• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Bung Karno

Para begawan dengan kelana dan kembaranya, membangun dalam dirinya laboratorium kehidupan alam semesta dalam cita rasa.Bung Karno berkata, “biarlah bunga melati, bunga cempaka, bunga mawar,

semua bunga, mekar di taman sari Indonesia”. Apakah ini sekedar setangkai bunga? Mengapa para sopir di pulau Dewata Bali mempersembahkan setangkai bunga di persimpangan jalan?

Mengapa Raden Wijaya raja Majapahit pertama, raja

yang agung, mengenakan bunga wijayakusuma? Inilah rahasia. RahasiaBung

Karno melihat segala seuatu sebagai alam raya yang utuh. Analogi dengan pandangan Emil Salim, Sang Pencipta, Alam Raya, dengan segala ciptaannya, satu kesatuan yang utuh dengn manusia. Bung Karno bergulat meyakinkan para tokoh bulan Juni 1945:

Timbul pertanyaan bagaimanakah kita berfikir ala Indonesia? Samakah dengan kelaziman ilmu?Berfirikir paradigma berfikir utuh. Di alam berbagai kisah, buku21“Hikmad Tata Republik RI, Paradigma Bung Karno, ... saya titipkan bangsa ini kepadamu....” dengan segala kerendahan hati, diharapkan dapat dikaji mahasiswa-i beramanah, memiliki pegangan yang kuat bagaimana berIndonesia sebagai Indonesia, dan bagaimana mengajari anak RI ber-Indonesia, mengurai benang kusut yang mungkin terjadi di masa masa yang akan datang. Berfikir paradigma adalah berfikir utuh, seutuh candi Borobudur. Bung Karno berfikir demikian. Waktu dia menyampaikan:

21

Tagor Oangaribuan, Desember 2016. Hikmad Tata Republik RI.... Bung Karno ...

Saya titipkan bangsa ini kepadamu...

Karno melihat segala seuatu sebagai alam raya yang utuh. Analogi dengan pandangan Emil Salim, Sang Pencipta, Alam Raya, dengan segala ciptaannya, satu kesatuan yang utuh dengn manusia. Bung Karno bergulat meyakinkan para tokoh bulan Juni 1945:

Timbul pertanyaan bagaimanakah kita berfikir ala Indonesia? Samakah dengan kelaziman ilmu?Berfirikir paradigma berfikir utuh. Di alam berbagai kisah, buku21“Hikmad Tata Republik RI, Paradigma Bung Karno, ... saya titipkan bangsa ini kepadamu....” dengan segala kerendahan hati, diharapkan dapat dikaji mahasiswa-i beramanah, memiliki pegangan yang kuat bagaimana berIndonesia sebagai Indonesia, dan bagaimana mengajari anak RI ber-Indonesia, mengurai benang kusut yang mungkin terjadi di masa masa yang akan datang. Berfikir paradigma adalah berfikir utuh, seutuh candi Borobudur. Bung Karno berfikir demikian. Waktu dia menyampaikan:

21

Tagor Oangaribuan, Desember 2016. Hikmad Tata Republik RI.... Bung Karno ...

Saya titipkan bangsa ini kepadamu...

Karno melihat segala seuatu sebagai alam raya yang utuh. Analogi dengan pandangan Emil Salim, Sang Pencipta, Alam Raya, dengan segala ciptaannya, satu kesatuan yang utuh dengn manusia. Bung Karno bergulat meyakinkan para tokoh bulan Juni 1945:

Timbul pertanyaan bagaimanakah kita berfikir ala Indonesia? Samakah dengan kelaziman ilmu?Berfirikir paradigma berfikir utuh. Di alam berbagai kisah, buku21“Hikmad Tata Republik RI, Paradigma Bung Karno, ... saya titipkan bangsa ini kepadamu....” dengan segala kerendahan hati, diharapkan dapat dikaji mahasiswa-i beramanah, memiliki pegangan yang kuat bagaimana berIndonesia sebagai Indonesia, dan bagaimana mengajari anak RI ber-Indonesia, mengurai benang kusut yang mungkin terjadi di masa masa yang akan datang. Berfikir paradigma adalah berfikir utuh, seutuh candi Borobudur. Bung Karno berfikir demikian. Waktu dia menyampaikan:

21

Tagor Oangaribuan, Desember 2016. Hikmad Tata Republik RI.... Bung Karno ...

Bung Karno melihat segala seuatu sebagai alam raya yang utuh. Analogi dengan pandangan

Emil Salim, Sang Pencipta, Alam Raya, dengan segala ciptaannya, satu kesatuan yang utuh dengan manusia.

Bung Karno menyatakan Manusia seutuhnya digambarkan ber-kecerdasan yang berbasis tamansari internasional.Taman sari intelektual ada para guru terdahulu. Visi dan missi mereka memahami realita agar manusia berdaulat di tanah di mana dia lahir. Kedaulatan itu berbasis intelek, dimulai oleh Sokrates dan Plato, memahami realita dengan benang-merah Goal-Means-End analysis, dan suatu pusat cendekia (academia) mengembangkan penyinaran atas realita untuk kesejahteraan umat (No Scholae Sed Vitae Discimus). Manusia lahir dengan kecerdasan (innate capacity), dan pendidikan mengolah dan Bung Karno melihat segala seuatu sebagai alam raya yang utuh. Analogi dengan pandangan

Emil Salim, Sang Pencipta, Alam Raya, dengan segala ciptaannya, satu kesatuan yang utuh dengan manusia.

Bung Karno menyatakan Manusia seutuhnya digambarkan ber-kecerdasan yang berbasis tamansari internasional.Taman sari intelektual ada para guru terdahulu. Visi dan missi mereka memahami realita agar manusia berdaulat di tanah di mana dia lahir. Kedaulatan itu berbasis intelek, dimulai oleh Sokrates dan Plato, memahami realita dengan benang-merah Goal-Means-End analysis, dan suatu pusat cendekia (academia) mengembangkan penyinaran atas realita untuk kesejahteraan umat (No Scholae Sed Vitae Discimus). Manusia lahir dengan kecerdasan (innate capacity), dan pendidikan mengolah dan Bung Karno melihat segala seuatu sebagai alam raya yang utuh. Analogi dengan pandangan

Emil Salim, Sang Pencipta, Alam Raya, dengan segala ciptaannya, satu kesatuan yang utuh dengan manusia.

Bung Karno menyatakan Manusia seutuhnya digambarkan ber-kecerdasan yang berbasis tamansari internasional.Taman sari intelektual ada para guru terdahulu. Visi dan missi mereka memahami realita agar manusia berdaulat di tanah di mana dia lahir. Kedaulatan itu berbasis intelek, dimulai oleh Sokrates dan Plato, memahami realita dengan benang-merah Goal-Means-End analysis, dan suatu pusat cendekia (academia) mengembangkan penyinaran atas realita untuk kesejahteraan umat (No Scholae Sed Vitae Discimus). Manusia lahir dengan kecerdasan (innate capacity), dan pendidikan mengolah dan

mentransformasikan innate-capacity-nya anak didik agar pada gilirannya menjadi seorang warga negara bermakna bagi negaranya. Pada tataran internasional, intelek atau kecerdasan manusia secara formal substantif dikenal objektif mulai era Plato. Ilmu dikaji akademika untuk suatu keutuhan denganmemahami realita dengan benang-merah Goal-MeansEnd analysis, dan suatu pusat cendekia (academia) mengembangkan penyinaran atas realita untuk kesejahteraan umat (No Scholae Sed Vitae Discimus)

a.Plato’s LOGOS Man is born with innate capacity. Plato’s

LOGOS

No Scholae Sed Vitae Discimus

Manusia dalam keterbatasannnya sebagai manusia,