• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA : TEORI RESEPSI AKTIF

C. Panacea

Panacea adalah istilah yang dibuat Bakti dari nama dewi penyembuh Yunani.

Panacea adalah ramuan atau obat yang mampu mengobati segala jenis penyakit dan dipercaya dapat memanjangkan umur. Bakti menggunakan istilah

Panaceadengan filosofi bahwa kebanyakan orang mengibaratkan komunikasi seperti Penecea yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan.47

Dalam hal ini, Bakti ingin mematahkan pendapat bahwa komunikasi diibaratkan sebuah Panacea yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan.Menurutnya, komunikasi tidak selamanya dapat menyelesaikan permasalahan. Bakti juga mengatakan bahwa tidak efektifnya proses komunikasi

44Ahmadi, A dan Supriono, W, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h. 76.

45Watson, D. L, dkk., Social Psychology, Science, and Application (Illinois: Scott, 1984), h. 134.

46

Brigham, J. C, Social Psychology, h. 140.

47Andi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perceptions of a Global Development Program, h. 111.

bukan akibat dari adanya kesalahpahaman dalam berkomunikasi (misscommunication) tapi karena ada faktor lain yang memengaruhi anggota komunikasi dalam menerima dan memproses pesan. Konsep Panacea yang digagas Bakti ditunjukkan untuk menguji apakah komunikasi berperan sebagai

Penecea atau terdapat faktor lain seperti racun atau opium (candu) yang mengalahkan peran komunikasi.48

Model respon kognitif milik Greenwald menegaskan bahwa perubahan sikap adalah fungsi berfikir. Inti dari model ini adalah bahwa persuasi hanya akan terjadi selama sebuah pesan mencetuskan pemikiran yang sesuai dengan dorongan utama daya tariknya. Dengan sendirinya, wawasan ini memunculkan pertanyaan seputar sesuatu yang dianggap sebagai respons kognitif dominan.49 Singkatnya, model respons kognitif adalah respons aktif berdasarkan pada aspek kognitif seseorang dalam menilai dan menginterpretasikan sesuatu yang sudah tertanam kuat dalam masyarakat. Model ini juga meyakini bahwa seseorang hanya akan menerima sebuah pesan persuasi yang sesuai dengan interpretasi dan pemikiran kognitifnya.

Oleh sebab itu, peneliti akan mengklasifikasikan beberapa teori yang menganggap komunikasi sebagai obat manjur untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dan teori yang menyebutkan faktor lain yang dianggap lebih manjur dalam menyelesaikan permasalahan dibandingkan komunikasi.

48Andi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perceptions of a Global Development Program, h. 111.

49Greenwald A. G, “Cognitive Learning, Cognitve Response to Persuation and Attitude Change,” dalam Charles R. Berger, dkk., ed., Handbook Ilmu Komunikasi. Penerjemah Derta Sri Widowatie (Bandung: Nusa Media, 2014), h. 293.

a. Komunikasi sebagai Penecea

John Searle adalah salah satu ahli yang mempercayai komunikasi sebagai obat manjur dalam menyelesaikan berbagai masalah. Teori kemampuan berkomunikasi yang digagasnya menjelaskan bagaimana manusia menyempurnakan hal dengan kata-katanya. Makna dari teori ini adalah kekuatan komunikasi untuk memengaruhi. Searle menyebutkan tiga hal yang membuktikan bahwa komunikasi dapat menyelesaikan beberapa hal, yaitu:50

1) Aksi Terungkap (Utterance Act) yaitu sebuah penyebutan kata dalam bentuk sederhana namun berisi pesan yang ingin disampaikan.

2) Aksi Usulan (Propositional Act) yaitu menegaskan sesuatu tentang dunia atau mengatakan sesuatu dengan tujuan meyakinkan orang lain agar mempercayainya. Proposisi juga dapat berbentuk pertanyaan, peringatan, dan pernyataan.

3) Aksi Berkehendak (Illocutionary Act) yaitu sebuah beberapa tindakan yang akan menjadi fokus utama pembicara (sender). Searle mengatakan bahwa terdapat beberapa jenis aksi berkehendak. Pertama, aksi penegasan yang mengikat pembicara untuk menunjukkan kebenaran dari sebuah pesan. Kedua, arahan (directives) yang berupaya agar pendengar (receiver) melakukan sesuatu dengan arahan yang diberikan. Ketiga, keterikatan (commussives) adalah mengikat pembicara pada tindakan selanjutnya seperti bersumpah, berjanji, ikrar, kontrak dan jaminan. Keempat, pernyataan (expressive) yaitu tindakan menyampaikan beberapa aspek psikologis dari kondisi pembicara seperti berterima kasih, permintaan maaf fan lainnya.

50John Searle, Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), h. 165.

Terakhir, deklarasi (declaration) dirancang untuk menciptakan sebuah proposisi, sangat menuntut, dan mengikat.

4) Aksi memengaruhi (perlocutionary act) yang dirancang untuk memengaruhi perilaku orang lain. Aksi ini berbentuk sebuah tindakan yang pembicara (sender) harapkan, bukan hanya sekedar pemahaman namun juga tindakan yang dilakukan penerima (receiver).

Shannon dan Weaver juga berpendapat bahwa komunikasi mencangkup semua prosedur dengan mana satu pikiran dapat memengaruhi yang lain. Termasuk tulisan, pidato lisan, musik, seni gambar, cerita, dan semua hal yang meliputi perilaku manusia.51 Hal ini didukung West dan Turner yang mendefinisikan komunikasi sebagai proses sosial di mana individu simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka.52

Benjamin Lee Whorf berpendapat bahwa susunan bahasa sebuah budaya adalah faktor penentu perilaku dan identitas seseorang. Menurutnya, proses pemikiran manusia dan cara manusia memandang dunia dibentuk oleh susunan tata bahasa yang tertanam dalam diri.53

Sependapat dengan Whoft, Basil Bernstein juga berpendapat bahwa kelompok sosial memiliki andil besar dalam memengaruhi tindak tutur yang

51Claude E. Shannon dan Warren Weaver, “The Mathematical Theory of Communication,” dalam Brent D. Ruben dan Lea P. Stewart, ed., Komunikasi dan Perilaku Manusia. Penerjemah Ibnu Hamad (Jakarta: Raja Grafindo, 2013), h. 43.

52Richard West and Lynn H. Turner, ed., Introducing Communication Theory: Analysis And Application (New York: Mcgraw Hill, 2007), h. 5.

53Benjamin L. Whorf, “Language, Thought, and Reality,” dalam Stephen Littlejohn dan Karen A. Foss, ed., Teori Komunikasi. Penerjemah Muhammad Yusuf Hamdan (Jakarta: Salemba Humanika, 2009), h. 449.

digunakan seseorang. Dengan kata lain, seseorang mempelajari lingkungan sekitarnya dengan bantuan kode-kode bahasa yang mereka gunakan.54

Langer berpendapat bahwa orang lain dengan budaya yang berbeda memiliki kemungkinan tidak menyetujui perspektif budaya lain. Ketika berusaha menyampaikan pesan, seseorang akan memilih untuk menggunakan bahasa kedua atau bahasa internasional yang dapat dimengerti oleh seluruh budaya dibandingkan bahasa aslinya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kesalahpahaman dan memudahkan penyampaian pesan.55

LaRossa dan Reitzes mengembangkan asumsi bahwa individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain. Asumsi ini menyatakan bahwa manusia tidak lahir dengan konsep diri, melainkan belajar tentang diri mereka melalui interaksi. Interaksi Simbolik menyatakan bahwa proses pembelajaran ini terus berlanjut melalui proses anak mempelajari bahasa dan kemampuan untuk memberikan respon kepada orang lain serta menginternalisasi umpan balik yang diterimanya.56

Teori dan pernyataan para ahli tersebut meyakini bahwa komunikasi adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah sosial manusia, baik melalui komunikasi dalam bentuk verbal atau non-verbal.

54Basil Bernstein, “Class, Codes and Control: The Theoretical Studies Toward a Sociology of Language,”dalamStephen Littlejohn dan Karen A. Foss, ed., Teori Komunikasi. Penerjemah Muhammad Yusuf Hamdan (Jakarta: Salemba Humanika, 2009), h. 451.

55E. Langer, “Mindfulness,” dalam Larry A. Samovar, dkk., ed., Communication Between Cultures (USA: Wadsworth Cangage Learning, 2009), h. 281.

56

R. LaRossa dan D. Reitzes, “Symbolic Interactionism and Family Studies,” dalam Richard West And Lynn H. Turner, ed., Introducing Communication Theory: Analysis And Application (New York: McGraw Hill, 2007), h. 103.

b. Penecea Lain Selain Komunikasi

John Locke menganggap bahwa pengalaman adalah satu-satunya jalan meraih pengetahuan. Locke mengibaratkan manusia sebagai tabula rasa atau kertas putih. Secara psikologis, seluruh prilaku manusia, kepribadian, dan tempramental ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pengalaman tersebut dipisahkan menjadi dua elemen, yaitu pengalaman lahiriah (eksternal sensation) dan pengalaman batiniah (internal sense).57

Walter Fisher berkeyakinan bahwa manusia adalah seorang pencerita dan bahwa pertimbangan akan nilai, emosi, dan estetika dipengaruhi oleh keyakinan seseorang terhadap cerita yang diyakininya. Fisher merumuskan pemikirannya dalam teori paradigma naratif (Narrative Paradigm). Dalam teorinya, Fisher beranggapan bahwa manusia lebih mudah terbujuk oleh sebuah cerita yang menarik dibandingkan sebuah argumen.58 Sedangkan Rowland yang meyakini bahwa ada peran kelompok elit dalam pengontrolan dan pengubahan pendapat masyarakat.59

Robert W. Crapps, agama adalah faktor yang dapat menjadi penawar dari segala masalah.60 Sama halnya dengan Nicholas Berdyaev yang berpendapat bahwa agama merupakan usaha untuk mengatasi keheningan dan melepaskan ego dari segala keterbatasan akal manusia.61 Jadi kedua teolog ini berpendapat bahwa

57John Locke, “An Essay Concerning Human Understanding,” dalam Jalaludin Rakhmat, ed., Psikologi Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 21.

58Walter Fisher, “Human Communication as Naration: Toward a Philosophy of Reason, Value, and Action,” dalam Richard West and Lynn H. Turner, ed.,Introducing Communication Theory: Analysis And Application (New York: Mcgraw Hill, 2007), h. 44.

59

Robert Rowland, “Narrative: Mode of Discourse or Paradigm?,”dalam Richard West and Lynn H. Turner, ed.,Introducing Communication Theory: Analysis And Application (New York: Mcgraw Hill, 2007), h. 55.

60

Robert W. Crapps, An Introduction to Psychology of Religion (Georgia: Mercer University Press, 1986), h. 19.

agama adalah obat penawar untuk penyelesaian masalah selain dengan jalur komunikasi.

Ruben dan Steward mengatakan bahwa dalam organisasi yang lebih besar seperti masyarakat dan komunitas dunia, komunikasi menyediakan sarana pencipta hubungan yang memungkinkan untuk melakukan aksi bersama, pembentukan identitas bersama, dan pengembangan diri individu.62 Selain itu organisasi adalah wadah untuk menghubungkan diri seseorang dengan lingkungan dan orang-orang sekitarnya.63

Menurut Liliweri, perbedaan kebudayaan antara komunikator dan komunikan dalam komunikasi antarbudaya dijadikan sebagai hambatan karena perbedaan pandangan, pola pikir, struktur budaya dan iklim budaya.64Hal ini terjadi karena setiap manusia sejak lahir akan ditanamkan identitas-identitas dalam dirinya, seperti identitas budaya, ras, etnis dan agama. Identitas tersebut akan tertanam kuat dalam diri manusia dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sosialnya.

Michael Hecht mengatakan bahwa identitas adalah penghubung utama antara individu dan masyarakat, sedangkan komunikasi adalah mata rantai yang memperbolehkan hal itu terjadi.65 Jadi dapat dipahami bahwa identitas adalah hal yang mencerminkan diri seseorang dalam masyarakat maupun dalam sebuah proses komunikasi. Peran identitas dalam sebuah proses komunikasi juga dapat berpengaruh pada keefektifan komunikasi.

62Brent D. Ruben dan Lea P. Stewart, Komunikasi dan Perilaku Manusia, h. 17.

63Brent D. Ruben dan Lea P. Stewart, Komunikasi dan Perilaku Manusia, h. 19.

64Alo Liliweri, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 10.

65

Michael L. Hecht, “The Communication Theory of Identity: Development, Theoritical Perspective, and Future Directions,” dalam Stephen Littlejohn dan Karen A. Foss, ed., Teori Komunikasi. Penerjemah Muhammad Yusuf Hamdan (Jakarta: Salemba Humanika, 2009), h. 131.

Menurut Ting-Toomey, komunikasi yang dilakukan oleh kelompok dengan identitas yang sama akan mengalami kelebihan dalam persamaan pendapat, keterikatan, kedekatan, dan kejelasan. Sedangkan komunikasi dengan kelompok identitas yang berbeda akan lebih mengalami perbedaan, ketidakjelasan dan kerentanan dalam komunikasinya.66 Ting-Toomey menganggap identitas sebagai gambaran diri yang merefleksikan asal keluarga, gender, budaya, etnis, agama dan proses sosialisasi individu. Identitas pada dasarnya merujuk pada pandangan tentang diri sendiri ataupun pandangan orang lain mengenai diri kita.67

Keluarga juga diidentifikasikan sebagai sarana awal dalam pembentukan identitas seseorang. Hal ini disebabkan peran keluarga sebagai sumber ajaran budaya dan agama pertama yang diterima manusia sejak dia lahir. Penanaman identitas diri saat balita merupakan saat-saat terbaik, hal ini disebabkan pada masa itu manusia lebih mudah menyerap informasi yang dilihatnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Penanaman identitas secara terus-menerus akan membentuk identitas yang tertanam kuat dan sulit diubah atau dihilangkan, sedangkan penanaman yang kurang intens akan membentuk identitas yang lemah dan mudah berubah atau hilang.

DeGenova dan Rice mengatakan bahwa keluarga adalah transmitor utama pengetahuan, nilai, perilaku, dan kebiasaan dari genera si ke generasi. Keluarga membentuk kepribadian seorang anak dan menanamkan pola pikir yang

66Stella Ting-Toomey, “Identity Negotiation Theory: Crossing Cultural Boundaries,” dalam Stephen Littlejohn dan Karen A. Foss, ed., Teori Komunikasi. Penerjemah Muhammad Yusuf Hamdan (Jakarta: Salemba Humanika, 2009), h. 133.

67

S. Ting-Toomey, “Identity Negotiation Theory: Crossing Cultural Boundaries,” dalam Larry A. Samovar, dkk., ed., Communication Between Cultures (USA: Wadsworth Cangage Learning, 2009), h.154.

berdasarkan budaya serta agama yang mereka yakini, sehingga menjadikannya sebuah identitas dan kebiasaan.68

Teori-teori tersebut adalah teori yang lahir untuk menyanggah pernyataan bahwa komunikasi diibaratkan sebagai sebuah obat manjur (Penecea) yang dapat menyelesaikan permasalahan sosial manusia. Teori-teori penyanggah tersebut meyakini bahwa ada faktor lain yang selain komunikasi, yang dapat berperan sebagai penyembuh masalah-masalah sosial seperti pengalaman pribadi, sejarah atau nilai yang diyakini, agama, dan identitas yang tertanam dalam diri seseorang. Selain itu, dapat disimpulkan bahwa teori dan pendapat para ahli di atas menyanggah adanya misscommunication dan ketidakefektifan komunikasi. Karena menurut mereka, komunikasi yang tidak efektif bukan dikarenakan adanya

misscommunication, tapi karena ada faktor lain yang menghambat sampainya pesan dan informasi dalam sebuah komunikasi baik personal maupun kelompok.

Dokumen terkait