• Tidak ada hasil yang ditemukan

1) Pandangan Hidup Dan Sistem kepercayaan orang China

Sumber utama dari permasalahan golongan minoritas ini adalah norma-norma yang berlaku dalam kelompoknya terutama sifat fanatisme terhadap tradisi leluhurnya serta tentang ideologi yang menjadi pegangan hidup dan tujuan akhir orang China. Hal ini besar pengaruhnya terhadap orang-orang China perantauan terutama dari tokoh-tokoh seperti Confusius pada abad 6 SM, ajaran Karl Mark pada abad 19 dan ajaran Yuang Shi Kai pada pemulaan abad 20. Ajaran-ajaran dari tokoh-tokoh tersebut banyak memberikan pengaruh pada pekembangan dasar berfikir, pandangan hidup dan sistem atau filsafat orang China.37

Pandangan hidup orang China menetapkan pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam semesta di mana manusia dianggap sebagai bagian dari alam semesta ini. Menurut mitologi China, pencipta tunggal itu bernama “Wu Chi” kemudian ia menciptakan “Tai Chi”. Dari Tai Chi terciptakan prinsip “Yang dan

36

Wawancara dengan Oesman Arief, tanggal 24 Juni 2002 (dalam skripsi berjudul Tradisi Budaya dan Kesenian Etnik China di Surakarta, oleh Retno Indrastuti A.)

37

Ying” merupakan prinsip positif, diasosiasikan dengan segala yang bercahaya, baik, aktif, dan bersikap laki-laki, dilambangkan sebagai surga dan matahari. Sedangkan Yin merupakan prinsip negatif diasosiasikan dengan kegelapan, kepasifan, sifat wanita di dalam alam, dilambangkan sebagai bumi dan air. Apabila Yang dan Yin menyatu mereka akan menghasilkan kelima esensi yaitu air, api, kayu, logam, dan tanah. Keduanya tidak dapat dipisahkan dari semua gatra kehidupan dan pikiran China.38 Kedua prinsip ini kemudian satu sama lain saling melingkari sehingga terjadilah prinsip hidup di dunia.

Gambar 8. Simbul Ying dan Yang

Faham ajaran yang pertama bagi orang China, adalah Tao atau jalan Tuhan yaitu jalan yang memberikan wujud dan daya lambang bagi seluruh alam leluhur benda atau juga pegangan yang benar, kebenaran yang tidak boleh ditinggalkan.39 Kemudian menimbulkan ajaran “Taoisme” yaitu jalan yang benar atau Wu Wei, menurut ajaran ini manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bersih dan baik. Disamping itu orang China juga harus dapat memelihara hubungan yang baik dengan

38

G. Willoughby Maede, Chinese Ghouls and Goblins dalam Sartono Kartodirjo, Elite Dalam Perspektif Sejarah, LP3ES, Jakarta, hal. 104.

39

sesuatu yang berada di dunia. Pada hakekatnya pekembangan yang serba jujur dan baik ini menjadi dasar pandangan orang China, dalam bahasa Chinanya disebut “Li”.

Menurut pandangan orang China Li berarti kelakuan baik terhadap siapa dan apapun yaitu terhadap kelurga, tetangga, bumi, langit, dan Tuhan. Untuk menuju yang baik atau jalan Tuhan maka mereka harus melalui lima budi baik yaitu :berkelakuan ramah tamah, berkelakuan sopan santun, harus cerdas, harus jujur, harus adil. Kelima perkembangan itu adalah perkembangan orang tua dan anak, antara suami dan istri, antara raja dan rakyat, antara saudara yang lebih tua dan saudara muda, dan antara kawan dan kawan.40

Sedangkan dari aliran Tao Te Chia memusatkan metaphisikanya dan filsafat sosialnya di sekitar satu konsep tentang ketidak adaan yaitu yang menitik beratkan pada individu serta kepribadian sebagai kebajikan, pembawaan dari seorang manusia yaitu yang dinamakan Te. Te berarti kebajikan atau tabiat soleh yang berhubungan erat dengan suatu kekuatan dan tidak dapat dipisahkan dari segala sesuatu yang individual.41 Bagi mereka segala apa yang ada di dunia ini tergantung pada Tao, Tao memberi makan dan minum, semua benda dan makhluk, maka segalanya terdiri dan terjadi dari Tao dan akan kembali kepada Tao. Hal ini menurut mereka akan mencapai kehidupan yang ideal, yaitu suatu komune yang hidup berdekatan akan tetapi masing-masing tidak berminat untuk saling mengganggu ketentraman pihak lain.

Selain ajaran dari Tao mereka juga dekat dengan ajaran Confusius. Di Indonesia ajaran ini dikenal dengan nama Khong Hu Cu atau Khong Fu Tze yang mereka anggap sebagai nabi yang mengajarkan agama bagi mereka. Ajaran dari Khong Hu Cu adalah melalui lima kebajikan yang disebut “Ngo Siang” yang terdiri dari: cinta kasih, adil dan bijaksana atau gie, susila dan sopan santun atau lee, cerdas

40

Elizabet Seegar, 1951, Sejarah Tiongkok Selayang Pandang, J .B. Wolters, Jakarta, hal. 50. 41

dan waspada atau tie, jujur dan ikhlas atau sien.

selain dari Ngo Siang juga ada ajaran yang mengenai delapan kewajiban insan yaitu kewajiban yang disebut “Pak Tik” dan iman yang terdiri dari: berbakti atau haw, rendah hati atau tee, setia atau tiong, susila atau lee, menjunjung kebenaran, keadilan , kewajiban dan kepantasan atau gie, suci hati atau lian, dapat dipercaya atau sian, tahu malu, mengenai rasa harga diri atau thee.

Hubungan keluarga sangat erat dan dekat sekali, sehingga keluarga mereka merupakan suatu keluarga besar. Tiap keluarga memuja nenek moyangnya, anak berbakti bukan hanya kepada orang tuanya yang masih hidup akan tetapi juga kepada arwah nenek moyangnya. Jika ketentraman keluarga tercapai maka ketentraman masyarakat akan tercapai pula. Khong Hu Cu memberikan ajaran –ajaran dalam kitab suci Su Sie yang meliputi empat pasal:42 1. Kitab Thang Hak ( Pengajaran Tinggi) 2. Kitab Tong Young( Pengajaran Menengah) 3. Kitab Lung Gie ( Kitab Perundingan) 4. Kitab Heng Cu ( Kitab Filsafat Demokrasi).

Isi Kitab Ngo Keng : Sejarah Kuna (Yang Keng), Falsafat Hukum (Su Keng), Syair-syair dan sajak (Sie Kie), Pengetahuan Mengenai peredaran musim

Menurut Thjie Tjay Ing, Khong Hu Cuselalu menekankan pada pemeliharaan sopan santun, yaitu terutama melalui hubungan sosial antara lain: hubungan antara pemerintah dan para menteri dengan rakyat, hubungan antara ayah dengan anak laki-laki, hubungan antara saudara laki-laki tertua dengan yang lebih muda, hubungan antara suami dan istri, hubungan antara teman dan teman.

Mengenai sopan santun yaitu hubungan sosial tersebut, dalam realitanya sehari-hari, bisa kita temui, meskipun bagi masayarakat WNI keturunan banyak yang telah pindah agama. Misalnya hubungan sosial tersebut masih dapat dijumpai yaitu

42

hubungan antara ayah dengan laki-laki. Sekarang ini antara anak laki-laki dengan anak perempuan dalam keluarga WNI keturunan adalah sama. Kalau dulu bagi keluarga China anak laki-laki lebih diharapkan dari pada anak perempuan, tetapi sekarang semua sama saja. Kelima hubungan sosial yang menekankan pada pemeliharaan sopan santun tersebut bukan hanya kita temui pada ajaran Khong Hu Cu saja, tetapi ajaran agama sekarang pun juga mengajarkan tentang sopan santun tersebut.

Khong Hu Cu juga mengajarkan kepada pengikutnya tentang Chun-chun, Chen-chen, Fu-fu, Tze-tze yang berarti, raja bersifat raja, hamba harus bersifat hamba, bapak harus bersifat bapak, dan anak harus bersifat anak. Manusia itu bukanlah harus mengetahui akan tempat dan tugasnya, melainkan juga harus melatih diri bertindak dengan tepat. Kalau tercapai yang demikian akan sesuailah hidupnya dengan kemauannya.43

Dasar berfikir orang China tidak bisa terlepas dari tokoh-tokoh yang mempunyai hubungan erat dengan filsafat dan agama yaitu Lao Tze, Kung Tze dan Mao Tze. Berdasarkan buah pikiran tokoh-tokoh itu, orang China mengatakan mempunyai tiga buah agama yaitu Confucianisme, Taoisme dan Budhisme. Sedangkan dalam prakteknya ketiga agama itu dijalankan dan dipeluk bersama-sama yang disebut Tri Darma atau Han San Wei atau tiga agama yang hakekatnya satu.44

Ajaran Khong Hu Cu sebagai salah satu sumber filsafat hidup orang China, Dimana sangat menonjolkan pengajaran kebajikan dan kesempurnaan manusia hakiki. Sedangkan wadah yang paling baik untuk melaksanakan dan menghayati adalah hubungan orang tua dan anak. Lebih khusus lagi antara ayah dan anak laki-laki

43

I. P Simandjoentak, 1952, Dari Panggung Peristiwa Sejarah Dunia, J. B. Wolters, Jakarta, hlm. 156.

44

terhadap ayahnya dengan demikian dapat dikatakan merupakan salah satu soko guru filsafat hidup Han San Wei (Tri Darma). Sedangkan dua soko guru lainnya yang sangat relevan dalam mengkaji tingkah laku ekonomi orang China dalam organisasi dan materialisme. Materialisme atau kapitalisme China dapat dikatakan sebagai usaha meningkatkan standar hidup kebendaan melalui kerja keras, hidup hemat dan ulet, disamping berusaha meningatkan teknis dan kecakapan kerja.

2) Pandangan Masyarakat China terhadap Kebudayaan Jawa

Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang dihadapi, dan untuk mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukannya.45 Dari pengertian tersebut berarti kebudayaan adalah suatu kumpulan pedoman yang kegunaannya operasional dalam hal manusia mengadaptasi diri dengn lingkungan-lingkungan tertentu (alam, fisik, sosial dan budaya) untuk mereka itu dapat melangsungkan kehidupannya yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan untuk hidup secara lebih baik lagi.

Kebudayaan adalah milik masyarakat dan bukan milik seorang individu. Individu-individu yang menjadi warga masyarakat adalah para pemilik dan pendukung kebudayaan masyarakat tersebut. Setiap kebudayaan yang hidup dalam masyarakat yang dapat berwujud sebagai komunitas desa, sebagai komunitas kota atau sebagai kelompok kekerabatan atau kelompok yang lain akan menampilkan suatu corak khas, terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat yang bersangkutan. Corak khas dari suatu kebudayaan bisa tampil karena kebudayaan itu menghasilkan suatu unsur kebudayaan yang kecil, yaitu berupa suatu unsur kebudayaan fisik dengan

45

Parsudi Suparlan, Kebudayaan dan Pembangunan dalam Media Ika (1985/1986), Kajian-kajian Antropologi Masa Kini, Jakarta: Suatu Bunga Rampai-Ika UI, hlm. 107.

bentuk yang khusus, atau karena pranata-pranatanya ada suatu pola sosial yang khusus atau karena warganya menganut suatu tema budaya khusus.

Upacara bagi orang China merupakan suatu unsur kebudayaan. Ada beberpa jenis upacara yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Kalurahan Sudiroprajan, baik orang Jawa maupun bagi WNI keturunan. Upacara yang dilakukan tersebut umumnya mempunyai tujuan yang sama yaitu keselamatan. Bagi orang-orang WNI keturunan upacara yang mereka lakukan sesuai dengan kehendak yang didasari oleh ajaran-ajaran leluhurnya. Yang berbeda menurutnya adalah jenis peralatan dan tata cara kerjanya saja. Sedangkan nilai dan tujuan dari upacara tersebut adalah sama.46

Upacara menempati rumah baru adalah merupakan tradisi yang sudah lama ada dalam masyarakat Jawa. Bagi masyarakat WNI keturunan di Kalurahan Sudiroprajan banyak yang menjalankan upacara tersebut bila akan menempati rumah baru. Orang yang akan menempati rumah baru biasanya mengadakan selamatan dengan kenduri yang disertai dengan tirakatan (Jawa = lek-lekan). Maksudnya supaya rumah yang akan ditempati terhindar dari roh halus, membuat aman dan selamat bagi penghuninya. Upacara kelahiran umumnya mereka hanya memperingati pada saat genap lima hari (Jawa = sepasaran). Kalau dahulu selamatan kelahiran bayi diadakan sejak bayi lahir sampai lima hari berturut-turut, tetapi tradisi itu lama kelamaan hilang. Menurut seorang informan, hal ini akan mengakibatkan terganggunya kesehatan ibu dan anak, yang secara otomatis setiap malam akan terganggu oleh orang yang tirakatan tersebut.

Selain upacara tersebut, unsur kebudayaan lainnya merupakan penyatuan kedua etnik itu yaitu bahasa dan kesenian, terutama seni tari. Dalam bidang keseniaan banyak diantara anak-anak WNI keturunan yang tergabung dalam Paguyuban

46

Barongsai. Barongsai yaitu tari naga khas berasal dari negri China, biasanya dipakai pada even-even besar seperti Tahun Baru Imlek, karnaval Kota dan lain-lain. Tetapi kesenian ini sekarang cukup digemari dalam masyarakat sehingga tidak hanya milik WNI keturunan saja, orang-orang Jawa juga menyukai tarian tersebut. Biasanya juga menerima undangan untuk hajat-hajat sampai luar kota misalnya, Wonogiri.

Dokumen terkait