup masyrakat.6
b. Jenis dan objek pajak daerah 1) Pajak Provinsi
a) Pajak Kendaraan Bermotor
b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor d) Pajak Air Permukaan
e) Pajak Rokok
6Damas Dwi Anggoro, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, (Malang : UB Press, 2017). Hal 45-46
2) pajak Kabupaten/Kota, terdiri dari : a) Pajak Hotel
b) Pajak Restoran c) Pajak Hiburan d) Pajak Reklame
e) Pajak Mineral Bukan Logan dan Batuan f) Pajak Penerangan Jalan
g) Pajak Parkir h) Pajak Air Tanah
i) Pajak Sarang Burung Walet
j) Pajak Bumi Dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan 4. Pajak kendaraan bermotor
a. Pengertian pajak kendaraan bermotor
Pajak kendaraan bermotor adalah pajak atas kepemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan disemua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenanga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.
b. Obyek pajak kendaraan bermotor
Pajak kendaraan bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan penguasaan kendaraan bermotor.
Yang bukan obyek kendaraan bermotor :
1) Kereta api.
Kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara.
2) Kendaraan bermotor yang dimiliki atau dikuasai kedutaan, konsulat, perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari pemerintah.
3) Obyek pajak lainnya yang ditetapkan dalam peraturan daerah.
c. Subyek pajak kendaraan bermotor
Subyek pajak kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor. Wajib pajak kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan bermotor.
d. Dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor
1) Dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor adalah hasil perkalian dari 2 unsur pokok :
a) Nilai jual kendaraan bermotor
b) Bobot yang mencerminkan secara relatif tingkat kerusakan jalan atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor. Khusus untuk kendaraan bermotor yang digunakan di luar jalan umum, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar serta kendaraan di air, dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor adalah nilai jual kendaraan bermotor dapat ditentukan berdasarkan sebagian atau seluruh faktor-faktor yaitu harga kendaraan bermotor dengan satuan tenaga yang sama, penggunaan kendaraan bermotor untuk umumatau pribadi dan harga kendaraan bermotor dengan merek yang sama.
e. Tarif pajak kendaraan bermotor
Besarnya pajak kendaraan bermotor adalah % tarif pajak dikalikan dengan dasar pengenaan pajak berdasarkan harga jual.
1) Untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama paling rendah sebesar 1% dan paling tinggi sebesar 2%.
2) Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua dan seterusnya tarif dapat ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% dan yang paling tinggi sebesar 10%. Kepemilikan kendaraan bermotor didasarkan atas nama atau alamat yang sama.
3) Tarif pajak kendaraan bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam kebakaran, sosial keagamaan, lembaga sosial dan
keagamaan, pemerintah/TNI/POLRI, pemrintah daerah ditetapkan paling rendah sebesar 0,5% dan paling tinggi sebesar 1%.
4) Tarif pajak kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar paling rendah sebesar 0,1% dan paling tinggi sebesar 0,2%.
5) Tarif pajak kendaraan bermotor ditetapkan peraturan daerah.7 f. Cara pembayaran pajak kendaraan bermotor Kabupaten
Dharmasraya Sumatera Barat adalah dengan menggunakan sistem online pajak daerah oleh Badan Pajak dan retribusi daerah Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat di sistem pajak kendaraan bermotor Kabupaten Dharmasraya sistem tersebut dapat bayar pajak mobil atau pajak motor, namun ada beberapa persyaratan yang harus dilakukan untuk dapat menggunakan aplikasi untuk membayar pajak di info PKB, yaitu :
1) Kendaraan terdaftar di daerah Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat dan masuk ke dalam wilayah hukum daerah polda Kabupaten Dharmasraya.
2) Memiliki rekening bank yang telah bekerja sama dengan Badan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
3) Pemilik kendaraan memiliki KTP elektronik
7 Setu setyawan, Perpajakan, (Malang : UMM Press, 2020), hal 201-203
(e-KTP) Nasional.
4) Memiliki Handphone berbasis sistem informasi Android atau Ios.
5) Memiliki alamat surel (email) aktif.
6) Memiliki jumlah kuota internet minimal 50 MB.
Cara membayar pajak kendaraan di info PKB melalui aplikasi adalah sebagai berikut :
a) Buka aplikasi.
b) Klik menu pendaftaran online.
c) Masukkan nomor registrasi kendaraan bermotor/ nomor plat kendaraan.
d) Pada bagian informasi pajak kendaraan akan ada pilihan untuk lanjutkan daftar online atau tidak. Pilih YA untuk melanjutkan membayar PKB secara online.
e) Lalu masukkan nomor e-KTP pemilik kendaraan.
f) Akan muncul enam pasal ketentuan kemudian klik setuju untuk dapat melanjutkan membayar pajak kendaraan bermotor secara online.
g) Pada menu selanjutnya akan muncul kode bayar dan informasi biaya pajak kendaraan yang harus dibayarkan.
h) Jika ingin membayar secara online klik tombol YA, maka akan muncul opsi bank yang dapat digunakan untuk membayar pajak kendaraan bermotor.
i) Selanjutnya muncul metode pembayaran seperti Mobile Banking, Internet Banking, E-SAMSAT.
j) Pilih salah satu metode pembayaran yang bisa anda gunakan, ikuti petunjuk selanjutnya yang ada pada layar Handphone.
k) Setelah selesai melakukan pembayaran, anda harus mengesahkan STNK kendaraan di bagian yang ditunjuk oleh samsat.
l) Dibagian loket, jangan lupa untuk membawa handphone yang ada aplikasi tersebut, STNK asli, SKPD asli dan e-KTP pemilik kendaraan asli.
m) Petugas samsat provinsi Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat akan membantu untuk melaksanakan proses pengesahan STNK dengan menekan menu pengesahan STNK.
n) Petugas samsat provinsi Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat akan membantu mengisi NRKB, NIK, e-KTP dan 4 angka terakhir nomor angka kendaraan.
o) Pada bagian informasi kendaraan bermotor dan informasi PKB akan muncul QR Code yang akan discan oleh petugas Samsat Provinsi Kabupaten Dharmasraya.
p) Bila data sesuai dan proses sudah selesai maka STNK kendaraan akan ditempel stiker pengesahan oleh petugas.
5. Tunggakan Pajak
Menurut Resmi (2013), tunggakan pajak adalah jumlah piutang pajak yang belum lunas yang sebelumnya dalam masa tagihan pajak, surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ketepatan pajak kurang bayar tambahan, surat keputusan pembetulan dan putusan banding.
Menurut kurniawan dan Pamungkas (2011:1), tunggakan pajak adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi administrasi berupa bunga, denada atau kenaikan peraturan perundang-undangan perpajakan.8
Tunggakan pajak adalah jumlah pokok pajak yang belum dilunasi berdasarkan Surat Tagihan Pajak yang didalamnya terdapat pokok pajak yang terutang, surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan, surat keputusan pembetulan, surat keputusan keberatan, putusan banding, dan putusan peninjauan kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah termasuk pajak yang seharusnya tidak dikembalikan, sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang Ketentuan umum dan tata cara perpajakan.9
6. Faktor Yang Mempengaruhi Tunggakan Pajak.
Penarikan atau pemungutan pajak adalah suatu fungsi yang harus dilaksanakan oleh Negara sebagai suatu fungsi esensial. Tetapi
8 Muntu Abdullah, Dkk, Analisis Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor Pada Kantor Samsat Kota Kendari, jurnal : Akuntansi dan Keuangan Volume 5, Nomor 2 Tahun 2020, page 205-217
9Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016
masih ada kendala dalam pemungutan pajak tersebut, yaitu masih banyaknya tunggakan dalam pembayaran pajak kendaraan bermotor.
Diantara faktor yang mempengaruhinya adalah : a. Faktor Gender
Gender dalam ilmu psikologi didefinisikan sebagai gambaran dari sifat, sikap dan juga perilaku antara laki-laki dan perempuan dengan demikian gender dapat mempengaruhi sikap seseorang dalam mengambil keputusan yang akan diambil berdasarkan karakteristik individu masing-masing. Asante and Baba (2011) menemukan bukti, bahwa di Ghana, gender dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Wajib pajak perempuan lebih patuh dibandingkan wajib pajak laki-laki.10 Didukung oleh penelitian Erica Kakunsi, Dkk (2017), menyatakan bahwa wanita akan patuh membayar pajak dengan alasan hati nurani atau memiliki perasaan bersalah jika tidak membayar pajak sesuai dengan jumlah yang seharusnya, sedangkan wajib pajak pria lebih menekankan pada ketakutan pada sanksi yang diberlakukan (Debbianita dan Verani Carolina, 2013).11
Menurut penelitian Meirier dan Penz (2007) yang menyatakan bahwa wanita cenderung untuk menghindari resiko dalam pengambilan keputusan terutama terkait dengan keputusan
10 Titik Aryati, Analisis Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Wajaib Pajak Badan, Jurnal : Media Ekonomi Dan Manajemen Vol 25. No 1 Januari 2012, hal 2
11 Erica Kakunsi, Dkk, Pengaruh Gender dan Tingkat Pendidikan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Di Wilayah Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tahunan, Jurnal : ( Riset Akuntansi Going Concern 12 (2), 2017), hal 393
keuangan. Penelitian tentang gender yang dilakukan oleh Jacson dan Milliron (1986) yang menyebutkan bahwa gender adalah faktor yang signifikan mempengaruhi perilaku ketaatan wajib pajak, dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita sangat responsif terhadap konsekuensi dan menghindari resiko, sehingga meningkatkan kepatuhan untuk membayar pajak dan mengurangi tunggakan pajak. Dan didukung Torgler dan Schneidier (2004) menyatakan bahwa wanita memiliki moral pajak yang lebih baik dibandingkan laiki-laki di Switzerland dan Belgium.12 Dan menurut hasil penelitian terbaru oleh Togler dan Valev (2010) mengungkapkan bahwa kesediaan lebih tinggi untuk kepatuhan pajak dikalangan wanita sehingga memungkinkan rendahnya tunggakan pajak.13
b. Faktor umur
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa usia berarti lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan). Usia dapat digolongkan ke dalam usia produktif dan usia yang tidak produktif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia seseorang dikatakan pada usia produktif ketika seseorang masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu. Umur pembayar pajak adalah salah satu yang terpenting dari faktor yang
12 Ratih Rinda Puspitaningrum, Skripsi : Pengaruh Gender, Level Pendidikan, Tingkat Pendapatan dan Keragaman Etnis Terhadap Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi, (Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2018), hal 34-35.
13 Yesi Mutia Basri dan Al Azhar, Anteseden dan Konsekuensi Moral Pajak, (Universitas Riau Pekan Baru), Jurnal Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi, Volume 3 No. 2 Tahun 2017, hal 65.
mempengaruhi tunggakan pajak.14 Penelitian sebelumnya menemukan bahwa semakin dewasa umur seseorang maka akan sadar untuk membayar pajak sehingga akan menurunkan tunggakan pajak kendaraan bermotor (Eymilia Oktavia, Dkk : 2019). Dan juga didukung oleh penelitian ( Agus Fahreza Nasution : 2016) yang menyatakan bahwa umur wajib pajak mempengaruhi rasa tanggung jawab membayar pajak, khususnya pajak kendaraan bermotor. Pajak kendaraan bermotor harus dibayarkan setiap tahun bagi pengguna kendaraan bermotor.
Semakin tua umur seseorang maka sikap tanggung jawabnya akan semakin tinggi, karena membayar pajak kendaraan bermotor bagi pengguna kendaraan bermotor adalah kewajiban yang harus dilaksanakan.
Tanggung jawab merupakan salah satu nilai karakter yang perlu ditanamkan didalam pribadi setiap manusia, supaya menjadi manusia yang memiliki kepribadian baik. (Mustari, 2017) berpendapat bahwa tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang seharusnya dia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya) dan Negara.15 Sedangkan menurut Daryanto, tanggung jawab adalah sikap dan perilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya
14 Isthi Wahyuning Tyas, Pengaruh Umur, Pendidikan, Penghasilan Bruto, dan Moral terjadap Kepatuhan Pembayaran Pajak, Jurnal TEKUN/Volume IV, No. 02, September 2013 : 279-304
15 Mohammad Mustari, Nilai Karakter, (Ygogyakarta : Laks Bang Pressindo, 2011), hal. 21.
dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan dan Negara. Berdasarkan pengertian tanggung jawab di atas dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab merupakan tolak ukur sederhana terhadap sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya.16
Menurut penelitian Isthi Wahyuning Tyas (2013) menyatakan bahwa umur wajib pajak yang lebih tua biasanya lebih patuh dari pada wajib pajak yang lebih muda. Hubungan antara umur dengan ketidakpatuhan pajak disebabkan oleh pengalaman dan generasi. Wajib pajak yang lebih muda, lebih berani mengambil resiko, kurang sensitif terhadap hukuman dan reflek sosial dan perbedaan psikologi berhubungan dengan periode dimana mereka mendapat peringkat tertinggi (perbedaan generasi).17
Dan juga didukung oleh penelitian Tania Ni’matussoliha (2019) menunjukkan bahwa umur berpengaruh untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor. Hal tersebut dikarenakan semakin tua usia seseorang maka semakin patuh dalam membayar pajak. Hal tersebut dikarenakan semakin dewasa seseorang maka cenderung untuk menghindari tindakan-tindakan yang bisa menimbulkan sanksi sosial seperti penggelapan pajak. Seperti yang ditemukan oleh Torgler &
16 Daryanto, Dkk, Pendidikan Karakter Disekolah, (Yogyakarta : Gava Media, 2013), hal. 142.
17 Isthi Wahyuning Tyas, Pengaruh Umur, Pendidikan, Penghasilan Bruto, dan Moral Terhadap Kepatuhan Pembayaran Pajak, Jurnal : Tekun/Volume IV, No. 02, 2013, hal 277
Schategger (2005) bahwa orang yang lebih tua lebih sensitif terhadap ancaman sanksi perpajakan. Usia yang lebih tinggi mungkin terkait dengan kepatuhan pajak yang lebih tinggi.
Dengan bertambahnya usia kebutuhan akan barang-barang publik seperti jaminan sosial dan perawatan kesehatan meningkat. Warga yang lebih tua, dengan demikian lebih menghargai manfaat pajak dari pada yang lebih muda sehingga lebih patuh. (Hofmann et al., 2017). Pandangan individu dengan usia tua mungkin sangat berpengaruh pada kebijakan sosial secara umum, dan pada kebijakan dalam perpajakan khususnya (Nikitas, Avineri&
Parkhurst, 2018). Hal tersebut dikarenakan orang yang lebih tua lebih tertarik terhadap demokrasi.18
Umur manusia dapat dibagi menjadi beberapa rentang atau kelompok dimana masing-masing kelompok menggambarkan tahap pertumbuhan manusia tersebut, salah satu pembagian kelompok umur atau kategori umur dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) dalam situs resminya yaitu Depkes. Go. Id sebagai berikut :
1) Masa balita = 0-5 tahun 2) Masa kanak-kanak = 6-11 tahun 3) Masa remaja awal = 12-16 tahun 4) Masa remaja akhir = 17-25 tahun
18 Tania Ni’matussoliha, Jurnal Ilmiah : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor Dalam Mengurangi Eksternalitas, (Malang : Universitas Brawijaya, 2019), hal 17.
5) Masa dewasa awal = 26-35 tahun 6) Masa dewasa akhir = 36-45 tahun 7) Masa lansia awal = 46-55 tahun 8) Masa lansia akhir = 56-65 tahun 9) Masa manula = 65-atas19
Berdasarkan kategori umur yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia maka usia yang dapat dikatakan sebagai wajib pajak dimulai dari usia 17 tahun yakni masa remaja akhir.
c. Faktor tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan usaha sadar manusia untuk mempersiapkan manusia mempunyai kemampuan untuk berperan aktif dalam membentuk masadepannya. Secara umum pengetahuan mengenai perpajakan belum secara menyeluruh menyentuh dunia pendidikan, kecuali yang menempuh pendidikan mengenai perpajakan. Revieu Literature oleh Lewis (1982) ; Richardson dan Sawyer (2001) dalam Asante dan Baba (2011) mengidentifikasi empat ukuran dari pendidikan, seperti : 1) Tingkat pengetahuan pajak yang umum
2) Pengetahuan yang meliputi peluang penghindaran 3) Pencapaian pendidikan umum
19 Muchammad Al Amin, Klasifikasi Kelompok Umur Manusia Berdasarakan Analisis Dimensi Fraktal Box Counting Dari Citra Wajah Dengan Deteksi Tepi Canny, Jurnal : Ilmiah Matematika ISSN 2301-9115, Volume 2 No. 6 Tahun 2017, hal 34
4) Pengetahuan pajak yang spesifik.
Sementara itu, wajib pajak yang patuh dan memahami ketentuan Undang-undang perpajakan, akan diketahui dari ketaatan dalam memenuhi ketentuan peraturan perudangan perpajakan, yaitu mengisi formulir pajak yang benar, menghitung pajak dengan benar, membayar pajak dan menyampaikan formulir pajak tepat waktu. Menurut Purwantini dan Suratna (2004), wajib pajak yang mempunyai pendidikan rendah cenderung akan mempunyai sikap perlawanan pasif dibandingkan wajib pajak yang berpendidikan tinggi20. Hal ini didukung temuan M. Rosidi (2013) menyatakan bahwa Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi peran dalam menentukan sikap untuk bertindak. Sehingga ada asumsi yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin rasional tindakannya. Tingkat pendidikan yang memadai akan memberikan kesadaran yang lebih tinggi dalam berwarga negara dan memudahkan identifikasi tujuan-tujuan pembangunan yang bersifat nasional.21 Dan juga didukung oleh penelitian Eymilia Oktavia, Dkk (2019) menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan yang ditempuh oleh wajib
20 Dewi Fitriyani, Dkk, Pengaruh Gender, Latar Belakang Pekerjaan, dan Tingkat Pendidikan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak,Jurnal : Infestasi, Vol. 10 No. 2 Desember 2014, hal 116
21 M. Rosidi, Skripsi : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Pada Kantor Dinas Pendapatan Daerah Tingkat I Pekan Baru Selatan, (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2013), hal 52-53.
pajak maka mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang pajak dan mereka akan sadar pula untuk membayar pajak khusus pajak kendaraan bermotor, artinya tunggakan pajak kendaraan bermotor akan turun apabila tingkat pendidikan seseorang tinggi.
Tingkat pendidikan formal yang dimilki wajib pajak diukur berdasarkan lama mengenyam pendidikan formal (Olabode, 2011). Variabel tingkat pendidikan disajikan dalam satuan tahun seperti berikut :
1) SD (6 Tahun).
2) SMP (9 Tahun).
3) SMA (12 Tahun).
4) DIII/ S1 (16 Tahun).22 d. Faktor pemahaman pajak
Faktor pemahaman sangat penting dalam membantu wajib pajak melaksanakan tingkat kepatuhan wajib pajak kuhususnya pemahaman dasar tentang perpajakan (Noormala, 2008).
Pemahaman wajib pajak terhadap peraturan perpajakan merupakan cara wajib dalam memenuhi peraturan perpajakan yang telah ada (Hardiningsih, 2011). Wajib pajak akan siap menerima sistem baru apapun yang diperkenalkan, seperti sistem Self-Assesment, jika mereka mepunyai pengetahuan yang besar
22 Agus Fahreza Nasution, Skripsi : Determinan Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Di Kota Medan, (Universitas Sumatera Utara, 2016), hal 25
untuk memahami sistem itu (Kasipillai, 2013). Pengetahuan pajak yang rendah dapat menyebabkan ketidakpercayaan dan sikap negatif terhadap pajak, sedangkan pengetahuan pajak yang baik berkorelasi dengan sikap positif terhadap pajak (Niemirosski et al., 2003). Semakin tinggi tingkat pemahaman pajak terhadap peraturan perpajakan, maka semakin kecil kemungkinan wajib pajak untuk melanggar peraturan tersebut sehingga dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan menurunkan tingkat tunggakan pajak (Muslim, 2007) dalam Syaril (2013). Hal ini didukung oleh Ikhsan (2016) menyatakan bahwa pemahaman pajak berpengaruh terhadap tunggakan pajak. Tinggi rendahnya tunggakan pajak dapat mempengaruhi pemahaman wajib pajak.
Pengetahuan wajib pajak merupakan informasi pajak yang dapat digunakan wajib pajak sebagai dasar untuk bertindak, mengambil keputusan dan untuk menempuh arah atau strategi tertentu sehubungan dengan pelaksanaan hak dengan kewajibannya dibidang perpajakan (Carolina, 2009). Semakin tingginya pengetahuan wajib pajak maka semakin tinggi pula kepatuhan wajib pajak membayar pajak kendaraan bermotornya.
Semakin banyak pengetahuan perpajakan yang didapat maka wajib pajak akan semakin paham kewajiban perpajakannya dan juga sanksi yang akan diterima bila melakukan kewajiban perpajakan sehingga mengakibatkan wajib pajak akan membayar
pajaknya dengan tepat waktu tanpa adanya paksaan (Oktafiyanto dan Wardani, 2015 ; Rusmawanti dan Wardani, 2015; Ummah, 2015; Wardani dan Rumiyatun, 2017).23
Pengetahuan perpajakan merupakan pemahaman wajib pajak mengenai hukum, Undang-undang, tata cara perpajakan yang benar (ihsan, 2013). Instrumen menggunakan indikator pengetahuan wajib pajak yang disampaikan oleh wardani dan Rumiyatun (2017) dan dikembangkan oleh peneliti diantaranya : 1) Pengetahuan tentang fungsi pajak.
2) Pengetahuan tentang ketentuan prosedur pembayaran.
3) Pengetahuan sanksi pajak.
4) Pengetahuan tempat lokasi pembayaran pajak.24 e. Sistem pelayanan pajak.
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain inilah yang disebut dengan pelayanan. Jadi pelayanan dapat diartikan sebagai kegiatan menyiapkan dan mengurus apa yang diperlukan oleh orang lain, sehingga sangat erat kaitannya dengan kepentingan publik.
23 Dewi Kusuma Wardani, Moh. Rifqi Asis, Jurnal : Pengaruh Pengetahuan Wajib Pajak, Kesadaran Wajib Pajak, Dan Program SAMSAT Corner Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor, Akuntansi Dewantara Vol. 1 No. 2 Oktober 2017, hal 107.
24 Ibid, hal 109.
Kurniawan dalam Sinabela (2017:5) mengemukakan bahwa, “ pelayanan publik adalah pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan”.25
Pelayanan yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kepuasan kepada pelanggan. Suatu layanan dapat dikatakan baik apabila usaha yang dijalankan sesuai dengan apa yang diharapkan. Pelayanan fiskus juga merupakan hal penting dalam menggali penerimaan negara dimana fiskus seharusnya melayani para wajib pajak dengan jujur, profesional, dan bertanggung jawab tetapi faktanya para fiskus tidak semuanya bersih dan ada juga yanmg nakal dalam arti sering menyalahgunakan kewenangannya untuk memanipulasi data yang terkait dengan SPT wajib pajak (Aryobimo 2012).
Berdasarkan penjelasan yang telah dijelaskan di atas bahwa pentingnya sistem pelayanan pada wajib pajak merupakan suatu faktor penting bagi kantor pelayanan pajak untuk meningkatkan kemauan membayar pajak pada wajib pajak agar penerimaan negara melalui sektor pajak dapat lebih banyak.
Memberikan pelayanan yang baik kepada wajib pajak, maka wajib pajak akan merasa senang dan merasa dimudahkan serta
25 Lijan Poltak Sinambela, Dkk, Reformasi Pelayanan Publik, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2017), hal 3