• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. MEDIA AUDIOVISUAL

A. Pengertian Audiovisual dan Jenis-Jenis Audiovisual

2. Pandangan Gereja terhadap media audiovisual

2. Pandangan Gereja terhadap media audiovisual

Lekatnya media dengan kehidupan manusia saat ini menjadi dasar Gereja untuk mendukung penggunaan media di dalam bidang pewartaan. Seperti halnya pada dokumen Konsili Vatikan II tentang Inter Mirifica art. 1 yang mengungkapkan “Hendaklah semua putera-puteri Gereja serentak dan secara sukarela mengusahakan, agar upaya-upaya komunikasi sosial dengan cekatan seintensif mungkin dimanfaatkan secara efektif dalam aneka macam karya kerasulan, menanggapi tuntutan situasi setempat dan semasa”.

Penggunaan media mempunyai tujuan supaya pewartaan dapat menarik orang dan selanjutnya dapat membawa perubahan pada hidup mereka. Dengan masuk lewat pintu mereka dan keluar lewat pintu kita. Maksudnya ialah pewartaan diselenggarakan dengan dibungkus oleh media yang sangat lekat dengan mereka,

kemudian berproses bersama untuk mengarah pada sebuah perubahan hidup mereka. Dengan demikian dapat membawa mereka kepada hidup yang sesungguhnya dengan berpusat dan mengabdi pada satu nama yaitu Sang Pencipta dan Sumber Hidup, yakni Tuhan Yesus Kristus (Kristosentris).

Selain itu, dokumen Konsili Vatikan II tentang Inter Mirifica art. 3 ini mengungkapkan bahwa “Gereja Katolik didirikan oleh Kristus Tuhan demi keselamatan semua orang. Karena itulah Gereja memandang kewajibannya untuk juga dengan memanfaatkan media komunikasi sosial menyiarkan warta keselamatan dan mengajarkan” (Inter Mirifica art. 3). Gereja diharapkan mampu menggunakan media dan dapat memanfaatkan itu semua. Penggunaan media dalam pembinaan sangat didukung, tetapi di dalam penggunaannya harus disesuaikan.

Media dapat menjadi sebuah sarana untuk menegakkan kedamaian dan keadilan. Komunikasi sosial mendekatkan orang dengan segala-galanya yang baik, tetapi juga dengan segala-galanya yang meragukan bahkan merugikan. Gereja menganggap media massa sebagai anugerah Allah, oleh karena itu kita harus memiliki sikap positif dan terbuka terhadap media (Aetatis Novae art. 1). “Umat Allah berjalan dalam sejarah. Pada saat mereka ... berjalan maju bersamaan dengan berjalannya waktu, mereka menatap ke muka dengan penuh kepercayaan dan bahkan dengan penuh gairah terhadap perkembangan apa saja di bidang komunikasi yang mungkin dapat diberikan di dalam jaman ruang angkasa ini” (Communio et

Progressio, no 187).

Media dapat digunakan sebagai pewartaan Injil atau membiarkannya dalam hati manusia. Alat komunikasi lekat dengan hidup manusia, dengan demikian media

mampu mempengaruhi orang untuk memahami makna kehidupannya. Kekuatan media komunikasi sangat luas. Oleh karena itu pentinglah orang Kristiani menemukan cara untuk melengkapi informasi yang hilang, bagi mereka yang tidak mendapatkannya dan juga memberikan suara kepada orang yang tidak dapat bersuara. (Aetatis Novae art. 4)

Komunikasi sosial memiliki manfaat yang sungguh luar biasa (Aetatis Novae

art. 7-11) yakni:

a. Media untuk melayani pribadi-pribadi dan kebudayaan-kebudayaan

Media massa perlu menghormati dan mengembangkan pribadi manusia secara utuh berserta dimensi budaya, transendental dan keagamaannya serta masyarakat. Pada dasarnya media komunikasi tidak dapat menggantikan kontak pribadi manusia yang langsung dan hubungan interaksinya. Media komunikasi sebagai pelayan setiap individu dapat digunakan dalam dialog, diskusi mengenai film atau siaran yang dapat merangsang komunikasi antar pribadi.

b. Media untuk melayani dialog dengan dunia

Setiap bangsa dan negara di dunia tentunya memiliki kebudayaan yang berbeda. Gereja sebagai sebuah bagian dari kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa dituntut untuk selalu menjaga hubungan jemaatnya dengan bangsa. Menjaga hubungan tersebut dengan cara memupuk jemaat agar semakin matang, serta mendukung manusia dalam memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Di sisi lain Gereja juga tidak bisa melepaskan dari bangsa dan kebudayaannya. Oleh karenanya Gereja harus mengkomunikasikan apa yang ada di dalamnya melalui media budaya.

c. Media untuk mengabdi jemaat dan kemajuan

Gereja beranggapan bahwa komunikasi merupakan kesaksian mengenai keadilan dan persatuan antar bangsa, orang dan kebudayaannya untuk menghadapi suatu permasalahan. Gereja memberikan pancaran cahaya mengenai komunikasi sosial dan peranan media komunikasi. Oleh karenanya perlu memajukan perkembangan yang utuh dari pribadi manusia dan masyarakatnya.

d. Media untuk mengabdi persatuan Gerejani

Komunikasi sebagai lambang communio (persatuan) di antara jemaat menjadi berguna untuk berbagai informasi dan pendapat jemaat yang membentuk Gereja. Gereja juga menekankan bahwa setiap orang memiliki hak menerima informasi yang benar karena komunikasi dalam Gereja berdasar pada pandangan bahwa Sabda Allah mengkomunikasikan DiriNya.

e. Media melayani suatu evangelisasi baru

Penggunaan media dalam evangelisasi merupakan suatu hal yang hakiki. Gereja menginginkan hendaknya media komunikasi sosial dapat menjadi alat dalam program Gereja mengenai evangelisasi dalam dunia modern. Evangelisasi pada jaman sekarang harus tetap memancar dari kehadiran Gereja yang aktif dan simpatik dalam dunia komunikasi modern saat ini.

Komunikasi dalam sebuah pendidikan juga merupakan suatu unsur yang hakiki. Komunikasi yang terjadi juga merupakan campur tangan Gereja dalam pendidikan yang ada. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pembinaan terhadap orang yang terlibat dalam karya pastoral, misalnya para seminaris, para imam, bruder, suster dan pemimpin awam. Sebagai sebuah bentuk komunikasi, maka Gereja juga

memerlukan pembinaan lain misalnya, kursus, lokakarya, dan memberikan program-program komunikasi. Melaksanakan program-program-program-program dalam pendidikan bagi para guru, orangtua dan para pelajar. (Aetatis Novae art. 28)

Perikopa Matius (9: 17) mengungkapkan bahwa “Begitu pula anggur baru tidak diisikan pada kantong kulit yang tua karena jika demikian akan terkoyak dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu akan hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru juga, dan dengan demikian terpeliharalah keduanya”. Perikopa tersebut memberikan arah supaya siswa dapat menyadari pentingnya pembinaan iman melalui proses PAK di sekolah. PAK yang menggunakan sarana dan metode yang sesuai dengan selera nara didik akan membuat siswa dapat tertarik dan materi dapat tersampaikan dengan mudah.

C. Media Audiovisual dalam Kehidupan Remaja dan Pendidikan

Dokumen terkait