• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Terhadap Anak Perempuan

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 47-83)

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Informan I (BA)

1. Pandangan Terhadap Anak Perempuan

Secara umum informan I (BA) memiliki pandangan positif terhadap anak perempuannya. Terdapat tiga hal yang mendukung pandangan tersebut. Pertama, BA memandang anak perempuan sebgai anak yang mandiri dan tidka membebani orang tua. Kedua, BA memandang anak perempuan sebagai anak yang baik. Ketiga, BA memandang anak perempuan sebagai anak yang perduli. Ketiga sub tema di atas akan dijelaskan pada penjelasan berikut :

a. Anak Perempuan berharga

BA memandang anak perempuan sebagai sesuatu yang berharga. Pandangan berharga pada anak perempuan muncul disaat BA merasa anak perempuan tidak dapat tergantikam oleh segala hal.

“tulang mencintai kedua anak perempuan tulang, ya

hanya mereka yang tulang punya kan, apa lagi yang tulang banggakan selain mereka, harta apalah dikata,

bisa dicari kan, mereka aja lah boru boru (anak anak perempuan) kebanggaan tulang”

(608;615)

b. Anak Perempuan Anak yang Mandiri

BA memandang anak perempuan sebagai anak yang mandiri. Pandangan tersebut muncul karena anak perempuannya dapat hidup mandiri dan tidak menjadi tanggungan beban BA. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“ya kalu sekarang tulang menerima dengan senang

hati, harapan pada anak laki- laki tulang sudah gak pikirkan itu lagi, kakak-kakak sudah besar-besar yang pertama sudah berkeluarga yang terakhir ini sudah kerja juga jadi gak ada lagi beban tulang kan dah bisa hidup mandiri mereka itu”

(81;89)

“yang terutama kan dak jadi beban bagi orang tua, itu

aja sudah cukup lah, dah gak ada pikiran lagi tulang buat tulang dapat anak laki ya, penyesalan pun dah lewat, udah tua tulang udah tua nangtulang dak pas lagilah memikirkan hal itu (tertawa)”

(578;582)

“Yah apa lagi yang mau disesalkan, toh kakak kakak

sudah besar besar dah mandiri”

(572;574)

“Pertama karena memang mereka membuktikan sama

tulang kalu mereka sekarang sudah mandiri”

c. Anak Perempuan Anak yang baik

BA memandang anak perempuannya sebagai anak yang patuh pada perintah orang tua. Jika melakukan kesalahan anak perempuan BA mau mendengarkan teguran yang BA sampaikan. BA memandang anaknya baik karena ia merasa anak perempunya adalah cerminan dirinya. Anak perempuan menunjukkan sikap baik dan santun sehingga membuat BA merasa senang dengan keadaan tersebut. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“MA itu pendiam jarang buat masalah tapi pernah juga

nilainya merosot di SMA tulang tegor juga, tapi gak pala bertingkah dia, patuh juga dengan tulang dan nang tulang”

(350;355)

“yang tulang tau mereka anak anak yang baik dan

patuh sama orang tua” (635;637)

d. Anak Perempuan Anak yang Peduli

BA memandang anak perempuannya sebagai anak yang peduli. Perilaku anak perempuannya yang selalu membangun interaksi dengan BA membuat ia mendapatkan perhatian dari anak perempuannya. BA menyampaikan bahwa anak perempuannya selalu

bertanya banyak hal dan ia senang dengan keadaan tersebut. Selain itu anak perempuan merawat BA dengan menyiapkan kebutuhan BA selesai bekerja. Perilaku tersebut membuat BA merasa senang dan sayang pada anak perempuannya. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“Kalo yang buat aku kangen sama JA itu karna dia itu

sering tanya Tanya banyak hal, ya walaupun agak bandel tapi ada perhatiannya sama tulang, memang JA itu mirip mamaknya paling cerewet (tertawa)”

(662;668)

“Kalau si MA ini dia lah paling tenang, gak melawan,

yang tulang ingat betul, dia yang siapkan minum tulang dulu tiap siap kerja tulang, dulu waktu tulang kerja”

(669;679)

Berdasarkan empat sub tema diatas dapat diketahui BA memiliki pandangan positf pada anak perempuan. Pandangan tersebut muncul saat anak perempuan dipandang berharga dibandingkan segala hal. Selai itu BA memandang anak perempuan dapat hidup mandiri dan tidak membebani BA. Pandangan lain yang mendukung adalah saat anak perempuannya berlaku baik pada BA dan keluarga. perilaku baik itu diwujudkan dalam kehidupan sehari hari dengan memperhatikan dan merawat BA.

2. Perasaan Pada anak Perempuan

BA memunculkan perasaan bahagia disaat mendapatkan anak perempuan dalam keluarga. BA juga merasa bahagia karena sikap anak perempuan yang baik. Selain itu BA merasa bahagia karena anak perempuan sudah mandiri dan tidak membebani BA. Perasaan bahagia BA pada anak perempuan yang sudah mandiri bersamaan dengan perasaan sedih ditinggalkan anak perempuan. Hal itu disebabkan anak perempuan yang mandiri sudah tidak tinggal bersama BA dan hidup terpisah jauh dari BA. Keempat sub tema di atas akan dijelaskan pada penjelasan berikut :

a. Perasaan Bahagia saat Kehadiran Anak Perempuan BA merasa bahagia mendapatkan anak perempun dalam keluarganya. Keadan tersebut membuat BA memberikan perhatian dan mendidik anak permempuanya dengan senang hati. BA juga berusaha memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh anak perempuannya. BA mengatakan bahwa segala bentuk usahanya tersebut merupakan bentuk cinta kepada anak perempuannya. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“Ya senang tulang sekeluarga waktu kakak JA lahir

namanya anak pertama pasti senang”

“Tulang sekelurga senang lahir kakak kedua waktu itu

memang tulang pas lagi dinas di Sorong jadi gak bias lihat langsung kakak MA lahir, ya perasaan tulang bahagia mendapatkan boru tulang yang kedua ini”

(98;104)

“Tulang merasa kakak kakak adalah boru (anak

perempuan) kesayangan tulang, mereka mampu membuat tulang bangga dan bahagia dalam selama tulang hidup, yang tulang tau mereka anak anak yang baik dan patuh sama orang tua”

(630;637)

b. Perasaan Bahagia saat Anak Perempuan Bersikap Baik

BA merasa bangga dan bahagia karena sikap baik dan patuh yang dilakukan anak perempuan. Perasa itu membuat BA menyayangi anak perempuannya. Perilaku anak perempuan dianggap dapat mencerminkan BA sebagai seorang ayah yang baik. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“Tulang merasa kakak kakak adalah boru (anak

perempuan) kesayangan tulang, mereka mampu membuat tulang bangga dan bahagia dalam selama tulang hidup, yang tulang tau mereka anak anak yang baik dan patuh sama orang tua”

(630;637)

“tulang bangga lah, apa lagi kalau orang tau itu boru boru (anak perempuan) tulang, yakan seperti dibilang anak adalah cerminan orang tuanya, anak anak tulang

baik dan santun yang pasti senang adalah tulang sebagai orang tuanya”

(640;647)

c. Perasaan Bahagia saat Anak Perempuan sudah mandiri

BA merasa bahagia disaat anak perempuan sudah menjadi mandiri dan tidak menjadi bebanan. Perasaan bahagia tersebut membuat BA tidak memikirkan lagi kehadiran anak laki-laki. Anak perempuan yang mandiri membuat BA menerima keadaan dengan senang dan bangga. BA menunjukan kebahagiaan dengan tidak menyesal atas kehaidran anak perempuan dalam keluarga. Situasi tersebut dapat dicermati dari pernytaan wawancara berikut :

“ya kalu sekarang tulang menerima dengan senang

hati, harapan pada anak laki- laki tulang sudah gak pikirkan itu lagi, kakak-kakak sudah besar-besar yang pertama sudah berkeluarga yang terakhir ini sudah kerja juga jadi gak ada lagi beban tulang kan dah bisa hidup mandiri mereka itu”

(81;89)

“tapi Tulang gak menyesal lah boru-boru Tulang sudah

mandiri dak lagi beban sama Tulang, ya mungkin bisalah tulang berbangga sama kakak-kakak itu”

“kakak kakak mandiri saja sudah membuat tulang

bahagia, sudah tidak menjadi pikiran buat tulang lagi gak hadir anak laki-laki dikeluarga tulang”

(144;148)

“Yah apa lagi yang mau disesalkan, toh kakak kakak

sudah besar besar dah mandiri”

(572;574)

“yang terutama kan dak jadi beban bagi orang tua, itu

aja sudah cukup lah, dah gak ada pikiran lagi tulang buat tulang dapat anak laki ya”

(578;582)

d. Perasaan Sedih saat Ditinggal Anak Perempuan Pada saat ini BA merasa kesepian karena anak perempuannya sudah tidak tinggal bersamanya. BA memunculkan perasaan kangen dengan anak perempuannya jika mengingat keadaan saat ia masih tinggal bersama anak perempuannya. Ingatan BA pada Perhatian dan perlakuan anak perempuan membuat ia merasa sedih. Perasaan sedih itu muncul karena ia tidak mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sama pada saat ini. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“Ya semenjak kakak kakak pindah tulang merasa sepi

aja, dulu masih ada ribut ribut mereka tulang dengar (tertawa)”

“kadang tulang kangen juga liat mereka, lama mereka

sudah gak kunjung tulang, menjelang natal ini lah paling mereka datang”

(655;658)

Berdasarkan empat sub tema diatas dapat diketahui BA merasa bahagia saat mendapatkan anak perempuan dalam keluarga. Perasaan bahagia itu diwujudkan dengan merawat dan mendidik anak perempuan. Selain itu BA menunjukkan cinta pada anak perempuannya dengan memenuhi kebutuhan anak perempuan. Didikan BA membuat anak perempuannya bersikap baik dan patuh. Didikan BA juga membuat anak perempuan dapat menjadi anak yang mandiri. Keadaan anak perempuan pada saat ini membuat BA merasa bahagia akan tetapi BA juga merasa sedih karena ia tidak dapat berkumpul dengan anak perempuan. perasaan sedih muncul disaat BA tidak lagi memperoleh perhatian dan perlakuan dari anak perempuan yang sudah tidak tinggal bersama BA.

3. Perlakuan Terhadap Anak Perempuan

BA memberi beberapa perlakuan pada anak perempuannya. Perlakuan tersebut ditujukan agar anak perempuan menjadi anak yang baik. Pertama BA bersikap tegas pada anak perempuan dengan tujuan anak perempuan tidak mengulangi kesalahan. Kedua BA memberikan perhatian guna

menunjukkan perasaan sayang pada anak perempuan. ketiga BA memberikan kebebasan untuk anak perempuan memilih dan keempat BA tidak membedakan anak perempuannya. Keempat sub tema diatas ajan dijelasakan pada penjelasan berikut :

a. Bersikap Tegas Pada Anak Perempuan

BA berusaha mendidik anak perempuannya menjadi anak yang baik. Dalam mendidik anak perempuannya BA kerap bersikap tegas. Hal itu terjadi karena anak perempuan membuat kesalahan. Sikap tegas BA hadir berupa prilaku yang keras. Prilaku keras tersebut ditujukan pada anak perempuan sebagai bentuk kemarahan pada kesalahan fatal. BA menganggap prilaku keras akan membuat anak perempuan jera. Pada saat anak perempuan sudah dewasa BA lebih sering menegur anak perempuan dengan alasan anak perempuan sudah dewasa dan sudah dapat memilih sesuatu yang baik dan buruk. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“Tulang mendidik dengan cara tulang, kalau memang

salah tulang tegor, maksudnya biar baik, tulang tegas juga buat anak-anak tulang sendiri”

“Tergantung kalau dalam pendidikan ya tulang ajari

mereka supaya mau belajar, tidak malas, ya bagusnya kakak kakak bias bagus di sekolah mampu bersaing sama teman-teman juga bisa berpestasi”

(296;302)

“tulang hajap (pukul) lah kak JA pake ikat pinggang,

itu barulah naik pitam tulang, bukanya apa orang tua cari uang susah, bukan tidak mau membelikan apa atau barang apa, tapikan ada kebutuhan penting juga yang lain yang haru dipenuhi, dari situ belajar lah kak JA setelah setelah itu dak lagi dia buat kesalahan yang fatal”

(326;335)

“Tulang lebih memberi pengarahan prilaku mereka

saja termasuk sikap mereka juga, ya kalau dibutuhkan ketegasan tulang biasanya agak keras menyampaikannya, ya mungkin keadaanya kaya kak JA tadi ya terpaksa tulang tegas memberi hukuman agar jera dan menyesali perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan”

(390;400)

“selepas dewasa mereka cukup tulang tegur aja gak lah

terlalu keras lagi toh mereka sudah dewasa bisa memilih dan memilah mana yang baik mana yang buruk”

(413;416)

“Ya kalau udah tulang tegur biasanya udah selesai

masalahnya nanti juga balik lagi kayak biasanya ndak lah berlarut larut kalau kami ada masalah juga”

(555;559)

BA menginginkan anak perempuan menjadi anak yang baik. Keinginan BA tersebut diwujudkan dalam bentuk perhatian pada anak perempuan. Perhatian yang BA berikan pada anak perempuan merupakan bentuk cinta BA pada anak perempuan. BA memberikan perhatian dengan lebih awal menanyakan keadaan anak perempuan. Perhatian BA pada anak perempuan ditujukan untuk mengajari anak perempuan dalam mengahdapi masalah yang dialami anak perempuan. Dengan memberikan perhatia BA berusaha mengetahui keadaan dan kebutuhan anak perempuan. BA berusaha meluangkan waktu untuk mengajak anak perempuannya berkegiatan bersama. Dalam keadaan tertentu BA berusaha bertanya pada anak perempuan jika ia tidak memahami apa yang disampaikan anak perempuan. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“Tulang memberikan perhatian kepada kaka kaka dan

tulang mendengarkan keluhan keluhan kaka kaka dengan tujuan tulang membangun kedekatan dengan anak anak tualang”

(270;275)

“ya dulu sih misalnya saat kakak kaka masih SD ya

tulang ajari mereka pelajaran-pelajaran yang unum saja, lepas SMP mereka sudah ikut les”

“Ya tulang sering menyampaikan perbuatan yang baik

itu seperti apa, lalu pantas gak dilakukan, misalnya kalau kita berbuat ini maka resikonya apa, atau kalu kita memilih suatu hal apa resikonya”

(403;409) “paling sabtu minggu ya kalau sabtu minggu paling

tulang ajak kakak kakak jalan jalan atau makan diluar ya itu mungkin hiburan lah buat kakak kakak dan juga dimana tulang meluangkan waktu berkegiatan sama mereka”

(425;431)

“Biasanya sih tulang, tulang datangi baru nanya

gimana sekolah, ada masalah gak, atau ada yang lagi diperlukan ndak biar tulang belikan atau nangtulang”

(458;462)

“Selama ini enggak mungkinya saya paham kok dengan

apa yang disampaikan anak anak saya, ya kalu ada yang kurang paham biasanya saya tanyakan”

(514;518)

“Cinta tulang sama mereka tulang tujukkan melalui

bagiamana tulang memperhatikan mereka, mendidik mereka, memperthatikan mereka, memenuhi keutuhan mereka dan itu semua memang tulang buat dan kasih buat mereka anak anak tulang.”

(618;625)

c. Memberikan Anak Perempuan Kebebasan untuk Memilih

Pada saat anak perempuan sudah dewasa BA memberikan kebebasan kepada anak perempuannya untuk memilih hal yang baik bagi anak perempuannya. BA tidak membedakan anak pertama dan kedua dalam memberikan kebebasan. Pilihan anak perempuan dianggap dapat membuat anak perempuannya nyaman. BA tidak ingin menggangu keadaan anak peremuan yang sudah merasa nyaman. BA berharap kebeasan yang diberikan pada anak perempuan dapat membuat anak perempuan menjadi baik dan sukses.

“Jelas tidak, ntah itu anak pertama anak kedua tetap

sama dimata tulang, gak ada yang dibedakan”

(244;246)

“Keinginan terbesar tulang dulu sama kak JA dia bisa

masuk deplu karna sesuai sama kuliahnya itu, tapi dia gak mau, dia memilih kerja ditempat lain”

(480;484)

“Ya tulang biasa saja, tulang membebaskan pilihan dia

aja, kalo dia dah nyaman kerja disitu ya mau kayak mana lagi kan”

(492;495)

“Sejauh ini gak ada ya, tulang mah terserah aja mereka

mau memilih pilihan apa saja yang tulang harap mereka jadi orang yang sukses dan baiklah”

(498;502)

BA memiliki harapan pada anak perempuan dimasa yang akan datang. Harapan BA hadir disaat ia memiliki keyakinan pada anak perempuannya. Keadaan anak perempuan yang patuh pada BA membuat BA memiliki harapan anak perempuan akan menjadi anak yang baik. Selain itu BA memiliki harapan anak perempuan akan menjadi anak yang sukses dan akan mencintai orang tua. Ketiga sub tema diatas akan dijelaskan pada penjelasan berikut :

a. Harapan Anak Perempuan Menjadi Baik dan Sukses

BA memiliki harapan anak perempuannya akan menjadi anak yang baik dan sukses. Harapan BA pada anak perempuan muncul karena BA telah mengajarkan perilaku dan sikap yang baik pada anak perempuan. BA berharap anak perempuan dalam keadaan yang baik pada masa yang akan datang. Selain itu BA berharap anak perempuannya dapat menjalani karir mereka dengan baik dan meraih cita cita yang belum mereka dapatkan saat ini. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut :

“Tulang senantiasa mengajarkan hal yang baik sama

mereka, mereka harus hormat dengan orang tua, tidak melawan, terutama takut akan Tuhan, tulang ajarkan lah mereka dari kecil berdoa, pergi ke gereja, ikut

sembayang, tujuannya supaya anak-anak tulang menjadi anak yang baik, baik bagi masyarakat atau manusia dan baik dimata Tuhan”

(361;371)

“dekat dengan Tuhan dan rajin beribadah”

(681;682) “kedua karena mereka selalu rajin beribadah”

(690;691)

“Harapan tulang sama kakak kakak ya mereka sehat

sehat selalu”

(699;700)

“jangan pernah melupakan Tuhan”

(703;704)

“Tulang punya keyakinan yang besar sama mereka,

tulang yakin mereka akan menjadi orang yang berguna sukses lah dalam karir”

(677;680)

“dapat meraih cita cita yang mungkin belum mereka

dapat sekarang ini”

(700;702)

b. Harapan Anak Perempuan Mencintai Orang Tua BA memiliki harapan anak perempuannya akan mencintai BA dimasa yang akan datang. Harapan BA anak perempuan menyempatkan diri untuk

mengunjungi BA disela sela kesibukan mereka. Situasi tersebut dapat dicermati dari kutipan wawancara berikut:

”pasti mencintai kami orang tua mereka”

(682;683) “mereka selalu ada waktu mengunjungi tulang dan

nangtulang walaupun tidak sering, itu karna mereka punya sibuk juga”

(692;695)

5. Makna Anak Perempuan Informan 1

Informan I (BA) memiliki pandangan positif pada anak perempuan. Pandangan positif diawali dengan memandang anak perempuan sebagi sesuatu yang berharga. Selain itu BA memandang anak perempuan dapat hidup mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang tua. Pandangan positif BA juga didukung oleh Anak perempuan yang bertumbuh menjadi anak yang baik dan perduli pada BA.

BA memunculkan perasaan bahagia disaat memiliki anak perempuan. perasaaan bahagia BA muncul disaat BA mendapatkan anak perempuan dalam keluarga. Perasaan bahagia BA didukung oleh sikap dan perilaku anak perempuan yang baik. Selain itu anak perempuan BA dapat menjadi mandiri dan tidak membebani BA. Pada masa ini BA merasa sedih karena anak perempuan BA sudah tidak tinggal bersama

BA. BA merasa kehilangan perhatian dan perlakuan dari anak perempuan yang baik.

BA memberikan perlakuan yang tegas pada anak perempuan. perlakuan tegas yang diberikan BA ditujukan untuk mendidik anak perempuan BA menjadi anak yang baik. Selain berlaku tegas BA memberikan perhatian pada anak perempuan. hal itu dilakukan untuk menunjukkan perasaan cinta pada anak perempuan. Anak perempuan diberikan kebebasan untuk memilih apa yang menjadi pilihan mereka. Hal itu berlaku bagi semua anak perempuan BA.

BA memiliki harapan agar anak perempuan menjadi anak yang baik dan sukses dimasa yang akan datang. Selain itu BA berharap anak perempuamuapn akan terus mencintai BA pada masa yang akan datang. Secara keseluruhan dapat disimpulkan anak perempuan adalah sesuatu yang berharga, kehadiran anak perempuan akan memberikan kebahagian dalam keluarga. Anak perempuan harus dididik, diberikan perhatian dan kebebasan agar menjadi anak yang baik. Anak perempuan akan menjadi anak yang baik, sukses dan mencintai orang tua dimasa yang akan datang.

Kerangka 2. Kerangka Kesimpulan Makna Anak Perempuan informan I (BA)

BA

Pandangan a. Anak Perempuan Berharga

b. Anak Perempuan Anak yang Mandiri c. Anak Perempuan Anak yang Baik d. Anak Perempuan Anak yang Peduli

Perasaan

a. Perasaan Bahagia saat Kehadiran Anak Perempuan

b. Perasaan Bahagia saat Anak Perempuan Bersikap Baik

c. Perasaan Bahagia saat Anak Perempuan sudah mandiri

d. Perasaan Sedih saat Ditinggal Anak Perempuan

Perlakuan

a. Bersikap tegas pada anak perempuan

b. Memberikan Perhatian Pada Anak Perempuan c. Memberikan anak perempuan kebebasan untuk

memilih

Harapan

a. Harapan Anak Perempuan Menjadi Baik dan Sukses

b. Harapan Anak Perempuan Mencintai Orang Tua - Anak Perempuan Berharga - Kehadiran Anak Perempuan Memberikan kebahagianan

- Anak Perempuan Harus Didik, Diperhatikan, dan Diberi Kebebasan Untuk Menjadi Anak yang Baik - Anak Perempuan Akan

Menjadi Anak yang Baik, Sukses dan Mencintai Orang Tua Dimasa yang akan Datang

Informan II (RH) adalah seorang ayah yang berasal dari suku Batak Toba. RH lahir dan besar di daerah Siborongborong, Sumatra Utara. Pada tahun 1975 RH pindah dari daerah Siborongborong menuju ke daerah Porsea tempat tinggal keluarga pihak ibu sekaligus meneruskan pendidikan di bangku sekolah lanjut tingkat atas . Setelah berumur 23 tahun RH memutuskan untuk menikah dengan istrinya yang masih berasal dari keluarga pihak ibu. Satu tahun setelah menikah RH memiliki satu orang anak perempuan dan meutuskan untuk merantau ke kota Yogayakarta. Kurang lebih pada tahun 1984 RH menetap di daerah Bantul, Yogyakarta. selama tinggal di Yogyakarta RH memeroleh tiga orang anak perempuan. Istri RH sempat mengandung bayi berjenis kelamin laki-laki tetapi bayi tersebut meninggal di dalam kandungan

RH memiliki seorang istri berumur 61 tahun yang juga memiliki latar belakang suku Batak Toba. Tiga orang anak perempuan RH telah merantau ke beberapa daerah di Jawa sedangkan anak perempuan paling bungsu masih tinggal bersama RH dan istrinya di Yogyakarta.Sampain saat ini RH masih bekerja bersama istrinya untuk memenuhi

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 47-83)

Dokumen terkait