C. Uraian Materi Penerapan Nilai, Norma, Moral Pancasila Dalam Pembelajaran
7. Pancasila sebagai Sumber Nilai dan Paradigma Pembangunan
Untuk memjujudkan cita-cita dari sekelompok masyarakat bangsa (ideologi) dibentuklah suatu kekuatan bersama dalam suatu organisasi (negara) atau kekuatan sosial politik. Mereka terikat oleh suatu keyakinan bahwa ideologi yang mereka anut dianggap benar dan baik dalam rangka mencapai tujuan lahiriah dan batiniah. Ideologi bangsa Indonesia yang diyakini akan membawa kebaikan adalah Pancasila.
Oleh karena itu ideologi Pancasila yang diyakini tersebut terus diperjuangkan oleh sekelompok masyarakat yaitu bangsa Indonesia, karena ideologi yang mereka anut dianggap membawa kebenaran dan nilai-nilai luhur. Nilai keyakinan yang terkandung didalam ajaran ideologi itu disebut nilai dasar” (basic value, weltanschauung; groundnorm) dan nilai-nilai itulah yang menjadi asas perjuangan, bahkan mampu memberi motivasi kuat; mampu menggugah dan memberi semangat untuk bangkit dan membina diri. Tidak jarang mampu mendobrak dan menghancurkan setiap rintangan yang mereka hadapi dalam upaya memperjuangkan ideologi yang mereka anut.
Moerdiono, (1992) mengemukakan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia mengandung nilai-nilai. Beliau membedakan nilai fundamental Pancasila (nilai dasar, groundnorm) dan nilai instrumental Pancasila
serta nilai praksis. Nilai fundamental Pancasila merupakan nilai dasar
Pancasila yang abadi, yang tidak berubah dan tidak boleh diubah. Sedangkan nilai instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai fundamental yang dijabarkannya. Penjabaran itu dilakukan secara kreatif, dinamis dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama, dalam batyas- batas yang dimungkinkan oleh nilai-nilai fundamental itu. Penjabaran itu tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai fundamenal yang dijabarkannya (Moerdiono, 1992:408).
Nilai fundamental Pancasila dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagaimana dinyatakan oleh Notonagoro, Pembukaan Undang-Undang
Kegiatan Pembelajaran 1
Dasar 1945 tidak lain adalah penuangan jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 ialah jiwa Pancasila sesuai dengan Penjelasan Otentik mengandung pokok- pokok pikiran sebagai berikut:
1) Negara begitu bunyinya melindungi segenap bangsa )ndonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam pembukaan ini diterima aliran pengertian negara persatuan, negara yang melindungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnya. Jadi negara mengatasi paham golongan, mengatasi paham perseorangan.
Negara, menurut Pembukaan itu menghendaki persatuan, meliputi
segenap bangsa Indonesia seluruhnya. Inilah suatu dasar negara yang tidak boleh dilupakan.
2) Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
3) Pokok pikiran ketiga yang trkandung dalam pembukaan ialah negara yang berkedaulatan rakyat, berdasar atas kerakyatan dan permusya-waratan/perwakilan. Oleh karena itu sistem negara yang
terbentuk dalam UUD harus berdasar atas
permusyawaratan/perwakilan.
4) Pokok pikiran keempat yang terkandung dalam pembukaan ialah negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Oleh karena itu UUD harus mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Selanjutnya Penjelasan UUD 1945 menyatakan, bahwa UUD menciptakan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan dalam pasal- pasalnya. Pokok pikiran merupakan suasana kebatinan dari UUD Negara Indonesia. Pokok-pokok pikiran itu mewujudkan cita-cita hukum (Rechtsidee) yang menguasai hukum dasar negara, baik hukum yang tertulis (UUD) maupun hukum yang tidak tertulis.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengandung nilai-nilai fundamental Pancasila mempunyai kedudukan tetap, tidak berubah dan
Modul Pelatihan SD Kelas Tinggi
tidak dapat diubah. Hal ini lebih lanjut dikatakan oleh Notonagoro, sebagai berikut:
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai pernyataan Kemerdekaan yang terperinci yng mengandung cita-cita luhur dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan yang memuat Pancasila sebagai Dasar Negara, merupakan satu rangkaian dengan Proklamasi Kemerdekan 17 Agutus 1945, dan oleh karena itu tidak dapat diubah oleh siapapun juga, termasuk MPR hasil pemilihan umum, yang berdasarkan pasal 3 dan pasal 37 Undang-Undang Dasar berwenang menetapkan dan merubah Undang-
Undang Dasar, karena merubah isi Pembukaan berarti pembubaran negara
(Notonagoro, 1967:13).
Konsensus politik bangsa Indonesia tersebut, hingga saat ini ingin tetap dipertahankan walaupun di masa eforia reformasi, seperti keseapakatan tidak akan merubah terhadap pembukaan UUD 1945 dan bentuk negara kesatuan Republik Indonesia karena memang mengandung pokok-pokok pikiran dalam mengatur negara dan pemerintahan.
Nilai-nilai fundamental (dasar) yang terkandung dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945, baik yang terkandung di dalam pokok-pokok pikirannya maupun di dalam alinea-alineanya, memerlukan penjabaran lebih lanjut dari nilai fundamental Pancasila, sekaligus sebagai arahan untuk kehidupan nyata dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Nilai dasar, yaitu hakekat kelima sila Pancasila. Nilai dasar ini merupakan esensi dari sila-sila Pancasila yang bersifat universal, sehingga dalam nilai dasar tersebut terkandung cita-cita, tujuan serta nilai-nilai yang baik dan benar. Nilai dasar tersebut tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu pembukaan UUD 1945 merupakan suatu norma dasar yang merupakan tertib hukum tertinggi, sebagai sumber hukum positif dan memiliki kedudukan sebagai pokok kaidah negara yang fundamental
Penjabaran lebih lanjut dari nilai dasar/fundamental Pancasila ke dalam peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia dinamakan
Kegiatan Pembelajaran 1
kebijakan, strategi, sasaran serta lembaga pelaksanaannya. Nilai instrumental ini merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai dasar ideologi Pancasila, yang penjabarannya disesuaikan dengan perkembangan jaman, seperti penetapan GBHN, UU, struktur kelembagaan, dan sebaganya; Dari nilai instrumental Pancasila diimplementasikan dalam realitas kehidupan sehari-hari setiap warga negara, penyelenggara negara, kelompok masyarakat, organaisasi itulah dinamakan nilai praksis. nilai praktis, yaitu merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi pengamalan yang bersifat nyata, dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam realisasi praksis inilah penjabaran nilai-nilai Pancasila senantiasa berkembang dan selalu dapat dilakukan perubahan dan perbaikan (reformasi). (Kaelan, 2003).
Ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka secara struktural memiliki dimensi idealistis, normatif dan realistis Dimensi idealistis dalam ideologi Pancasila adalah nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila yang bersifat sistematis, rasional dan menyeluruh yaitu hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila, yaitu Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Hakikat nilai-nilai Pancasila tersebut bersumber pada filsafat Pancasila. Kadar dan idealisme yang terkandung dalam Pancasila mampu memberikan harapan optimisme serta mampu menggugah motivasi para pendukungnya untuk berupaya mewujudkan apa yang dicta-citakan.
Dimensi normatif dalam ideologi Pancasila adalah nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma- norma kenegaraaan yang lebih operasional. Oleh karena itu Pancasila berkedudukan sebagai norma tertib hukum tertinggi dalam negara Indonesia.
Dimensi realistis, yaitu suatu ideologi harus mampu mencerminkan realitas yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu Pancasila selain memiliki dimensi nilai-nilai ideal serta normatif, Pancasila harus mampu dijabarkan dalam kehidupan masyarakat secara nyata baik dalam
Modul Pelatihan SD Kelas Tinggi
kehidupan sehari-hari maupun dalam penyelenggaraan negara. Dengan demikian Pancasila sebagai ideologi terbuka tidak bersifat utopis yang hanya berisi ide-ide yang bersifat mengawang, melainkan suatu ideologi yang bersifat realistis artinya mampu dijabarkan dalam segala aspek kehidupan nyata. Secara sistem ketatanegaraan RI, nilai-nilai tersebut menjadi sumber motivasi dan landasan pembangunan nasional. Oleh itu pada hakekatnya, pembangunan nasional merupakan pengamalan dari nilai-nilai Pancasila.