• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.2 Pajak

Ditinjau dari sejarahnya, masalah pajak sudah ada sejak zaman dahulu, walaupun pada saat itu belum dinamakan “pajak”, namun masih merupakan pemeberian yang bersifat sukarela dari rakyat kepada rajanya. Perkembangan selanjutnya pemberian tersebut menjadi upeti yang sifat pemberiannya dipaksakan dalam artian bahwa pemberian itu bersifat “wajib” dan ditetapkan secara sepihak oleh negara. Pajak yang semula merupakan pemberian sukarela berubah menjadi pungutan yang sifatnya wajib, hal tsb wajar karena kebutuhan negara akan dana semakin besar dalam rangka untuk memelihara kepentingan negara yaitu untuk mempertahankan Negara dan melindungi rakyatnya dari serangan musuh

maupun untuk melaksanakan pembangunan, dengan demikian sejarah pemungutan pajak mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan negara,baik di bidang ekonomi, sosial, dan kenegaraan (Munawir, 1997 :3).

Masalah perpajakan tidaklah sederhana hanya sekedar menyerahkan sebagian penghasilan atas kekayaan seseorang kepada negara, tetapi coraknya terlihat bermacam-macam bergantung pada pendekatannya. Dalam hal ini pajak dapat didekati atau ditinjau dari berbagai aspek,yaitu :

1. Aspek Ekonomi

Dari sudut ekonomi,pajak merupakan penerimaan negara yang digunakan untuk mengarahkan kehidupan masyarakat menuju kesejahteraan.Pajak sebagai motor penggerak kehidupan ekonomi masyarakat.

2. Aspek Hukum

Hukum Pajak Di Indonesia mempunyai hirarki yang jelas dengan urutan yaitu Undang-Undang Dasar 45, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, dsb. Hirarki ini dijalankan secara ketat. Peraturan yang tingkatannya lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang tingkatannya lebih tinggi. 3. Aspek Keuangan

Pendekatan dari aspek keuangan dalam aspek ekonomi, hanya lebih menitikberatkan pada aspek keuangan. Pajak dipandang bagian

yang sangat penting dalam penerimaan negara.jika dillihat dari penerimaan negara, kondisi , keuangan negara tidak lagi semata-mata berasal dari penerimaan negara berupa minyak dan gas bumi, tetapi lebih berupaya untuk menjadikan pajak sebagai primadona penerimaan negara. Alat ukur yang digunakan sebagai indikator efektif dan produktif pemungutan pajak dalam fungsinya pengumpulan penerimaan berupa pajak.

4. Aspek Sosiologi

Pada aspek sosiologi ini, ditinjau dari segi masyarakat yaitu yang menyangkut akibat atau dampak terhadap masyarakat atas pungutan dan hasil apakah yang disampaikan pada masyarakat

Banyak para ahli dalam bidang perpajakan yang memberikan pengertian definisi yang berbeda-beda mengenai pajak, namun demikian berbagai defini yang utarakan oleh Markus (2005 : 01) pengertian Pajak : “Pajak adalah sebagian harta kekayaan rakyat (swasta) yang berdasarkan Undang-Undang,wajib diberikan oleh rakyat kepada Negaraa tanpa mendapat kontrasepsi secara individual dan langsung dari Negara serta bukan merupakan pinalti, yang berfungsi :

a. Sebagai dana untuk penyelenggaraan, dan sisanya jika ada, digunakan untuk pembangunan, serta

Dalam definisi di atas lebih memfokuskan pada fungsi budgeter daripada pajak, sedangkan pajak masih mempunyai fungsi yang lain yaitu fungsi mengatur. Apabila memperhatikan coraknya, dalam memberikan batasan pengertian pajak dapat dibedakan dari berbagai macam ragamnya yaitu dari segi ekonomi, segi hukum, segi sosiologi, dan lain sebagainya.Kutipan beberapa pengertian pajak yang dikemukan para ahli di bidangnya, adalah sebagai berikut : (Waluyo dan Ilyas, 2002 : 5)

I. Pengertian pajak menurut Prof.Edwin R.A.Seligmen dalam buku Essay in Taxation yang diterbitkan di Amerika menyatakan : “Tax

is Compulsary Contribution, from the person, to the goverment to depray the expense in the common interest of all, without reference to special benefit Conperred “. Dari definisi di atas,

terlihat adanya kontribusi seseorang yang ditujukan kepada negara tanpa adanya manfaat yang ditujukan secara khusus pada seseorang.

II. Pengertian Pajak menurut Philip E.Taylor dalam buku The Economics of Public Finance memberikan batasan pajak seperti di atas hanya menggantikan without references dengan with little references.

III. Pengertian pajak menurut Mr.Dr.N.J. Feldman dalam buku de overheildsmildder Van Indonesia (terjemahan) : Pajak adaalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada pengusaha (menurut norma-norma yang ditetapkan secara umum),

tanpa adanya kontraprestasti, dan semata-maata digunakan unutk menutup pengeluaran-pengeluaran umum”.

IV. Pengertian Pajak menurut Prof.Dr.M.J.H. Smeets dalam buku De Economische betekenis belastingen ( terjemahan) : Pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum dan yang dapat dipaksakannya, tanpa adanya kontraprestasi yang dapat ditujukan dalam hal individual, dimaksudkan, untuk membiayai pengeluaran pemerintah.

V. Dr.Soeparman Soeharmidjaja dari disertasinya yang berjudul : Pajak berdasarkan Azas Gotong Royong menyatakan bahwa pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang - barang dan jasa – jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum. Dari definisi di atas tampak istilah “dipaksakan” karena bertitik tolak pada istilah “iuran wajib”. Sisi lainnya yang berhubungan dengan kontraprestasi menekankan pada mewujudkan kontraprestasi itu diperlukan pajak.

VI. Prof.Dr.Rachmat Soemitro,S.H.dalam bukunya Dasar-Dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan (1990 : 5) menyatakan “Pajak adalah iuran kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditujukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

Dari definisi-definisi tsb diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan tentang ciri – ciri yang melekat dari pengertian pajak yaitu : (Waluyo dan Ilyas, 2002 : 5-6)

a) Pajak dipungut berdasarkan Undang-undang serta aturan pelaksanaannya yang sifatnya tsb dapat dipaksakan.

b) Dalam Pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

c) Pajak dipungut oleh negara baik Pemerintah Pusat maupu Pemerintah Daerah.

d) Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran–pengeluaran pemeritah, yang bila pemasukannya masih terdapat surplus, diperguakan untuk memaiayai public investment.

e) Pajak dapat pula mempunyai tujuan selain budgeter,yaitu mengatur.

Dokumen terkait